-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Bab 1 Intro Indonesia

Bab 1
Menyambut Festival Budaya


Senin 1 November, awal musim gugur yang dingin.

Bulan-bulan berlalu dengan cepat, dan dalam dua bulan lagi kami akan memasuki liburan musim dingin.

Apakah pemandangan dari tempat duduk baruku juga akan berakhir dalam waktu yang tidak lama lagi?

Keengganan yang kurasa membuktikan bahwa pergantian tempat duduk adalah sistem yang bagus bagiku. Sampai saat ini aku tidak tahu apakah akan ada pergantian tempat duduk lagi tahun depan, tapi bagaimanapun juga, pemandangannya pasti sangat berbeda dari sebelumnya.

“Selamat pagi. Kalian semua sudah hadir, “kan?”

Beberapa detik setelah bell berbunyi, Chabashira-sensei masuk ke dalam kelas.

Para siswa yang tadinya asyik mengobrol seketika menjadi tenang dan melihat serta mendengarkan guru yang sudah akrab dengan mereka. Sistem unik sekolah, di mana semua sikap di luar kegiatan belajar juga mempengaruhi penilaian kelas secara keseluruhan, telah menciptakan sikap serius untuk berperilaku baik dan disiplin.

Bukan berarti ada perubahan yang signifikan dibandingkan minggu lalu.

Tapi dia pasti bisa merasakan bahwa mereka telah tumbuh lebih besar daripada minggu lalu.

Melihat para siswa terus tumbuh dari hari ke hari, Chabashira-sensei mengangguk dalam-dalam dan membuka mulutnya.

“Aku yakin persiapan kalian untuk menyambut festival budaya terus berjalan, tapi ada beberapa catatan penjelasan tambahan. Pertama-tama, aku akan sekali lagi menampilkan ringkasan festival sebagai ulasan jadi silahkan periksa lagi apa yang diperlukan.”

Monitor di belakang Chabashira-sensei menyala dan penjelasan tentang aturan ditampilkan kembali.


Ringkasan Festival Budaya


Setiap siswa tahun kedua akan diberikan 5.000 poin pribadi yang hanya bisa digunakan untuk persiapan festival, dan mereka diizinkan untuk menggunakannya secara bebas dalam kisaran tersebut.

(Biaya awal untuk tahun pertama adalah 5.500 poin dan untuk tahun ketiga adalah 4.500 poin)


Dana tambahan akan diberikan untuk kontribusi sosial seperti kepengurusan OSIS, dan untuk kontribusi yang diberikan melalui kegiatan klub.

(Rinciannya akan diumumkan untuk setiap kelas setelah dikonfirmasi)


Biaya awal dan dana tambahan tidak dihitung dalam penjualan akhir dan akan hangus jika tidak digunakan.


100 poin kelas akan diberikan kepada kelas tempat pertama sampai ke-4.

50 poin kelas akan diberikan kepada kelas tempat ke-5 sampai ke-8.

Poin kelas untuk peringkat ke-9 hingga ke-12 akan tetap sama.


“Inilah penjelasan yang diberikan sejauh ini. Sampai di sini, kalian seharusnya tidak memiliki masalah untuk memahaminya.”

Tidak ada pertanyaan dari para siswa, Chabashira-sensei melanjutkan penjelasan.

“Aku ingin menyampaikan bahwa rincian [dana tambahan] yang disebutkan dalam ringkasan penjelasan ini telah diputuskan.”

Dana tambahan. Ini adalah peningkatan jumlah poin yang dapat digunakan di festival budaya yang didapat dari kepengurusan OSIS, kontribusi sosial, atau kegiatan klub. Tibalah waktunya untuk mengumumkan rinciannya.

Karena anggarannya belum final, tidak mungkin untuk menentukan jumlah, konten, dan skala kreasinya.

Meskipun ada ketidaknyamanan, itu bukan masalah selama semua kelas di semua tahun ajaran yang berada dalam kondisi yang sama.

“Akan kumulai dengan menampilkan jumlah total dana tambahan yang akan diberikan ke kelas ini, dan perinciannya sekaligus.”

Segera setelah mengatakan itu, dia mengoprasikan tablet dan program spreadsheet ditampilkan.

Totalnya ada 12 orang yang memenuhi syarat untuk mendapatkan dana tambahan ini.


Horikita Suzune • Bonus Kepengurusan OSIS = 10.000 poin.

Sudō Ken • Bonus Aktivitas Klub = 10.000 poin.

Onodera Kayano • Bonus Aktivitas Klub = 10.000 poin.


Mungkin 10.000 poin adalah nilai terbesar, hanya 3 murid yang berhak memperoleh dana tambahan sebesar itu, 9 murid lainnya menerima ratusan hingga ribuan poin sebagai pengakuan atas kontribusi mereka.

