-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 6 part 3 Indonesia

Episode 6
Revolusi Segi Empat



“Lihatlah aku saja.”

Aku membuat Hayasaka-san berdiri di depan pohon cedar besar dan melakukan Kabedon.

“Un. Aku hanya melihat Kirishima-kun.”

Hayasaka-san memelukku tanpa ragu dan menekan seluruh tubuhnya. Dari saat kami memasuki area kuil, Hayasaka-san benar-benar sangat menyukainya.

[Habis sudah lama sejak kita beduaan saja sih.]

Itulah yang dia katakan. Mungkin itu efek samping dari pertarungannya dengan Tachibana-san.

“Hei Hayasaka-san, aku cukup berkeringat loh.”

Meskipun kami berada di bawah naungan pohon, ini cukup panas. Ini adalah musim di mana jangkrik pun terus berdering, jadi bajuku cukup berkeringat. Tapi Hayasaka-san sepertinya tidak peduli.

“Aku juga berkeringat kok.”

Katanya, dia menolak untuk menjauh. Keringat dan keringat bercampur menjadi satu, dan sepertinya batas di antara kami berdua akan hilang.

“Kabedon, kurasa aku sangat menyukainya.”

“Tidak, normalnya tidak seperti ini.”

“Iya tah?”

“Biasanya itu dilakukan tiba-tiba, dan si gadis akan menoleh ke samping karena malu.”

Ini tentang menikmati jarak yang tipis.

“Kalau begitu, kali ini aku akan lakukan Nekukui, ya.”

Hayasaka-san menarik dasiku dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Saat berikutnya, Hayasaka-san mencium bibirku dan bahkan memasukan lidahnya. Tangan yang memegang dasiku berakhir di punggungku, dan kami berciuman sambil berpelukan.

Kami berciuman untuk waktu yang lama hingga air liur menetes dari tepi mulutku.

“Kurasa aku juga menyukai Nekukui.”

“Ini sama sekali berbeda.”

“Bagaimana kalau dibandingkan dengan Tachibana-san?”

“Tidak, aku belum pernah mencium Tachibana-san.”

“Aku ingin dibandingkan dengan Tachibana-san. Jika aku dibandingkan dengannya, mungkin, itu akan terasa sangat menyenangkan.”

Hayasaka-san, bukankah kau semakin aneh?

“Hei, ayo bandingkan. Seperti apa Kabedon  Tachibana-san?”

“Tachibana-san... dia benar-benar cekatan.”

“Apa kamu degdegan?”

“...Ya.”

“Gitu, ya.”

Gak papa sih, kata Hayasaka-san dengan riang.

“Kamu melakukan banyak hal dengan Tachibana-san seperti yang tertulis di catatan klub PeMis, bukan? Apakah ada hal lain?”

Ketika Hayasaka-san bertanya padaku tentang itu, aku memikirkannya sebentar dan kemudian menjawab.

“Ada permainan yang disebut misteri telinga.”

Ini adalah permainan di mana keduanya mendekat, mengucapkan judul karya di telinga lawan mainnya, dan menebak penulisnya. Aku tidak bisa memberitahunya bahwa Tachibana dan aku telah menjilat telinga masing-masing. Aku tidak bisa mengatakan padanya bahwa aku telah menjilat telinganya dengan Tachibana-san, apalagi dengan Hayasaka-san yang sedang dalam mood.

“Ayo kita lakukan itu.”

“Hayasaka-san, kamu jarang baca novel misteri, ‘kan?”

“Kalo gitu kita gunakan yang ada di buku referensi bahasa Jepang.”

Sambil berdiri, kami menyilangkan wajah kami untuk berbisik di telinga masing-masing.

“Tuan Muda.”

“Natsume Sōseki.”

“Restoran Banyak Pesanan.”

“Miyazawa Kenji.”

Setelah beberapa kuis, Hayasaka-san memiringkan kepalanya.

“Apa serunya dari ini?”

“Aku paham maksudmu.”

Apakah misteri telinga dan permainan di mana kau tidak diperbolehkan menggunakan tangan akan menarik tergantung pada selera pemain, dengan kata lain, itu tergantung pada imajinasi Tachibana-san.

“Ini adalah permainan untuk mendekatkan pria dan wanita, ‘kan? Jadi aku gimana?”

Melihat Hayasaka-san kebingungan, aku tak punya pilihan selain menceritakan apa yang telah dilakukan Tachibana-san.

