-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 6 Bab 3 Part 3 Indonesia

Bab 3
Meski Begitu, Mau Tak Mau


3


Hampir tepat pada waktu yang dijadwalkan, Mī-chan datang mengunjungi kamarku.

Sebenarnya aku ingin Kei kembali ke kamarnya sedikit lebih cepat, tapi ini saja masih cukup terburu-buru.

Aku merasa bahwa aku seharusnya meminta waktu beberapa menit lagi, tapi aku harus memastikan bahwa Mī-chan tidak akan berubah pikiran.

“Masuk saja, jangan malu.”

“Permisi...!”

Mī-chan tidak bisa menyembunyikan kegugupannya, tapi dia tidak menunjukkan gestur ingin berbalik.

Aku hanya menatapnya sebentar, tapi aku bisa tahu bahwa dia berusaha sangat keras hanya untuk berdiri. Tidak seperti Kushida dan Haruka, dia tidak ingin tinggal di tempat ini.

“Mau minum sesuatu?”

“Tidak, jangan repot-repot. Terima kasih atas perhatianmu.”

Dia dengan sopan menolak dan duduk di karpet dengan malu-malu.

Aku juga duduk di seberangnya dan bersiap untuk bicara dengannya.

“Kamu datang ke sini karena pengungkapan rahasia Kushida, atau ada hubungannya dengan Yōsuke, ‘kan?”

Setelah mendengar namanya, bahunya tersentak, dan Mī-chan mengangguk pelan.

“Aku juga ingin tahu bagaimana keadaan kelas. Shinohara-san, Matsushita-san, dan Hasebe-san. Setidaknya mereka yang jauh lebih terluka daripada aku. Dan juga tentangmu, Ayanokōji-kun.”

Aku tidak berharap dia menyebutkan namaku di sini, tapi kurasa itu tidak mengejutkan.

Dari sudut pandang orang luar, itu terlihat seperti keputusan yang menyakitkan untuk membuang salah satu orang dari grup temanku.

“Kamu pasti mendapat banyak pesan, ‘kan?”

“...Alhamdulillah, ada banyak orang yang mengkhawatirkanku. Tapi, aku tidak bisa melihat pesan mereka. Jika aku melihatnya, aku harus membalasnya.”

Dia hanya membacanya dan tidak membalas. Mī-chan menjawab karena dia tidak bisa melakukan itu.

Karena itu satu-satunya hal yang dapat dia lakukan adalah tidak menandainya sebagai telah dibaca.

“Baiklah, kalau begitu. Tidak perlu berurutan sih, jika kamu punya pertanyaan untukku, jangan ragu untuk bertanya.”

Kami jarang berbicara berdua saja seperti ini. Tidak perlu bicara dengan lancar, tapi dia ragu-ragu, masalah yang bisa diselesaikan tidak akan bisa diselesaikan. Lebih baik mengmabil jalan yang memungkinkan kita untuk sedikit terbuka.

“Kalau begitu, um, aku tidak akan ragu.... Ah, tapi, sebelum itu... hanya untuk memastikan, apakah Ayanokōji-kun yang membeli dan meletakkan berbagai barang di depan kamarku?”

Mī-chan menjelaskan kepadaku untuk melengkapi kurangnya pemahamanku. Bahwa ada seseorang yang mengantarkan makanan sekali sehari sejak dia mulai absen sekolah. Ada secarik kertas dengan hanya nomor kamar Mī-chan yang tertulis di atasnya, tapi tidak ada identitas pengirimnya.

Untuk sesaat, Yōsuke muncul di benakku, tapi aku belum pernah mendengar apapun tentang itu di sekitar Kushida atau Haruka. Hirata yang memperlakukan teman sekelasnya dengan setara, akan melakukan hal yang sama untuk siswa lain jika dia memberikannya kepada Mī-chan, dan dia seharusnya memberi tahuku dalam beberapa kali pertemuan kami.

“Maaf, tapi itu bukan aku, aku juga tidak tahu kira-kira siapa itu.”

“Begitu ya.... Orang itu juga banyak membantuku... kuharap aku bisa berterima kasih padanya.”