Misalnya, Yōsuke menerima bonus aktivitas klub sebesar 3.000 poin, sedangkan Akito menerima 1.000 poin. Banyak nama siswa yang dianggap aktif terutama dalam kegiatan klub disebutkan di kelas ini.

Secara total, kelas ini memperoleh 39.400 poin dana tambahan.

Melihat jumlahnya, ini hampir setara dengan poin awal untuk 6 orang.

Bisa dikatakan bahwa dana ini sangat penting untuk menjalankan festival budaya.

“Aku tidak bisa memberikan rinciannya, tapi kelas A Sakayanagi menerima 18.800 poin. Kelas C Ryūen menerima 17.000 poin dan kelas D Ichinose menerima 26.600 poin dana tambahan. Dengan kata lain, kelas ini memiliki dana tambahan terbanyak di tahun kedua.”

Kelas Ichinose yang kedua dan kelas Sakayanagi berada di urutan ketiga, mengalahkan kelas Ryūen?

Ini adalah hasil yang tidak terduga, tapi salah satu faktornya bisa jadi adalah bonus kepengurusan OSIS. Kehadiran Horikita dan Ichinose saja cukup berpengaruh karena sama-sama memperoleh 10.000 poin.

Siswa lain seperti Sudō dan Onodera dianggap lebih unggul dari yang lain dalam kontribusinya terhadap kegiatan klub di sekolah. Karena setiap Individu tidak diperbolehkan menggunakan poin pribadi mereka di festival budaya, jadi untuk kelas Horikita, jumlah total poin dari anggota kelas ditambah dana tambahan harus disimpan sebanyak 229.400 poin. Lebih banyak poin lebih baik daripada sedikit poin.

Akan tetapi, jangan terlalu bangga hanya dengan melihat hasil ini saja.

Ini menguntungkan dalam tahap persiapan sebelum memulai, tapi selama dana tambahan tidak dimasukan dalam penjualan akhir, itu akan menjadi harta yang tidak terpakai jika tidak digunakan dengan baik.

Sepertinya itu saja penjelasan untuk dana tambahan, tapi seharusnya tidak berakhir di sini.

Beberapa informasi yang diperlukan untuk festival budaya belum dipublikasikan.

“Baiklah. Berikutnya, aku akan memberikan rincian tentang tamu undangan yang sangat penting untuk melakukan penjualan.”

Berapa banyak dan seperti apa tamu yang mereka terima di festival budaya.

Dan berapa banyak uang yang mereka miliki belum dirinci sejauh ini.

“Para tamu undangan adalah mereka yang terlibat dalam menjalankan sekolah ini dan keluarga mereka, tapi tentu saja akan ada berbagai usia, mulai dari orang tua hingga bayi, bahkan anak-anak SD. Dan telah diputuskan bahwa mereka yang biasanya bekerja di Keyaki Mall dan toserba juga akan diperlakukan sebagai tamu.”

Layar tablet berubah menjadi grafik, menampilkan jumlah pengunjung berdasarkan usia.

Mayoritas terbesar adalah mereka yang berusia 30-an dan 40-an tahun, diikuti oleh mereka yang berusia di bawah 20 tahun dan 50-an tahun.

“Setiap orang dewasa yang menjadi tamu undangan menerima 10.000 poin. Anak di bawah umur menerima 5.000 poin. Ada 283 orang dewasa dan 202 anak di bawah umur. Jumlah total peserta seluruhnya adalah 485 orang, dengan poin total 3.840.000 poin.”

Peringkat ke-12 kelas di semua tahun ajaran tergantung pada seberapa banyak penjualan yang bisa dilakukan dari jumlah total itu.

“Aku juga harus menyebutkan bahwa jumlah peserta ini termasuk kami para guru. Para guru wali kelas dibatasi untuk tidak dapat menggunakan poin di kelompok tahun ajaran yang mereka tangani, tapi mereka diperlakukan tidak berbeda dari tamu undangan lainnya.”

Sangat penting untuk membatasi mereka agar tidak menggunakannya di kelompok tahun ajaran yang sama. Karena sebagai wali kelas, mereka biasanya ingin memberikan uang kepada kelas mereka sendiri jika bisa.

“Bolehkah menggunakan lebih dari 10.000 poin dengan uang saku?”

Menanggapi pertanyaan dari Ike, Chabashira segera menggelengkan kepalanya.

(Tln: Hmm.. Kenapa Kiyo manggil Chabashira tanpa sensei lagi?)

Seperti biasa, pertanyaan itu datang sebelum diminta, tapi dia menjawabnya tanpa memberikan perhatian khusus.

Sebaliknya, dia tampaknya menikmati kebiasan Ike yang tidak berubah itu.

“Tidak. Mereka tidak bisa menggunakan lebih dari poin yang diberikan. Jumlah maksimum uang tidak bisa diganggu gugat.”

