-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 6 part 4 Indonesia

Episode 6
Revolusi Segi Empat



“Aku gak suka ini!”

Di koridor saat makan siang, Maki berkata dengan ekspresi pahit di wajahnya.

“Tiba-tiba menjadi populer dan terkenal, itu sangat tidak adil, bukan? Padahal aku musti jadi ketua OSIS dan bekerja keras buat naikin popularitas. Baru masuk juga udah geser posisiku, siapa coba yang gak kesal?”

Begitu Yanagi-senpai pindah, dia menjadi topik hangat di sekolah. Segala hal tentang menyegarkan dan keren.

“Jangan seperti itu. Maki sendiri sudah banyak dibantu olehnya sewaktu di SMP, ‘kan?”

“Aku tahu kok, kalau soal itu. Tapi ini aku loh! Aku ketua OSIS! Aku ditanyai salah satu gadis kohai, [Apa kamu kenal Yanagi-senpai? Kalau iya, mau gak jalan bareng? Ajak ajak Yanagi-senpai sekalian] gitu coba, aku diperlakukan seperti barter. Yang benar saja?”

Aku juga waktu pada tahu kalau aku dekat dengan senpai, aku dibombardir dengan pertanyaan dari para gadis. Makanan apa yang senpai suka, jenis musik apa yang dia dengarkan, apakah dia punya pacar.

“Fakta bahwa dia adalah anggota tim junior tetapi berhenti bermain sepak bola karena cedera juga faktor yang kuat. Gadis-gadis menyukai tragedi. Oi, Kirishima, kau mau pergi kemana?”

“Aku sudah berjanji pada senpai kalau aku akan mengajaknya berkeliling sekolah.”

“Jadi kamu juga terpengaruh oleh Yanagi-senpai?”

Aku meninggalkan Maki yang merengek dan menuju kelas tahun ketiga.

Senpai itu tinggi, jadi aku langsung menemukannya.

“Yo, Kirishima.”

Senpai melihat dan mendatangiku.

Saat kami berjalan menyusuri koridor, semua orang melihat senpai. Aku bahkan merasa seperti aku adalah orang yang populer karena berjalan di sebelahnya. Aku menjelaskan bahwa di sini adalah ruang audio visual, di sana adalah ruang pembelian, dan seterusnya.

“Tapi, bukankah ini perpindah sekolah yang cukup mendadak?”

“Karena sekolahku sebelumnya adalah sekolah yang kupilih hanya karena mudah dijangkau oleh tim bola anak muda.”

Kalau dipikir-pikir, sekolah itu cukup jauh.

“Dan sekolah itu juga tidak cocok untuk ujian masuk perguruan tinggi. Jadi aku ingin pindah ke sekolah yang lebih mudah diakses sesegera mungkin.”

“Ada juga kelas musim panas, ya. Tapi apakah kau tidak punya penyesalan dalam sepak bola?”

“Enggak ada. Toh ada banyak yang sepertiku. Nah Kirishima, bukankah aku selalu bilang padamu kalau kau tidak perlu bicara sopan denganku?”

“Tidak, itu terlalu sulit untukku.”

Ketika kami membicarakan hal itu, tiba-tiba aku melihat Sakai berdiri di koridor dalam mode polos.

“Kau pasti murid pindahan Yanagi-kun, bukan?”

Sakai sama sekali tidak takut pada Yanagi-senpai, dan tidak sungkan terhadapnya. Orang-orang di sekitar juga sedikit terkejut.

“Aku ada perlu denganmu sebentar.”

“Apa itu?”

“Yah, bukan aku sih yang ada perlu.”

Aku melihat Hayasaka-san bersembunyi di belakang punggung Sakai sedang menatap kami.

Sakai mendorong punggung Hayasaka-san dan membuatnya berdiri di depannya.

“Oh, Hayasaka-chan.”

Yanagi-senpai mengangkat satu tangannya.

Wajah Hayasaka-san langsung memerah.

“Hai!”

