-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 6 Bab 4 Part 3 Indonesia

Bab 4
Persetujuan


3


Meninggalkan toko elektronik, Satō mengatur napasnya di depan toilet wanita.

“A~ Kenapa aku lari sih?”

Seorang teman baiknya pacaran dengan seseorang yang dia cintai. Tidak ada yang salah dengan itu.

Dia tahu itu, tetapi ketika dia melihatnya memeluk lengan pacarnya, dia merasakan dorongan yang tidak terlukiskan.

Dia tidak tahu bagaimana dia akan bersikap jika dia tetap tinggal di tempat itu.

Pikirnya begitu dan tiba-tiba berlari, tapi sekarang dia merasakan rasa bersalah yang kuat tentang hal itu.

Dia duduk di sana dan memeluk lututnya.

“Aku harus berusaha untuk tidak panik lain kali...”

Karena aku seperti ini, Kei-chan pasti menahan diri di kelas untuk bersama Ayanokōji-kun. Sebenarnya mereka pasti ingin lebih dan lebih dekat lagi, pikirnya.

Tepat saat dia berdiri dengan pemikiran ini, sebuah bayangan menutupinya.

“Maaf mengganggu tiba-tiba. Kau pasti Satō Maya-senpai, ‘kan?”

Satō diajak bicara oleh seorang siswa asing dan sejenak bingung.

“Iya itu aku... eng, kau siapa? Kamu tahun pertama, ‘kan?”

“Siapa aku, itu tidak penting sekarang. Sebenarnya, aku punya sesuatu yang ingin kuceritakan pada Satō-senpai secepat mungkin. Jika memungkinkan, bisakah kamu luangkan waktu?”

“E-Eh? Apa maksudmu?”

Dia bingung ketika seorang junior yang tidak dikenal mengatakan bahwa dia ingin bicara dengannya.

Dia masih tidak bisa menghilangkan bayangan Ayanokōji dan Karuizawa dari pikirannya, jadi dia tidak bisa tenang.

“Ini informasi tentang Ayanokōji-senpai.”

Namun, gerakan Satō berhenti mendengar kata-kata itu.

“...Ayanokōji-kun?”

“Ya. Ini tentang dia dan pacarnya, Karuizawa Kei-senpai.”

Satō pun mengalihkan pandangannya tanpa sadar ketika dia menyebutkan kedua nama itu, yang kini menguasai 99% pikirannya.

Sedikit ketegangan dirasakan oleh Satō karena jarak antara keduanya semakin dekat.

“Bisakah kita bicara di suatu tempat di mana kita bisa berdua saja setelah ini?”

“Itu...”

Siswa tahun pertama memanfaatkan kemampuan fisiknya yang lincah untuk menutup jarak hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Satō.

“Jika Karuizawa-senpai dikeluarkan———tidakkah menurutmu itu akan memberi Satō-senpai kesempatan?”

Karuizawa adalah teman terdekatnya, dan Ayanokōji adalah orang yang dicintainya.

Dia bilang ini adalah kesempatan untuk mengubah hubungan keduanya dan posisi mereka.

Berbagai emosi mulai meluap.

“A-Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Aku serahkan keputusannya padamu, Satō-senpai, apakah akan mendengarkan atau tidak. Tetapi jika kamu tidak mau mendengarnya, selamanya kamu pasti akan menyesalinya. Jika kamu tidak ingin terlihat, kamu bisa datang ke kamarku di asrama.”

Puas setelah memberikan nomor kamarnya, siswa tahun pertama itu berbalik dan meninggalkan Satō.

Satō yang ditinggalkan di sana, tetap bingung, tidak dapat memahami apa yang sedang terjadi.

Tapi hanya satu hal yang melekat dalam ingatannya.

[Itu akan memberiku kesempatan]

Kata-kata itu menunjukkan kemungkinan untuk berpacaran dengan Ayanokōji.

Dadanya sesak, dan disaat yang sama, emosi yang tidak ingin dia ketahui mulai merayap keluar dari dalam dirinya.

“Aku———”

Related Posts

Related Posts

Post a Comment