Artinya para tamu undangan tidak diberikan dana yang tak terbatas. Ini bukan soal mengurung orang kaya tertentu, tidak bisa dihindari bahwa akan ada persaingan dan perebutan tamu.

“Metode pembayaran utama adalah melalui aplikasi ponsel khusus, yang memungkinkan sekolah memantau penjualan secara real time setiap saat. Ingatlah bahwa aplikasi tidak akan dapat digunakan lagi saat festival budaya berakhir pada jam 4 sore. Kalian bebas menentukan sendiri waktu penagihannya, tapi aku sarankan agar pengunjung membayar di muka sebelum barang disajikan.”

Dalam beberapa kasus, seperti ketika pembayaran dilakukan setelah makan, bisa jadi itu akan lewat jam 4 sore. Berarti ada risiko poin tidak bisa dikumpulkan.

“Sampai di sini, siapa pun yang memiliki pertanyaan, angkat tanganmu.”

Horikita mengangkat tangannya segera setelah diberikan izin untuk bertanya.

“Jika penjualannya sama, bagaimana peringkatnya? Dalam kasus yang sangat ekstrim, apa yang terjadi jika semua kelas mendapatkan jumlah poin sama 320.000 dan berdampingan?”

Karena jumlah totalnya bisa dibagi sama rata, tidak bisa dikatakan bahwa kasus yang baru saja disebutkan tidak akan terjadi.

Ada kemungkinan total penjualan dari semua kelas sama hanya dengan bergantung pada kebetulan, tapi kolusi bukanlah hal yang mustahil. Jika semua dijadikan sebagai peringkat pertama, mereka bisa sama-sama menaikkan poin kelas.

Kupikir beberapa langkah telah dipertimbangkan, tapi———.

“Jika jumlahnya sama, mereka akan dianggap sama dalam peringkat. Jika ke-12 kelas menghasilkan penjualan yang sama seperti yang dikatakan Horikita, maka semua kelas mendapatkan 100 poin kelas untuk peringkat pertama.”

Apakah aturannya agak longgar, mengingat bahwa poin kelas tidak akan hilang bahkan jika kami kalah?

Tidak, mungkin mereka telah memikirkan sejak awal bahwa tidak akan ada banyak kelas yang berbaris dalam kesetaraan.

“Tetapi, jumlah total penjualan hanya bisa diketahui setelah ujian selesai dan manipulasi penjualan oleh pihak ketiga tidak diizinkan. Tidak mungkin bagi setiap kelas untuk mendiskusikan dan membuat rencana untuk menggabungkan penjualan sebelum festival budaya, atau membuat kesepakatan untuk membagi penjualan secara merata setelah festival. Kalian tahu apa artinya ini, bukan?”

Jika jumlah penjualan tidak dapat dimanipulasi setelah ujian, tidak mungkin semua kelas akan berada di peringkat pertama secara berdampingan.

Terlebih lagi, mereka tidak mungkin bergandengan tangan hanya untuk kehilangan satu peluang kompetitif yang berharga.

“Umumnya tidak mungkin jumlahnya akan sama, bukan? Aku rasa kita tidak perlu mencemaskannya.”

Tidak tahu apa maksud Horikita dengan pertanyaan itu, Maezono menyuarakan keraguannya.

“Seperti yang kau katakan Maezono-san, itu adalah sesuatu yang tak perlu kita cemaskan jika kita bertarung secara normal. Tetapi bukan ide yang buruk untuk mengetahui apakah itu diterima dalam aturan.”

Pernyataan Horikita juga masuk akal. Tidak ada ruginya untuk mengetahui hal itu.

Saat ini tidak jelas apakah kolusi sama sekali tidak akan terjadi atau tidak. Sebab ada kemungkinan bagi kelas dan tahun ajaran tertentu untuk berkolusi untuk menghasilkan penjualan yang sama.

Ada sejumlah cara yang mungkin untuk melakukan ini, tetapi jika jumlah penjualan akhir dari semua produk yang akan dibuat sebelumnya diselaraskan antar kelas, tidaklah sulit untuk menghasilkan angka di mana terjual habis = jumlah yang sama.

Akan tetapi, mereka harus siap menghadapi pengkhianatan, keadaan dan masalah yang tak terduga.

Tentu akan lucu jika mereka memprioritaskan terjual habis di atas segalanya dan sebagai hasilnya mereka duduk didasar klasemen dalam hal penjualan.

Rintangan yang harus diatasi untuk secara sengaja menciptakan kesetaraan jauh lebih tinggi daripada yang mungkin dibayangkan.

“Ada lagi yang punya pertanyaan?”

Setelah itu tidak ada yang mengangkat tangannya secara khusus berkaitan dengan festival budaya.

