-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 3 part 5 Indonesia

Episode 3
Bukankah kamu menyukainya?



Agak mencemaskan untuk menyelinap ke sekolah dengan pakaian biasa tanpa terlihat oleh siapa pun.

Aku memasuki ruang klub dan tertawa karena merasa itu agak lucu.

Tachibana-san juga tampak menikmati dirinya sendiri dengan tawa, “Fufu,” saat dia menyeka keringat di lehernya dengan handuk tangan.

“Aku haus.”

“Tunggu sebentar.”

Aku mengambil teh barley dari kulkas. Ketika aku menyerahkan cangkir itu, aku menyentuh jarinya dengan sengaja. Tachibana-san tidak menunjukan penolakan apa pun, dan menerimanya.

“Aku taruh buku-bukanya di sini.”

Tachibana-san menata buku-buku yang dibelinya di gedung stasiun di rak buku.

Kemudian kami masing-masing membaca novel yang kami baca dalam diam.

Daripada novel, mataku tertuju pada Tachibana-san dengan pakaian biasa yang duduk di seberangku.

Baik celana pendek maupun lengan pendeknya lebih pendek dari panjang seragam, jadi kulit putihnya lebih terlihat dari biasanya. Tachibana-san pada liburan musim panas. Ini adalah off-shot yang sangat berharga.

(Tln: off-shot = kendit. Atau foto sesorang tanpa persiapan)

“Dia pasti sedang berolahraga dengan seseorang yang dia sukai sekarang.”

Mungkin dia memperhatikan tatapanku, Tachibana-san meletakkan bukunya dan berkata.

“Kuharap semuanya berjalan baik untuk Hayasaka-san.”

“Ya.”

“Dalam futsal itu, sering terjadi tabrakan antar tubuh, ‘kan?”

“Begitulah.”

“Hayasaka-san, aku yakin dia akan degdegan.”

“Mungkin saja.”

“Ketua, kau gemetar, loh.”

“Ruangan ini terlalu dingin...”

“Kalau kamu mendukungnya, kenapa gak kamu beri tahu Hayasaka-san tentang ini?”

Di tangan Tachibana-san, ada salinan lain dari buku catatan cinta.

Itu adalah buku catatan terlarang ketiga belas dari total tiga belas buku catatan cinta.

Buku itu berisi sejumlah permainan yang diciptakan oleh penulis.

“Tidak, itu hanya bagian dari khayalan.”

Itu disajikan sebagai permainan untuk pria dan wanita untuk lebih dekat satu sama lain, tapi keinginan penulis untuk bermesraan dengan seorang gadis sangat terlihat jelas.

Mungkin si penulis, dalam penelitiannya soal cinta, awalnya memiliki pemikiran tentang apa yang ingin dia lakukan pada seorang gadis, dan akhirnya keluar jalur di catatan terakhirnya.

“Itu hanya permainan yang mungkin dimainkan oleh pria dengan motif tersembunyi pada kencan buta.”

“Tapi, bukankah hal seperti itu yang ingin dilakukan anak laki-laki dengan anak perempuan?”

Betul sekali.

“Jika demikian, bukankah senpai itu akan senang jika Hayasaka-san melakukan itu untuknya?”

“Aku tidak yakin, aku ragu itu akan berhasil.”

“Kalau begitu, ayo kita coba.”

“Coba?”

“Aku dan Ketua, ayo kita bereksperimen.”

Di halaman tempat catatan dibuka, diperkenalkan sebuah permainan bernama [Misteri Telinga].

Aku ingin melakukannya.

Aku ingin memainkan permainan terlarang antara pria dan wanita, yang disegel oleh para senpai PeMis, dengan Tachibana-san.

Tapi bagaimanapun juga, Tachibana-san punya pacar. Meskipun aku menerima kekasih kedua, aku juga mengkhawatirkan akal sehat orang biasa, jadi aku tidak bisa dengan mudah mengatakan ayo lakukan. Jadi——.

“Ayo pulang untuk hari ini. Sudah larut.”

“Ini baru jam 3 sore, loh.”

Di luar langit cerah tak berawan, dan jangkrik berkicau tanpa henti.

“Tapi, baiklah. Aku akan pulang. Aku merasa seperti meminta sesuatu yang merepotkanmu.”

Tachibana-san mengerutkan alisnya dan menutup catatan cinta.

“Bukannya itu merepotkanku.”

“Ketua kelihatan bermasalah.”

Pasti salahku, ‘kan? Kalimat itu tersirat.

“Aku tidak akan memintanya lagi.”

Dengan ekspresi sedih di wajahnya, dia mulai bersiap untuk pulang.

Rasanya seperti aku terluka, dan dadaku sakit. Ini pola yang pernah ku lihat entah di mana, tapi apa boleh buat.

Aku menampar pipiku dengan tangan dan merubah sikap.

“Tunggu, tunggu sebentar!”

Aku duduk di sebelah Tachibana-san. Kemudian, aku langsung berbisik di telinganya.

“Petualangan Sherlock Holmes.”

Mendengar judul itu, kali ini Tachibana-san berbisik di telingaku.

“Arthur Conan Doyle.”

Mendengar bisikan Tachibana-san sampai di telinga ku, aku merasakan sensasi menyenangkan mengalir di tulang belakangku. Suara Tachibana-san indah.

“Ketua, kamu sangat bersemangat.”

Menarik wajahnya, Tachibana-san berkata sambil tersenyum.

“Kalau begitu, ayo lakukan.”

“Ya, ayo kita lakukan.”

Misteri telinga.

Begitulah yang terjadi.

Related Posts

Related Posts

1 comment