-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 6 Bab 1 Intro Indonesia

Bab 1
Kompensasi Kemenangan


Ujian khusus suara bulat telah usai, 20 September adalah hari pertama dalam seminggu setelah akhir pekan.

Aku bangun sekitar pukul setengah enam pagi, menyalakan TV, dan mulai menyiapkan sarapan.

Senin baru telah tiba, tapi itu akan menjadi rutinitas yang sangat berbeda dari yang ku jalani minggu lalu.

Mengapa demikian, aku tidak perlu menebaknya.

Ada dua faktor utama yang membentuk bayangan. Retakan dalam hubungan di antara teman sekelas yang disebabkan oleh pengungkapan rahasia dari Kushida setelah dirinya tersudutkan. Pembalikan premis yang membatasi pengusiran pada pengkhianat, yaitu Kushida, telah menggoyahkan kepercayaan mereka padaku dan Horikita.

Mengeluarkan siswa atau tidak? Dengan pilihan itu, aku berjanji bahwa hanya pengkhianat yang akan dikeluarkan dari sekolah, dan membuat semua orang memilih setuju. Dan dengan persiapanku selama ini, aku menyudutkan Kushida dan membuatnya mengaku sebagai pengkhianat dan kemudian menjalankan rencanaku untuk membuatnya dikeluarkan.

Kushida dilindungi oleh para siswa yang ingin percaya padanya dan mereka yang menyukainya, tapi kepercayaan padanya itu hilang ketika dia akhirnya mengungkapkan sifat aslinya dan mulai mengungkapkan rahasianya.

Dia selangkah lebih dekat untuk dikeluarkan, tetapi kemudian sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Horikita Suzune yang tahu semua tentang itu, menyatakan bahwa Kushida adalah individu berbakat yang diperlukan untuk kelas.

Terlebih lagi, dia bahkan mengatakan bahwa dia tidak akan pernah setuju untuk mengeluarkan Kushida.

Awalnya aku berjanji hanya akan mengeluarkan pengkhianat, dan Horikita hanya menyetujuinya, tapi aku masih terkejut dia membela Kushida.

Dengan sedikit waktu yang tersisa, pilihannya adalah mempertahankan Kushida dan menerima penalti ujian, atau membiarkan orang lain dikeluarkan dari sekolah untuk menyelesaikan ujian.

Bagaimanapun, seperti yang kusebutkan di atas, kepercayaan teman-teman sekelas pada Horikita, yang mengubah kebijakannya, dan padaku, yang menerima itu dan mengumumkan untuk mengeluarkan orang lain, sangat tergoyah.

Mereka yang sangat terluka karena pengungkapan ketertarikan cintanya yang samar.

Mereka yang telah dipaksa untuk saling memaki sesama teman dan kecurigaan yang terus tumbuh.

Mereka yang kehilangan teman dan mereka yang menyimpan dendam pada temannya.

Daftar alasan keseriusan situasi di kelas tidak ada habisnya.

Tapi, dampak yang ditimbulkan dari pengungkapan rahasia tersebut bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan, melainkan sesuatu yang sudah direncanakan sejak awal.

Itu adalah biaya yang tak terhindarkan dan perlu untuk menjatuhkan Kushida si pusat rantai kepercayaan.

Jika aku melihat ini hanya sebagai kerugian, maka ini tak perlu diambil pusing.

Tapi aku tidak melihatnya seperti itu. Aku tidak bisa mendapatkan pengalaman jika aku melihatnya seperti itu. Kesempatan yang terlewatkan untuk berkembang.

Kami adalah satu-satunya dari keempat kelas yang mengeluarkan siswa. Teman-teman sekelasku sangat terluka. Sebagai gantinya, kami mendapatkan poin kelas. Tidak. Penting untuk mengubah perspektif situasi.

Jangan akhiri dengan luka, tapi lihatlah lebih jauh.

Kami harus katakan bahwa luka telah memberi kami kesempatan untuk memperkuat ikatan kami.

Dengan begitu, kelas Horikita bisa menjadi lebih kuat.

Tidak jelas berapa banyak siswa yang menyadari hal ini, tapi mereka harus menghadapi masalah, bukan lari darinya.

Ujian khusus untuk kelas Horikita masih berlanjut.

Berat dan berharganya 100 poin kelas. Ini adalah kesempatan bagus untuk merenungkan dan belajar tentang tindakan kita sendiri.

