-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 6 Bab 2 Part 1 Indonesia

Bab 2
Jalan Yang Tak Terelakan


1


Pukul 17.30, aku tiba di kamarku dan dengan santai menunggu kedatangan Yōsuke. Aku menerima notifikasi di ponselku.

[Boleh aku main ke sana sekarang?]

Sebuah pesan dari pacarku Kei, dengan cap kucing imut masuk.

Janji temu aku dengan Yōsuke adalah pukul 19:30, ini terlalu awal untuk dia datang.

[Sambil nunggu, yuk kita makan bareng?]

Pesan tambahan masuk sebelum aku bisa membalas. Sepertinya dia ingin makan malam denganku.

Menanggapi pesan Kei, aku hanya mengiriminya pesan singkat, aku mau saja.

“Karena sudah begini, aku harus memasak sesuatu.”

Aku bisa saja menyajikan sisa makanan kemarin, tapi sesuatu yang bikinnya cepat dan disukai Kei....

Saat aku memikirkannya sambil membuka kulkas dan melihat isinya, bel pintu berbunyi.

Saat aku membuka pintu depan, aku melihat Kei tersenyum padaku.

Meskipun aku sedikit terkejut, aku tetap tenang dan dengan santai mengundangnya masuk. Sekarang kami berada dalam hubungan terbuka, aku jadi tidak perlu lagi khawatir tentang kapan harus membiarkannya masuk ke kamarku.

“Cepat sekali kamu datang.”

Sambil melepas sepatunya, Kei masuk ke kamarku dengan gerakan yang kukenal.

“Soalnya aku ngubungin kamu sebelum aku naik lift si~h.”

Katanya dia memang berniat untuk mengunjungiku dulu, dan rencana kami adalah yang kedua.

Aku berhenti memasak dan duduk di lantai dekat meja dengan Kei.

“Mungkin karena akhir-akhir ini aku sering ke kamar Kiyotaka, aku mulai merasa ini seperti kamarku sendiri.”

“Bagus dong. Sebaliknya, aku malah belum pernah diundang ke kamarmu, Kei.”

“E-Eh? Itu agak memalukan dan... ya-yah mungkin suatu hari nanti pas aku mau!”

Dia tidak memberiku jawaban ya, tapi pasti ada berbagai pertimbangan untuk mengundang anak laki-laki ke kamar anak perempuan.

Aku tidak akan mengejar hal ini terlalu dalam.

“Omong-omong, apa yang orang-orang di sekitarmu katakan soal hubungan kita, Kei?”

“Para gadis? Kurasa mereka menerimanya dengan sangat mudah. Malah... bukan apa-apa.”

Dia hendak mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Aku sedikit penasaran, jadi aku menanyakannya.

“Ada apa?”

“Ya~h, kau tahu? Ada merek Hirata Yōsuke di mata publik. Jadi ada banyak gadis yang mengatakan sayang banget dibuang.”

Jadi begitu. Artinya mereka tidak mengerti kenapa dia bersusah payah beralih ke pria tak bermerek.

Tentu tidak mengherankan untuk menyebutkan hal-hal seperti itu secara terbuka ketika membandingkan aku dan Yōsuke.

“Dalam arti tertentu, aku juga terpengaruh oleh hal itu. Seharusnya aku yang minta pisah sama Yōsuke-kun, tapi malah dikira aku yang sebenarnya dicampakannya.”

Jika pria yang dia tuju adalah pria tak bermerek, tidak heran mereka memiliki spekulasi itu.

“Tapi cuman sebagian saja yang bilang begitu. Nah, malah evaluasi Kiyotaka sudah lompat tinggi akhir-akhir ini.”

“Yang bener lompat jauh. Kenapa salah nyebutnya kek gitu coba?”

(Tln: Kei coba pakai kiasan, lalu dibenerin Kiyo. Dan disini aku pakai kiasan dalam bahasa indonesia, silahkan cek di google daftar kiasan)

Itu sudah bukan lagi disengaja, pikirku, tapi Kei menyeringai padaku.

“Aku juga tahu kalau cuman ituu.”

“Pasti gurumu jago banget tuh.”

“Terima kasih untuk semuanya, Sensei. Berkat les privat rahasiamu, nilaiku menjadi lebih baik.”

Kemampuan akademik Kei sedikit demi sediki telah meningkat, dan pada awal September, kemampuan akademiknya di OAA meningkat menjadi C dengan nilai 48.

Itu berarti dia akhirnya mendapatkan pengetahuan yang dia butuhkan untuk menjadi siswa biasa.

Setelah beberapa menit kami membicarakan hal-hal sepele seperti itu, aku berdiri dan kembali menuju lemari es.

“Aku mau bikin omelet, kamu mau?”

Tanyaku tanpa menoleh ke belakang, Kei langsung meninggikan suaranya karena senang.

“Mau mau! Tolong buat saus tomatnya sedikit lebih kental ya, Chef.”

Ini bukan pertama kalinya aku menyajikan masakan rumahan untuk Kei.

Sejak kami mulai berpacaran, kesempatan untuk menyajikan makanan di kamarku muncul secara teratur.

Selama ini, Kei hampir tidak pernah menunjukkan keinginannya untuk memasak sendiri, tapi tidak masalah juga sih.

Karena tidak penting mau itu pria atau wanita, kalau mau masak ya masak saja.

Aku tidak benci memasak, dan Kei dengan senang hati memakannya.

Kei yang suka berbicara, dapat berbicara denganku, yang bukan pembicara yang baik, dan menghidupkan suasana. Kupikir kami memiliki keseimbangan yang baik dengan saling mendukung seperti itu.

Aku mengeluarkan telur, saus tomat, daging ayam, dan mentega dari kulkas. Aku mengambil minyak sayur dari kulkan, dan dengan begini bahan-bahannya sudah siap. Aku mengeluarkan nasi beku dan mulai bersiap untuk mencairkannya di microwave. Sementara itu, aku menyiapkan bawang. Aku sangat ingin menambahkan wortel, tapi sayangnya aku tidak punya stok. Lalu ketika aku meletakkan bawang di talenan dan mengambil pisau, aku merasakan sesuatu di belakangku. Kei mendekatiku, meringkuk di punggungku.

“Kamu sedang apa?”

Karena agak berbahaya, aku berhenti dan bertanya hanya dengan kata-kata.

“Aku cuman mau lihat-lihaat.”

Jawab Kei, tapi aku yakin dia tidak bisa melihatnya karena profilnya menempel di punggungku.

“Gak usah peduliin aku. Aku gak akan gerak kok.”

“Begitu, siap deh.”

Aku mengabaikannya sejenak dan lanjut memasak seperti yang dia minta. Aku memotong bawang menjadi kubus 5mm di talenan. Saat aku melakukan itu pun, Kei masih menempel erat di punggungku. Selanjutnya, aku meletakkan pisau dan meraih mangkuk untuk memecahkan telur, tapi pada saat itu Kei melingkarkan tangannya di pinggangku dan memelukku.

“Sekarang kamu sedang?”

“Nn...? Aku cuman mau lihat-lihaat.”

“Kayaknya kamu gak cuman mau ngelihatin tuh? Ini lebih seperti mau gangguin.”

Itu bukan peringatan, aku hanya memberitahunya bahwa efisiensi kerjaku akan sedikit berkurang, tapi dia sepertinya tidak peduli.

“Aa, bahagianya. Memangnya ada lagi yang bisa bikin aku sebahagia ini?”

Gumamnya singkat, dan aku merasakan kekuatan di tangannya saat dia memelukku lebih erat. Dia tampak lebih dari puas.

“Itu kebahagiaan yang sangat murah. Bukankah ada kebahagiaan lain yang lebih besar? Seperti membeli barang-barang yang kamu inginkan, menonton acara TV yang selalu ingin kamu tonton?”

“Itu sama sekali gak bikin aku bahagia.”

“Tadi itu kamu asal bicara, tapi aslinya ada, ‘kan?”

“Enggak, gak ada. Kalaupun ada, aku gak butuh. Kebahagiaan yang kumiliki sekarang sudah cukup siih.”

Kalau dia senang dengan ini, aku tidak punya apa-apa untuk dikatakan lagi.

“Bolehkah aku lanjutin memasak?”

Sangat tidak nyaman untuk melanjutkan memasak dengan posisi ini.

“Eeh~? Bolehin gak ya?”

(Tln: Anj*ng. Bucin parah)

Katanya mengintip kearahku dan tersenyum sambil berkedip-kedip menatap mataku.

“Buat bikin aku duduk tenang, pengen banget deh aku dikasih hadiah apa gitu?”

“Ada cokelat di lemari es.”

“Buh. Bukan itu yang kumau... tapi rasanya kek gak nyambung, ya. Yah, Kiyotaka emang seperti itu sih. Kalo gitu, aku akan duduk diam menunggu saja deeh.”

Mungkin dalam hatinya dia telah puas, Kei menjauh dan duduk di tempat tidur.

Baiklah, sekarang kurasa aku bisa berkonsentrasi membuat omelet untuk sementara waktu.

Kei menunggu makanan siap sambil melihat antara ponselnya dan TV secara bergantian, lalu kami berdua duduk mengelilingi meja untuk menyelesaikan makan malam sedikit lebih awal dari biasanya.

“Oh, ngomong-ngomong, soal Shinohara-san.”

Aku tidak mengangkat topik tertentu soal dia, tapi Kei mengatakan itu dan mulai berbicara.

“Salahku juga sih, tapi pengungkapan rahasia itu tampaknya cukup berpengaruh padanya dan dia bahkan tidak mau berbicara denganku.”

“Kurasa itu wajar saja.”

Baik atau buruk penampilan seseorang dievaluasi secara berbeda tergantung pada kesukaan dan selera setiap orang, mereka yang dianggap superior umumnya membuat komentar merendahkan tentang mereka yang dianggap inferior. Itu sendiri bukanlah kejadian yang langka dan bisa ditemukan di mana saja.

Sebaliknya, tidak ada yang namanya maksud buruk, dan seringkali mereka hanya mengatakan apa yang mereka pikirkan.

“Apa kelompokmu membenci Shinohara, Kei?”

“Kami sama sekali tidak membencinya. Shinohara-san itu gadis yang lucu, atau lebih tepatnya, dia populer sebagai penghidup suasana.”

“Jadi begitu. Itu sebabnya dia secara tidak sadar suka ejek-ejekan dengan Ike.”

“...Mungkin. Dia tertawa dan berbicara tentang hal-hal yang akan menyakitiku ketika aku ajak bicara.”

Gumamnya penuh penyesalan, mungkin dia ingin merenungkannya.

“Apa kamu akan membenciku karena aku sudah mengatakan hal-hal buruk?”

“Orang lain menjelek-jelekkan orang lain. Aku sendiri tidak akan menyangkalnya. Dalam berbagai tingkatan, lebih sulit untuk menemukan orang yang tidak membicarakan keburukan orang lain sama sekali.”

