-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 6 Bab 3 Part 2 Indonesia

Bab 3
Meski Begitu, Mau Tak Mau


2


Mengangkat kepalaku yang berat dari tempat tidur, aku berguling keluar dari tempat itu.

Aku tidak demam, tapi aku merasa sakit pusing ringan sepanjang waktu.

Penyebabnya jelas, karena aku bolos 5 hari sekolah karena rasa bersalah.

Sampai saat ini, aku tidak pernah absen sekali pun kecuali karena sakit. Dipenuhi rasa bersalah, aku coba memikirkan hal lain untuk menghilangkan perasaan itu, tapi aku gagal menyingkirkannya dari pikiranku. Jika aku bisa menyingkirkannya asalkan mau mencobanya, aku tidak akan absen 5 hari, ya....

Aku akan lakukan sesuatu untuk menyegarkan pikiranku. Dengan pemikiran itu, aku meraih ponselku.

Meninggalkan beberapa pesan yang belum dibaca, aku mengetuk folder foto dan mengakses catatan awal pemotretanku. Aku menggulirnya dan melihat foto-foto itu sambil merasakan nostalgia.

Yang pertama menghentikan tanganku adalah fotoku tepat setelah aku masuk sekolah, ketika aku belum memiliki teman yang bisa kupanggil teman.

Ini adalah groufie pertama dan satu-satunya yang aku ambil dengan Hirata-kun, yang tersenyum lembut di sampingku, yang masih belum bisa tersenyum dengan benar.

Aku masih tidak pandai tersenyum, tapi rasanya aku telah meningkat pesat sejak saat itu.

“Ini mengembalikan kenangan...”

Kehidupan sekolah di Jepang, di mana aku tidak tahu apa-apa soal itu.

Hirata-kun adalah orang pertama yang membantuku melepaskan kegugupanku.

Saat itu, aku masih belum menyadari perasaan cintaku.

Yang bisa kupikirkan hanyalah dia keren, baik, dan menawan.

Di Cina di mana ada rasa persaingan yang kuat dan tingkat studi yang tinggi, tak ada waktu untuk percintaan, jadi itu sesuatu yang tidak kusadari. Aku tidak tahu kapan aku menyadari bahwa aku sedang jatuh cinta, tapi sejak aku menyadarinya, aku tahu aku tidak akan pernah mengungkapkannya dengan kata-kata.

Karena Hirata-kun sangat populer, dan dia bukan seseorang yang bisa kujangkau.

Jika aku mengungkapkan perasaanku secara tidak sengaja, aku hanya akan menyusahkannya.

Jadi aku menyimpannya di hatiku dan puas hanya berada di dekatnya.

“———Tapi.”

Memikirkannya lagi saja membuatku malu dan takut, dan air mataku mengalir.

“Aku harus bagaimana...”

Semua orang di kelas tahu kalau aku menyukai Hirata-kun.

Mereka pasti juga menyadari kalau aku mencoba untuk dekat dengan Hirata-kun saat aku pindah tempat duduk, ‘kan?

Aku jadi tidak tahu wajah seperti apa yang harus kupasang waktu pergi ke sekolah....

Setelah memikirkan hal itu, aku sekarang diserang oleh rasa bersalah lainnya.

Sakura-san yang dikeluarkan dari sekolah setelah menunjukkan kebaikan dan ketegasannya kepada Hasebe-san. Perasaannya pasti jauh lebih menderita dibandingkan denganku. Namun, aku hanya memikirkan diriku sendiri, aku hanya ingin ujian itu cepat selesai dan menekan tombol pengusiran.

“Aku memuakan...”

Menjadi orang yang memuakan membuat aku benci dan benci, tersiksa dan tersiksa, dengan diriku sendiri.

Masalah kecilku....

Saat aku hendak mematikan layar ponselku karena tidak ingin melihat diriku tersenyum kaku, aku teringat email yang kuterima dari Ayanokōji-kun Senin malam.

Aku ingin tahu bagaimana perasaan Ayanokōji-kun sekarang. Setelah temannya yang berharga dikeluarkan oleh tangannya sendiri, apakah dia masih bisa pergi ke sekolah seperti biasa?

Kalau bisa, seperti apa....

Aku ingin, bertemu dan bicara dengannya secara langsung....