“Siapapun itu, berarti ada siswa yang khawatir dengan absennya kamu, Mī-chan.”

Ada yang mengiriminya pesan, ada yang meneleponnya, ada yang membawakannya makanan.

Atau bahkan tanpa menghubunginya, pasti ada banyak siswa di sekitarnya yang mengkhawatirkannya.

Setelah mengangguk sedikit senang, Mī-chan mengajukan pertanyaan.

“Ayanokōji-kun, kamu pergi ke sekolah... ‘kan?”

Jika dia tidak melakukan kontak dengan dunia luar, tidak heran jika dia bahkan tidak tahu pasti bahwa aku hadir. Tentu saja, sulit membayangkan seseorang yang mengatakan dia bersedia untuk dimintai saran akan tidur di kamar tertutup.

“Seminggu ini aku pergi ke sekolah seperti biasa.”

“...Bukankah itu sulit bagimu? Tidak, tentu saja sulit, tapi apakah kamu tidak pernah merasa tidak enak untuk pergi ke sekolah?”

“Kau bertanya secara keseluruhan, ya? Karena aku belum pernah memimpin teman sekelasku sebelumnya, dan aku yakin semua orang terkejut dengan tindakanku yang menyudutkan Kushida dan membuat sahabatku dikeluarkan.”

“...Ya. Itu berbeda dari Ayanokōji-kun yang kukenal. Itu sedikit menakutkan.”

Dia lugas dan jujur, dan menyatakan secara terbuka apa yang dia rasakan.

Tidak ada gunanya membicarakan keunggulan dan prioritas sahabat dan teman sekelas di sini.

Itu sudah kujelaskan dalam ujian khusus, jadi itu bukan sesuatu untuk digali sekarang.

“Aku hanya berusaha menutupi kepengecutanku dengan mengintimidasi. Hanya karena aku tidak pernah pandai mengekspresikan emosiku dengan baik, jadi tidak ada yang menyadarinya. Dan alasan aku bisa pergi ke sekolah sekarang tanpa melewatkan satu hari pun adalah karena kupikir itu tidak keren.”

“Aku juga memikirkannya sedikit. Aku tidak ingin orang-orang tahu bahwa aku terluka karena apa yang dikatakan Kushida-san itu benar, sehingga aku absen. Bahkan pada Senin pagi, aku berganti seragam dan berhasil sampai ke pintu. Tapi aku tidak bisa mengambil satu langkah lagi. Dan setelah aku mulai absen satu hari, pintu menjadi semakin jauh dan semakin berat... jadi, itu semua salahku...”

Kemudian, seakan teringat, Mī-chan menundukkan kepalanya.

“Aku absen satu minggu hanya karena ini, maaf.”

“Aku tidak berpikir itu bisa diremehkan. Pasti butuh cukup banyak keberanian bagimu untuk datang ke sini. Dan kamu tidak menyerah pergi ke sekolah sama sekali, bukan?”

“Te-Tentu saja! Aku benar-benar ingin segera pergi ke sekolah. Aku sendiri tahu kalau aku memang payah. Tapi... aku sangat malu dan menyedihkan...”

Perasaan tersembunyi. Dan terlepas dari berapa banyak siswa yang menyadarinya, bisa dimengerti kalau dia akan sangat trauma jika dia diekspos di tempat umum seperti itu.

“Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku memahami posisimu atau bahwa aku bisa menggantikanmu. Tapi, setidaknya teman-teman sekelas mengkhawatirkanmu, Mī-chan.”

“Ya...”

“Dan kamu sekarang menyebabkan masalah untuk kelas itu juga benar.”

Tiba-tiba dibuat sulit untuk menyangkalnya, jadi dia menegang dan terengah-engah.

Jangan khawatir. Aku akan tetap menunggu. Mudah sekali untuk merangkai kata yang nyaman di telinga, tapi efeknya hanya menunda kesimpulan.

Dari luar ini mungkin terlihat seperti perlakuan kasar, tapi ini akan meresap ke dalam hati.

