-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 6 part 2 Indonesia

Episode 6
Revolusi Segi Empat



Prioritaskan yang nomor satu.

Itulah aturan ketika kami memutuskan untuk sama-sama berpacaran dengan yang kedua, dan Hayasaka-san dan aku sangat menyadarinya. Namun, ada kalanya hal-hal menjadi tidak terkendali, dan kali ini sepertinya terjadi pada Hayasaka-san.

“Maaf ya untuk yang sebelumnya. Aku sudah lama ingin meminta maaf...”

Dalam perjalanan pulang bersama, Hayasaka-san meminta maaf. Itu mengenai ujian perasaan Tachibana-san tempo hari.

“Aku malah bersaing dengan Tachibana-san. Hanya saja, aku merasa tidak ingin kalah darinya.”

“Apa dari awal kau tahu kalau itu dasiku?”

“Un. Habis Kirishima-kun, yang biasanya pakai dasi bahkan di musim panas, tapi tumben gak pakai.”

Omong-omong, aku terbiasa mengancing kemejaku sampai kancing pertama.

“Padahal aku harus menahan diri, ‘kan. Tapi waktu itu, aku malah cemburu. Maaf, ya.”

Dia terlihat sangat lesu, karena itu aku meraih tangan Hayasaka-san.

“Kirishima-kun.”

Wajah Hayasaka-san menjadi lebih cerah.

Hanya dengan berpegangan tangan seperti ini, dia akan senang. Ini adalah hal yang indah, dan pada saat yang sama, rasanya aneh mengetahui bahwa apa yang kau lakukan berdampak besar pada orang lain.

“Publik menganggap kecemburuan sebagai perasaan negatif.”

Terutama dalam hal percintaan. Aku sering dengar orang mengatakan bahwa kecemburuan pada pria itu memalukan.

“Tapi, bukankah itu perasaan yang sangat alami?”

Siapa pun memiliki keinginan untuk memonopoli dan diistimewakan.

“Kau cemburu karena kau menyukaiku.”

Mungkin ketika aku beranjak dewasa aku akan bisa berpikir secara berbeda, tapi saat ini aku tidak bisa.

“Tapi aku, cemburu pada gadis nomor satumu, loh? Aku malah mengganggumu, loh?”

“Kita agaknya masih meremehkan cinta pada yang kedua.”

Kami mungkin sama-sama yang kedua, tapi kami adalah sepasang kekasih dan kami saling mencintai. Perasaan itu kuat dan terkadang sulit dikendalikan.

“Kecemburuan merupakan bukti rasa suka.”

“Apa Kirishima-kun juga cemburu?”

“Ketika kau akan bermain futsal, aku tidak ingin kau pergi, Hayasaka-san. Meskipun dia pria nomor satumu. Rasanya sulit ketika aku memberimu sinyal bahwa aku adalah yang kedua.”

“Aku senang.”

Hayasaka-san menatap wajahku dan berkata.

“Kirishima-kun cemburu padaku, aku, senang sekali. Aku tidak tahu kenapa, apakah itu aneh?”

“Tidak, itu bagus. Aku juga senang Hayasaka-san cemburu padaku.”

Mungkin, sama-sama berpacaran dengan yang kedua adalah bagian dari cemburu pada yang pertama.

Ini hubungan yang agak menyimpang.

“Hei Kirishima-kun, aku ingin kamu lebih cemburu.”

Kata Hayasaka-san.

(Tln: Yee ngelunjak. Nanti kena serangan mental baru tahu rasa)

“Waktu kami bermain futsal, tubuh kami sering bertabrakan.”

“Ayolah.”

“Kami bahkan jatuh bersama dan tubuh kami saling bertumbuk, loh.”

(Tln: mimin kekurangan kosa kata. Misal yg cewek jatuh di atas tubuh cowok itu enaknya pake kata apa, ya?)

“Aku tidak terlalu ingin mendengarnya.”

“Dia juga dengan lembut menyentuhku dan bertanya, [Sakit tidak?] waktu dia menabrak pahaku.”

“Jangan lagi.”

“Setiap kali itu terjadi, aku sangat senang.”

“Gak papa, aku tetap gak papa!”

“Kirishima-kun, bagaimana perasaanmu sekarang?”

“Rasanya aku sekarat.”

Hayasaka-san adalah pacarku, dan aku bisa memeluk dan menciumnya. Dia ingin dipeluk dan dicium. Tapi gadis ini, gadis yang seharusnya mencintaiku, senang bermain dengan pria lain. Ini cukup rumit.

Tapi, itulah artinya sama-sama berpacaran dengan yang kedua.

Setiap kali aku menggeliat cemburu, Hayasaka-san tersenyum bahagia.

“Waktu Kirishima-kun dekat dengan Tachibana-san, aku juga merasakan hal itu.”

“Maaf.”

“Gak papa. Karena seperti inilah hubungan kita, ‘kan? Itulah bukti kalau kita saling mencintai, ‘kan? Hei Kirishima-kun, aku juga ingin cemburu. Aku ingin lebih cemburu.”

(Tln: Buset, bentuk baru masokis.)

Karena Hayasaka-san meminta itu, aku bercerita tentang kejadian saat hujan yang tidak bisa kuceritakan sebelumnya.

“Aku pernah diminta oleh Tachibana-san untuk melakukan Kabedon.”

“Kau melakukannya!?”