Aku tidak suka senior di klubku karena mereka suka memerintah. Aku benci guru yang sombong. Tidak apa-apa untuk memiliki tempat untuk mengeluh tentang satu atau dua hal seperti itu. Menertawakan penampilan, atau mengomentari kemampuan akademik seseorang, itu sedikit berlebihan, tapi sebagai manusia, tidak heran jika ada yang mengatakan hal seperti itu.

“Tapi pada dasarnya, kita hanya harus memastikan bahwa kata-kata buruk itu tidak sampai ke telinga orang yang bersangkutan.”

“Iya, ‘kan?”

“Fakta bahwa Kushida, yang paling tidak mungkin, yang membocorkannya pasti mengejutkan. Memberitahu seseorang itu selalu disertai risiko.”

Bocoran cerita dari Kushida bahwa mereka telah menertawakan penampilan Shinohara tentu saja sangat melukainya.

Tidak hanya itu. Teman-teman Shinohara yang tidak memiliki kesan buruk tentangnya, pacarnya Ike, dan teman-teman Ike tentu saja tidak menganggap baik Kei dan teman-temannya.

Kali ini, Shinohara dan teman-temannya mungkin akan berbicara buruk tentang Kei, Matsushita, Mori dan yang lainnya dengan suara keras.

Begitu reaksi berantai negatif dimulai, dibutuhkan banyak usaha untuk menghentikannya.

“Jadi, kamu tidak hanya merasa bersalah, bukan? Apa yang terjadi?”

Matsushita sudah memberiku penjelasan singkat, tapi aku juga harus mendengarnya dari mulut Kei.

“Aku sudah beberapa kali mencoba menyelesaikan kesalahpahaman... bukan sih, maksudku karena sudah menyakitinya dengan berbicara. Tapi aku merasa tidak ada waktu untuk diskusi saat ini.”

“Tidak ada ruang untuk negosiasi.”

“Nah itu... a-aku sengaja salah sebut, loh?”

Dia benar-benar salah sebut untuk yang satu ini. Lol

Setidaknya Kei dan yang lainnya sepertinya sudah mencoba memperbaiki hubungan mereka yang rusak dengan Shinohara dengan cara mereka sendiri.

“Jadi, menurutmu bagaimana kami bisa berbaikan dengannya?”

“Kamu tanya aku?”

“Sudah jelas, ‘kan? Aku yakin Kiyotaka bisa bikin rencana yang bagus.”

Kei juga menghadapi masalah yang sama dengan Yōsuke, meski sejauh ini sepertinya belum ada terobosan yang ditemukan.

“Aku sedang memikirkannya. Beri aku sedikit waktu lagi.”

Untuk sementara aku mengatakan itu padanya dan menunda jawabannya.

“Hei, ini sedikit keluar dari topik, tapi bolehkah aku menanyakan sesuatu yang agak aneh?”

Saat kudengar dia berbicara tanpa henti, dia menatapku dengan wajah penasaran dan bertanya.

“Kiyotaka mengeluarkan Sakura-san berdasarkan OAA-nya dalam ujian khusus, bukan? Jika———”

Saat mata kami bertemu, Kei kehilangan kata-kata.

“Enggak jadi. Bukan apa-apa.”

“Jika kamu berada di peringkat terakhir OAA, kamu ingin tahu apa yang akan aku lakukan?”

Mata Kei melebar dengan jelas.

“Seperti yang kukatakan soal Ike, jika kamu memiliki nilai yang sama, perbedaan antara teman-teman kalian  sangat besar. Aku tidak akan mengeluarkanmu.”

“Lalu, bagaimana kalau aku tidak punya teman? Bagaimana kalau kastaku sebagai perempuan juga rendah?”

Perasaan cemasnya membuat dia melontarkan kata-kata tanpa penundaan.

“Argumen itu tidak ada gunanya. Jika kita memakai asumsi itu, maka Karuizawa Kei adalah orang yang sama sekali berbeda. Dengan demikian, maka aku dan Kei seharusnya tidak berkembang menjadi hubungan yang kita miliki saat ini.”

(Tln : Gak salah sih, tapi ini orang emang gak bener)

“...Itu... aku mengerti. Mungkin kamu benar, tapi... Jika itu aku yang berbeda dan tidak berkencan dengan Kiyotaka, apakah aku akan dikeluarkan?”

Dia mengerti bahwa itu adalah diskusi yang tidak berarti, tapi dia tidak bisa tidak menanyakannya.

“Jika yang kita bicarakan adalah kemampuan, maka kurasa iya.”

“...”

“Aku mengerti jika kamu merasakan sensasi terluka, tapi itu bukan dirimu. Itu benar-benar orang lain. Kamu sudah ditindas dan disakiti, dan memantapkan posisimu sebagai seorang gadis untuk membalikkan keadaan di SMA. Kamu memanfaatkan Yōsuke, lalu bertemu dan berpacaran denganku. Itulah Karuizawa Kei, bukan?”

Saat aku menjawab sampai di situ, Kei cemberut, jelas sekali tidak senang.

“Kau akan melindungiku seperti apa pun diriku. Itu adalah jawaban yang benar buat Kiyotaka, ngerti?”

“...Aku mengerti.”

Bahkan jika itu bukan dirinya, dia ingin aku menjadi orang yang menyatakan bahwa aku akan melindungi Karuizawa Kei.

Aku sudah belajar bahwa logika tidak diperlukan di sana.

(Tln: Tolol)

Aku bergeser untuk meletakkannya di pangkuanku dan membelai kepalanya untuk membuatnya dalam suasana hati yang baik. Setelah beberapa menit menikmati Kei yang meringkuk di pangkuanku seperti kucing, dia membuka mulutnya masih dalam posisi yang sama.