“Tapi untungnya, masalah itu belum muncul karena Kushida dan Haruka sama-sama masih absen sekarang. Tapi minggu depan kita tidak akan tahu. Jika mereka berdua datang ke sekolah dan hanya Mī-chan yang tidak datang ke sekolah, apa yang akan terjadi? Kamu mengerti, ‘kan?”

Membayangkan situasi diri sendiri adalah sesuatu yang bahkan bisa dilakukan oleh siswa sekolah dasar.

Dia mengangguk, rasa takut mulai muncul di dalam dirinya membuat lengannya sedikit gemetar.

Aku berniat menyesuaikannya jika rangsangannya terlalu kuat, tapi yang mengejutkan, tak ada tanda-tanda bahaya.

Dia berkarakter mungil dan pemalu, tapi aku menilai bahwa intinya relatif kuat dan tidak akan mudah patah.

“Datang saja ke sekolah dengan wajah acuh tak acuh. Tidak perlu lakukan percakapan khusus dengan Yōsuke.”

“Tapi... aku, um... duduk di depan Hirata-kun, jadi... aku dekat dengannya...”

“Aku jadi ingat, waktu berpindah tempat duduk, Mī-chan mengambil kursi di dekat kursi tengah yang tidak populer lebih dulu dari yang lain, ya. Apa itu karena kamu mengira Yōsuke akan duduk di belakangnya?”

“...!”

Karena sikapnya yang mudah ditebak, aku tahu itu benar tanpa harus dia jawab secara langsung.

“Itu luar biasa. Kamu mengamati dan memahami Yōsuke dengan sangat baik.”

“Uuu, ini memalukan...”

Sambil memeluk lututnya, dia mengusap wajahnya. Ternyata rasa malu adalah masalah yang lebih kuat.

“Hi-Hirata-kun... apakah dia mengatakan sesuatu tentangku...?”

Dia melangkah sendiri ke area yang selalu dia ingin tahu.

Namun, wajahnya tersembunyi di balik lututnya, jadi aku tidak bisa mengintipnya.

“Tentu saja dia peduli. Lebih dari dia peduli pada Kushida atau Huruka.”

“...Itu pasti, karena aku menyusahkan saja... ‘kan?”

Karena dia adalah pihak yang bersangkutan, wajar jika Yōsuke akan lebih peduli daripada masalah lainnya.

“Bukan menyusahkan. Sebaliknya, dia merasa bersalah karena menjadi penyebab tidak masuknya Mī-chan ke sekolah.”

“Tidak mungkin... Hirata-kun sama sekali tidak salah padahal...!”

“Aku tahu. Tapi aku yakin Mī-chan tahu betul kalau dia tipe pria seperti itu. Kamu sudah tahu itu sejak lama, lebih lama dariku.”

Ikut senang jikalau ada hal yang menyenangkan untuk orang lain.

Sebaliknya, ikut sengsara jikalau ada hal yang menyengsarakan untuk orang lain.

Seperti itulah kepribadian yang dia miliki.

Yōsuke juga menderita karena Mī-chan mengurung diri.

Memahami ini adalah cara yang paling efektif dan penting guna mengatasi situasi saat ini.

Mata Mī-chan saat perlahan mengangkat wajahnya sedikit merah, tapi dia masih tidak menunjukkan air mata, kemudian dia menurunkan lutut yang dia peluk.

“Bukannya aku tidak memikirkannya. Aku bertanya-tanya apakah Hirata-kun mungkin menderita karena aku. Tapi, aku mengutamakan diriku sendiri dan pura-pura tidak melihatnya...”

Rupanya aku tidak perlu memberitahunya dari awal, tapi kurasa memberinya kesempatan saja sudah cukup.

Ketika aku melihatnya sebagai siswa tahun kedua SMA, bisa dikatakan bahwa siswa bernama Mī-chan hampir sempurna.

“Ekspresimu berbeda dari sebelumnya.”

“Terima kasih. Aku merasa jauh lebih baik setelah membicarakan semuanya. Ini berkatmu, Ayanokōji-kun.”

“Aku tidak berbuat banyak. Aku hanya kebetulan ada di sana ketika kamu pulih.”

“Itu tidak benar. Karena aku merasa, kamu mungkin bisa membantuku menyelesaikan masalahku, jika aku bertemumu, Ayanokōji-kun,.”

