-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 17 Bab 4 Part 3 Indonesia

Bab 4
Reuni Baru dan Pertemuan Baru


◇◇◇


Dan sore hari itu.

Masih terlalu dini untuk memulai pesta, tetapi penduduk desa yang bersemangat mulai berkumpul sedikit demi sedikit di alun-alun desa tempat acara akan diadakan.

Setelah semua orang bekerja sama menyiapkan hidangan untuk pesta, Rio akan mengunjungi bukit kecil di pinggiran desa. Tujuannya tentu saja untuk berziarah ke makam orang tuanya.

Rio dikelilingi oleh orang-orang yang sama seperti ketika dia mengunjungi desa. Ketika Rio memberi tahu Gōki dan Kayoko bahwa dia akan mengunjungi kuburan——,

“Bolehkah kami ikut juga?”

Yang lain juga telah menyatakan keinginan mereka. Berjalan dengan sejumlah besar orang membuat kelompok Rio menonjol, tetapi Ruri menemani mereka, dan ketika melewati penduduk desa dalam perjalanan ke pesta, dia berkata, “Aku hanya memberi mereka tur singkat di desa. Kalian pergilah ke alun-alun duluan," katanya, menipu mereka, dan kelompok Rio mencapai bukit yang mereka tuju.

Pertama, Rio berjalan perlahan ke monumen batu sendirian. Yang lain berhenti ketika mereka agak lebih dekat ke monumen batu, mungkin karena mereka tidak enak pada Rio. Saat Rio menyadari bahwa semua orang peduli padanya, dia tersenyum sedikit dan berjalan terus——,

(...Di sini pun sama sekali tidak banyak berubah, ya)

Dia melihat pemandangan sekeliling bukit. Melihat matahari terbenam, dia merasa seperti baru kemarin dia tinggal di desa.

Tapi, Rio yang dulu dan Rio sekarang berbeda. Sesuatu pasti telah berubah dalam hati Rio. Rio sendiri menyadari hal itu.

(Ibu, Ayah. Aku sudah menuntaskan tujuanku. Aku sudah membunuh Lucius...)

Apakah mereka berdua akan senang dengan itu? Mungkin mereka akan sedih, tapi karena orang mati tidak bisa berbicara, hal itu tidak akan bisa diketahui.

Tapi, dia pikir itu tidak masalah. Dia memutuskan untuk membalas dendam bukan karena dia ingin diakui. Dia juga tidak membalas dendam untuk diakui.

Bukan demi orang lain. Demi dirinya sendiri, Rio memutuskan untuk membalas dendam di bukit ini dua tahun lalu.

Karena itu, jika ada yang berubah pada Rio, jarum jam yang tadinya berhenti di hatinya kini mulai bergerak. Dia tidak tahu apakah itu bergerak dengan benar, tapi perlahan tapi pasti, jarum jam itu mulai bergerak. Hanya saja——,

(Mungkin, ini tidak akan terjadi hanya karena aku sudah membalas dendam)

Rio juga berpikir begitu. Itu karena Rio sendiri tidak akan mengakuinya. Pada dirinya yang sudah membalas dendam. Karena meskipun Rio mengerti bahwa balas dendam bukanlah hal yang benar untuk dilakukan, dia tetap melakukannya.... Rio mungkin akan terus membenci dirinya sendiri.

Tapi sekarang, dia tidak sebenci itu dengan dirinya sendiri. Mengetahui bahwa ada orang-orang yang ingin bersamanya yang seperti itu membuatnya sedikit lebih menyukai dirinya sendiri. Meski dia masih belu terlalu percaya diri....

(Aku tidak ingin kehilangan sesuatu yang berharga. Itu sebabnya aku mencoba melepaskannya. Sekarang giliranku untuk mengembalikan sesuatu kepada semua orang yang telah mengulurkan tangannya padaku yang egois ini)

Di bukit ini, di mana Rio pernah bersumpah untuk membalas dendam, dia membuat tekad baru. Kemudian, seolah bersumpah untuk itu, dia menyatukan kedua tangannya di depan monumen batu tak bernama yang merupakan makam orang tuanya.

Monumen ini adalah makam yang dibangun secara diam-diam oleh beberapa orang yang mengetahui keadaannya untuk mengenang mereka berdua yang tidak pernah kembali ke Kerajaan Karaski dan dianggap telah meninggal. Itulah sebabnya mayat orang tuanya tidak terkubur di sini. Sebaliknya, Rio sendiri bahkan tidak tahu di mana mayat mereka berada. Namun meski begitu, Rio menganggap ini sebagai kuburan orang tuanya dan menyatukan tangannya untuk mendoakan keduanya.

Kemudian, setelah beberapa saat, Rio melepaskan tangannya, mengangkat wajahnya, dan berbalik untuk menghadap ke semua orang berada. Dan——,

“Terima kasih banyak, semuanya.”

Dia mengucapkan terima kasih kepada mereka dengan suara lembut dan mata yang menyilaukan saat matahari terbenam.

Setelah itu, Gōki, Kayoko, Miharu, Celia, Latifa dan yang lainnya juga bergiliran mendoakan orang tua Rio sebelum menuju ke tempat pesta diadakan——.

Rio dan yang lainnya membuat banyak keributan hingga larut malam, mempererat hubungan mereka dan diperlakukan dengan baik oleh penduduk desa.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment