-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 3 part 2 Indonesia

Episode 3
Bukankah kamu menyukainya?



Hayasaka-san tidak pernah membicarakan tentang pria nomor satunya padaku. Tapi aku kenal orang itu.

Yanagi-senpai.

Kami satu SMP.

Dia tidak membeda-bedakan siapa pun dan pemain sepak bola yang lihai. Kami berada di grup yang sama di kompetisi olahraga, dia senpai yang peduli dan tidak bisa meninggalkanku sendirian karena aku kurang atletik, jadi kami menjadi teman.

Kami masuk ke SMA yang berbeda, tapi kami masih tetap berhubungan.

Senpai adalah anggota tim pemuda klub sepak bola profesional sejak dari SMP. Tapi dia meninggalkan tim di musim dingin tahun kedua SMA-nya. Sepertinya dia sudah lama ingin berhenti. Sekarang di tahun ketiga SMA, dia belajar untuk ujian masuk dan bermain futsal di akhir pekan untuk bersantai.

Aku pernah ikut dalam pertandingan futsal itu sekali saja. Tidak ada cukup orang, dan aku diberitahu bahwa tidak apa-apa untuk pemula karena itu adalah campuran jenis kelamin, jadi aku bergabung.

Yanagi-senpai sangat populer. Bahkan dalam pertandingan itu, ada banyak orang yang datang untuk mendukungnya. Di antara mereka adalah Hayasaka-san, yang belum menjadi pacar keduaku.

“Anak itu teman sekelasku di SMA, loh.”

“Ah, Hayasaka-chan.”

“Apakah dia sering kesini?”

“Dia cukup sering datang untuk mendukung kami.”

“Apakah ada seseorang yang kamu sukai?”

“Aku akan memberitahumu siapa itu asalkan kamu membantuku setelahnya.”

Yanagi-senpai sangat populer, tapi sangat tidak peka.

Selama pertandingan, Hayasaka-san terus menatap Yanagi-senpai. Dia bahkan tidak menyadari bahwa aku ada di sana.

Setelah itu pada bulan Mei, Hayasaka-san memberi tahuku di peron stasiun.

“Kirishima-kun, kau menyukai Tachibana-san, ‘kan?”

Pada waktu itu, aku tidak yakin apakah aku harus mengatakan kalimat ini.

“Hayasaka-san sendiri menyukai Yanagi-senpai, ‘kan?”

Namun pada akhirnya, kata-kata yang keluar adalah, “Yang kedua adalah kamu, Hayasaka-san.”

Hanya satu kali setelah kami mulai berpacaran, Hayasaka-san berbicara tentang pria nomor satunya.

“Aku mungkin sulit, untuk cinta nomor satuku.”

Kata Hayasaka-san sedikit sedih.

“Aku hanya bisa melihat dari kejauhan. Aku sangat gugup hingga aku tak bisa berbuat apa-apa.”

Malamnya, aku menelepon Yanagi-senpai.

“Apa kau ingat Hayasaka-san?”

“Dia teman sekelasmu, ‘kan, Kirishima?”

“Aku ingin kau mengundangnya ke dalam tim. Dia ingin bermain futsal, tapi kelihatannya dia terlalu malu untuk mengatakannya.”

“Oke. Berikan saja nomornya.”

“Jangan beritahu dia kalau aku yang memberitahumu, ya.”

Setelah beberapa saat, aku mendapat telepon dari Yanagi-senpai.

“Aku coba mengundangnya, tapi dia hanya berkata, [Awawawawa,] dan menutup telepon.”

“Dia itu sangat pemalu. Tolong telepon dia lagi. Lain kali, tunggu sampai Hayasaka-san tenang, lalu coba kau undang dia.”

Keesokan harinya, Hayasaka-san tersenyum.

“Ada sedikit berita bagus.”

Begitulah Hayasaka-san mulai ikut futsal.

Toh aku melakukannya sendiri, dan kami berkencan dengan premis bahwa dia memiliki pria nomor satunya. Itu sebabnya aku sama sekali tidak keberatan jika dia mempersingkat kencan kami dan pergi ke sana. Malah aku mendukungnya.

Tapi entah kenapa, saat aku melihat Hayasaka-san pergi, dadaku terasa sakit.

Hayasaka-san yang memelukku, Hayasaka-san yang memintaku untuk menciumnya, Hayasaka-san yang sedikit tidak sehat yang biasanya tidak pernah dia tunjukkan kepada orang lain.

Meskipun dia seharusnya berada di urutan kedua, aku semakin jatuh cinta pada Hayasaka-san.

Related Posts

Related Posts

1 comment