-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 4 part 4 Indonesia

Episode 4
Surat Tanpa Nama



“Lah, jadi kau sudah tahu?”

Kata Maki.

Selama pelajaran olahraga, kami berdiri di sudut lapangan sambil mengobrol.

“Yah begitulah. Hayasaka-san selalu mengenakan pakaian olahraga pinjaman.”

Para gadis sedang bermain tenis di lapangan tenis.

Hayasaka-san mengenakan seragam olahraga desain lama yang disediakan di ruang kesehatan.

“Malah aneh kan kalau tidak menyadarinya?”

Berkali-kali aku melihat Hayasaka-san memegang surat di kotak sepatunya dengan wajah tegang.

“Ngomong-ngomong, siswa laki-laki yang mengikuti dia sampai ke rumahnya itu aku.”

“Jadi kamu, Kirishima? Apa maksudnya?”

“Aku hanya mengawasinya dari kejauhan untuk memastikan tidak ada yang menguntitnya.”

“Yang ada malah kamu penguntitnya.”

“Iya, kah?”

Aku hendak melihatnya hingga dia masuk ke dalam rumah, tapi tiba-tiba dia berbalik dan aku panik. Dia tidak melihat wajahku, tapi itu membuatnya berpikir bahwa aku adalah orang yang mencurigakan.

“Jadi tinggal masalah surat dan pakaian olahraga, ya?”

“Benar. Dan mungkin pelakunya adalah salah satu siswa yang tergabung dalam klub.”

Memasukkan surat ke dalam kotak sepatu hanya bisa dilakukan sepulang sekolah.

“Ini memang minggu ujian, tapi banyak siswa masih tinggal untuk latihan mandiri. Kami anggota OSIS pun sama. Bukankah sulit untuk menemukan pelakunya?”

“Tidak, tidak terlalu sulit.”

Kita akan menemukannya besok atau lusa, kataku.

“Benarkah? Aku punya gambaran bahwa menebak pelakunya itu sulit.”

“Karena novel misteri hanya sengaja dibuat rumit untuk mengejutkan pembaca.”

Apa yang terjadi dalam kehidupan nyata jauh lebih sederhana.

“Keren juga kata-katamu. Jadi kamu bisa menebak siapa pelakunya?”

“Jika ini novel misteri, pelakunya adalah guru, atau seorang gadis, atau bahkan aku, tapi itu ditulis untuk membaut kejutan.”

Kali ini, tentu saja, pastilah seorang anak laki-laki.

“Kirishima, kau benar-benar membaca novel misteri, ya.”

“Kau pikir aku ini apa?”

“Kupikir kau adalah pria aneh yang memakai novel misteri untuk alibi, yang cemburu melihat medsos pacar dari gadis yang kau sukai sambil mendengarkan suara piano yang datang dari ruangan sebelah.”

“Itu cukup nusuk tahu.”

Aku menyebutkan tiga kemungkinan pelakunya.

Yamanaka-kun dari klub penelitian manga.

Dialah yang paling memperhatikan Hayasaka-san selama pelajaran olahraga. Sudah pasti dia tertarik pada pakaian olahraga. Dia mengikuti kontes manga, dan ketika dia terbawa suasana, dia kehilangan pandangan tentang sekelilingnya. Dia seharusnya pintar, tapi ada desas-desus bahwa dia mendapat nilai nol pada ujian tengah semester.

Ichiba-kun dari klub sepak bola.

Dia berbicara keras tentang bermain dengan gadis-gadis dari sekolah lain, tapi dia selalu melihat ke samping untuk melihat bagaimana reaksi Hayasaka-san. Dia terlihat seperti tipe pria yang terbiasa dengan wanita, tapi kenyataannya, dia tidak begitu. Orang yang benar-benar terbiasa dengan wanita adalah mereka yang diam-diam memacari seorang guru, seperti Maki.

Nohara-senpai dari klub bulu tangkis.

Dia adalah siswa tahun ketiga yang menyatakan cintanya pada Hayasaka-san dua kali dan ditolak. Dia masih belum menyerah, jadi dia datang ke kelas kami berpura-pura punya urusan dengan seorang junior dan menatap Hayasaka-san penuh kerinduan. Dia tipe yang dramatis, dan pengakuan keduanya dilakukan di depan semua orang, yang membuat Hayasaka-san menangis.

Ketiganya menyukai Hayasaka-san, dan tak satu pun dari perasaan mereka memiliki tempat untuk dituju. Ini adalah masalah yang sangat sulit untuk jatuh cinta dengan seseorang ketika hal-hal seperti itu sering terjadi.

“Jadi, bagaimana kita mengidentifikasi pelakunya sekarang?”

“Ada satu petunjuk lagi.”

“Surat cinta yang kamu kumpulin, ya?”

Kami mungkin bisa mengetahuinya dari tulisan tangannya.

“Bisakah kau minta Miki-chan untuk meminjam kuis yang dia berikan tempo hari?”

“Oke.”

“Enteng sekali jawabanmu. Jika ketahuan, bisa jadi masalah besar, loh.”

“Miki-chan akan menuruti apapun yang kukatakan.”

Pria ini mengatakan hal-hal menakjubkan tanpa ragu-ragu.

“Daripada itu Kirishima, ceritakan soal hubunganmu dengan Hayasaka. Kau sangat peduli padanya. Dan dari kelihatannya, Hayasaka juga sama sekali tidak biasa.”

“Itu bukan sesuatu yang bisa ku bicarakan dengan orang lain.”

“Emang kenapa sih? Gak adil kalau hanya kau yang tahu rahasiaku, Kirishima.”

“Apa boleh buat.”

Aku menjelaskan secara singkat hubungan ku dengan Hayasaka-san.

“O-Ooh. Itu sangat tidak sehat.”

Kata Maki. Itu bukan kalimat yang pantas dikatakan pria yang berpacaran dengan seorang guru.

(Tln: Tepat sekali, ni chara support OP banget sumpah)

“Sama-sama berpacaran dengan yang kedua untuk asuransi, ya.”

“Ini cara yang sangat cerdas.”

“Mungkin seperti itu yang ada dikepalamu, tapi aku tidak yakin apakah itu akan berjalan lancar.”

Maki skeptis terhadap metode dengan kemungkinan patah hati 25%.

“Setidaknya ada satu kesalahan yang sangat serius.”

“Yang mana?”

“Itu kemungkinan yang kedua naik status menjadi yang pertama.”

Dengan kata lain, perubahan asumsi.

“Jika hanya salah satu dari, Hayasaka atau kamu menaikan status yang lain menjadi yang pertama, itu akan menjadi sangat rumit.”

Kata Maki seolah-olah dia sedang memprediksi.

“Kuharap itu tidak sampai ke sana.”

Related Posts

Related Posts

Post a Comment