-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 3 part 4 Indonesia

Episode 3
Bukankah kamu menyukainya?



Tachibana-san mengenakan sandal seperti musim panas dengan tali putih. Solnya tebal. Jika dia tidak sedikit merendahkan tubuhnya, aku tidak akan terlihat bagus saat kami berdiri berdampingan. Aku mikirin apa sih.

“Ketua, kamu beneran lesu.”

“Apa yang kau bicarakan, aku sangat bersemangat tahu. Saking semangatnya sampai aku ingin berlari dan melompat sekarang.”

Tachibana-san sedang melihat pemandangan dari jendela kereta.

Dia memasang wajah dingin, tapi pastilah dia telah mengejarku untuk sampai ke sini.

Kereta menuju ke rumahku, dan arah serta rutenya berbeda dari rumah Tachibana-san.

“Tachibana-san, kamu bilang kamu ingin melakukan kegiatan klub, tapi di mana tepatnya?

“Sekolah.”

“Maka kita harus berganti pakaian. Itu yang terbaik, karena kita berpakaian biasa, mana bisa kita masuk.”

“Kita bisa masuk lewat gerbang belakang. Tak ada yang akan memberi tahu guru jika ada yang melihat kita.”

Memang benar bahwa tidak ada siswa yang akan melakukan sesuatu yang akan merugikan Tachibana-san. Meskipun dia masih kecil dalam hal cinta, dia pada dasarnya adalah seorang gadis dengan suasana yang tidak membiarkan siapa pun di sekitarnya mengatakan sesuatu.

Sekali lagi, aku melihat raut wajah Tachibana-san. Rambutnya halus, kelopak matanya tipis, bulu matanya lentik, hidungnya macung, dan pipinya putih. Maki menyamakan Tachibana-san dengan Ferrari, dan ya aku mengerti, dia memang orang yang spesial.

Ini tidak terasa nyata, dan aku merasa tidak nyaman untuk melihatnya sepanjang waktu.

Hayasaka-san memberiku ketenangan pikiran.

Tachibana-san membuatku degdegan.

Begitulah rasanya.

Saat aku melihat raut wajahnya seperti itu, Tachibana-san tiba-tiba bersandar padaku.

“Tachibana-san!?”

“Katazun.”

Kepalanya yang kecil bersandar di bahu kiriku, dan aku merasakan tubuh ramping Tachibana-san dengan separuh kiri tubuhku.

“Ketua, kau terlihat sedikit lebih baik.”

“Tidak, yah.”

Mungkin, sejak Tachibana-san menyarankan agar kami melakukan kegiatan klub, aku sudah mengharapkan hal semacam ini di suatu tempat di hatiku. Dan sekarang, dengan kami melakukan katazun, aku jadi ingin memeluk atau mencium Tachibana-san. Seperti yang kulakukan dengan Hayasaka-san pada hari itu.

Betul sekali.

Hal yang tak tertahankan adalah aku ingin membuat Tachibana-san yang seharusnya menjadi nomor satuku, mengambil tempat Hayasaka-san untuk mengisi kesepian yang ditinggalkan Hayasaka-san yang pergi ke tempat futsal. Aku benar-benar bajingan.

Aku menepuk pipiku sendiri dengan ringan.

“Ketua, ada apa?”

“Tidak, aku hanya memikirkan sesuatu yang licik.”

“Apa itu?”

“Aku gak bisa bilang. Karena itu ada kaitannya denganmu, Tachibana-san.”

“Oh.”

Tachibana-san berhenti sejenak dan berkata.

“Aku gak keberatan sih.”

Matanya yang berkaca-kaca menatapku.

Seolah-olah dia bisa melihat semua perasaan licikku.

Memeluk Tachibana-san sebagai ganti Hayasaka-san.

——Melakukan itu pun aku gak keberatan sih.

Aku merasa seolah-olah dia mengatakan sesuatu yang terlalu nyaman untuk ku bayangkan.

Kereta membuat kebisingan biasa saat melaju.

Tachibana-san berkata lagi.

“Aku sama sekali gak keberatan dengan Ketua.”

Related Posts

Related Posts

1 comment