Katanya dengan tegas, kemudian dia membungkuk dalam-dalam.

“Aku———hari Senin, pasti, berangkat ke sekolah.”

“Aku mengerti. Tapi, jika kamu benar-benar masuk angin, lebih baik kamu absen saja.”

“Tidak. Khusus hari Senin, aku akan berangkat bahkan jika aku harus merangkak.”

Aku merasa itu agak terlalu percuma, tapi jika itu berarti seberapa besar antusiasnya, itu sudah cukup.

“Hal lain yang masih mengganjal adalah orang yang telah mengirimiku makanan. Karena telah membelikanku cukup banyak barang selama 5 hari... kupikir jumlah totalnya mendekati 10.000 poin.”

Jika itu tindakan satu orang, itu mungkin memang jumlah yang cukup besar.

Sepulangnya dia, dia terus berterima kasih padaku berulang kali, jadi aku memintanya untuk segera pulang.

“Kurasa itu hasil dari didikan orang tuanya. Aku merasa itu sedikit berlebihan.”

Dia terlalu sopan bahkan kepada teman sekelasnya. Itu juga salah satu kelebihan Mī-chan sih.

Satu masalah sudah terselesaikan, lebih baik aku bereskan kamarku yang belum sempat kuselesaikan.

Jumlah siswa yang mengunjungi kamarku akhir-akhir ini meningkat, jadi aku tidak boleh ceroboh.

Itu karena Horikita, Yōsuke atau siswa lain bisa datang mengunjungiku kapan saja.

Tak lama setelah aku melanjutkan pembersihan cepat, bel berbunyi lagi.

Aku dengan cepat melihat ponselku, tapi tidak ada pemberitahuan kontak dari Kei atau teman-teman.

Seorang pengunjung tanpa pemberitahuan, ya.... Ini waktu yang sangat tidak menyenangkan.

Aku akan mencoba untuk tetap diam di sini untuk sementara waktu. Dalam beberapa kasus, ada pilihan untuk menggunakan mesin penjawab....

Tapi, sekitar 30 detik kemudian, bel berbunyi sekali lagi.

Saat itu senja, aku memutuskan untuk mematikan lampu di kamar dan membuka tutup lubang intip, aku melihat koridor melalui lubang itu sambil menghilangkan tanda-tanda kehadiranku.

Orang yang paling tidak ingin kutemui sekarang, karena suatu hal, berdiri di sana. Siswa tahun pertama, Amasawa Ichika.

Kalau kuingat lagi, ini pernah terjadi sebelumnya.

Aku ingat hari itu juga, dia adalah tamu yang datang di saat yang buruk dan pada saat aku tidak ingin dia datang.

Saat melihatnya mengenakan seragam sekolahnya meskipun ini hari Sabtu, aku bertanya-tanya apakah dia habis berkunjung ke sekolah. Haruskah aku melihat kunjungannya sebagai penampilan belaka atau sebagai tindakan yang disengaja?

Mengingat apa yang terjadi terakhir kali, mau tak mau aku mencurigai bahwa kali ini juga dibuat-buat.

Jelas sekali dia tahu aku di dalam kamar dan datang mengunjungiku.

Sementara aku memikirkan itu, bel ketiga berbunyi.

“Hallo, Senpaaai. Aku datang buat main ni~h.”

Di saat aku masih belum memberikan tanggapan, Amasawa memanggilku dengan suara yang manis.

“Maaf, tapi aku agak sibuk sekarang. Bisakah kamu datang besok?”

“Gak bisa dooong. Soalnya aku dengar Senpai membawa masuk gadis-gadis dan melakukan hal-hal buruk padanya, jadi aku datang untuk menyelidiki. Kalau gak dibukain, bisa jadi masalah looh!”

Dia membuat suaranya bergema melalui koridor dan mencoba memaksa pintu terbuka.

Jika aku terus membiarkan pidatonya tak terkendali, para tetangga akhirnya akan mendengar keributan itu.

Aku tidak punya pilihan selain membuka pintu dan menghadapi Amasawa.

