-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 6 Bab 3 Part 4 Indonesia

Bab 3
Meski Begitu, Mau Tak Mau


4


Senin datang lagi. Sabtu adalah hari perkembangan besar, dimana Mī-chan memberitahuku secara langsung, dan untuk Haruka, Akito memberitahuku secara tidak langsung bahwa dia sudah mau pergi ke sekolah.

Meski begitu, tidak ada jaminan juga bahwa mereka akan datang ke sekolah, dan sisanya tergantung pada kekuatan kemauan mereka.

Adapun Kushida, aku belum menerima satu panggilan pun dari Horikita sampai pagi ini.

Kalaupun dia datang ke sekolah, aku tidak bisa menebak bagaimana reaksi Kushida dan teman-teman sekelas.

Aku berangkat ke sekolah pada waktu yang sama seperti biasanya, duduk dan menunggu mereka bertiga tiba.

Ketika sekitar seperempat kelas telah tiba di sekolah, seseorang muncul disambut keterkejutan dan senyuman para gadis. Mī-chan berjalan ke ruang kelas dengan malu-malu.

“Se-Selamat... pagi.”

Datang ke sekolah dengan tekad siap untuk dipermalukan, Mī-chan mengangkat wajahnya ketakutan.

Kekhawatirannya itu menghilang, karena para gadis itu segera menyambutnya tanpa menyebutkan topik apa pun.

“Selamat pagi, Mī-chan.”

“Se-Selamat pagi, Hirata-kun.”

Dan pria ini juga menyambut kembalinya Mī-chan dengan senyuman yang tidak berubah sedikitpun.

Pada titik ini, aku tidak tahu apakah kehidupan cinta Mī-chan akan menemukan jalannya.

Tapi, bahkan jika itu belum dimulai, itu pasti belum berakhir.

Bahkan bisa dibayangkan bahwa akan ada titik balik besar dalam kehidupan sekolah mereka di masa depan.

Setelah itu, para gadis tidak pernah meninggalkan Mī-chan yang masih agak gelisah, dan mulai menertawakan kejadian di sekolah minggu lalu.

Ketika sebagian besar teman sekelas telah tiba di sekolah, kali ini Haruka muncul. Akito menemaninya ke tempat duduknya, mengikutinya untuk mencegahnya melarikan diri, seolah-olah dia bisa melakukannya kapan saja. Keisei sedikit ragu-ragu, tapi dia memutuskan untuk berjalan ke arah Haruka dan memanggilnya. Aku tidak pernah berpikir akan tiba hari ketika aku senang tidak berada di sebelah ketiga orang itu ketika bertukar tempat duduk.

Haruka menatapku sejenak, tapi dia dengan cepat mengalihkan pandangannya ke ponselnya.

Setelah menyaksikan adegan itu, Akito dan Keisei mengucapkan beberapa patah kata dan kembali ke tempat duduk mereka.

Mī-chan dan Haruka datang ke sekolah. Keduanya memiliki teman yang mendukung mereka ketika mereka menderita. Mī-chan didukung oleh banyak gadis. Haruka didukung oleh Akito dan Keisei. Meski tidak banyak, mereka adalah anggota yang bisa disebut sahabat.

Untuk saat ini, kekhawatiran menerima minus besar dari sekolah bisa dianggap telah dihindari.

Tapi bagaimana dengan Kushida?

Kurang dari 3 menit sebelum homeroom pagi, Horikita yang berwajah kaku datang ke sekolah sendirian.

Setelah melirik kursi Kushida, dia duduk di kursinya sendiri dan menatap lurus ke papan tulis.

Aku sedikit berharap karena dia tidak ada di lobi pagi ini, tapi sepertinya tidak berhasil.

Kelompok Shinohara dan beberapa siswa lainnya pasti berbagi pikiran yang sama saat melihat punggung Horikita.

Akhirnya bel berbunyi dan masuk waktu homeroom.

Chabashira-sensei muncul di kelas dengan semua kursi terisi kecuali kursi Kushida.

“Sepertinya kalian berdua sudah merasa lebih baik. Sepertinya itu flu musim panas yang lama, tapi kalian harus menjaga diri kalian lebih baik mulai sekarang.”