Tentu saja, aku perlu berhati-hati karena jika terus dibiarkan, kami akan terjebak dalam situasi ini.

Jika tidak diobati, lukanya bisa semakin melebar.

Setelah sarapan, aku memeriksa ponselku dengan sikat gigi di tangan.

Sepertinya tidak ada kontak baru sejak aku melihatnya tengah malam tadi.

“Meski begitu———”

Aku masih terkejut bahwa ujian khusus telah berubah secara tak terduga, karena ini bukan akhir yang ku rencanakan sebelumnya. Bahkan dari berbagai sudut pandang seperti rasionalitas, konsistensi, dan objektivitas, tidak ada pilihan lain selain mengeluarkan Kushida Kikyō, yang terus ngotot untuk setuju dan telah membuat kelas menjadi kacau.

Aku sampai pada kesimpulan bahwa pengusirannya akan meninggalkan kerusakan paling kecil di kelas dan kami bisa segera mengalihkan pikiran kami ke festival olahraga.

Dengan kata lain, dari sudut pandang subjektif ku, pilihan Horikita untuk [tidak mengeluarkan Kushida Kikyō, si pengkhianat] adalah tidak ada, tidak masuk akal, dan merupakan kesalahan.

Meskipun aku merasa itu adalah kesalahan yang jelas, aku mendukung Horikita dan mengarahkan kelas untuk mengeluarkan Airi. Dengan kata lain, aku memilih untuk menyerah pada kegagalan yang tidak masuk akal.

Setidaknya, itu adalah pilihan yang tidak pernah aku miliki sebelum aku datang ke sekolah ini.

Jadi apa alasan untuk menerima itu sekarang?

Seorang siswa bernama Horikita Suzune memiliki perasaan yang lebih kuat untuk Kushida daripada beberapa siswa lainnya.

Seorang teman dekat, bahkan jika ekspresi seperti itu tidak benar, bisa dikatakan bahwa Kushida jelas merupakan orang yang spesial bagi Horikita. Wajar jika dia ingin mempertahankan orang yang spesial baginya, tapi jika dia membuat penilaian berdasarkan itu, itu akan tetap tidak adil.

Belum lagi, itu bisa dilihat sebagai penyalahgunaan posisinya sebagai pemimpin yang sedang solid.

Akan lebih mudah dipahami jika kita mengambil sudut pandang Haruka, yang merupakan sahabat Airi, sebagai contoh.

Bagi Haruka, Kushida yang terus bertahan pada pilihan mengeluarkan siswa, adalah orang yang jahat dan harus dilenyapkan. Kemudian aku dan Horikita juga menindaklanjuti dengan premis untuk melenyapkan kejahatan itu.

Itu sebabnya dia juga memberikan satu suara untuk mengeluarkan siswa dari sekolah.

Meskipun demikian, sahabatnya dikeluarkan karena perlakuan istimewa Horikita pada Kushida.

Bahkan jika disuruh untuk bekerja keras lagi minggu depan, dia tidak akan pernah bisa menurutinya.

Tapi jangan lupa bahwa pilihan Horikita juga tidak mudah.

Dalam ujian khusus di mana dia harus membuat pilihan yang sulit itu, Horikita memberikan jawabannya dengan jelas.

Dan dengan risiko menanggung bebannya sendiri, dia menyatakan bahwa dia akan mempertahankan Kushida.

Itu saja sudah keputusan yang mustahil dibuat bagi siswa rata-rata. Meskipun dia siap untuk dianggap tidak adil, Horikita percaya bahwa mempertahankan Kushida akan [menguntungkan kelas].

“Tentu saja, masih sulit untuk mengatakan bahwa itu adalah jawaban yang tepat pada tahap ini.”

Sebelum ujian khusus suara bulat, Kushida jelas lebih berharga daripada Airi dalam membawa manfaat bagi kelas. Bahkan setelah sifat aslinya terungkap, Kushida masih berada di atas angin, tapi celah yang begitu besar pasti telah menyempit. Selain itu, Kushida sendiri tidak bisa dikatakan sudah bertobat dan diperkirakan akan terus tidak kooperatif dengan kelas di masa depan.

Dengan kata lain, bisa dikatakan tidak ada jaminan bahwa mempertahankan Kushida akan menguntungkan kelas.

Pola pikir Horikita adalah arah yang salah untuk evolusinya.

