-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 5 part 8 Indonesia

Episode 5
Aku Tahu



Permainan tanpa tangan adalah salah satu permainan terbodoh yang ada dalam catatan cinta.

Seperti biasa, dijelaskan bahwa semua tergantung selera pemain apakah permainannya akan seru atau tidak.

Aturannya sederhana: hanya menghabiskan 20 menit di ruangan tertutup tanpa menggunakan tangan.

Aku dan Tachibana-san duduk di sofa saling berhadapan di seberang meja kopi.

Kedua tangan kami berada di belakang punggung kami.

Begitulah cara memulai permainan, tapi hampir tak ada yang bisa kami lakukan tanpa menggunakan tangan.

Selain itu, ada terlalu sedikit aturan sehingga aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa.

Waktu berlalu dalam keheningan di antara kami.

Meskipun permainan ini dibuat oleh seorang penulis dengan IQ 180, menurutku ini memang sebuah kegagalan.

Ketika aku sedang memikirkan itu.

“Rambutku, ganggu banget.”

Tachibana-san mengayunkan sehelai rambut yang menjuntai di pipinya.

“Ketua, bantu aku selipkan ini di belakang telingaku.”

Aku mengerti, jadi begitu cara mainnya.

Inilah esensi sebenarnya dari permainan ini. Meminta pihak lain untuk melakukan apa yang tidak bisa kau lakukan.

Tapi karena kami tidak bisa menggunakan tangan kami, kami harus menggunakan bagian tubuh kami yang lain. Dan hanya ada sedikit bagian tubuh selain tangan yang bisa digerakan secara fleksibel.

“Kau tidak keberatan?”

“Buruan. Rambutnya, bikin geli.”

Dia tak keberatan.

Aku berjalan ke sebelah Tachibana-san dan mendekatkan wajahku ke sisi wajahnya. Tercium aroma yang wangi. Lalu, aku menggigit sehelai rambutnya yang menggantung di pipinya dengan mulutku. Pada saat itu, bibirku menyerempet pipinya, tapi Tachibana-san tetap memasang wajah tenang.

(Tln: Anjirlah, main gigit-gigitan lagi. Kenapa gak pake kaki aja coba :v)

Perlahan aku menyelipkan sehelai rambutnya ke belakang telinganya. Ini tidak terlalu sulit.

Tapi ketika aku tersadar, aku sudah menjilati kontur telinganya dengan lidahku, mengambil keuntungan dari permintaannya untuk menata rambutnya. Seperti yang dulu dilakukan Tachibana-san padaku. Bukan, ini bukan karena menurutku bentuk telinganya sangat indah, atau karena aku terpesona dengan bentuknya yang unik.

Aku ingin membuat Tachibana-san malu dan mengakhirinya lebih cepat. Itu benar. Ini bukan mencari alasan.

Namun, tidak ada kesan malu pada Tachibana-san. Tampaknya cinta monyet sudah tumbuh sedikit.

“Terima kasih banyak.”

Kata Tachibana-san dengan wajah cuek.

“Juga, aku merasa haus.”

Gelas kertas berisi air sudah disipakan di atas meja.

Kertasnya lembut, jadi kau bisa menggigit ujungnya dengan mulut.

Tachibana-san, dia sudah menyiapkannya. Aku memahami permainan ini sepenuhnya.

“Baiklah, siap?”

“Ya.”

Aku memegang cangkir kertas dengan mulutku. Kemudian, aku membawa ujung sisi lainnya ke mulut Tachibana-san. Wajah kami berdekatan lagi hingga tampak seolah dahi kami nyaris bersentuhan.

Wajah Tachibana-san memang cantik, dan ketika aku melihatnya dari dekat, aku merasa agak gelisah.

Sekrup di kepalaku mulai longgar.

Tachibana-san meletakkan mulutnya di tepi cangkir. Secara alami, mulutku berada di ujung yang berlawanan.

Menggunakan cangkir kertas, kami terhubung.

Ini bukan ciuman tidak langsung. Bibir kami secara bersamaan berada di tepi cangkir.