“Dari mana kau dengar kalau aku membawa masuk gadis-gadis?”

“Sumber informasinya adalah akuuu.”

“Itu sumber informasi yang sama sekali tidak bisa diandalkan.”

“Gak juga sih. Senpai membawa masuk Karuizawa-senpai dan Wang-senpai hari ini, ‘kan?”

Itu bukan sedekar intuisi. Dia menyebutkan kedua nama itu tanpa ragu-ragu. Bahkan jika dia bisa menebak Kei secara acak, itu tidak akan terjadi pada Mī-chan. Dia jelas tahu gerakanku.

“Ah, aku ingin meyakinkanmu bahwa aku tidak memasang penyadap atau sejenisanya di kamarmu, oke? Sekolah juga tampaknya memeriksanya dengan baik.”

Tentu saja, tidak mungkin untuk membeli barang-barang semacam itu melalui pesanan pos.

Namun, ada cara untuk mendapatkannya yang hanya bisa dilakukan oleh Amasawa.

“Aku tidak akan terkejut jika kamu yang terhubung dengan Tsukishiro memiliki 1 atau 2 benda semacam itu.”

Bahkan ketika aku menunjukkan fakta ini, dia terus melihatku dengan seringai dan senyum di wajahnya.

“Bolehkah aku masuk dulu? Maaf menggangguuu.”

Sebelum aku bisa memberi izin, Amasawa masuk ke kamar begitu dia melepas sepatunya.

Kmudian dia mulai melihat sekeliling ruangan tanpa ragu-ragu.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Eh? Ayolah, aku hanya memeriksanya sedikit kok.”

Aku ingin jawaban mengapa dia perlu memeriksa kamar.

Amasawa yang terus melihat-lihat tanpa ragu-ragu, mengalihkan matanya ke tempat tidur dan mendekatinya.

“Senpai penasaran kenapa aku bisa menebak soal Wang-senpai, ‘kan? Apakah aku kebetulan melihatnya datang dan pergi, atau apakah aku mengetahuinya dengan cara tertentu?”

“Apa kau pergi ke kamar orang lain untuk membual tentang jaringan informasimu?”

Langsung mengiyakan tanpa menyangkal, Amasawa menyentuh ranjang dengan tangannya.

Sambil memperbaiki kerutan di seprai, dia mencari sesuatu dengan ujung jarinya di setiap sudut.

Aku duduk di karpet dan mengamati Amasawa, yang akan memeriksa sampai dia puas.

“Pacar Senpai tu rambutnya panjang, ‘kan? Itu artinya kamu suka gadis dengan rambut panjang, ‘kan? Itu sebabnya aku juga sedang menumbuhkan rambutku sedikit demi sedikit.”

Sembari membicarakan rambutnya yang bahkan tidak kutanyakan, tangan dan matanya terus bergerak.

Aku tidak bisa memaksanya untuk berhenti, jadi aku tidak punya pilihan selain mengawasinya, namun dia tiba-tiba berhenti bergerak.

Kemudian dari dekat bantal tempat tidur, dia mengambil sesuatu dengan jari telunjuk dan ibu jarinya dan mengangkatnya.

“Ini apaa?”

Dia mengangkat sehelai rambut emas panjang dengan penuh kemenangan.

“Kurasa itu pasti milik Kei. Dia sering datang untuk main akhir-akhir ini.”

“Tidak salah lagi, tapi kenapa di dekat bantal?”

“Ada banyak kasus mungkin terjadi, tapi apakah aku harus menyebutkannya satu per satu?”

“Tidak tidak. Tidak perlu juga kok~”

Kemudian dia berlutut dengan posisi merangkak di lantai, dia mengalihkan pandangannya ke lantai seperti ilmuwan forensik polisi dan mulai mencari sesuatu.

Aku tidak tahu apa yang dia cari, tapi aku ragu dia akan menemukan apa yang dia cari.

“Di White Room, apa mereka mengajarimu cara mengobrak-abrik kamar orang lain?”

Ketika aku mengajukan pertanyaan tentang White Room, Amasawa berhenti di tempat.