“Hei Kiyotaka. Aku tidak keberatan dengan Kiyotaka membuang Sakura-san. Karena tidak ada yang salah dengan apa yang Kiyotaka lakukan. Tapi apa keputusan Horikita-san mempertahankan Kushida-san benar-benar tepat? Dia jelas penghalang, bukan?”

Kushida Kikyo adalah orang yang menyebabkan keretakan di kelas. Kei merasa bahwa kerugian karena tidak mengeluarkannya sangat besar. Bukan hal yang aneh, hanya reaksi alami.

Setiap orang memiliki keraguan. Meskipun mereka memilikinya, tidak mudah untuk berbicara ketika waktu hampir habis. Dan pada akhirnya, mereka hanya berpikir bahwa yang penting mereka selamat. Mungkin sekitar 2 hari libur setelah ujian, panas mulai mereda. Beberapa dari mereka bertanya-tanya apakah itu benar-benar ide yang bagus, sementara yang lain senang karena mereka tidak dikeluarkan. Dan ada orang-orang yang takut bahwa mereka mungkin selanjutnya.

“Apa yang dimiliki Kushida dan yang tidak dimiliki Airi. Tahu gak kamu apa itu?”

“Eh? Belajar dan olahraga, ‘kan? Kushida-san cukup hebat. Dia pandai dalam segala hal.”

“Untuk alasan yang dangkal, itu benar. Tapi bukan itu yang penting.”

“...Apa maksudmu?”

“Dia bisa menjadi bagian yang penting bagi Horikita Suzune untuk bangkit sebagai seorang pemimpin. Bukan Yōsuke, bukan juga Kei, tapi dia bisa menjadi apa yang bisa disebut Horikita sebagai partner.”

“Kushida-san jadi partnernya...?”

“Mungkin Horikita sendiri masih belum sepenuhnya mengerti itu. Dia hanya mempercayai instingnya dalam situasi mendesak di mana waktu hampir habis.”

“Itukah yang dimiliki Kushida-san dan tidak dimiliki Sakura-san...”

“Perspektif yang hanya dimiliki Kushida, pemikiran yang hanya dimiliki Kushida, dan kata-kata yang hanya bisa diucapkan oleh Kushida. Itu adalah elemen-elemen yang dapat ditunjukkan dengan atau tanpa popularitas. Dan itulah yang akan menyokong Horikita.”

Sementara dia mengerti sampai batas tertentu, Kei sendiri tidak begitu yakin.

Kurasa itu tanggapan alami. Ini adalah masa depan yang tidak pasti.

Itu hanya teori kosong yang menganggap Horikita benar dalam membuat pilihan itu.

(Tln: Hanya menurut pendapat Kiyotaka dan belum tentu demikian)

“Aku yakin dia tahu bahwa dirinya akan dibenci oleh Haruka dan orang-orang terdekatnya. Tapi hasilnya tidak akan terlihat dalam satu atau dua hari. Kita hanya perlu mengawasinya dengan hangat.”

“Tapi bukankah Hasebe-san lebih membencimu, Kiyotaka?”

“Kau benar.”

Kesulitan mencapai kebulatan suara dalam situasi di mana waktu hampir habis.

Tidak peduli berapa banyak orang lain yang disebut Horikita, hampir tidak mungkin untuk mencapai kebulatan suara.

Dan poin kelas negatif adalah kenyataan yang tidak dapat diterima.

Jika demikian, tidak ada jalan keselamatan kecuali aku bertindak.

“Jika aku bisa mengatakan hasilnya, kesimpulannya, dan jawabannya, itu akan mudah. Tapi kenyataannya tidak bisa.”

“Soal Horikita-san?”

“Misalkan ada rintangan di depanmu yang begitu tinggi sehingga kamu mungkin atau mungkin tidak dapat melompatinya. Jika kamu mencobanya dan gagal, kamu mungkin tidak dapat melompatinya, kau mungkin hanya terjatuh, mungkin juga kakimu tergores, atau jika tidak beruntung, kamu mungkin patah tulang.”

Itu membuatnya membayangkan situasi di mana dia melihat rintangan di jalannya yang benar-benar di luar kemampuannya.

“Menurutmu apa yang perlu kamu lakukan untuk memastikan kamu melewati rintangan itu?”

“Eh...? U-Umm... latihan terus sebelum melompat?”

“Bagaimana kalau kamu tidak bisa berlatih?”

“Hm, kita langsung coba saja, bukan? Sepertinya itu satu-satunya cara...”

“Persis seperti itu. Horikita tidak bisa berhenti berlari, jadi dia mencoba melompati rintangan di depannya.”

“Jadi Horikita-san gagal dalam tantangan tersebut dan terjatuh?”

“Tidak, dia hanya lompat dan kakinya tersandung rintangan. Seberapa parah cederanya, apakah dia akan jatuh begitu saja? Dan apakah dia akan baik-baik saja atau akankah dia terluka parah? Itu masih belum diputuskan.”

Mudah untuk menghindari rintangan itu. Dia tidak harus terbang, dia hanya perlu mengambil sedikit jalan memutar.

Di sinilah aku ingin mengawasi Horikita.

Tapi sekali lagi, aku mendapati diriku bertanya-tanya pada sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sejak aku pertama kali masuk sekolah ini.

“Jadi begitu ya. Tapi, aku masih belum puas dengan keputusan Horikita-san. Dia juga melanggar janji, ‘kan? Terlebih lagi dia bahkan mengatakan akan melindungi Kushida-san.”