Sambil memberi peringatan ringan, dia mengkonfirmasi kehadiran mereka tanpa kecaman keras.

“Yang absen hari ini Kushida, ya. Sepertinya aku juga belum mendengar kabar darinya———”

Pada saat itu, aku mendengar pintu kelas terbuka di belakangku.

Dan meskipun dia sedikit kehabisan napas, dia dengan cepat memposisikan dirinya.

“Maaf, saya terlambat.”

Dengan suara tenang, Kushida muncul di kelas.

“Ini pertama kalinya kamu terlambat, Kushida. Kau juga sudah lama absen, tapi apa tubuhmu sudah lebih baik sekarang?”

“Ya. Saya akan lebih berhati-hati mulai sekarang.”

Tanpa panik, Kushida menjawab dengan santai dan duduk di kursinya sendiri. Dia tidak bertukar kata dengan siapa pun dan tatapannya tetap diarahkan ke depan.

Ruang kelas diliputi dengan ketegangan sekaligus, tapi keheningan berlanjut karena tidak boleh melakukan percakapan pribadi apa pun dalam situasi ini.

“Aku tahu kalian sudah melalui banyak hal, tapi sudah seminggu sejak semuanya berkumpul.”

Sementara masih merasakan keadaan tidak stabil di kelas, Chabashira-sensei mengangguk puas.

“Sudah hampir waktunya untuk festival olahraga. Aku menantikan kemajuan pesat dan kesuksesan kalian.”

Setelah itu, ketika homeroom selesai, ruang kelas tiba-tiba ribut.

Tentu saja, tidak perlu dikatakan lagi bahwa ini adalah efek dari kedatangan Kushida di sekolah.

Para siswa menatap Kushida seolah-olah dia adalah tumor.

Akankah dia tetap diam atau tersenyum seperti biasanya? Atau akankah dia memperlihatkan taringnya lagi? Aku diam-diam menarik kursiku untuk keluar dari kelas dan menuju ke koridor.

Lalu aku membuka pintu ke koridor. Aku tidak ingin secara tidak sengaja mengekspos kondisi internal kami ke kelas lain.

Pikirku begitu, tapi———

[Aku akan mengawasi, jangan khawatir]

Aku menerima pesan seperti itu di ponselku. Aku hanya menunjukkan wajahku di koridor, Chabashira-sensei melihatku dan menjawab dengan satu anggukan. Setelah mengkonfirmasi itu, aku memutuskan untuk menutup pintu tanpa diketahui. Sebagai seorang guru, dia akan melakukan semua yang dia bisa. Itu mungkin cara Chabashira-sensei memberi bantuan.

Tidak ada yang bisa bergerak dalam situasi di mana apa pun bisa terjadi.

Ketika Horikita hendak menarik kursinya, Kushida berdiri mendahuluinya.

Dengan satu tindakan itu, dia seperti mengancam agar jangan melakukan sesuatu yang tidak perlu.

Kushida mulai bergerak dan lebih dulu menuju Mī-chan yang tempat duduknya juga dekat dengannya.

Mī-chan yang akhirnya kembali ke kelas, menegang seperti katak yang sedang ditatap ular.

“Aku dengar dari Horikita-san, katanya kamu absen karena aku, ya?”

“Ah, eh, eng...”

“Apa kau membenciku sekarang?”

“Ti-Tidak, aku tidak———”

“Kamu tidak perlu menyukaiku juga kok, Wang-san. Aku tidak dapat mengubah fakta bahwa aku sudah mengungkapkan rahasiamu di depan semua orang, dan aku juga tidak berniat untuk bergaul denganmu. Eh, ini tidak perlu ku katakan deh keknya.”

Tidak berniat untuk bergaul dengannya.

Meskipun nada suaranya lembut, kata-katanya yang keras membuat Mī-chan semakin kaku.

Mata banyak siswa yang melihat Kushida dipenuhi dengan ketidaksenangan, kecemasan, dan keraguan.

Biasanya itu saja sudah menyakitkan, tapi itu tidak mempengaruhi Kushida sama sekali.