Hanya kesimpulan itu yang tetap tidak berubah. Meski begitu, aku mendukung pola pikir Horikita hanya untuk satu alasan. Terus terang, aku ingin melihat pertumbuhan, kecenderungan, dan raihan Horikita.

Apa yang ada di ujung sebuah tindakan yang tidak bisa dipilih oleh manusia bernama Ayanokōji Kiyotaka?

Aku ingin melihat chemistry kelas yang akan dihasilkan dengan mempertahankan Kushida.

Apakah itu akan terbukti menjadi pilihan yang tepat dengan meraih Kelas A dengan selisih yang tipis?

Apakah kelas akan runtuh hanya untuk mengetahui bahwa itu pilihan yang salah?

Atau akankah itu membawa perubahan tak terduga lainnya?

Setidaknya, kupikir itu lebih cenderung menciptakan siklus berantai negatif....

Saat aku mengaktifkan OAA dari ponselku, ternyata nama Sakura Airi sudah terhapus dari daftar kelas. Seolah-olah siswa itu tidak pernah ada sejak awal.

Aku masukan ponselku di saku kanan seragamku, lalu meraih tasku dan menuju pintu depan.

Selain situasi di dalam kelas, ada juga pergerakan yang menarik di kelas lain.

Ryūen dan Sakayanagi sama-sama ingin menjadi lawan di ujian akhir. Tidak aneh bagi Ryūen untuk menunjuk kelas A dengan niat untuk mencuri poin kelas. Tapi, bagaimana dengan Sakayanagi? Tidak ada untungnya menunjuk kelas Ryūen, yang ada di tempat terakhir pada titik itu. Apa mungkin karena dia bersekutu dengan Ichinose, jadi dia memutuskan bahwa lebih baik menghancurkan Ryūen?

Aku ingin tahu apakah [janji] yang dibuat antara Sakayanagi dan Ryūen ada hubungannya dengan itu.

Sebaiknya aku manaruh perhatian pada masalah ini juga.

Meskipun ini situasi terbaik untuk kelas Horikita....

Aku meninggalkan kamarku pada waktu yang sama seperti biasanya dan keluar dari asrama.

Setelah turun dari lift, aku melihat Horikita duduk di sofa lobi, sedang menunggu seseorang. Dia melirikku, tapi tidak ada tanda-tanda dia akan berdiri.

Tetapi, mungkin karena kebetulan tidak ada orang di sekitar, dia berdiri agak terlambat dan mendekatiku.

“Apa kau menunggu Kushida?”

Tanyaku sebelum dia sempat berbicara, dan dia menjawab setelah tergagap sejenak.

“Sepertinya kau sudah menebaknya. Ya. Aku pergi ke kamarnya beberapa kali selama akhir pekan...”

Sepertinya dia mencoba perawatan mental, tapi dia bahkan tidak bisa bertemu dengannya.

Karena itu pasti hal yang paling memalukan yang pernah dia alami dalam hidupnya. Dia tidak akan bisa langsung menghadap Horikita. Mungkin Horikita telah menunggu di sini hingga Kushida turun sejak dini hari.

Yang lebih menggangguku adalah aku bisa dengan mudah melihat kurangnya tidur di bawah mata Horikita.

“Sepertinya kau cukup tertekan soal kasus Kushida.”

“Eh? Oh, tidak kok. Aku memang kurang tidur, tapi ini karena alasan yang agak berbeda. Dia, tidak keluar dari kamarnya sekali pun. Tidak peduli berapa kali aku mengunjunginya, dia tidak pernah keluar. Persis seperti pengepungan. Meski begitu, aku mengintainya dengan niat mutlak untuk bertemu dengannya...”

“Yang kamu maksud pengepungan itu... menunggu di pintu depan?”

Bahkan jika itu hanya di akhir pekan, gila juga kalau dia mengintai dari pagi hingga malam.

“Aku berulang kali menekan bel dan menunggu. Tetap saja, kamarnya sunyi, tidak suara sama sekali.”

Tidak mengherankan jika ada cukup makanan di kamar Kushida untuk dikepung selama 2 atau 3 hari.

“Selain itu, aku perlu waspada dengan lingkungan sekitar juga, bukan? Tidak ada untungnya jika kelas lain tahu bahwa Kushida-san mengurung diri.”

Dia terus menunggunya keluar di lorong sambil berjaga-jaga. Itu benar-benar liburan yang menyiksa.

Kebanyakan siswa akan dikalahkan oleh semangat Horikita, tapi Kushida memang gak ada tandingannya.

Itu berarti dia bisa melewatinya tanpa menunjukkan simpati sedikit pun.

“Setelah apa yang terjadi tempo hari, dia tidak bisa menjadi dirinya yang dulu.”

“Karena kau memilih untuk mempertahankan Kushida, tentu saja kau yang harus menindaklanjutinya.”

Horikita mengangguk dengan sedikit tekad, tapi aku yakin dia tidak sepenuhnya tanpa pemikiran.

“Ayanokōji-kun... bagaimana akhir pekanmu?

Bagaimana, tentu saja itu mengacu pada grup Ayanokōji. Karena aku telah mengeluarkan Airi dengan menyebut namanya, Horikita pasti melihat lebih banyak masalah meletus daripada mempertahankan Kushida.

“Aku tetap berhubungan singkat dengan Keisei dan Akito, tapi itu saja.”

Itu pun tidak ada pembicaraan yang terkait dengan Airi. Daripada tidak menyinggungnya, akan lebih tepat untuk mengatakan bahwa kami tidak tahu bagaimana cara menyinggungnya. Dan untuk Haruka, tidak ada tanda-tanda dia telah membaca pesan itu. Aku bukan ahli tentang cara menggunakan aplikasi, tapi aku tidak akan terkejut jika dia memblokirku, bahkan jika dia tidak meninggalkan grup.

“Sepertinya kamu belum sempat berbicara dengan Hasebe-san.”

“Yah, begitulah. Aku tidak punya keberanian untuk menghubungi Huruka.”

Setelah menunjukkan ekspresi menyesal, Horikita menundukkan kepalanya.

Tidak mungkin bagi kami untuk saling mengobrol sekarang, bahkan jika kami bertemu secara paksa.

Daripada mencoba memperbaiki hubungan, akan lebih realistis bagiku untuk keluar dan mempertahankan hubungan grup dengan mereka bertiga saja.

Dengan kata lain, mengawasi adalah pilihan terbaik.

Bahkan jika Haruka masih menyimpan dendam padaku dalam prosesnya, pada akhirnya dia akan ceria kembali.

Akan lebih baik untuk kelas jika itu terjadi, tetapi aku harus bersiap untuk itu jika tidak. Jika dia terus dendam padaku, Horikita, dan kelas, kemungkinan Haruka akan membahayakan kelas karena alasan pribadi tidaklah nol.

Specnya tidak penting untuk kelas, tapi kehilangan satu bagian yang cukup berguna dan mengurangi maksimum kelas tentu saja merupakan kerugian.

Seiring dengan itu, mungkin akan ada rangkaian peristiwa seperti penurunan kekuatan Akito dan Keisei.

“Aku tidak berpikir apa pun yang kukatakan akan dia dengarkan sekarang. Aku hanya harus menunggu.”

Pertama-tama, yang pasti ini bukan tempat untuk membahasnya.

Setelah memeriksa situasi satu sama lain, Horikita menarik napas dengan tenang.

“Aku memaksakan pilihan untuk mempertahankan Kushida-san, dan itu telah mengubah hubungan kalian.”

Akulah yang secara langsung melakukan upacara terakhir kepada Airi, tapi itu juga adalah peran yang ku ambil atas kemauanku sendiri.

Setidaknya bagian itu adalah tanggung jawabku.

“Kau tidak perlu meminta maaf dua kali untuk hal yang sama. Jika kau merasa itu hal yang benar untuk dilakukan, maka lakukan saja.”

“Tapi kamu melindungiku. Tidak, bukan itu saja...”

Dia memutar kata-katanya dengan hati-hati, seolah berusaha menjernihkan pikirannya.

“Bahkan jika aku membimbing Sakura-san untuk keluar dari sekolah dalam situasi itu, aku yakin Hasebe-san tidak akan mengalah sampai akhir. Dengan kata lain, hukuman karena kehabisan waktu tidak bisa dihindari.”

Berkat cooling time akhir pekan ini, sepertinya dia memiliki pandangan yang jelas tentang apa yang terjadi.

Beban peran mengucapkan pengusiran dan sulitnya melakukannya.

Pertarungan melawan waktu yang terbatas lebih sulit dari yang dia bayangkan.