“Ini seperti, saat perasaan itu semakin kuat, kedua pemain mulai saling berpelukan lalu menjilat telinga satu sama lain, kurasa. Tidak, itu semua hanya imajinasiku. Tapi itu tidak terjadi dengan Tachibana-san.”

“Telinga ya.”

Hayasaka-san melingkarkan tangannya di belakang leherku. Kemudian, dengan berjinjit, dia mendekatkan wajahnya ke telingaku. Saat itulah suasana Hayasaka-san berubah.

“Gitu ya, ternyata begitu... aku memang bodoh.”

Matanya berkaca-kaca dan bibirnya tersenyum tipis.

“Kita sepasang kekasih, ‘kan? Kita sudah tidak perlu sebuah permainan untuk menjadi dekat, ‘kan?”

“Hayasaka-san?

“Kita tidak perlu menggunakan permainan sebagai alasan, bukan? Kita tidak perlu berpura-pura seperti itu, bukan?”

Kemudian Hayasaka-san mulai menjilati telingaku.

Remnya benar-benar blong.

Hayasaka-san menekan dadanya ke arahku dengan terang-terangan. Saat dia melakukannya, dia tampaknya semakin bersemangat, dan napasnya menjadi semakin tidak teratur.

(Tln: damn.. Semoga cepet dpt adaptasi animenya. Baru 2 volume, sabar.)

“Hei Kirishima-kun, gimana?”

“Apa maksudmu——”

“Gimana jika dibandingkan dengan Tachibana-san?”

Tidak, aku tidak pernah melakukan hal seperti ini dengan Tachibana-san, kataku berbohong.

“Bayangkan saja, aku ingin kamu membandingkannya.”

“...Lidah Hayasaka-san lebih panas, lebih basah, dan lebih nikmat. Lebih dari Tachibana-san.”

Lebih dari Tachibana-san. Mendengar kata-kata ini, napas Hayasaka-san di telingaku diliputi kegembiraan.

Aku bisa merasakan kebahagiaan Hayasaka-san dari seluruh tubuhnya yang menempel padaku.

Sejujurnya, Tachibana-san lebih terampil, lebih bhati-hati, dan mungkin karena kecocokannya yang luar biasa baik denganku dalam banyak hal, kenikmatan fisik terasa lebih baik denganya. Tapi meskipun Hayasaka-san kikuk, dia pekerja keras, bersungguh-sungguh, dan memberikan kesenangan jiwa. Ada rasa kepuasan bisa sangat disukai oleh seorang gadis seperti ini.

“Hei, jilat telingaku juga.”

Aku menyisir rambutnya ke belakang dan menjilat telinganya. Tubuh Hayasaka-san bergetar.

“Ah...nn, ah... ya... a~anh!”

“Hayasaka-san, suaramu.”

“Habis, keluar sendiri.”

Erangang Hayasaka-san membuatku merasa agak aneh juga. Aku tanpa henti menjilati telinga Hayasaka-san. Aku tahu dia menikmatinya, jadi aku melakukannya berlebihan. Dan akhirnya, ketika aku memasukkan lidah ku jauh ke dalam telinganya, dia mengerang lebih keras. Sepatunya berjinjit, dan beberapa butir keringat mengalir di pahanya dari roknya. Dan mungkin, itu bukan hanya keringat.

(Tln: Oioi… apa itu?)

“Hayasaka-san, sudah cukup.”

Kupikir itu sudah cukup. Itu adalah cumbuan paling langsung yang pernah ku lakukan. Tetapi.

“Kirishima-kun, ayo lakukan lagi.”

Itu mungkin bukan tentang menjilat telinga satu sama lain, tetapi tentang melangkah lebih jauh.

Mata Hayasaka-san sudah tidak lagi fokus.

“Tidak, ada aturan hanya boleh sampai ciuman——”

“Aku tidak membutuhkan itu lagi. Karena aku pacar Kirishima-kun, bukan?”

“Aa.”

“Tapi, waktu Tachibana-san mengenakan dasi dan earphone Kirishima-kun, aku memikirkannya.”

“Apa itu?”

“Aku bertanya-tanya apa sih artinya menjadi pacar. Selama kamu mengaku, apakah itu pacar? Tapi saat itu, tidak ada bedanya antara Tachibana-san dan aku. Aku seharusnya pacarmu, tapi aku terus kalah.”