Memang benar ada aspek ancaman, tapi benar juga bahwa sampai saat ini kelas Horikita terlalu tidak disiplin.

Dengan membuat keributan di sini, dia tahu bahwa keselamatannya sendiri tidak akan terjamin. Tentu saja, kepercayaan mereka pada Horikita akan sangat goyah, tapi itu bisa ditebus dalam ujian khusus di masa depan, asalkan dia terus mengejar tujuannya untuk semakin dekat dengan Kelas A.

Saat kami mengobrol, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 19:00.

Aku membersihkan piring bekas kami makan dan pergi ke dapur untuk mencucinya selagi sempat.

“Hei, hei. Ngobrol sama aku di sini aja si~h!”

“Aku mau nyuci piring dulu, habis ini ya.”

“Ee~? Nanti keburu jam setengah delapan doong.”

Aku bisa mendengarnya mengeluh karena diskusi akan dimulai ketika Yōsuke datang.

Aku mengabaikannya dan mulai mencuci piring. Kei terdiam beberapa saat, tapi kemudian dia perlahan kehilangan kesabarannya dan mulai menuntut lagi.

“Ayolah, jangan ragu buat ke sini sih. Hei? Hei?”

Sambil mengatakan itu, dia menepuk tempat tidur dengan telapak tangannya tiga atau empat kali.

“Yah apa boleh buat———”

Setidaknya aku ingin mencuci piring sebelum Yōsuke datang ke kamarku, tapi aku menyerah.

Saat aku duduk di tempat yang dia tunjuk, Kei dengan senang hati menusuk pipi kananku dengan jari telunjuknya.

“Untuk seorang anak laki-laki, pipimu kelewat halus. yak. Kamu apain?”

“Cuman pakai lotion.”

Mengingat kerusakan pada kulit remaja, kupikir perawatan lebih lanjut pada dasarnya tidak diperlukan.

“Fu~n...”

Dia puas dengan jawabanku, tapi sebenarnya juga tidak terlalu peduli, dia hanya ingin menyentuhku dan tidak berhenti menusuk pipiku.

Aku meraih tangan Kei untuk menariknya mendekat padaku dan menyerang bibirnya.

Kupikir dia akan terkejut, tapi dia tampaknya malah menunggu itu dan tertawa malu-malu.

“Aku sudah menunggu ini dari sejak aku masuk ke kamarmu hari ini, tahu.”

“...Jadi begitu.”

Aku harus katakan kalau aku masih agak naif dalam membaca hal itu.

Setelah itu, kami berciuman berulang kali dalam keheningan.

Ciuman yang berulang kali terasa seperti omelet, pengalaman yang agak tidak biasa.

“Suki...”

Aku dengan lembut memeluk Kei yang memelukku dan keheningan yang tenang menyelimuti kami.

Tidak terasa canggung, melainkan waktu nyaman.

Aku bertanya-tanya berapa menit kami hanya saling berpelukan erat.

Seolah ingin memecah kesunyian, bel ruangan berbunyi.

Tiba-tiba ditarik kembali ke kenyataan, Kei buru-buru menjauhkan diri dariku karena malu.

Tanpa perlu panik, toh pintunya terkunci, tapi yah... aku mengerti bagaimana perasaannya.

Setelah memberi Kei waktu untuk tenang, kami berdua menyambut Yōsuke untuk masuk.

Yōsuke yang masih mengenakan seragam, masuk ke kamarku.

“Setelah kegiatan klub selesai, aku pergi ke Keyaki Mall sama senpai-senpaiku.”

Yōsuke menjelaskan ketika dia menyadari bahwa aku sedang memperhatikan seragamnya.

“Selamat datang, silakan masuuk.”

Yōsuke tersenyum senang melihat Kei bertingkah seolah-olah ini adalah kamarnya sendiri.

Aku tahu bahwa dia pasti senang melihat keceriaan dan kemurnian Kei saat ini karena dia telah mengawasi dia lebih dari siapa pun sejak awal masuk sekolah.

“Permisi.”

Setelah merapikan sepatunya dengan hati-hati, Yōsuke masuk ke kamarku dan duduk, aku menyajikan teh untuknya.

“Terima kasih.”

“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?”

Karena tidak ada gunanya menahannya terlalu lama, aku mendesaknya untuk berbicara.

Tentu saja, isinya semua sudah diprediksi.

“Ya. Ini soal kelas. Aku yakin Karuizawa-san juga sangat menyadarinya, tapi kupikir mungkin berbahaya untuk menjalani festival olahraga jika seperti ini. Kupikir akan sulit terutama bagi para gadis untuk bekerja sama.”

Yōsuke menatap Kei, seolah berkata dia tahu lebih banyak tentang itu.

“Aku tadi juga sudah bicara dengan Kiyotaka soal Shinohara-san. Sejujurnya, kita sekarang belum sampai pada titik untuk mendiskusikan kompetisi, ya?”

Itu karena kami baru mulai memperbaiki hubungan pertemanan.

“Jadi aku ingin tahu apakah kamu punya ide bagus. Aku butuh bantuanmu, Kiyotaka-kun.”

Kei yang tadi meminta bantuanku, juga menatapku dengan tatapan yang sama.

Maka aku juga tidak akan ragu untuk berbicara.

“Yōsuke, apa kamu sudah membicarakan hal ini dengan orang lain sebelum aku?”

“Eh? Belum... ini baru pertama kali. Aku merasa itu tidak akan berjalan dengan baik jika aku sembarangan berbicara dan memberi tahu mereka bahwa aku sedang mencoba memperbaiki keadaan.”