Dia menyapanya. Dan kemudian padaku juga,

“Kirishima-kun, hai!

Sepertinya Hayasaka-san semakin kikuk saat berhadapan dengan pria nomor satunya.

“Senpai, Kirishima-kun mengajakmu berkeliling sekolah, ya?”

“Hayasaka-chan, ada apa?”

Yanagi-senpai memiringkan kepalanya.

“Wajahmu terlihat agak merah.”

“Itu karena panas sekali hari ini.”

“Rasanya agak canggung.”

“Y-Ya, kurasa begitu. Kenapa, ya? Mungkin karena aku jarang bertemu senior di sekolah. Ahaha.”

Selama mereka mengobrol, Hayasaka-san perlahan menjadi lebih tenang.

Ketika dia benar-benar sudah kembali normal, aku memanggilnya.

“Hayasaka-san, gimana kalau kamu ajak senpai berkeliling?”

“Eh? Aku?”

“Aku dapat nilai merah pada ujian sebelumnya. Aku harus bersiap untuk remedial.”

“Kok bisa Kirishima-kun dapat nilai merah? Aa.”

Hayasaka-san sepertinya menyadari niatku, dan ekspresinya menjadi lebih tegas, “Ya, kamu benar.”

“Un, akan kuajak berkeliling. Aku akan melakukan yang terbaik.”

“Kalau begitu, aku sampai di sini saja.”

Aku segera mengangkat dua jari dan berbalik untuk pergi. Namun.

“Jangan seperti orang asing gitu. Ayo kita jalan-jalan bertiga.”

Yanagi-senpai merangkul bahuku.

“Kalau soal belajar, nanti deh aku bantu. Seperti waktu di SMP.”

Selain itu, bisik senpai di telingaku.

“Kirishima, aku tahu kau, menyukai Hayasaka-chan, bukan?”

“Enggak, itu enggak benar.”

“Jangan malu-malu. Serahkan padaku.”

Aku tak perlu membuatnya melakukan apapun, aku dan Hayasaka-san sudah menjalin hubungan meskipun yang kedua, tapi senpai tidak tahu itu, jadi dia berkata, “Nah, Hayasaka-chan, tolong ya!”

Pada akhirnya, kami bertiga memutuskan untuk melihat-lihat gedung sekolah.

Hayasaka-san berjalan dengan canggung di depan kami.

“Sejauh yang kutahu, Kirishima sangat menjanjikan, loh.”

(Tln: Menjanjikan di sana dalam hal percintaan)

“Kenapa menurutmu begitu?”

“Hayasaka-chan, kau terlihat malu-malu. Kau pasti memikirkan Kirishima, 'kan?”

Yanagi-senpai, dia masih tidak peka.

Sama seperti di SMP. Ketika kami pulang sekolah, kami sedang makan es krim di depan toserba bersama, dan ada gadis-gadis yang menatap kami dengan panas. Melihat itu, yang dikatakan senpai adalah.

“Kirishima, kamu sangat populer, ya?”

Itu bukan aku.

(Tln: Wkwkw. Tipikal MC banget. Bedanya sangat humble nih si Senpai)

Yang selalu terlihat keren adalah Senpai, dan itu pun masih sama sekarang.

Kalau Hayasaka-san, dengan sikapnya yang rendah hati, berjalan di sebelah Senpai yang berbadan tinggi, mereka akan sangat cocok.

Siswa lain yang melihat itu akan terima bahwa Hayasaka-san memang pantas dengannya.

Pria nomor satu Hayasaka-san tiba-tiba menjadi nyata, dan aku merasa agak jauh darinya. Tapi seperti inilah yang seharusnya. Karena itulah aku berkata pada Hayasaka-san dengan suara pelan agar Senpai tidak mendengarnya.

“Aku mendukungmu.”

Hayasaka-san mengepalkan tinjunya dengan senyumnya yang biasa.

“Un, aku akan berjuang!”

Related Posts

Related Posts

1 comment