“Itu tidak benar.”

“Tapi, memang seharusnya begitu, ‘kan? Apa yang biasanya seorang pacar lakukan, tidak ku lakukan sih.”

Hayasaka-san meraih tanganku dan membawanya ke dadanya.

Karena kami sudah menempel satu sama lain dari tadi, Hayasaka-san juga basah oleh keringat, rambutnya yang basah anehnya seksi, dan celana dalamnya transparan.

Tanganku menyentuh benjolan itu saat aku terbawa arus, dan Hayasaka-san tampak senang.

“Tidak, tunggu sebentar. Katakanlah kita melakukan apa yang sepasang kekasih lakukan, tapi kita di luar, loh?”

“Aku gak masalah dengan itu.”

Kata Hayasaka-san sambil menekan kakinya ke pahaku, di antara kedua kakiku.

“Aku tuh, beneran gak papa jika Kirishima-kun dan Tachibana-san akhirnya bersama. Tapi ya, aku ingin Kirishima-kun ingat bahwa aku adalah pacarmu. Karena Itu, aku ingin melakukan banyak hal yang hanya kamu lakukan denganku.”

Hayasaka-san ini sangat bersungguh-sungguh.

“Aku tuh, ingin melakukannya di sini, sekarang juga. Aku gak maksain diri kok. Habis, dari tadi...”

Badanku sudah panas dan gatal, kata Hayasaka-san dengan suara teredam.

“Apakah kamu tidak mau melakukannya, Kirishima-kun?”

Aku mencoba memikirkan sesuatu. Tapi kemudian aku merasakan tubuh Hayasaka-san yang menempel di tubuhku, dan aku keceplosan.

“…Aku mau, tapi...”

“Silahkan. Aku ingin kamu melakukan semua yang ingin kamu lakukan, Kirishima-kun.”

Kemejanya berantakan, kaki putih membentang dari rok.

“Aku ingin kamu menyentuh seluruh tubuhku. Aku ingin Kirishima-kun menyentuh semuanya tanpa terkecuali.”

Pipi Hayasaka-san memerah.

Aku meletakkan tanganku di benjolan itu dan meremasnya dengan kuat. Bahkan melalui kain, aku bisa merasakan sensasinya.

“Ah, Kirishima-kun...”

Jeritannya terdengar, dan aku juga terangsang.

Hayasaka-san bereaksi dengan cara yang menarik. Dia mengubah ekspresinya dan membuat suara liris.

Aku menyentuh pinggangnya, lalu pahanya, secara berurutan.

“Kirishima-kun... mmh...”

Aku mencium Hayasaka-san yang meminta dicium.

Itu adalah ekspresi dan reaksi yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Aku ingin melihat lebih dari itu, jadi aku menyentuh tubuh Hayasaka-san. Aku ingin lagi. Aku ingin melihat lebih, lebih banyak lagi sosok berantakan yang dia tunjukkan hanya kepadaku. Dengan pemikiran itu, aku ingin mendengar suara yang belum pernah ku dengar sebelumnya, jadi aku akhirnya mencoba memasukkan tanganku ke dalam roknya.

“Boleh kah?”

“Un. Aku sudah...”

Saat itulah terjadi.

Di dalam tas yang dia lempar ke tanah, smarphonenya bergetar sambil mengeluarkan suara.

“Tunggu sebentar saja.”

Hayasaka-san berjongkok dan meraih tasnya.

“Akan ku nonaktifkan. Aku gak mau diganggu dari sini.”

Saat dia mengeluarkan smarphonenya dan melihat ke layar, Hayasaka-san membeku.

“Hayasaka-san?”

Aku memanggilnya, tapi dia hanya menatap layar.

Aku melirik ke layar smarphonenya.

Jadi begitu.

Inilah yang Maki maksud ketika dia bilang masalah yang besar. Dia adalah ketua OSIS, dan yang terlebih lagi, dia juga mengenalnya sejak SMP, jadi dia pasti sudah mendengarnya sebelumnya.

Aku juga memeriksa smarphoneku.

Aku telah menerima pesan yang sama yang telah diterima Hayasaka-san.

Itu dari pria nomor satunya Hayasaka-san, Yanagi-senpai.


[Aku akan pindah ke sekolahnya Kirishima, jadi mohon kerjasamanya!]

(Tln: event-event pada berdatangan satu per satu. Gak dikasih napas)

Related Posts

Related Posts

2 comments