Dia lega bahwa kami berhasil menghindari yang terburuk, tapi matanya tampak agak cemas.

Tidak sedikit, dia mencari keselamatan di mana tidak ada yang dikeluarkan dengan menghabiskan waktu.

Dunia di mana ke-39 orang tidak ada yang hilang. Meskipun kehilangan poin kelas, IF dengan melindungi teman-temannya, dapat memperdalam ikatan dengan mereka dan mengincar Kelas A lagi. Horikita juga tahu bahwa itu adalah pikiran untuk melarikan diri.

Itu sebabnya, jauh di lubuk hatinya, dia menahan pikiran yang akan mendidih itu.

“Ujian itu, seolah-olah kamu bisa melihat semuanya sejak awal.”

“Aku tidak memprediksi masa depan. Aku hanya siap dengan segala macam asumsi.”

“Itu hebatnya. Aku bisa membuat gambaran sampai batas tertentu, tapi aku tidak bisa membacanya dengan sempurna. Konten isu, dan pernyataan seperti apa yang akan membuat orang lain bergerak seperti yang kamu inginkan. Itu semua berdasarkan perhitungan.”

Sedikit demi sedikit, dia mulai memperhatikan dunia yang ku lihat dan ku pikirkan.

“Introspeksi dan analisis sih boleh-boleh saja, tapi sekarang kita harus menyelesaikan masalah di kelas terlebih dahulu, benar bukan?”

“Y-Ya. Kau benar...”

“Jangan harap suasananya akan sama seperti hari-hari sebelumnya.”

“Tentu saja aku sudah siap untuk itu. Hasebe-san pasti menyimpan dendam padaku, dan aku yakin Yukimura-kun dan Miyake-kun merasakan hal yang sama. Selain itu ada siswa yang tidak terima karena aku bersikeras untuk mempertahankan Kushida-san.”

Dia bilang dia sudah siap, tapi aku masih belum yakin dia benar-benar memahami situasinya.

Berapa lama dia bisa tetap tenang menghadapi perubahan yang disebabkan oleh keputusannya?

Tidak masalah jika itu hanya perubahan positif, tapi kali ini kebanyakan justru sebaliknya. Yaitu perubahan negatif.

Mereka tidak akan melihatmu sebagai kontributor untuk meningkatnya poin kelas.

“Sudah kamu berangkat sekolah saja sana.”

Tidak ada gunanya mengobrol panjang lebar di sini, karena Horikita terlalu sibuk berurusan dengan Kushida sekarang.

“Gak ada baiknya juga terlihat mencolok.”

Di sini bukan hanya asrama untuk siswa-siswi dari kelas Horikita.

Orang-orang dari kelas yang seharusnya disebut musuh, seperti Sakayanagi dan Ryūen, juga tinggal di sini.

Aku tidak berpikir kami bisa membicarakan hal-hal tentang sifat asli Kushida, tapi itu tidak berarti kami perlu menunjukkan celah untuk mengekspos diri sendiri.

Kelas memang mencetak poin besar.

Berhasil atau tidaknya kami menangani kompensasi itu akan tergantung pada para siswa di masa depan.

Tapi sebelum itu, sudah terlihat masalah yang harus dipecahkan oleh kelas, apa yang harus kulakukan.

Related Posts

Related Posts

10 comments

  1. IF itu typo bukan min? Ryuen tinggal diasrama cewek kah wkwk?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukanya asrama cwe-cwo seangkatan bareng ya, lantainya aja yg beda CMIIW

      Delete
  2. Horikita anak emas author. Apa cuman gw yg gak suka horikita?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lu gak sendirian bro,gue juga kesel sama Horikita

      Delete
    2. Lah emang Horikita juga dari awal Heroine nya,
      Cuma gak dipasangin sama MC
      Kei apaan? Cuma pasangan MC doang gak lebih,
      Perlu di ketahui cerita ini bukan Romance, lebih ke Pycho dan bukan berarti harus bunuh², kaya gini juga trmsk,
      Sekian Terimakasih

      Delete
    3. Klo gw sih dri anime sma novelnya dri dlu emamg dah ga suka sma si horikita
      Karna dri awal emanh pikrannya dah dangkal.
      Cwek yg gw suka itu sakayanagi tapi gw ga sukaknya dia terlalu kompetitif gitu. Kek mna ya bilangnya. Ah entahlah

      Delete