“Aku tidak akan memintamu untuk memahami bagaimana perasaanku saat itu, tapi aku harus melakukan itu pada saat itu. Aku minta maaf karena menjadikanmu salah satu target, Wang-san.”

Katanya, ia membungkuk dalam-dalam. Tampaknya lebih seperti formalitas daripada permintaan maaf yang tulus, tapi setidaknya aku tidak merasakan kebencian apa pun.

“Aku minta maaf karena menyebabkan masalah pada Shinohara-san, Matsushita-san, dan yang lainnya. Kelihatannya kalian sudah berbaikan.”

Seperti yang dikatakan, Shinohara, Matsushita dan anggota grupnya sangat dekat.

Mungkin Yōsuke, Sudō, dan yang lainnya sudah mengambil tindakan selama akhir pekan ini untuk mendamaikan mereka.

“Kau pikir meminta maaf saja sudah cukup?”

Tanpa jeda, Shinohara menahan Kushida dengan kata-kata yang agak kasar.

“Maaf, tapi aku tidak bisa memulai apa pun tanpa meminta maaf, bukan?”

“Itu... tapi apakah itu sikap meminta maaf?”

“Aku tidak tahu. Tapi inilah aku yang sebenarnya.”

Topeng palsu yang selama ini dia pakai. Malaikat Kushida tidak ada lagi.

Fakta itu saja pasti sudah tersampaikan ke seluruh kelas, bersama dengan ketegangannya.

“Kedepannya, aku berniat untuk mempertahankan beberapa kemiripan penampilanku seperti diriku di masa lalu. Jadi aku dapat mengumpulkan informasi dari kelas lain dari waktu ke waktu. Tapi jika ada orang di kelas mengatakan aku mengganggu, silahkan silahkan saja.”

Tidak peduli seberapa keras Kushida berusaha mempertahankan hubungan mereka di luar kelas, jika orang-orang di dalam menghalanginya, hubungan itu tidak akan dapat dibangun.

“Terserah kalian untuk memutuskan apakah akan menggunakan senjata yang ku buat atau tidak.”

Jika Kushida memiliki kepribadian yang menghargai teman-temannya dan takut sendirian, mengasingkannya akan menjadi cara untuk membalasnya. Tapi Kushida tidak pasif, dan menunjukkan sikap menyerang.

“Dan aku tidak akan memaafkan siapa pun yang berbalik melawanku, tidak peduli siapa itu. Benar-benar hanya sebagian kecil dari mereka yang dibongkar dalam ujian khusus. Ada banyak orang lain yang memiliki fakta yang ingin mereka sembunyikan, bukan?”

Dia bergumam dengan acuh tak acuh, seolah-olah dia mengancam seluruh kelas, bukan seseorang secara khusus.

“Tapi aku menjanjikan satu hal. Aku tidak akan mengungkapkan rahasia apa pun yang kalian miliki kecuali kalian menjatuhkanku. Ini bukan demi kelas, tapi demi diriku sendiri. Untuk lulus sebagai Kelas A. Ini adalah garis pertahanan terakhirku agar aku tidak kehilangan nilaiku sebagai diriku.”

Selama teman-teman sekelas menyimpan dendam, frustrasi, dan ketidakpercayaan padanya, dia bahkan mungkin akan disingkirkan, tergantung situasinya. Jadi untuk mencegah mereka melakukan itu, dia tidak akan mengungkapkan rahasia lagi. Namun, jika dia ditikam dari belakang, dia tidak akan memaafkannya.

Dia tahu bagaimana melindungi dirinya sendiri dan pada saat yang sama berjanji untuk berkontribusi pada kelas.

Status Kushida Kikyō secara keseluruhan berada pada kategori sangat baik.

Setidaknya dalam tugas akademik dan fisik, dia tidak akan menjadi penghambat.

“Hasebe-san. Kamu juga setuju, ‘kan?”

Dia melontarkan beberapa kata pada Haruka, yang sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya dan bahkan tidak melihat ke arah Kushida, tapi Haruka tidak menanggapi dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment