-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 6 Bab 6 Intro Indonesia

Bab 6
Tamu


Sekitar pukul 11:00, samar-samar aku bisa mendengar sorak-sorai datang dari luar jendela yang tertutup. Sepertinya festival olahraga cukup meriah.

Tidak semuanya berjalan lancar, tetapi kelas masih berusaha keras untuk menang.

Mereka mampu bersaing dengan baik dengan kelas dan tahun ajaran lain.

Karena aku menilai begitu, aku dapat memilih untuk tidak menghadiri festival olahraga tanpa ragu-ragu.

Kami sudah membuat semua pengaturan, jadi aku akan menyerahkan sisanya kepada Ketua Sakayanagi.

Meskipun dia ketua dewan, bukan berarti aku punya kepercayaan penuh padanya, tapi lebih mudah bagiku untuk mempercayainya karena hampir tidak mungkin bagiku untuk tetap di sekolah ini jika dia mengkhianatiku.

Yang tersisa hanyalah melihat pertempuran seperti apa yang terjadi dan hasil apa yang dicapai para siswa tahun kedua di festival olahraga.

Aku bertanya-tanya bagaimana keikutsertaan atau ketidakikutsertaan Sakayanagi akan mempengaruhi hasilnya.

Aku melihat ke pintu depan sekali.

Aku sudah melancarkan strategi untuk menahannya, tapi... jika demikian, ini sedikit terlambat untuk melihat efeknya.

Ada banyak hal yang kupikirkan, tapi termasuk apa yang terjadi di festival olahraga, kurasa aku hanya perlu menunggu sekarang.

Saatnya mulai menyiapkan makan siang. Saat aku mulai memikirkan ini, bel kamarku akhirnya berbunyi.

Sekarang, aku ingin tahu apakah tamu ini adalah seseorang yang disambut baik atau tidak.

Aku tidak akan tahu sampai aku menanggapinya.

“Selamat siang, Ayanokōji-kun.”

Ia pasti sudah mengantisipasi kewaspadaanku, aku mendengar suara seperti itu saat aku menjaga jarak dari pintu depan dan mengamati situasi.

Aku menurunkan kewaspadaanku dan meletakkan tanganku di pintu depan.

Aku mencoba membayangkan berbagai situasi, tapi begitu aku melihat keluar, rasanya seperti aku salah.

Di balik pintu hanya ada Sakayanagi yang berpakaian kasual, tersenyum dan menatapku.

“Kalau tidak keberatan, bolehkah aku mengganggu sebentar? Meskipun aku hanya dilarang meninggalkan asrama, mengunjungi kamar laki-laki selama festival olahraga sedikit menjadi masalah.”

“Tapi masuk ke dalam bahkan lebih bermasalah.”

Meski berkata begitu, aku memutuskan untuk menyambut Sakayanagi tanpa menolaknya.

“Maaf mengganggumu.”

Sakayanagi yang cacat fisik perlahan melepas sepatunya dan berjalan ke dalam ruangan.

“Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya kamu datang di kamarku, ya, Sakayanagi.”

“Itu karena biasanya aku tidak punya kesempatan untuk mengunjungimu. Apa kamu sudah makan siang?”

“Aku baru mau menyiapkannya.”

“Begitu ya. Baguslah. Ini oleh-oleh untukmu.”

Katanya sambil menyodorkan kantong plastik kecil.

“Aku membelinya di toserba pagi ini. Sepertinya ini produk baru, dan mumpung kita bisa ketemu, aku ingin memakannya bersamamu.”

Aku melihat ke dalam kantong plastik dari atas dan melihat 2 Mont Blanc kecil.

Mont Blanc cocoknya dimakan dengan kopi.

“Lebih baik kamu duduk di tempat tidur daripada di lantai. Duduklah dimana pun.”

“Terima kasih untuk perhatianmu.”

Setelah membuat Sakayanagi duduk di tempat tidur, aku berdiri di dapur, memutar keran dan mulai menuangkan air ke dalam panci.

“Kamu tidak datang mengunjungiku cuman karena tiba-tiba kamu ingin, ‘kan?”

Aku mengatakan ini dengan ekspresi acuh tak acuh, tapi Sakayanagi di belakangku tertawa kecil geli.

“Biasanya, aku tidak tahu siapa yang sedang ada di asrama. Sebagai pemimpin Kelas A, tak ada yang akan mengira aku akan mengunjungi kamar Ayanokōji-kun sendirian.”

Tidak peduli siapa itu, mereka akan terkejut dan curiga ketika melihat Sakayanagi mendatangiku.

Karena itulah Sakayanagi biasanya tidak melakukan kontak denganku di asrama.

Sampai detik ini.

“Kamu benar-benar orang yang jahat ya, Ayanokōji-kun. Ini strategimu, ‘kan, Ayanokōji-kun?”

“Strategi? Apa maksudmu?”

“Fufu, tidak perlu basa-basi. Ayanokōji-kun hampir yakin bahwa aku akan berada di sini hari ini... tidak, biar kukoreksi. Kamu sangat yakin akan hal itu, bukan?”

Bagi Sakayanagi, dia bisa melihat bahwa itu adalah jebakan tanpa harus memikirkannya.

“Dalam festival olahraga ini, kami, Kelas A, dengan jumlah siswa yang sedikit, berada di posisi yang kurang menguntungkan di garis start. Selain itu, meskipun ada beberapa siswa yang menjanjikan seperti Kitō-kun dan Hashimoto-kun, mereka tidak bisa mencapai kelas Horikita-san secara rata-rata. Jika demikian, yang perlu ku lakukan untuk menang adalah mengidentifikasi siapa yang akan berpartisipasi dalam kompetisi, partisipasi saingan selama festival dan mengatur jadwal setiap detik.”

Aku menyalakan panci dan dengan tenang mulai merebus air.

Kemudian aku mengambil sebotol bubuk kopi dari lemari dan menyiapkan cangkir dan saringan.

“Karena kamu tidak pernah tahu bagaimana jadinya jika aku ikut berpartisipasi.”

“Kau masih saja menilai tinggi dirimu, ya.”

“Cara terbaik agar kelas lain mengalahkan Kelas A dengan pasti adalah tidak membiarkanku berpartisipasi dalam festival olahraga.”

Festival olahraga harus berjalan sesuai dengan jadwal yang tepat. Sakayanagi bisa menempatkan dan mengarahkan personel yang sesuai pada posisi yang tepat dalam pikirannya.

Selain itu, dia juga bisa mengkoordinir peserta kompetisi dengan menggunakan siswa dari kelas lain.

“Tadi malam, Ayahku memberitahuku bahwa dia meminta Ayanokōji-kun untuk absen. Dia bilang dia akan menempatkan penjaga di asrama untuk mencegah kontak dengan siapa pun yang dikirim dari White Room sebagai tamu.”

“Memang benar aku diminta oleh Ketua Sakayanagi untuk tidak mengikuti festival olahraga, tapi aku tidak menyangka dia akan memberi tahu putrinya tentang hal itu juga.”

“Kau pasti bercanda. Yang menyuruh Ayahku untuk memberitahuku apa yang baru saja ku katakan padamu adalah kamu, bukan, Ayanokōji-kun?”

Mungkin dia telah membaca gerakanku sebagai hal yang biasa.

Tidak peduli kalaupun dia adalah putrinya sendiri, Ketua Sakayanagi tidak akan pernah melakukan hal seperti mencampuri kehidupan publik dan pribadinya.

Itu sebabnya, aku meminta Ketua Sakayanagi untuk memberi tahu dia apa yang sebenarnya terjadi, daripada aku memberitahunya sendiri.

Aku memintanya untuk menjelaskan situasinya lebih dulu kalau-kalau Sakayanagi, yang mungkin absen dari festival olahraga karena alasan fisik, terlibat masalah denganku dan White Room.

Sakayanagi bersedia untuk berpartisipasi sebagai pemimpin Kelas A, tetapi sepertinya Ketua tidak tahu itu. Bahkan jika dia tahu, akan lebih aman untuk memberi tahu dia bahwa dia lebih baik beralasan absen pada hari festival. Jika itu adalah putrinya sendiri, dia tahu bahwa ada risiko dia akan melibatkan diri.

Namun, ada bagian yang belum dibaca sepenuhnya oleh Ketua Sakayanagi.

Itu adalah, naluri dan rasa ingin tahu Sakayanagi bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah ditekan.

Selain itu, jika aku akan absen, tidak aneh dia akan menganggapnya sebagai kesempatan yang baik untuk berbicara panjang lebar tanpa diganggu oleh siapa pun.

Faktanya, dia muncul di kamarku, yang dianggap paling berbahaya, tanpa rasa takut.

“Apakah kau memilih datang sebelum tengah hari untuk membuatku gelisah?”

“Aku mencoba sedikit jahat. Aku ingin membuatmu berpikir bahwa mungkin aku mengabaikan strategimu dan berpartisipasi dalam festival olahraga.”

“Jadi begitu, ya.”

“Ngomong-ngomong, semua orang hadir hari ini kecuali aku dan kamu, Ayanokōji-kun.”

Dengan jaringan informasi yang dimiliki Sakayanagi, sepertinya seseorang telah mengkonfirmasi peserta dari setiap kelas dan melaporkan detailnya melalui ponsel sebelum festival dimulai. Dia juga tak melewatkan hal itu.

“Meski aku sedikit jahat, sebenarnya aku berencana untuk mengunjungimu sedikit lebih awal.”

Kata Sakayanagi. Tepat saat air dalam panci mulai mendidih dan mengeluarkan suara gemericik.

“Aku barusan turun ke lobi untuk memeriksa situasi di luar.”

Dia diperlakukan seperti absen karena sakit dan dia dilarang keras keluar dari kamarnya.

Di sisi lain, Sakayanagi juga tak bisa meninggalkan asrama, tapi dia absen bukan karena sakit. Karena jika dia mendapat peringatan agar tidak keluar, itu tidak akan bertentangan dengan alasan dia libur.

“Jadi bagaimana keadaan lantai pertama?”

“Ada 3 orang yang tampaknya penjaga keamanan. Mereka tampaknya ditempatkan tidak hanya di asrama ini, tetapi juga di seluruh sekolah, sehingga tidak akan terlihat sangat tidak wajar.”

Meski tujuannya termasuk untuk melindungiku, para petugas keamanan hanya ada untuk melindungi pejabat pemerintah.

“Penghargaan MVP untuk festival olahraga ini tidak disematkan untuk Horikita-san yang menawarkan kerja sama kepada Ryūen-kun maupun Ryūen-kun yang menerima tawaran tersebut. Itu adalah kata yang pantas untuk Ayanokōji-kun yang membuatku absen dengan cara yang pasti. Karena hanya itu yang diperlukan untuk memutuskan siapa yang menang dan siapa yang kalah, kau memang hebat.”

“Kita masih belum tahu bagaimana ini akan berakhir, bukan?”

“Tentunya akan ada kejar-kejaran poin, tapi itu tidak mungkin. Saat ini, Kelas A mungkin sedang dipermainkan kelas Horikita-san, yang bertarung secara langsung, dan kelas Ryūen-kun, yang melakukan semua yang bisa mereka pikirkan. Bahkan jika mereka memiliki lengan dan kaki yang sangat baik, mereka tidak dapat melakukan apa pun tanpa otak. Itulah kelas yang aku bangun.”

Hal serupa bisa dikatakan untuk Ryūen, tapi inti masalahnya adalah pemimpinnya terlalu dominan. Fakta bahwa pemimpin memecahkan semua masalah berarti, di sisi lain, tak ada yang bisa diselesaikan tanpa adanya pemimpin.

“Yah, tidak apa-apa. Karena kali ini, sebagai ganti membayar 150 poin, aku akan menikmati waktuku bersamamu, Ayanokōji-kun.”

Dia sepertinya tidak peduli dengan kerusakan yang akan diderita oleh Kelas A.

“Kau tidak takut kehilangan poin kelas, ya?”

“Sistem sekolah ini dan yang lainnya merupakan perluasan dari taman bermain bagiku. Selama aku dapat mempertahankan status Kelas A sampai batas tertentu, aku tidak memiliki masalah.”

Sekalian saja, aku mengeluarkan Mont Blanc dari kemasannya, memindahkannya ke piring, dan meletakkan 2 di atas meja. Kemudian aku menuangkan air panas dari panci ke saringan dengan bubuk kopi.

“Kamu terampil juga, ya.”

“Tidak terlalu sulit. Kalau cuman ini.”

“Apakah setiap langkah persiapan ini terasa baru dan menyenangkan bagimu, Ayanokōji-kun?”

Sakayanagi pasti tahu bahwa ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah aku lakukan di White Room.

“Semua yang kulakukan di sekolah pun sama. Aku hanya ingin melakukan sesuatu yang normal.”

(Tln: Halah tai)

Meski begitu, aku tertarik dengan kata-kata Sakayanagi barusan.

“Kau memiliki tujuan untuk mempertahankan Kelas A sampai batas tertentu. Apakah itu kebanggaanmu, Sakayanagi?”

Aku bertanya tentang itu sambil menaruh susu dan gula di atas meja.

“Awalnya, aku tak terlalu terpaku terhadap Kelas A. Tetapi ketika aku mengetahui bahwa Ayanokōji-kun ada di sekolah ini, itu berubah menjadi tujuanku. Ketika Ayanokōji-kun akhirnya memimpin kelas dan naik ke Kelas B, kita mungkin bisa bertarung dengan serius.”

Sederhananya, dia akan menunggu di atas takhta.

“Kelas D yang memuntahkan semua poin kelas di semester pertama tahun pertama. Namun, di beberapa titik, mereka mulai meningkatkan poin kelas mereka dan akhirnya naik ke Kelas B. Alasannya tentu saja karena kehadiran Ayanokōji-kun dibalik layar.”

Dia berbicara dengan fasih dan bahagia seolah-olah dia membual tentang dirinya sendiri.

Mengambil piring dari meja, Sakayanagi meletakkan Mont Blanc di pangkuannya.

“Ayo makan bareng, Ayanokōji-kun.”

Dia memintaku untuk duduk di sebelahnya, jadi aku duduk di tempat tidur tanpa menolak.

Kemudian entah apa yang dia pikirkan, dia menusuk Mont Blanc dengan garpu, mengambilnya, dan mengulurkannya padaku.

“Silahkan.”

“...Maksudmu, silahkan?”

“Dilihat masak tidak tahu? Silakan dimakan.”

“Tidak, melihatnya aku tahu, tapi...”

“Gak papa sih. Hanya ada aku dan Ayanokōji-kun sekarang, tidak ada yang akan mengganggu kita.”

Aku bertanya-tanya apakah ada sesuatu di baliknya, tapi sepertinya tidak demikian.

Ketika aku memasukkan garpu ke dalam mulutku, aroma manis menyebar.

Anehnya, ini adalah pertama kalinya aku memakan Mont Blanc.

“Apa rasanya enak?”

Sejujurnya, aku tidak terlalu suka rasanya.

Secara pribadi, menurutku Shortcake sederhana memiliki rasa yang lebih enak.

Tapi aku tidak mau berkomentar buruk dengan oleh-olehnya.

“Ya.”

Sakayanagi tersenyum ringan saat aku mengatakan padanya bahwa itu enak.

“Kalau begitu aku juga akan makan.”

Dia mengambil porsinya dan memasukkannya ke dalam mulutnya, tanpa memperdulikan garpu yang dia suapkan padaku.

“Memang tidak seenak yang ada di kafe, tapi untuk manisan toserba, ini lumayan.”

Dia mengangguk puas dan mengulurkan garpunya padaku lagi.

Karena kami makan satu kue berdua, kami dengan cepat menghabiskan Mont Blanc pertama.

“Lain kali aku akan bawakan kue yang berbeda.”

“Eh?”

“Karena reaksimu menunjukkan kalau ini tidak cocok dengan selera lidahmu, Ayanokōji-kun.”

“...Kupikir aku sudah menjawab kalau itu enak.”

“Begini-begini aku bangga dengan ketajamanku yang sangat baik. Terutama jika menyangkut Ayanokōji-kun.”

Aku tidak menyangka dia bisa menebak apa yang aku rasa tidak terlalu enak.

“Kau tidak pernah menunjukkan celah apa pun saat kau dalam permainan berpikir yang serius, tapi ternyata kau tidak bisa menyembunyikannya dalam kehidupan sehari-hari seperti ini.”

“Mungkin karena aku hanya belum terbiasa.”

“Fufu. Aku juga menyukai bagian dari dirimu itu.”

Setelah membuat balasan yang aku tidak tahu dia serius atau bercanda, Sakayanagi melanjutkan.

“Izinkan aku membalas dendam di lain waktu. Kalau aku menemukan kue yang enak, akan kubawakan itu kepadamu.”

“Hanya jika ada waktu ketika kita bisa dengan pasti menghindari mata publik seperti ini sih.”

Terlepas dari hari sekolah atau hari libur, hampir tidak mungkin kecuali ketika orang-orang meninggalkan asrama.

Atau sekitar tengah malam hingga dini hari, tapi itu juga jelas memunculkan masalah tersendiri.

“Tapi yang aneh adalah perubahan hati Ayanokōji-kun. Kenapa kamu mulai mengincar Kelas A dengan sungguh-sungguh, bukannya hanya membantu sesekali dalam kehidupan sekolahmu yang seharusnya statis?”

“Ternyata ada juga yang tidak kau mengerti, ya.”

“Aku bukanlah dewi. Selain itu, karena aku tahu keadaan Ayanokōji-kun, ada bagian dari yang tidak aku mengerti dan belum bisa mengikuti jalan pikiranmu. Bisakah kamu memberitahuku?” 

Seorang jenius yang didorong oleh pencarian akan jawaban yang tidak diketahui.

Alasan utama mengapa Sakayanagi tidak tertarik dengan peringkat Kelas A atau Kelas D mungkin karena dia tidak akan mendapat manfaat darinya setelah lulus. Sakayanagi, yang juga merupakan putri ketua dewan sekolah ini dan berbakat secara akademis, dapat mencapai hampir semua hal.

Dia tidak perlu menggunakan hak istimewa Kelas A untuk melakukan apa pun, jadi dia tidak peduli.

Itu juga berlaku untukku, karena aku yakin akan kembali ke White Room setelah lulus.

Meskipun kami menuju ke arah yang berbeda, kami tahu betul bahwa hak istimewa Kelas A tidak berarti apa-apa.

“Mungkin tampak aneh.”

“Itu bukan untuk bermain-main dengan banyak poin pribadi seperti Kōenji-kun, ‘kan?”

“Memang benar dia juga berada di posisi yang mirip dengan kita sih.”

Dia adalah tipe orang yang memanfaatkan kekuasaan orang tuanya dan bakatnya sendiri.

Kōenji yang seperti itu kadang-kadang berkontribusi ke kelas dengan iseng untuk mendapatkan poin kelas.

“Kau setidaknya berhak untuk bertanya kenapa aku memutuskan untuk berkontribusi di kelas, Sakayanagi. Karena kau mau masuk ke dalam jebakan yang terlihat jelas dan membuang sebagian kemenangan di festival olahraga.”

Jika dia mengambil risiko kehilangan 150 poin dan tidak mendapatkan apa-apa, maka tak akan ada lain kali. Tapi jika aku memberinya sedikit umpan di sini, aku bisa meninggalkan kemungkinan agar dia mau ikut andil jika aku menggunakan strategi yang sama lagi.

“Jika pertanyaanku terjawab, aku akan datang ke sini lagi jika hal yang sama terjadi lagi.”

“Jangan katakan apa yang baru saja aku pikirkan.”

“Fufufu.”

“Pada dasarnya itu sama seperti yang kau coba lakukan, Sakayanagi. Kau mencoba untuk menjawab arti dari jenius dengan mengalahkanku. Aku mencoba membuktikan dengan caraku sendiri bahwa pendidikan di White Room itu tidak sempurna.”

Aku tidak bisa merasakan kejutan dari Sakayanagi. Ini adalah bukti bahwa dia sudah mengasumsikan baris itu, meski tak ada kepastian.

“Apakah itu artinya, Ayanokōji-kun sedang mencoba membuat kelas terkuat dengan tanganmu sendiri?”

Aku mengangguk untuk mengiyakan, Sakayanagi meletakkan jari telunjuknya di bibirnya.

“Bukannya aku tidak memikirkan hal itu, tapi... ada beberapa pertanyaan yang tersisa.”

“Pastinya.”

“Pada festival olahraga ini. Terlepas dari situasinya, Ayanokōji-kun bisa saja berpartisipasi dengan paksa. Bukankah lebih baik untuk memberikan instruksi langsung dari tempat kejadian untuk membuat tingkat kemenangan lebih tinggi dan lebih solid? Dan aku yakin kamu tidak takut dengan partisipasiku.”

“Festival olahraga ini digelar berdasarkan 1 tema.”

“Itu cerita yang menarik. Apa temanya?”

“[Mengamati dengan tenang]. Aku menilai ini akan menjadi kesempatan yang baik untuk melihat seberapa baik mereka bisa bertarung, tanpa aku campur tangan langsung dalam festival olahraga. Ketidakhadiranmu adalah produk sampingan dari itu, ku kira.”

“Karena dalam mengamati dengan tenang itu hanya membawaku untuk menemui Ayanokōji-kun, dan kamu tidak melakukan apa pun secara langsung terkait festival olahraga. ...Aku mengerti.”

Saat dia berbicara, Sakayanagi sampai pada kesimpulan selangkah lebih jauh.

“Itu berarti———”

Saat Sakayanagi hendak memberikan jawabannya, aku mendorongnya ringan dari depan.

Tidak, itu bahkan tak cukup untuk disebut hiperbola saat aku bilang aku mendorongnya. Aku hanya dengan ringan meraih kedua bahunya dan mendorongnya ke belakang, menyebabkan Sakayanagi yang lemah tidak dapat menahannya dan jatuh ke belakang.

Buff, terdengar suara dari kasur dan sedikit derit logam.

Bahkan Sakayanagi, yang membanggakan dirinya atas kejeniusannya, tidak akan memikirkan tindakan ini sama sekali.

Aku pun melihat ke bawah Sakayanagi sebelum dia mulai memahaminya, seolah-olah aku menutupinya.

“A-Ano?”

Sakayanagi, yang selalu bersikap kuat dan santai, tidak bisa mengikuti perubahan situasi ini.

“Aku menjalani kehidupan sekolahku di dasarkan pada rencanaku. Baik itu kunjunganmu ke sini hari ini, maupun rute dimana kau tertarik pada rencanaku, dan kemungkinan kamu mencapai jawabannya.”

Sakayanagi yang tidak pernah ditutupi oleh seorang pria sebelumnya, berdeham, mungkin karena panik dan gugup.

“Jika kau memberi tahu orang lain tentang hal ini, itu akan mengganggu rencanaku.”

“Kamu pikir aku... akan membocorkannya?”

“Kemungkinan itu mungkin tidak nol saat ini. Jika kau mengancamku dengan mengajakku bertanding jika tidak ingin dibocorkan, aku tidak punya pilihan selain menerimanya.”

“Aku mengerti, memang... itu mungkin benar. Tetapi, jika aku ingin memaksakan pertarungan dengan cara seperti itu... kan bisa saja aku mengangkat sekilas hal-hal terkait White Room?”

“Tidak, itu tidak akan efektif. Bahkan jika kau membuat keberadaan fasilitas seperti itu diketahui publik, itu bukanlah sesuatu yang bisa dipahami orang lain. Itu juga bukan risiko yang ingin aku ambil secara pribadi.”

Ayanokōji dibesarkan di lembaga pendidikan White Room.

Kebanyakan orang hanya akan memiringkan kepala ketika mendengar cerita seperti itu. Itu bahkan tidak bisa ditemukan di internet.

Itu akan menimbulkan kebingungan jika Sakayanagi yang mengutarakannya, tapi tentu saja itu tidak akan berpengaruh apa-apa untukku.

“Tapi rencana yang aku coba lakukan ini belum sampai pada tahap mengumumkannya. Jadi materi ini saja sudah cukup untuk memerasku.”

Ketika aku menutup jarak sedikit ke Sakayanagi, bayangan yang dalam tercipta dalam kombinasi dengan cahaya dari langit-langit.

“Jadi aku telah mengetahuinya tanpa menyadarinya, ya. ...Apa yang ingin kamu lakukan?”

“Rahasia untuk rahasia. Ancaman untuk ancaman. Saat ini, hanya aku dan kamu yang ada di asrama ini. Dengan kata lain, apa pun yang terjadi di sini, tidak ada yang akan datang untuk menyelamatkanmu. Jika kau berteriak cukup keras, paling-paling itu hanya akan terdengar di koridor.”

“Jangan bilang kamu akan melakukan kejahatan untuk melindungi rencana itu?”

“Kejahatan? Kau dan aku akan berbagi rahasia kita berdasarkan kesepakatan.”

Aku mengeluarkan ponselku dan mengaktifkan kamera.

“Satu-satunya cara untuk menolaknya adalah dengan melarikan diri dengan usahamu sendiri.”

Kakinya lumpuh... tidak juga, bahkan jika tidak ada masalah dengan kedua kakinya, tidak ada jalan keluar bagi Sakayanagi.

Bagaimana tanggapan dia dalam situasi putus asa ini.

“...Kau pikir kau bisa menang dariku?”

“Menang?”

“Jika semuanya berjalan seperti yang Ayanokōji-kun harapkan di sini, apakah kau benar-benar akan berada di atas angin... itulah maksudku.”

“Maaf, tapi kau tidak punya kesempatan.”

“Sedikit perbedaan dalam pengalaman, misalnya, bisa dikejar dan disusul hanya dengan 1 metode belajar. Sebaliknya, kamu mungkin mengetahui bahwa kamu telah belajar dengan cara yang salah, bukan?”

Bahkan dalam situasi yang sulit, Sakayanagi terus berpikir setenang mungkin.

Pasti ada kepanikan, tapi mengagumkan bahwa dia telah mampu menekannya sejauh ini.

Aku melempar ponselku ke bawah tempat tidur dan perlahan menggerakkan tanganku ke arah Sakayanagi.

Aku meraih pundaknya dan membawanya ke kerah lehernya.

Meski begitu, Sakayanagi hanya membuang muka.

“Mari kita mulai pelajaran khusus kita?”

Sakayanagi tersenyum kecut dan menutup matanya dengan tenang tanpa perlawanan.

Related Posts

Related Posts

7 comments

  1. Uhuk uhuk... Saya menantikan part selanjutnya.

    ReplyDelete
  2. Jadi bisa dibilang ayano ngehoho hihi ama arisu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya gk lah.. lu kira dia itu cowok macam apa?

      Delete
    2. Dia cman ngancem keknya
      Kayak waktu si Kei dikapal yg season pertama haritu

      Delete
  3. Jeerrrrrr Kiyotaka mau apain anak orang jerrrr!???????

    ReplyDelete
  4. Coba yg digituin si ichika,pasti lebih seru:D

    ReplyDelete