“Apa Senpai tidak bertanya-tanya? Kami dikirim ke sekolah ini untuk mengeluarkan Senpai, tapi kami tidak menyentuh Senpai meski sudah masuk semester kedua dan berbaur dengan kehidupan sehari-hari.”

“Setidaknya kamu tampaknya telah didiskualifikasi dan dicap tidak diinginkan oleh White Room.”

“Aku tidak menyangkal itu sih, lalu apa pendapatmu tentang anak lainnya?”

“Aku tidak tertarik.”

“Yah, aku tahu. Jika Senpai tetap waspada, Senpai tidak akan bertindak sembarangan si~h.”

“Aku sarankan kamu menikmati kehidupan sekolahmu dan tidak usah pedulikan aku.”

“Aku setuju dengan itu. Aku juga berpikir kalau aku harus melakukan itu, tapi...”

Setelah jeda sebentar, Amasawa melanjutkan pemeriksaannya. Dengan memunggungiku dan pantatnya nungging, celana dalamnya sedikit terlihat melalui rok seragamnya yang pendek.

Bukannya dia tidak menyadarinya, tapi dia terus merangkak tanpa merasa terlihat sama sekali.

Saat dia menenggelamkan wajahnya di bawah tempat tidur, celana dalamnya semakin terbuka.

“Terpaku dengan pakaian dalamku, Senpai emang mesum.”

“Maaf, tapi aku lebih waspada dengan apa yang akan kamu perbuat jika aku mengalihkan pandangan darimu daripada melihat pakaian dalammu.”

Saat aku terus menatap Amasawa, dia menarik wajahnya dari tempat tidur dan berbalik. Amasawa yang dibalut aura kedewasaan yang membuatnya sulit untuk percaya bahwa dia setahun lebih muda dariku, dia merangkak lurus ke arahku.

“Kupikir dia sudah mulai keluar jalur, tahu? Aku merasa seperti metode dan tujuannya salah. Daripada kembali ke White Room, orang itu lebih berniat untuk mengeluarkan Senpai.”

Dia bergumam dalam jarak dekat, dengan hanya beberapa sentimeter di antara bibir kami. Aroma manis sampai ke hidungku.

“Kedengarannya merepotkan sekali, ya.”

“Bagi Senpai, iya sih. Jadi aku telah memikirkannya beberapa hari terakhir ini. Kupikir mungkin lebih baik aku memberi tahu Senpai siapa dia sebenarnya dan sekalian memberinya bimbingan terakhir.”

(Tln: Bimbingan terakhir/ritual terakhir = Pengusiran)

“Bisa jadi malah aku yang diberi bimbingan terakhir.”

“Ahahaha, itu lucu.”

Sama sekali tidak lucu.

“Jadi gimana? Mau dengar———namanya dariku?”

Saat dia semakin dekat, sekitar satu inci, Amasawa menunggu jawabanku.

“Aku menghargai saranmu. Tapi tidak, terima kasih.”

“Apa karena Senpai tidak yakin bisa menang ketika mendengar namanya?”

“Jika identitas aslinya bocor dari sumber yang tidak terduga, Amasawa akan menjadi orang pertama yang dicurigai. Lalu apa akibatnya?”

“Itu tentu saja, mungkin dia akan menudingku.”

“Aku tidak perlu membuat kehidupan sekolahmu sengsara hanya untuk mencari tahu siapa dia.”

Aku tidak akan menunjukkan belas kasihan apabila dia menghalangi jalanku sebagai musuh, tapi Amasawa sepertinya tidak demikian saat ini.

“Kamu sangat baik ya, Senpai.”

Selain itu, terlalu mempercayainya karena ceroboh juga menjadi masalah. Jika dia bertindak dengan siasat berlapis, aku tak bisa menyangkal kemungkinan bahwa pernyataan Amasawa ini juga merupakan jebakan.

“Karena aku sudah ditolak, aku akan pulang saja.”

“Apa kau datang jauh-jauh ke kamarku hanya untuk memberitahuku itu? Atau mungkin penggeledahanmu itu tujuan utamamu?”

“Nah, yang mana, ya?”