“Ya. Dia bilang dia degdegan.”

“Hal semacam itu tidak boleh dilakukan dengan enteng tahu!”

“Wajah Tachibana-san sangat dekat dengan ku hingga membuatku degdegan juga.”

“Gak papa, aku tetap gak papa!”

Hayasaka-san cemburu, tapi entah kenapa terlihat senang juga. Jadi aku merasa seperti ini giliranku untuk menunjukkan padanya episode kedekatanku dengan Tachibana-san.

“Di ruang musik sebelah, dia selalu memainkan lagu-lagu yang aku bilang aku suka.”

“Itu hanya kebetulan! Itu pasti Kirishima-kun saja yang salah paham!”

“Saat makan siang, kami bertukar bentou makan siang di ruang klub.”

“Aku gak mau dengar lagi...”

“Tachibana-san, sepertinya dia sudah mengunduh semua album band favoritku.”

“Aku juga dengar soal itu!”

Setiap kali aku bercerita tentang hubunganku dengan Tachibana-san, Hayasaka-san menggenggam tanganku erat-erat, memejamkan mata, dan memeluk lenganku. Setelah itu, kami saling membual episode tentang seberapa dekat kami dengan orang nomor satu kami, menjadi cemburu dan kelelahan.

“Sama-sama berpacaran dengan yang kedua itu berat juga, ya.”

Kata Hayasaka-san.

“Tapi kau tahu, aku izinkan itu karena dia adalah Tachibana-san. Jika kamu melakukan itu dengan gadis lain——”

“Jika kulakukan?”

“U~n, mungkin aku gak akan marah pada Kirishima-kun. Kupikir aku akan marah dengan si gadis lain. Aku bakal bilang, jangan dekati pacarku.”

“Kau terlalu baik padaku, Hayasaka-san.”

Ehehe, tawa Hayasaka-san.

“Tapi Kirishima-kun, kamu dan Tachibana-san cukup dekat, bukan?”

“Seperti itulah, tapi…”

Aku menceritakannya padanya. Bahwa Tachibana-san memiliki tunangan. Dan bahwa Tachibana-san tidak berniat memutuskan pertunangannya.

Jika itu masalahnya, berarti hanya Hayasaka-san yang tersisa untukku. Tapi——.

“Jadi, Hayasaka-san.”

“Aku ngerti, kok. Kamu khawatir aku akan merasa kasihan padamu dan sengaja menyerah pada yang nomor satu, ‘kan? Jangan khawatir.”

Aku tahu Kirishima-kun tidak suka hal seperti itu, kata Hayasaka-san.

“Aku tidak pernah ingin melakukan sesuatu yang Kirishima-kun tidak suka. Itulah sebabnya aku tidak akan ditolak oleh orang nomor satuku dengan sengaja. Aku akan melakukan apapun yang Kirishima-kun inginkan. Itulah yang kuinginkan. Karena aku pacar Kirishima-kun. Aku tuh, ingin jadi pacar yang baik untukmu, Kirishima-kun. Bilang saja apapun yang kau inginkan. Bilang saja kalau kamu tidak suka. Aku akan melakukan segalanya dan mengulangi semuanya.”

“Ya, un.”

“Ketika liburan musim panas tiba, ayo kita kencan sesering mungkin, ke pantai, melihat kembang api, pergi ke festival musim panas!”

Kata Hayasaka-san dengan suara yang sangat bersemangat.

“Jadi, ayo kita menjadi kekasih yang pantas selama liburan musim panas. Ayo kita buat banyak kenangan. Ayo kita lakukan apa yang orang lain lakukan. Aku gak papa jadi yang kedua, tolong jadikan aku pacar yang pantas. Aku sama sekali tidak masalah asalkan dengan Kirishima-kun. Yang selalu baik padaku dan menolongku saat aku dalam kesulitan, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun, Kirishima-kun.”

Hayasaka-san meremas tanganku dengan erat. Aku merasakan semacam tekanan berat, tapi melihatnya tersenyum riang, jadi kurasa ini lebih baik....

“Hei Kirishima-kun, kita sepasang kekasih, ‘kan?”

“Y-Ya.”

“Kalau begitu, aku ingin kamu melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan pada Tachibana-san padaku juga.”

“Seperti Kabedon atau hajidon yang ku bicarakan tadi?”

Un, kata Hayasaka-san mengangguk.

“Boleh saja, tapi dimana kita akan melakukannya? Mau kembali ke sekolah dan pakai ruang klub?”

Aku tidak terlalu menyukai aroma Tachibana-san di sana, kata Hayasaka-san menggelengkan kepalanya.

“Lalu dimana?”

“Aku ingin kita pergi ke kamarku, tapi ada ibuku hari ini.”

Kenapa dia khawatir soal itu?

“Ngomong-ngomong, ada sebuah kuil sedikit lebih jauh di ujung jalan, ‘kan?”

Memang ada kuil yang tidak sering dikunjungi orang. Di bagian belakang halaman kuil, ada hutan penjaga kuil, dan pohon-pohon tumbuh lebat. Ada juag rumor tentang pasangan yang melakukan hal-hal semacam itu di malam hari.

“Bukankah itu terlalu laknat? Selain itu, seseorang mungkin melihat kita.”

Benar, kata Hayasaka-san dengan ekspresi malu di wajahnya.

“Rasanya bikin degdegan, ‘kan?”

Related Posts

Related Posts

Post a Comment