Akan sangat bagus jika mereka dengan jujur ingin membantunya, tapi mereka mungkin akan waspada jika mereka tahu bahwa dia mencoba mendamaikan mereka.

Dia takut mereka mungkin akan curiga bahwa ada sesuatu di balik kata-kata lembutnya.

“Jadi kamu juga?”

“Aku maunya diberi perintah.”

“Kalau begitu, mulai sekarang, aku ingin kamu bicarakan dulu apa-apa dengan pemimpin kelas, yaitu Horikita, bukan denganku.”

“Tapi kupikir Horikita-san sekarang sedang sibuk sama kasus Kushida-san. Kalau sekarang, di titik ini aku mengangkat masalah teman sekelas lainnya———”

“Lalu bagaimana jika aku yang sedang berurusan dengan Kushida, apa kamu akan memanggil Horikita?”

“Itu... aku tidak yakin. Aku mungkin akan bicarakan denganmu, Kiyotaka-kun...”

Yōsuke membayangkan akan seperti apa itu, dan kemudian dia mengakuinya dengan jujur.

“Horikita-san bekerja dengan sangat baik. Tapi kupikir Kiyotaka-kun akan bisa melihat gambaran besar dari semuanya dan membuat keputusan yang tepat.”

“Aku pun akan ngelakuin hal yang sama. Maksudku, kalau aku serahkan pada Kiyotaka, kau akan memberiku jawaban yang sempurna.”

“Aku juga sudah katakan ini selama ujian khusus sebelumnya. Kalian tidak bisa selalu mengandalkanku. Bahkan jika kalian tidak yakin, kalian harus melalui proses bicara dengan Horikita ini terlebih dahulu.”

“Tapi———”

“Itu akan membebaninya. Belum tentu juga dia bisa menemukan solusinya. Jadi kalian tidak bergantung padanya, kalian tidak bisa mengandalkannya. Apakah dengan begitu kau pikir Horikita akan menjadi pemimpin dalam arti yang sebenarnya? Bagaimana jika dia adalah pemimpin seperti Ryūen, Sakayanagi, atau Ichinose? Bahkan jika dia sedang sibuk, tidakkah kalian pikir dia akan menjadi orang pertama yang akan kalian tuju untuk mengungkapkan kecemasan kalian?”

Kuncinya adalah mengandalkan dan diandalkan. Horikita dan kelasnya akan tumbuh melalui keberhasilan dan kegagalan yang berulang.

“Kegagalan adalah sebuah pengalaman. Siapa pun itu akan mulai dengan soal 1 + 1. Tentu saja, Horikita sudah tidak lagi pada tahap itu, tapi meski begitu, dia masih kurang berpengalaman.”

Sebelum mendapatkan solusi, proses berdiskusi dan mencari solusi tidak boleh terlewatkan.

“Aku ingin kamu memberitahuku hanya setelah dia bilang bahwa dia sudah terlalu sibuk dengan Kushida.”

“...Jadi begitu. Aku mengerti apa yang ingin kamu katakan, Kiyotaka-kun.”

Mendengarkan dengan serius, Yōsuke mengangguk beberapa kali dan memproses arti kata-kata itu di dalam hatinya.

“Memperoleh pengalaman kegagalan itu penting, tapi ini berbeda dengan nilai ujian. Ini bukan hanya soal mendapatkan nilai buruk dan berusaha lebih keras lagi di lain waktu. Ini adalah hal penting yang berhubungan dengan perasaan siswa. Jika sebuah hubungan yang retak dihancurkan oleh keputusan yang tidak matang... itu masalah yang tidak bisa diperbaiki.”

Mengenai itu seperti yang diharapkan, Yōsuke. Dia tidak mengajakku berdiskusi hanya karena aku bisa memberinya jawaban yang mudah.

“Keputusan yang tepat. Tapi, kurasa kamu sedikit salah menilainya. Mungkin benar ada keretakan dalam persahabatan antar teman sekelas. Dan memang benar ada juga gesekan, pertengkaran, dan hinaan di antara teman yang bisa menyebabkan masalah yang tidak bisa diperbaiki.”

Skenario terburuk akan tercipta ketika itu meluas dari hinaan menjadi pelecehan, pengabaian, dan perundungan.

Tapi itu benar-benar skenario terburuk.

“Kei. Perseteruanmu dengan Shinohara apakah separah itu?”

“Hmmm... kalau ditanya seperti itu, yah, itu seperti lanjutan pertengkaran, kali ya? Aku dalam posisi pelaku, jadi sulit bagiku untuk memulai percakapan. Aku tidak melecehkannya atau apa pun kok. Kurasa tidak banyak gadis yang membenci Shinohara-san.”

Menanggapi sesuatu terlalu serius menyebabkan kecemasan yang tidak perlu. Itulah pendapatku.

“Selain itu, kamu tidak akan membiarkan Horikita menyelesaikan masalah ini sendirian, bukan?”

“Tentu saja. Kalau ada yang bisa aku lakukan, aku akan melakukannya.” (Hirata)

“Itu bagus. Kebanyakan hal dapat diatasi jika kalian berdua bisa bekerja sama dengan Horikita sebagai pusatnya itu sudah kuperhitungkan.”

Namun, kata-kata ini saja tidak akan cukup untuk menghilangkan kecemasan mereka sepenuhnya.

Jadi aku akan menambahkan sesuatu yang penting.

“Tentu saja, pasti ada beberapa hal yang tidak bisa diselesaikan meski bekerja sama dengan Horikita. Pada saat itu, aku juga akan membantu.”