Tertawa seperti iblis kecil, Amasawa dengan cepat mengalihkan perhatiannya ke kantong sampah dapur yang tidak terlalu penuh saat dia menuju pintu depan.

“Aku sudah mengunjungi kamar Senpai beberapa kali, tapi kamu membuang jauh lebih sedikit sampah hari ini, ya. Kupikir kamu adalah tipe orang yang mengisi kantong ini sampai penuh dan kemudian membuangnya.”

“Aku hanya merasa tidak nyaman meninggalkan begitu banyak sisa makanan dari sayuran dan ikan sampai minggu depan.”

“Kalau begitu, mau aku buangin sampahnya dalam perjalanan pulang?”

“Maaf, tapi tidak diperbolehkan membuang sampah sebelum jam 8 malam.”

“Kamu taat sama aturan, ya.”

Kunjungan Amasawa tidak kuduga, tapi satu misteri telah terpecahkan.

“Aku melihat sedikit untuk apa kamu datang ke sini hari ini. Kamu datang mengunjungiku untuk membuat usulanmu tadi, ‘kan? Alasan kamu menelusuri setiap inci kamar adalah karena kamu sedang mencari tahu apakah ada orang lain yang mendengarkan.”

Dia berpura-pura mengobrak-abrik dan menemukan sesuatu yang pribadi tentangku, semua karena kehati-hatiannya. Amasawa waspada bahwa siswa White Room sudah memasang sesuatu.

“Senpai. Aku yakin Senpai akan baik-baik saja, tapi meski begitu, jika aku dikeluarkan, harap pertimbangkan bahwa sesuatu yang tidak terduga akan terjadi pada Senpai juga.”

Dalam perjalanan keluar, Amasawa meninggalkan kamar dengan kata-kata itu.

Aku memeriksa ponsel saya untuk melihat apakah ada sesuatu yang tidak biasa, dan di sana aku telah menerima chat dari Akito.

[Haruka akan datang ke sekolah Senin depan]

Untuk saat ini, itu kabar baik. Sebagai bagian dari grup, dia mungkin berhasil membujuk Haruka.

Masalahnya adalah bahwa ini tidak digumamkan di ruang chat semua orang yang terhubung dengan grup Ayanokōji. Setelah menatap layar sebentar, sebuah teks baru dikirim.

[Tolong awasi Haruka dengan tenang untuk sementara waktu]

Teksnya sendiri polos dan sederhana, tapi bagian dengan tenang ditekankan.

Dia akan pergi ke sekolah, tapi dia tidak mau berbicara denganku.

Karena itu, jika aku berbicara dengan sembarangan, dia mungkin tidak akan pergi ke sekolah lagi.

Mungkin itu maksudnya. Itu alasan yang jelas. Aku tidak memiliki keluhan sama sekali jika dia mau kembali.

[Baiklah. Aku akan perhatikan baik-baik] 

[Terima kasih. Kuharap kita bisa seperti dulu lagi]

Setelah itu untuk beberapa saat, aku mendapatkan beberapa teks yang seperti penyemangat dari Akito, dan mengakhiri chat ketika waktunya tepat.

“Nah, itu menyelesaikan satu masalah.”

Tapi, penyelesaian ini bukanlah solusi yang benar.

Lebih baik aku lihat ini hanya sebagai kebangkitan Haruka sementara.

Setelah beberapa jam pusing, aku merasakan kelelahan yang lebih besar dari biasanya.

“Kurasa aku akan tidur lebih awal hari ini.”

Tapi aku tidak boleh sampai lupa untuk membuang sampah.

Related Posts

Related Posts

5 comments

  1. Itu char jepang ngomong Alhamdulillah kok rada gimana ya? Wkwkwk.
    Lebih keren Syukurlah atau gimana gitu. Tapi gpp. Nice posting min.

    ReplyDelete
  2. Rambut gk diikat, suara shower, rambut Kei di bantal, kantong sampah sus, Kiyo kelelahan. Fix mereka ehem ehemm..

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah....

    Gg michan kawaii

    ReplyDelete
  4. Kiyotaka is really stupid at things like these. Amasawa visited his room to look for the co*dom he used LOL...

    ReplyDelete