Bisa dikatakan ini adalah ciuman perantara. Sebuah tindakan mencium suatu benda secara bersaman.

Tidak, ini, hampir, seperti ciuman. Kami terhubung.

Aku merasa seperti menerima ini lebih dalam, lebih intim daripada ciuman biasa.

Aku membalikkan cangkir untuk memberinya minum. Namun, karena gerakan yang tiba-tiba, sebagian besar air tumpah. Bibir tipis dan blus putih Tachibana-san menjadi lembab dan basah.

“Maaf.”

“Lapin dong.”

Ada juga handuk tangan di atas meja. Astaga, dia benar-benar sudah menyiapkannya.

Aku menjuntai handuk tangan berwarna biru langit. Lalu aku menyeka air dari sekitar mulut Tachibana-san. Kulit Tachibana-san sangat putih dan halus sehingga hampir membuat pembuluh darahnya muncul, jadi aku usap dengan sangat lembut.

“Bibirku masih basah.”

“Oke.”

(Tln: Anjay. Penulis buku catatan cinta emang jenius)

Kain handuk tangan tebal, jadi tidak bersentuhan langsung.

Tapi dengan handuk di antara kami, bibirku dan bibir Tachibana-san benar-benar bersentuhan.

Aku terpana menyadari fakta ini.

Pipi Tachibana-san memerah.

Ketika aku menyekanya, aku merasa seolah-olah Tachibana-san menekan mulutnya tanpa peduli sama sekali. Aku bertanya-tanya bagaimana rasanya jika tidak ada handuk tangan ini, ya. Bagaimana perasaanku, ya.

“Lapin semua tempat yang basah.”

“Oke.”

Aku mendekatkan mulutku ke lehernya dan menyekanya. Tengkuknya putih.

Selanjutnya, blus. Itu basah dan sedikit transparan. Harumnya seperti pelembut kain. Kainnya tipis.

Bahu, dada, rok.

Aku menekan wajahku melalui handuk tangan, di tempat yang basah dan tidak basah.

Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu. Rasionalitasku mulai rusak.

Tidak peduli di mana aku menyeka tubuhnya, Tachibana-san tidak menolak sama sekali.

Dia hanya menghela nafas manis. Aku merasakan tubuh Tachibana-san. Lalu——.

Apa pun yang kulakukan akan diperbolehkan. Aku merasa seperti itu.

Aku ingin memeluk tubuh ramping Tachibana-san. Dorongan seperti itu muncul, tapi aku menekannya. Aku tidak bisa melakukan itu. Aku melepaskan tubuhnya sebelum rasionalitasku benar-benar lenyap.

“Sudah ku lap semua.”

“Terima kasih.”

Tachibana-san memiliki semacam ekspresi gembira.

Napasnya juga ringan. Mungkin sekrup dikepalanya mulai longgar, sama sepertiku.

“Ketua, adakah sesuatu yang kau ingin ku lakukan?”

“Ya, baiklah. Aku sudah bergerak sedikit, jadi kupikir aku mungkin lapar.”

“Kebetulan ada makanan di sini.”

Di atas meja ada kantong perak kecil Pocky.

“Kamu boleh makan ini.”

Kami sangat sinkron. Tidak perlu kata-kata lagi.

Tachibana-san mengambil kantong perak itu dan menyerahkannya padaku. Aku menggigit sisi lain.

Kami menarik ke arah arah yang berlawanan satu sama lain dan kantong itu terbuka. Kami meletakkannya di atas meja. Keselarasan yang luar biasa dari kami berdua.

Setelah itu Tachibana-san mengambil Pocky dan menyodorkannya padaku.

Aku menggigit ujungnya. Pocky-nya menjadi lebih pendek.

Semakin pendek batangnya, semakin dekat bibir Tachibana-san, yang memegang Pocky di mulutnya.

Satu gigitan lagi. Pocky menjadi lebih pendek. Bibir Tachibana-san semakin dekat.

Satu gigitan lagi, lebih pendek, dan bibir tipisnya mendekat.

Saat Pocky-nya habis, jarak kami akan nol.

Tachibana-san, apakah kau tidak keberatan dengan itu?

Aku hanya bisa melihat bibir Tachibana-san saat ini. Sepenuhnya, konteks seperti itulah yang sedang terjadi.

Tachibana-san juga mengerti itu.

[Lakukan saja.]

Dia mengangkat dagunya dan mengulurkan bibirnya seolah mengatakan itu.

Jarak relatif antara aku dan cinta Tachibana-san adalah Pocky. Segera jarak itu akan segera menjadi nol.

Aku akan mencium orang yang paling aku cintai dan membiarkan perasaanku mengambil alih.

Tachibana-san memiliki selera yang bagus dan kreatif. Aku yakin dia akan memberiku ciuman yang orisinal dan menakjubkan yang belum pernah kulakukan sebelumnya. Ciuman yang tidak akan pernah dilakukan orang normal, yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehku, itu akan sangat tidak sehat dan menyenangkan.

Tachibana-san yang seistimewa supercar, orisinal, dan memiliki kecantikan yang tiada tara.

Aku sangat dekat untuk mencium gadis seperti itu. Terbaik, terhebat, orisinal——

Namun, tepat sebelum kami akan berciuman.

Tiba-tiba Tachibana-san melepaskan mulutnya.

Dengan kejam semua Pocky yang tersisa ditempatkan di mulutku.

[Apa yang kamu harapkan?]

(Tln: Lol)

Tachibana-san tersenyum nakal.

Aku sangat mengharapkannya.

Aku jadi seperti anjing yang ditinggal sendirian. Aku ingin. Ciuman. Aku tidak bisa melupakan perasaan ini.

Ah sial. Aku tidak tahan lagi. Aku ingin mengambil bibir Tachibana-san, bahkan jika harus memaksanya. Tetapi——.

Dengan sensasi rasa di mulutku, aku menyadari maksud sebenarnya Tachibana-san.

Bagian kerupuk dari Pocky.

Tempat di mana Tachibana-san telah menggigitnya menjadi lembab dan lembut.

Aku mengunyahnya. Apa yang ada di mulut Tachibana-san, ada di mulutku. Itu adalah tindakan terlarang, lebih tidak bermoral daripada ciuman.

Saat aku menelannya, perasaan senang yang tak dapat dijelaskan mengalir di seluruh tubuhku.

“Gimana?”

“Kau mungkin jenius, Tachibana-san.”

(Tln: No no, lu yang bucin)

“Kamu pasti masih lapar, ‘kan?”

“Sangat lapar.”

Kami mengulangi hal yang sama sampai kehabisan pocky. Tachibana-san memberi, dan aku menggigitnya dengan putus asa dan berantakan. Tepat sebelum akhir, aku dipaksa menyerah. Ulangi, ulangi, ulangi.

Kami mengambil kantong selanjutnya. Mungkin dia akan memberiku ciuman kali ini. Dengan harapan seperti itu dalam pikiranku.

Aku ingin, aku ingin menciumnya.

Lagi, beri lagi pocky. Beri aku lebih banyak pocky. Beri aku lebih banyak. Lagi. Aku ingin, ingin, Tachibana-san, pocky, lagi, aku ingin lebih banyak pocky, lagi, lagi, popopopo.

Sangat banyak. Kerupuk basah merusak otakku dan mengusaiku.

Tachibana-san juga terengah-engah, dan matanya tidak fokus. Tachibana-san juga linglung.

Satu kantong terakhir. Aku punya firasat. Aku bisa melakukannya di sini.

Akan luar biasa jika kami berciuman saat dalam keadaan linglung. Itu mungkin akan mantab sekali.

Dengan firasat baik, kami berdua bekerja sama, membuka kantong perak terakhir.

Tetapi——.

Di sana, timer berdering, menandakan berlalunya 20 menit.

Dengan suara bodoh, aku merasakan kekosongan.

Kami kembali ke diri kami sendiri seperti biasa dan merenungkannya.

Apa yang kupikirkan barusan, kau sudah gila.

“Sudah kuduga, permainan terlarang tidak boleh dimainkan dengan enteng.”

“......Kau benar.”

Related Posts

Related Posts

Post a Comment