Dengan pemikiran itu, aku membaca kalimat yang dikirim kepadaku.

[Aku ingin bertemu dan bicara denganmu secara langsung]

“Ah...”

(Tln: Ciee)

Seolah perasaanku telah menjadi sebuah kalimat, pesan Ayanokōji-kun terhubung denganku.

Nomor telepon dan nomor kamar disertakan untuk berjaga-jaga.

Bisakah aku berkonsultasi dengannya?

Ada beberapa orang selain Ayanokōji-kun yang mengkhawatirkanku.

Kau baik-baik saja? Mau curhat denganku? Jangan memaksakan dirimu, oke?

Meskipun aku bersyukur atas kata-kata baik seperti itu, aku tidak yakin bahwa menanggapi salah satu dari mereka akan menghasilkan solusi.

Tapi jika itu Ayanokōji-kun....

Aku ingin dia mendengar masalahku, dan aku ingin mendengar pendapatnya.

“...Kurasa... akan kucoba.”

Waktu masih menunjukkan pukul 05.30 sore. Dan ini terlalu dini untuk makan malam....

Kupikir di jam segini tidak sopan untuk datang tiba-tiba.

Aku bergumul sambil bolak-balik di dalam ruangan untuk sementara waktu, tapi waktu hanya terus berlalu.

Aku membulatkan tekad dan memutuskan untuk mengunjungi Ayanokōji-kun.

Aku mengangkat telepon dan meneleponnya dengan gugup.

Ketika aku mendengar dering kelima, keenam... dan kesepuluh, aku bertanya-tanya apakah aku harus menutup teleponnya....

Ayanokōji-kun menjawab panggilan itu, jadi aku panik dan bicara dengan keras.

“A-A-Ano, aku Wang! Um, ini Ayanokōji-kun, ‘kan?”

[Jadi kamu menghubungiku]

Suara Ayanokōji-kun yang sedikit bergema dan suara shower yang mengalir terdengar samar di telingaku.

“...Ya. Aku khawatir tidak bisa keluar dari kamarku untuk waktu yang lama... tapi rasanya aku bisa keluar sekarang... jadi aku ingin tahu, apakah aku bisa bicara denganmu sebentar, Ayanokōji-kun...”

[Sekarang?]

“Apa waktunya tidak tepat...? Aku minta maaf sudah meneleponmu tiba-tiba... memang payah ya, aku...”

Mungkin waktunya tidak tepat, dan mungkin tidak ada yang bisa dilakukan tentang hal itu.

[Itu tidak benar, tapi bisakah kau beri aku waktu sebentar? Aku akan siap dalam 30, tidak, 20 menit]

Mengetahui betapa tertekannya aku, Ayanokōji-kun berkata begitu.

“Te-Terima kasih! 20 menit lagi, aku akan sampai di sana! Maaf mengganggu!”

Aku sangat gugup dan segera menutup telepon karena aku tidak tahan lagi.

“Fuu.... Aku deg-degan...”

Mungkin karena aku tidak bicara dengan orang lain selama seminggu....

Sambil menunggu, aku merapikan diri, dan setelah hampir 20 menit, aku siap dan meninggalkan kamarku.

Aku membuka pintu depan, yang terasa lebih berat dari biasanya...

“Ah, lagi...”

Ada kantong plastik diletakkan di dekat pintuku.

“Hari ini datang lagi.”

Di dalamnya ada jeli, teh, dan sandwich.

Semuanya dimulai pada Senin malam, ketika aku diam-diam meninggalkan kamarku untuk pergi ke toserba.

Awalnya kupikir seseorang hanya meletakkannya di tempat yang salah, tapi di dalam kantong plastik itu ada secarik kertas kecil dengan nomor kamarku di atasnya.

Tapi tidak ada nama pengirimnya, jadi aku tidak tahu dari siapa itu.

“Ah, ada salad juga hari ini... tapi... ini agak tidak seperti kesukaanku sih...”

Salad daging ayam dengan banyak protein.

Namun, aku merasakan kebaikan dalam kenyataan bahwa menunya berubah sedikit setiap hari.

“Siapa sih ini?”

Tidak ada hal lain di dalam kantong plastik yang mungkin menjadi petunjuk dan tidak ada tanda terima juga. Aku berterima kasih pada Nanashi-san, sekarang kutinggalkan itu di pintu masuk dan menaiki tangga ke lantai 4 tempat kamar Ayanokōji-kun berada. Lantai tempat kamar anak laki-laki berapa membuatku sangat gugup....

(Tln: Nanashi-san: tuan tanpa nama)

Sambil memikirkan hal itu, aku membuka pintu dan memasuki koridor, tepat saat pintu kamarnya terbuka.

Itu sepertinya persis di kamar Ayanokōji-kun.

Tapi yang keluar dari dalam adalah———

Untuk sesaat aku bertanya-tanya siapa itu, tapi itu Karuizawa-san.

Bukan ponytail biasa yang rapi, tapi rambut lurus yang halus.

Dan Ayanokōji-kun mengenakan pakaian kasual.

Jangan-jangan mereka sedang kencan di kamar....

Kalau benar, aku pasti sudah membuat panggilan telepon yang sangat mengganggu....

Aku hampir merasa tertekan lagi, tapi aku tidak bisa lari dan pulang karena sudah sejauh ini.

Karuizawa-san yang mulai melihat sekeliling segera bertemu dengan mataku seolah saling tumpang tindih.

“Ah, ya-yang lagi diomongin sudah dateng. Sampai nanti ya, Kiyotaka!”

Sambil gugup aku menarik napas dalam-dalam, dan Karuizawa-san juga menarik napas 2 kali lebih dalam.

Dia mungkin akan mengatakan sesuatu tentang Hirata-kun.

“Ba-bye-bye!”

“E-Eh?”

Aku menguatkan diri, tapi dia hanya mengucapkan selamat tinggal dan melewatiku tanpa melakukan kontak mata.

Aku menghentikannya saat dia bergegas pergi.

“Anu, Karuizawa-san!”

“AAA-Apa?”

“...Aku minta maaf karena sudah menelepon Ayanokōji-kun tiba-tiba... aku sudah mengganggu kalian, kan...”

“Tidak kok, sama sekali tidak. Sungguh.”

“Tapi...”

“Kamu ingin meminta saran, bukan? Kiyotaka sudah memberitahuku. Dia bilang jika dia tidak mengangkatnya sekarang, kau harus menggunakan keberanian barumu untuk keluar dari kamarmu lagi.”

Sudah kuduga, sepertinya perasaanku telah tersampaikan melalui telepon.

Karuizawa-san berhenti dan berjalan mundur sedikit, dia tersenyum ramah padaku.

“Lebih baik jangan ragu untuk meminta saran. Tu orang sepertinya fasih berbicara, tapi juga tidak pandai berbicara, tapi aku yakin dia bisa memberimu jawaban.”

“———Baik.”

Aku sudah sejauh ini. Aku harus mengungkapkan semua yang kupikirkan sekarang, atau itu akan hilang.

Aku merasa bahwa Karuizawa-san telah membantu ku untuk menciptakan perasaan seperti itu.

“Kalau begitu, aku akan menunggumu Senin depan.”

Dia memberiku dorongan penyemangat dan lanjut menekan tombol lift naik dan turun terus menerus. Tapi begitu dia menyadari bahwa lift tidak segera datang, dia pergi melalui tangga darurat.

(Tln: wkwkwk... mood booster banget. Lucu tingkah cewek satu ini)

“Terima kasih, Karuizawa-san.”

Setidaknya itu tidak terlihat seperti dia tidak senang denganku.

Aku selalu mendapat kesan bahwa dia menakutkan ketika dia marah, tapi Karuizawa-san hari ini terasa lembut dan baik....

Ups, aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal lain sekarang, jadi aku bergegas ke kamar Ayanokōji-kun.

Aku menekan bel dan pintu terbuka sekitar 30 detik kemudian.

Ayanokōji-kun yang menyambutku terdiam, jadi aku langsung mulai panik.

“A-Anu... aku menerima pesanmu... um, aku hanya ingin berbicara denganmu sebentar...!”

Related Posts

Related Posts

4 comments

  1. Curiga gw, jangan" mandi bareng si kiyo (buat menyakinkan kei, biar gak cemburu)

    ReplyDelete
  2. Hayo habis ngapain kk angkat telponnya lama dan lagi harus tunggu 20 menit 😆

    ReplyDelete
  3. Ini yang di youtube yang bilang mereka abis main kan ya wkwkwkwk

    ReplyDelete