-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 6 Bab 4 Part 2 Indonesia

Bab 4
Persetujuan


2


Akhirnya masuk bulan Oktober dan festival olahraga sudah dekat, aku di Keyaki Mall sepulang sekolah.

Aku di sini bersama Kei untuk berkencan.

Tatapan menindas dari siswa tahun ketiga masih sama, Kei tampaknya tidak peduli meskipun dia terlibat.

Katanya, [Aku sudah terbiasa sih] sepertinya bukan kepura-puraan.

Hari ini, Kei ingin mengunjungi beberapa toko, dan kami mengawalinya dengan toko ritel elektronik.

“Kamu mau beli apa?”

“Eh? Tidak ada yang kumau kok. Ah tidak, bukan karena aku tidak menginginkan sesuatu, tapi hari ini aku kesini bukan untuk diriku sendiri.”

Bukan untuk dirinya sendiri, itu berarti sebaliknya. Dia datang untuk orang lain.

“Ulang tahun Kiyotaka sebentar lagi, ‘kan? Aku ingin ngasih kejutan, tapi kupikir akan lebih baik untuk memberimu sesuatu yang kamu inginkan.”

Kalau dipikir-pikir, sebentar lagi ulang tahunku.

“Jadi aku mau lihat-lihat bareng kamu dan mencari tahu apa yang kamu inginkan, Kiyotaka.”

“Jadi begitu.”

Belakangan ini, aku ingat Kei sudah berulang kali bertanya padaku tentang berbagai hal yang ku sukai dan yang akan kubeli. Karena aku mengatakan hal-hal yang acak tanpa terlalu memikirkannya, dia memutuskan untuk mencari tahu apa yang ku inginkan secara langsung dan memberikannya sebagai hadiah.

“Kamu bakal ngabisin poin pribadi, loh?”

Terutama Kei yang tidak memiliki banyak uang untuk ditabung.

“Aku tahu maksudmu, tapi setidaknya ini hari ulang tahunmu. Jangan ragu dan minta saja.”

Dia tampaknya siap untuk membeli apa pun, tapi itu tidak boleh.

Namun demikian, dalam situasi ini, aku tahu bahwa menjawab aku tidak menginginkan apa pun adalah salah, dan jelas bahwa jika aku menginginkan sesuatu yang sangat murah, dia tidak akan puas.

Pilih sesuatu yang ramah untuk dompet Kei.

Jawaban seperti itulah yang dicari.

“Aku tahu apa yang kamu pikirkan sekarang, looh?”

Sembari dia melihat ku dengan tatapan yang lekat, dia menggadeng paksa tanganku.

“Akan kubelikan apa yang Kiyotaka inginkan! Oke?”

“...Ya, lakukan saja.”

Setidaknya itu berarti dia hanya tidak akan membeli barang yang tidak ku butuhkan untuk menekan biaya.

Saat kami berjalan sambil bergandengan tangan, Kei mendekatkan pipinya ke lenganku.

“Ehehe. Bahagianya.”

Mengatakan itu, dia mengeratkan pelukannya pada lenganku.

“Sudah tidak ada lagi yang ku sembunyikan darimu, Kiyotaka. Semua, semuanya, sudah kamu ketahui. Aku tidak pernah berpikir akan memiliki seseorang yang lebih penting dalam hidupku daripada ayah dan ibuku.”

Sambil tersipu, dia menyipitkan matanya, terlihat sangat bahagia.

“Kamu juga tidak boleh nyimpan rahasia dariku, loh ya, Kiyotaka?”

“Ya.”

Rahasia. Itu mengacu pada apa, ya?

Tentang keluargaku. Tentang White Room. Apa yang ku coba lakukan di sekolah.

Tentang persahabatan dan perasaan cinta.

Jika salah satu dari itu berlaku, maka itu mungkin tidak lebih dari aku menyembunyikan sesuatu. Dengan kata lain, aku tidak memberitahu Kei yang sebenarnya tentang apapun.

“A———”

Saat kami melihat-lihat toko sambil membicarakan produk, kami bertemu Satō yang datang ke toko sendirian.

Segera setelah kami bertemu, mata Satō tertuju pada lenganku dan lengan Kei yang bersilangan.

“La-Lagi mesra-mesraan nih ya. Ma-Maaf menggangguu~.”

“Ah, hei, tunggu!?”

Kei mencoba menghentikannya, tapi Satō langsung kabur dari tempat itu.

“...Aduh...”

Sial, kata Kei meletakkan tangannya di dahinya.

“Kamu masih khawatir soal Satō?”

“Bukan seperti itu, tapi... aku masih merasa tidak enak padanya.”

“Kalau begitu kurasa kita harus menahan diri untuk tidak bergandengan tangan di luar mulai sekarang.”

“Gak mau aku kalau itu.”

Dia merasa tidak enak pada temannya, tapi tidak mau melepaskan kebiasaannya itu.

“Are? Yō, Ayanokōji!”

Saat berjalan di sekitar bagian penanak nasi dan panci air panas, kami bertemu dengan Ishizaki dan Albert.

Pada saat itu, aku bisa merasakan sedikit kekuatan di lengan yang digandeng oleh Kei.

“Lagi kencan sama Karuizawa toh? Bahkan sambil pelukan tangan... riajuu nih...”

Ishizaki melihatku dengan iri, tapi perhatianku lebih tertuju pada tangan Albert yang berdiri di sampingnya. Dia memegang panci besar bermerek di tangannya.

Anehnya tidak terlihat sebesar itu karena ukuran Albert yang besar.

“Ah, ini? Ulang tahun Ryūen-san tanggal 20 bulan ini. Kami baru saja memilihnya.”

“Eh? Tanggal 20 itu... hari ulang tahun yang sama, ‘kan?”

Kei yang terkejut menatapku agak waspada.

“Aku juga baru tahu.”

“Apa itu sama dengan ulang tahun seseorang?”

Saat Ishizaki mengalihkan pandangannya ke arah Karuizawa, Kei memelototinya dan sedikit bersembunyi di belakangku.

“Kenapa sih, kasih tahu kek———”

Pada saat itu, Albert dengan ringan meletakkan tangannya di bahu Ishizaki.

Di sana, dia akhirnya menemukan alasan mengapa Karuizawa begitu waspada.

“...Oh, iya...”

Oh, sial. Aku mendengar gumaman seperti itu.

Meskipun itu perintah Ryūen, Ishizaki memanggil Kei ke atap dan mengambil bagian dalam apa yang bisa disebut perundungan.

Wajar jika Kei tidak menyukai orang seperti Ishizaki.

Dia marah pada diri sendiri karena begitu tidak peka. Setelah mendecakan lidahnya, dia dengan ringan memukul kepalanya dengan kepalan tangannya.

“Aku minta maaf... seharusnya itu yang kukatakan.... Aku di atap sudah———”

“Jangan bahas itu di sini.”

Ishizaki mencoba untuk meminta maaf, tapi dia juga masih kurang peka.

Ini Keyaki Mall. Tidak mengherankan jika seseorang yang kami kenal muncul kapan saja.

Kei tidak akan senang jika insiden di atap diangkat pada saat seperti itu.

Masalahnya bisa diselesaikan dengan membiarkan mereka berdua berpisah, tapi selama hubungan antara aku dan Kei berlanjut, akan ada lebih dari beberapa kesempatan untuk terlibat dengan Ishizaki seperti ini.

“Ayo pindah tempat.”

Ada beberapa titik buta bahkan di Keyaki Mall.

Terlepas dari ketidakpuasannya, Kei tidak menyela dan mengikutiku dengan tangannya masih melingkari tanganku.

Albert juga mengembalikan barang itu ke rak dan bersama Ishizaki mengikutiku.

Mereka menyimpan permintaan maaf mereka karena mereka sendiri juga sangat menyesalinya.

Setelah melalui pintu darurat, kami cukup jauh dari toko sehingga para siswa dapat melihat kami tetapi tidak bisa mendengar kami.

Bahkan jika ada seseorang yang kami kenal muncul, kami bisa menghentikan percakapan di sana dan itu tidak akan menjadi masalah.

“Aku sungguh minta maaf! Karena selama ini belum juga meminta maaf, sungguh!”

“...B aja. Aku tidak butuh permintaan maaf. Malahan, itu membuatku semakin marah.”

“Eh...?”

“Kalian dihajar habis-habisan oleh Kiyotaka. Kamu hanya meminta maaf karena kamu kalah dan kamu tidak punya pilihan.”

“Ti-Tidak, itu———”

“Jika Kiyotaka tidak menyelamatkanku di atap... atau jika dia kalah dari kelompok Ryūen, kau tidak akan pernah meminta maaf padaku seperti ini. Apa aku salah? Itu sebabnya itu menjengkelkan.”

Kei ada benarnya ketika dia mengatakan bahwa itu adalah hal yang mengerikan dan menjengkelkan.

Sekarang aku terlibat dengan Ishizaki dan Albert, tapi itu semua setelah insiden di atap. Tidak heran jika ada pengandaian seperti yang dikatakan Kei.

“Aku merasa patut disalahkan, tapi meski begitu...”

“Siapa juga yang nyalahin. Wajar jika yang kuat itu lebih dihormati. Aku juga tidak suka menjadi bawahan, jadi aku berhasil berdiri di atas dan mengambil sikap angkuh terhadap orang-orang di bawahku. Benar, ‘kan?”

Meskipun perbedaan tingkat, esensi Kei dan Ishizaki adalah sama.

Mereka memiliki nilai seperti, jika kamu tidak bisa mengalahkan mereka, bergabunglah dengan mereka.

“Aku mengerti maksudmu. Tapi, aku menjadi lebih mengenal Ishizaki sekarang setelah aku berhubungan dengannya. Dia pasti telah tumbuh ke arah yang positif sejak saat itu.”

“Apanya yang ke arah yang positif? Aku lihat tidak ada yang berubah.”

“Ini hanya yang kurasakan, tapi aku ragu Ishizaki akan dengan mudah mengikuti apa yang Ryūen lakukan padamu jika dia sekarang ingin melakukannya pada orang lain, Kei.”

“Iya, tah? Sepertinya dia tidak bisa memberontak melawan Ryūen tuh.”

Tebakan itu pasti tepat sasaran. Ishizaki tidak tahu harus berkata apa.

Tidak dapat membantah, rasa frustrasinya meluap, dan dia memukul lututnya dengan keras dengan telapak tangannya.

Kei menghela nafas ketika dia melihatnya seperti itu.

“Sudahlah. Kamu temenan sama Kiyotaka sekarang, ‘kan? Aku tidak memaafkanmu, tapi aku sudah selesai menyalahkanmu.”

“Be-Beneran?”

“Kan sudah kubilang. Ini sudah selesai, ngerti?”

“Y-Ya!”

Ishizaki melihat ke atas dengan senang.

“Eng... jadi, itu. Ulang tahun siapa yang tadi kamu bicarakan?”

Ishizaki bertanya lagi pada Kei. Masih tidak percaya, Kei mengacungkan jari telunjuknya padaku.

“Eh? Serius? Ayanokōji juga 20 Oktober!?”

(Tln: Btw, aku juga oktober :3)

Ishizaki terkejut, seolah tidak percaya.

“Mungkin ini yang disebut takdir itu!?”

“Apanya yang takdir, ada lebih dari 400 orang di sekolah, jadi tidak aneh kalau ada yang hari ulang tahunnya yang sama, bukan?”

“Tapi bukankah luar biasa kalau yang sama itu Ayanokōji dan Ryūen-san?”

Bersukacita hanya karena kebetulan. Itu bukan hal yang aneh seperti yang Kei katakan, tapi entah kenapa, Albert tampak sedikit senang juga.

“Bisakah kita kembali ke toko?”

“Ah! Iya! Tunggu sebentar!”

Kei kesal dan menutup telinganya dengan jarinya, mungkin suara Ishizaki yang keras itu berisik.

“Aku punya usul. Gimana kalau kita rayakan ulang tahun kalian bersama di tanggal 20? Pesta ulang tahun Ryūen-san dan Ayanokōji, bukankah itu luar biasa?”

Tidak, aku tidak berpikir itu adalah luar biasa begitu aku mendengar ide itu...

Aku coba membayangkannya, tapi aku tidak dapat memvisualisasikannya dengan baik.

“Kalau dia mau minta maaf, boleh saja kok?”

“Eh?”

“Aku bilang, asalkan Ryūen mau bersujud padaku, aku mau saja.”

Itu balasan yang bagus untuk alasan menolak.

Setelah membuka mulutnya lebar-lebar, Ishizaki lalu menyadari betapa sulitnya melakukannya dan mulutnya berubah cemberut.

“Ryūen tidak akan meminta maaf padaku, ‘kan?”

“Eh? Ah, yah, tidak akan pernah...”

Bahkan menyarankan Ryūen untuk meminta maaf adalah hal yang mustahil bagi Ishizaki.

Ishizaki membeku, tapi kemudian, seolah bertekad, dia mengatupkan mulutnya kembali dengan paksa.

“Jika kalian setuju, aku akan menasihatinya!”

“Nyerah saja sih?”

Jika dia melakukan itu, bogem mentah mungkin menunggu Ishizaki. Dia bisa membayangkannya karena dia satu kelas dengan Ryūen dan mengenalnya dengan sangat baik.

“Aku akan mencobanya! Kalau aku dapat janjinya untuk minta maaf, itu artinya pesta ulang tahun!”

“Yah... jika itu benar-benar terjadi, aku akan mempertimbangkannya...”

Ishizaki dipenuhi dengan antusias, tapi melakukan sesuatu tanpa pertimbangan dapat menyebabkan kejatuhannya sendiri.

Aku juga harus menolak dengan jelas ide ini.

Memang, Ishizaki baru-baru ini mulai menunjukkan keinginannya sendiri yang lebih kuat. Juga jelas bahwa beberapa perubahan cara berpikir mulai muncul pada Ryūen, karena dia tidak mengeluarkan siapa pun dalam ujian khusus suara bulat.

Namun, itu tidak boleh diartikan sebagai naluri atau niatnya yang sebenarnya.

Orang tidak mudah berubah bahkan jika mereka mencoba untuk berubah.

Ryūen tidak mencoba untuk berubah, dia mencoba untuk berevolusi sendiri.

Seorang pria yang sampai sekarang hanya berperang dengan kejahatan sebagai senjata baru mulai menggunakan kebaikan.

Dia mulai mengontrol dua sisi mata uang dengan bebas.

Jika Ishizaki salah membaca itu———

“Lebih baik jangan lakukan itu.”

Kei mencoba menghentikannya, tapi tekad Ishizaki tak tergoyahkan.

“Jika Ryūen-san meminta maaf, tidak apa-apa, ‘kan?”

“Tapi kan———”

“Oke! Selain itu, izinkan aku meminta maaf sekali lagi. Aku akan memberimu sesuatu yang lebih menarik daripada hadiah untuk Ryūen-san!”

Iya deh, kata Kei dengan enggan mengakui bahwa dia dikalahkan oleh antusiasme tingkat tinggi Ishizaki.

“Sip, sudah diputuskan! Untuk saat ini, ayo kita pilih hadiah ulang tahun untuk Ryūen-san!”

Albert mengangguk dan Ishizaki kembali ke toko pengecer selangkah di depannya.

Mereka tampaknya mengerti bahwa mereka tidak bisa pergi bareng kami berdua.

“Kenapa kamu menerima usulan Ishizaki? Kupikir kamu pasti akan menolaknya.”

Meskipun dia mendengar perasaan jujurnya dan menerima permintaan maafnya, aku harus akui bahwa aku tidak berpikir dia akan memilih untuk bertemu Ishizaki dan yang lainnya di hari ulang tahunku.

“Yah, aku juga lebih suka merayakan ulang tahun berdua dengan Kiyotaka... tapi...”

“Apa kamu bertaruh pada kemungkinan Ryūen akan meminta maaf?”

“Itu mustahil. Bukan begitu...”

Melihat ke belakang, Kei melihat punggung Ishizaki yang dengan senang hati bicara dengan Albert.

“Aku bisa merasakan kalau Ishizaki-kun menyukaimu sebagai teman. Aku yakin Kiyotaka juga butuh teman, loh.”

Aku langsung tahu bahwa dia merujuk pada runtuhnya grup Ayanokōji.

Kei menyadari kalau aku telah menebaknya, tersipu dan mengalihkan pandangannya.

“Selain itu? Ishizaki-kun ingin meminta maaf padaku lagi. Aku cuman berpikir mungkin tidak masalah untuk menerimanya.”

Sifatnya yang tidak mau berterus terang itu benar-benar Kei sekali.

Namun, aku masih tidak berpikir itu akan terjadi.

Lebih baik untuk mengingat usulan Ishizaki sebagai ide setengah matang.

Dengan demikian, hari-hari menjelang festival olahraga berlalu.

Related Posts

Related Posts

4 comments

  1. Wuuuuuuuuuuuuu
    Ntaps gile anjir
    Semangat min

    ReplyDelete
  2. Kei memang the best girl ❤️
    Jujur sih gue pengen lihat gimana jadinya kalo mereka ngerayain ultah bareng-bareng wkwk

    ReplyDelete