Kalau backup-nya sempurna, Yōsuke dan Kei akan bisa bertindak tanpa ragu-ragu. Keduanya tampak puas, tapi ekspresi Yōsuke tidak sepenuhnya cerah karena dia masih memikirkan sesuatu. Setelah itu, kami bertukar informasi sebentar, dan ketika jam 8 malam sudah dekat, aku mendesak mereka untuk pulang.

“Eng... kalau boleh, aku mau bicara berdua denganmu sebentar saja.”

Ketika hendak pulang, Yōsuke yang merasa tidak bisa pulang begitu saja, menanyakan itu.

“Oke. Kalo gitu, aku pulang duluan, ya.”

Ketika Yōsuke mengatakan bahwa dia masih ingin berbicara denganku, Kei menjawab dan pergi dengan cepat.

Setelah pintu tertutup, Yōsuke berbalik lagi.

“Kiyotaka-kun. Aku akan membicarakannya dengan Horikita-san besok. Aku hanya ingin tahu apakah ada jalan yang jelas dalam pikiranmu saat ini?”

“Sejujurnya, aku tidak punya ide langsung tentang bagaimana menyelesaikan masalah dengan Haruka dan Kushida. Aku berharap kalian dapat mendiskusikannya dan membantuku menemukannya.”

“Dengan kata lain... mengenai Mī-chan itu masalah yang berbeda?”

“Setidaknya. Ini akan memakan waktu, tapi ada peluang. Jika kau ingin cepat, kau harus menggunakan perlakuan kasar.”

“Perlakuan kasar? Kalau ada yang bisa aku lakukan, kupikir aku harus melakukannya.”

Bahkan ketika membicarakan tentang gadis yang menyukainya, Yōsuke menanggapi sama seperti ketika membicarakan orang lain.

“Sudah kubilang itu perlakuan kasar. Aku tidak merekomendasikannya.”

“Aku ingin tahu seperti apa caranya?”

“Caranya adalah kamu harus menemui Mī-chan dan membalas perasaannya.”

Yōsuke menunjukkan reaksi yang tidak kuduga.

“Sebenarnya, aku juga menyukaimu, Mī-chan. Aku ingin berpacaran denganmu. Kalau kamu bisa membuat pernyataan seperti itu, besoknya dia pasti akan datang ke sekolah.”

(Tln: Kokuhaku ke-3 Kiyotaka. Yang kedua sebagai contoh)

Aku sedikit enggan untuk mengatakannya, tapi itu satu-satunya solusi yang bisa kupikirkan saat ini.

“Kalau bukan karena Yōsuke, aku juga tidak akan membicarakan omong kosong ini. Tapi kupikir mungkin saja mengingat kamu pernah diminta Kei untuk berpura-pura pacaran dengannya.”

Kau benar. Gumamnya, tapi ekspresi Yōsuke tidak tercerahkan.

“Alasan kenapa aku dan Karuizawa-san seolah-olah setuju untuk berpacaran adalah karena tak satu pun dari kami memiliki perasaan romantis. Itu tidak sama dengan berpura-pura membalas perasaan Mī-chan dan berpacaran dengannya. Karena itu hanya akan sangat menyakitinya nanti.”

“Aku tidak berniat merekomendasikan ide ini, tapi itu tidak benar. Tidak jelas pada tahap apa Mī-chan jatuh cinta padamu, tapi tidak dapat menyangkal bahwa ada siswa, siapa pun itu, yang memiliki perasaan romantis padamu sejak awal masuk sekolah. Dengan kata lain, akibat dari kebohonganmu berpacaran dengan Kei untuk melindunginya dari perundungan, beberapa gadis mungkin terluka karena kamu secara tidak langsung menolak mereka.”

“Itu———”

Kalau Kei dan Yōsuke serius berpacaran, itu akan menjadi alasan yang bisa dibenarkan.

Namun karena kenyataannya tidak, keduanya tidak ada banyak perbedaan, meskipun situasinya berbeda.

“Bagaimana jika sekarang Mī-chan memelukmu sambil menangis dan mengatakan bahwa dia tidak akan pergi ke sekolah lagi kecuali kamu mau berpacaran dengannya? Bisakah kamu menolaknya?”

Yōsuke kehilangan kata-kata. Mungkin Yōsuke tidak akan bisa membuat pilihan itu.

“Kalau kamu tidak bisa menolak, kamu punya dua pilihan. Kamu bisa katakan padanya bahwa kamu tidak menyukainya dan berpacaran dengannya, atau kamu bisa berbohong dengan mengatakan bahwa kamu juga menyukainya.”

Jika cinta sejati dapat tumbuh selama mereka bersama, itu bisa membawa ke akhir yang terbaik.

“Aku masih berpikir itu... tak seharusnya ku lakukan.”

Bahkan jika dia mengerti apa yang ku katakan, sisi emosionalnya sudah kuduga akan mencegahnya.

“Ini hanya solusi paksa. Sekarang memang butuh waktu, tapi ini baru proses menanam benih.”

“Aku mengerti. ...Meski begitu, kamu tegar sekali ya, Kiyotaka-kun. Kau tampaknya tidak terpengaruh sedikit pun oleh fakta bahwa Sakura-san dikeluarkan.”

Saat Yōsuke berbicara pelan, tidak ada tanda-tanda kesedihan atau kemarahan.

“Dan aku masih... bisa merasakan sensasi waktu itu di tanganku.”

Dia melihat tangannya yang terulur dan menatap telapak tangannya.

“Sensasi ujung jariku saat menyentuh tablet dan menekan sejutu. Aku tidak bisa melupakannya.”

