-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 5 part 9 Indonesia

Episode 5
Aku Tahu



Untuk beberapa saat, aku menjatuhkan diri ke sofa kelelahan.

Ketika aku melakukannya, Tachibana-san mengangkangiku.

“Hei?”

Ini adalah posisi yang cukup berbahaya. Roknya berantakan, memperlihatkan paha putihnya. Jika ini Hayasaka-san, itu pasti disengaja, tapi dalam kasus Tachibana-san, sulit untuk menilainya. Bagaimanapun——.

“Permainan sudah berakhir.”

“Kembalikan saja dasiku.”

Tachibana-san membuka ikatan dasi yang dia pakai dan mengalungkannya di kerahku.

Aku sedikit gugup, berpikir bahwa memakaikan dasi sudah seperti pengantin baru saja.

“Jangan terlalu sering menggoda Hayasaka-san ya?”

“Un.”

Tachibana-san mengangguk dengan patuh.

“Itu tidak perlu lagi. Karena aku sudah tahu.”

“Soal apa?”

“Hayasaka-san menyukai dua orang. Iya, ‘kan?”

Salah satunya adalah dia menyukai senpaiku. Yang satunya adalah dia menyukaiku.

“Aku tidak bisa mengetahuinya karena aku hanya menyukai satu orang.”

Sama halnya dengan dia, lanjut Tachibana-san.

“Ketua juga menyukai dua orang.”

Salah satunya adalah kau menyukai Hayasaka-san. Dan yang satunya adalah....

Tachibana-san berhenti berbicara di sana.

Sebagai gantinya, dia menyentuh pipiku.

“Hei, ayo ciuman.”

Katanya.

“Aku belum pernah melakukannya, jadi aku ingin mencobanya.”

Tachibana-san terus mendekatkan wajahnya. Aku menghentikannya dengan memegang bahunya.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Kita seharusnya tidak melakukan hal semacam ini. Aku merasa bersalah pada pacarmu.”

“Orang itu, bukan pacarku.”

“Eh?”

“Kerabat tunanganku. Dia hanya pura-pura menjadi pacarku agar tidak ada pria yang mendekatiku.”

Itu fakta yang mengejutkan. Tapi.

“Kau benar-benar punya tunangan, bukan?”

“Punya.”

“Kalian tidak mungkin bisa putus, bukan?”

Pertanyaan yang sedikit lebih mendalam.

Tachibana-san mengangguk, aku terkejut meskipun aku tahu itu.

“Perusahaan ibuku berjalan baik berkat ayah orang itu. Aku tahu ibuku mengalami masa-masa sulit, dan aku tidak bisa menolaknya.”

Tachibana-san memisahkan diri dariku dan berdiri.

“Ketua tidak suka gadis yang punya tunangan, ya?”

“Bukan seperti itu.”

“Tapi kamu tidak mau menciumku.”

Kita tidak boleh melakukan itu, kataku.

“Gitu, ya. Maka aku, kurasa aku tidak akan pernah bisa mencium siapa pun lagi.”

“Kenapa?”

“Hei Shirō-kun.”

Tachibana-san tiba-tiba memanggilku dengan nama depanku.

“Kau tahu?”

“Apa?”

“Waktu itu, kau bercerita tentang cinta pertamamu di ruang karaoke, ‘kan?”

Episode di mana aku memberi tahu gadis yang aku sukai untuk pertama kali ketika aku masih kecil bahwa [aku tidak ingin kau berteman dengan anak laki-laki lain].

“Sudah sepuluh tahun yang lalu, dan ternyata kamu masih mengingatnya, ya?”

“Karena itu cinta pertamaku.”

“Tapi faktanya sedikit berbeda, loh.”

Kata Tachibana-san.

“Lebih tepatnya, Shiro-kun memberi tahu gadis itu [Aku tidak ingin ada anak laki-laki lain yang menyentuhmu].”

“Itu lebih memalukan.”

“Ya. Tapi sepertinya gadis itu menganggapnya serius. Bahkan sekarang, 10 tahun kemudian, dia tidak ingin menyentuh laki-laki lain, tidak ingin disentuh laki-laki lain, dan tidak bisa merasakan jantungnya berdebar-debar kecuali dengan laki-laki itu.”

(Tln: Ah once again… I didn't see it coming. Plot twist yang sangat menarik)

Mata kaca Tachibana-san menangkapku dan tidak mau melepaskannya.

“Hai.”

Sebuah tangan dingin menyentuh pipiku.

“Kau tahu?”

“Apa?”

Tachibana-san mendekatkan wajahnya ke wajahku, begitu dekat sehingga bibir kami akan saling tumpang tindih jika aku bergerak sedikit.

“Apa kau tahu, kalau gadis itu adalah aku?”

Aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

Aku tahu bahwa kalau aku mengatakan sesuatu di sini, hubungan kami akan berubah secara drastis. Tapi untuk beberapa alasan, wajah Hayasaka-san muncul di benakku dan aku tidak bisa berkata apa-apa. Mungkin aku takut dengan perubahan yang akan terjadi jika aku mengatakan sesuatu.

Setelah saling menatap sebentar, Tachibana-san menjauh dariku.

“Yah, aku mengerti.”

Dan kali ini, dia bersiap-siap untuk pulang dan keluar begitu saja dari ruang klub.

Di ruangan aku sendirian, aku melihat sekantong pocky.

Aku mengambil satu dan memasukkannya ke dalam mulutku.

Tidak cukup. Sepertinya biskuit yang tidak basah tidak bisa lagi memuaskanku.

Tachibana-san, dia akan melakukannya untukku.

Saat aku memakan pocky, aku ingat apa yang dikatakan Tachibana-san.

[Apa kau tahu, kalau gadis itu adalah aku?]

Aku tahu kok.

Itulah kenapa Tachibana-san istimewa, dan apapun yang terjadi, dia adalah gadis nomor satuku.

(Tln: Anjay. Dua kali dikejutkan aku. Penulisnya gila sih ini. Pembawaannya bagus banget. Mengaburkan banyak sekali hal dan mengungkapkannya diakhir)

Related Posts

Related Posts

1 comment

  1. Gila keren sih ini cerita, setuju kali aku min 👍😃

    ~fadorudesu

    ReplyDelete