-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 4 part 5 Indonesia

Episode 4
Surat Tanpa Nama



Di depan mataku ada tumpukan kertas ujian.

Saat itu sepulang sekolah, di ruang klub. Dan aku sedang kesulitan.

Aku bermaksud mencocokan tulisan tangan di surat cinta dengan di kertas ujian, tapi sebagian besar huruf di kertas ujian adalah alfabet.

Itu wajar saja mengingat Miki-chan adalah seorang guru bahasa Inggris.

Nama dan terjemahannya dalam bahasa Jepang, tapi jumlah hurufnya terlalu sedikit untuk analisis tulisan tangan. Selain itu, aku hanya punya lembar jawaban tahun kedua, jadi tahun ketiga dan tahun pertama di luar jangkauanku.

Aku bisa mengetahuinya dengan sedikit berpikir, tapi ini adalah kesalahan yang sangat ceroboh.

Rasanya seperti, “Yare yare.”

Aku menghela nafas dan meletakkan 2 surat cinta yang kukumpulkan dari kotak sepatu di mejaku untuk melihatnya.

Salah satu surat memuji penampilan Hayasaka-san, sementara yang satunya mendesaknya untuk segera membalasnya.

Cara ia meminta balasan dengan surat tanpa nama memang menakutkan.

Di antara surat cinta yang diberikan Hayasaka-san kepada Miki-chan berisi permintaan untuk menunjukkan seragam olahraganya. Itu bukan lagi surat cinta.

Aku menatap surat di tanganku. Lalu aku menyadari sesuatu.

Hurufnya ditulis dengan sangat hati-hati.

Wajar jika itu surat yang ditunjukan kepada seorang gadis, yang artinya berbeda dengan tulisan tangannya yang biasa.

Aku pernah dengar bahwa analisis tulisan tangan itu sulit bahkan untuk para profesional, dan tidak mungkin aku bisa melakukannya, karena aku belum menunjukkan keterampilan pengamatan apa pun di kelas seni.

Kejadian di kehidupan nyata itu mudah.

Aku ingat mengatakan hal seperti itu kepada Maki, dan tiba-tiba aku merasa malu.

Sekarang setelah aku mengatakan sesuatu yang besar, aku bertanya-tanya apakah ada petunjuk lain. Tapi aku bukan orang yang bijaksana, dan setelah aku memutuskan untuk memecahkan masalah dengan analisis tulisan tangan, sulit bagiku untuk melunakkan pikiranku dari sana.

Bisa juga menghampiri ketiga orang yang telah aku persempit dan memberi tahu mereka secara bergantian bahwa dialah pelakunya untuk membuatnya mengaku. Tapi jika aku tak punya bukti apa pun, mereka mungkin akan lolos begitu saja ketika diberitahu.

Aku diberitahu untuk mengembalikan kertas ujian sebelum malam hari.

Waktu terus berjalan.

Yah, mau bagaimana lagi jika itu tidak mungkin. Mari kita menyerah dan pulang untuk tidur.

Itulah yang kupikirkan ketika aku memasukkan kertas ujian ke dalam amplop untuk mengembalikannya.

——Aku mendapat pencerahan.

Aku berdiri dan meninggalkan ruang klub. Lalu aku menuruni tangga menuju lantai satu.

Gedung sekolah lama, sebuah ruangan di seberang jalan dari ruang klub Penelitian Misteri. Aku membuka pintu dan masuk ke dalam.

Seorang anak laki-laki duduk di meja.

Aku berdiri di belakang anak itu dan meletakkan tanganku di bahunya.

“Bisakah kamu kembalikan? Seragam olahraganya Hayasaka-san.”

Dia membalikkan tubuhnya ke arahku dan berpikir sejenak sebelum berkata.

“Kenapa kamu tahu itu aku?”

“Kau mendapat nol dalam ujian tengah semester.”

Dia seharusnya pintar.

“Kenapa kau mendapatkan nilai itu?”

“Aku lupa menuliskan namaku.”

Siswa laki-laki itu menjawab dengan nada tenang.

Aku meletakkan dua surat di mejaku dan berkata.

“Itu tidak baik. Kau harus mencantumkan namamu di semua hal yang penting.”

Related Posts

Related Posts

1 comment