Yōsuke bekerja keras siang malam demi teman-teman sekelasnya jarang menunjukkan kelemahan.

Tapi, dia menderita karena menganggap dirinya sama sepertiku, bertanggung jawab atas dikeluarkannya Airi.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan saat itu, Yōsuke. Tidak mungkin kau setuju untuk mengeluarkan Airi yang tidak melakukan kesalahan apa pun dalam ujian itu. Tapi meski begitu, kamu berhasil bertahan. Dimenit-menit terakhir kamu bisa saja mengatakan bahwa kamu tidak menyetujuinya, tapi kamu menahan diri untuk tidak mengatakannya.”

Dia menjadi tidak rasional. Jika dia bisa menjelaskan situasinya kepada mereka dan membuat mereka menghadapinya, teman-teman sekelasnya akan mendapatkan kembali ketenangannya. Jika visi mereka, yang telah dipersempit oleh tekanan waktu yang hampir habis, diperluas, kebulatan suara menjadi tidak mungkin.

“Kelas kita naik ke Kelas A... itu, yang terpenting.... itulah yang ku katakan pada diriku sendiri.”

Meskipun dibenaknya dia tahu itu, dia tetap tidak bisa menerima itu. Mungkin seperti itu.

“Hasebe-san, Kushida-san, dan Mī-chan absen. Aku ingin tahu berapa lama ini akan terus berlanjut. Teman sekelas bergidik menyadari bahwa siswa dengan nilai terendah dibuang. Kelas yang ceria sampai minggu lalu masih sepi seperti kebohongan.”

Meskipung dia sedang mencari solusi, dia mungkin masih menderita dan bertanya pada diri sendiri pertanyaan yang sama berulang-ulang.

“Aku tahu kau tidak senang dengan pilihanku atau Horikita. Tapi kau harus menerimanya. Kau hanya perlu merenungkan dan memahami seberapa bagus kelas kita saat ini. Itulah sebabnya Horikita membutuhkan banyak dukungan. Terkadang kita memilih jalan yang benar, terkadang kita memilih jalan yang salah. Dan akan ada saatnya kau akan memilih jalan yang tidak pasti.”

Bahkan jika aku menceramahinya, tidak semuanya bisa dicerna oleh Yōsuke.

“Aku———mungkin seharusnya memilih untuk kehabisan waktu...”

Bahu Yōsuke sedikit bergetar saat dia tidak bisa lagi menahannya.

Bagi Yōsuke, ide untuk mengorbankan seseorang bukanlah sesuatu yang dia inginkan.

Meski begitu, mampu mengambil keputusan dalam situasi itu dapat dilihat sebagai pertumbuhannya yang solid.

“...Entah aku semakin kuat, atau aku sudah hancur. Aku takut karena aku tidak tahu keputusan apa yang akan aku buat jika itu terjadi lagi.”

Aku tak bisa melihat wajahnya yang tertunduk, tapi dia mengusap matanya sekali dengan lengan bajunya dan kemudian mengangkat wajahnya.

“Aku yakin Kiyotaka-kun yang paling menderita, tapi aku malah mengatakan hal-hal yang lemah, maaf ya.”

“Tidak apa-apa. Baik aku dan Horikita telah berkali-kali ditolong olehmu dalam ujian khusus. Aku menduga pertempuran akan jauh lebih sulit di masa depan. Aku ingin kamu terus meminjamkan kekuatanmu untuk kelas.”

Yōsuke mengangguk. Dia tetap tersenyum kecil meskipun hatinya masih terluka.

Yōsuke meraih pintu depan, tapi tangannya berhenti.

“...Terima kasih untuk semuanya hari ini.”

“Apa kamu menyimpan dendam padaku karena sudah mengeluarkan Airi?”

Tidak seperti siswa lain, Yōsuke tidak terang-terangan menunjukannya, tapi aku tidak akan terkejut jika dia menyimpan dendam.

“...Untuk masalah itu saja, ya. Tapi aku percaya padamu.”

Dia memikirkannya dan mengungkapkannya dengan kata-kata, tapi mungkin dia tidak yakin, jadi dia menambahkan lebih banyak.

“...Tidak. Aku ingin mempercayaimu.”

Jika itu semacam delusi, kupikir pikiran Yōsuke itu berbahaya. Tapi di balik matanya itu, pasti ada kemauan. Tuntutan tegas agar aku tidak mengkhianatinya karena dia mempercayaiku.

“Sudah ya, selamat malam.”

Ini mungkin sudah menghilangkan sebagian beban Yōsuke, tapi mungkin juga memberinya beban baru. Jika dia bisa mengambil kesempatan ini untuk menyingkirkan hal buruk secara menyeluruh, itu bagus... tapi seberapa besar efek yang bisa diharapkan?

Yang jelas, kita harus mengikuti langkah demi langkah dengan pasti.

Related Posts

Related Posts

5 comments

  1. Anj*nk.Bucin Parah.NgakakGuaNjir😂

    ReplyDelete
  2. Bucinnya bikin gw mau muntah, hueeee,, entah knapa gw lebih seneng sama kei yg tsundere sebelum jadian, lebih imut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepemikiran gan gw jg lbh suka kei yg dulu drpd yg sekarang.kesannya kei yang sekarang lebih ke parasit.kiyotaka inilah kiyotaka itulah

      Delete
  3. KiyoKei hadehhhh, bikin senyum guling guling sendiri bacanya

    ReplyDelete
  4. Udah fix sih, si horikita ternyata lesbi.

    ReplyDelete