“Hanya itu yang bisa aku katakan mengenai festival budaya. Baiklah selanjutnya, aku akan mengumumkan hasil ujian tengah semester untuk semester kedua yang baru saja kita laksanakan. Kali ini, beberapa siswa telah mencapai hasil yang bahkan membuatku terkejut.”

Topik pembicaraan beralih ke ujian tertulis dan pengumuman hasilnya.

Tidak sedikit keributan terdengar dari murid-murid yang tidak pandai dalam ujian tertulis.

Tergantung dari caramu melihatnya, kata [terkejut] bisa dianggap sebagai makna yang buruk.

Akan tetapi, mengingat ekspresi Chabashira-sensei tidak suram dan kaku, kemungkinan itu tampaknya tidak mungkin.

Nama ke-38 siswa di kelas ditampilkan sekaligus, dimulai dari mereka yang memiliki nilai tertinggi secara keseluruhan.

Keisei menempati peringkat pertama. Dia memiliki catatan yang bagus, dengan nilai tinggi di semua mata pelajaran.

Di peringkat kedua adalah Horikita, hanya sedikit di belakangnya. Hampir sama bagusnya dengan Keisei dan perbedaan nilai keseluruhan hanya tiga.

Dari sana, nama-nama para siswa teladan yang biasa berbaris, tetapi siswa yang hasilnya mengejutkan Chabashira-sensei pasti adalah siswa yang menempati peringkat ke-11.

Peringkat ke-11 • Sudō Ken. Nilai sastra modern 73, kimia 76, ilmu sosial 70, matematika 78 dan bahasa Inggris 70.

Nilai keseluruhan 367 dengan nilai yang seimbang di semua mata pelajaran.

Nama-nama dalam peringkat di atasnya adalah kelompok siswa teladan seperti Yōsuke, Kushida, Matsushita, dan Wang. Itulah mengapa peringkat Sudō mengejutkan semua orang.

Sudah diketahui bahwa Sudō bekerja keras dalam studinya, tetapi ini adalah peristiwa yang tidak terduga bahwa Sudō, yang sekaligus mengabdikan dirinya untuk kegiatan klub sampai larut malam setiap hari, akan menempati peringkat atas.

“Serius Ken ada di peringkat ke-11... gilee...”

Tanggapan yang jujur, atau lebih tepatnya tertegun, datang dari Ike, yang pernah hampir sama, atau bahkan di atas peringkatnya pada awalnya. Hasil yang tidak terduga, lompatan besar di luar imajinasi. Tingkat kesulitan ujian ini sedang, dan selisih nilai keseluruhan dari Sudō ke 20 terbawah hanya sekitar 15, tapi meski demikian, hasil ini pasti mencengangkan banyak orang. Aku mengira orang yang bersangkutan akan berlari-lari kegirangan, tapi ia hanya melakukan pose kemenangan kecil dan tidak tampak akan menyombongkan diri atau mengolok-olok orang lain karena telah berhasil.

Aku mengoprasikan ponselku untuk memeriksa OAA yang diperbarui dan terbaru.

Sudō Ken, Kemampuan akademik C+, kemampuan fisik A+, kemampuan berpikir cepat C-, kontribusi sosial D-.

Kemampuan fisik yang luar biasa sekaligus mempertahankan standar yang mendekati rata-rata secara keseluruhan. Terlebih lagi, jika nilai ujiannya dipertahankan, ada kemungkinan akan mencapai sekitar B untuk nilai akademik dalam waktu dekat.

Jika dia dapat lebih meningkatkan studinya, nilai A atau lebih tinggi dalam kemampuan akademik dan fisik akhirnya akan menjadi kenyataan. Kerja keras selama setahun terakhir tampaknya telah membuahkan hasil yang lebih dari yang diharapkan.

Kontribusi sosial yang berada pada tingkat terendah, telah meningkat menjadi D-, sebagian karena penurunan perilaku bermasalah dalam kehidupan pribadinya. Dia juga unggul di atas yang lain dalam hal pertumbuhan di OAA.

Ngomong-ngomong, peringkatku adalah 14. Aku di bawah Sudō.

Matematika adalah satu-satunya mata pelajaran di mana aku mendapat nilai sempurna, tapi untuk mata pelajaran lainnya, aku dengan sengaja mencari aman.

Tidak ada gunanya bagiku untuk serius, karena aku sebenarnya memiliki tujuan lain.

Jika aku memiliki nilai sempurna untuk semua mata pelajaran dalam ujian tengah semester kedua, itu hanya akan menyebabkan kebingungan yang tidak perlu.

Jauh lebih penting untuk membuat siswa seperti Sudō merasa bahwa mereka harus tumbuh dan membantu kelas, daripada meyakinkan mereka bahwa ada siswa yang bisa mendapat nilai tinggi.

Kenyataannya, hasil Sudō di peringkat ke-11 telah menimbulkan emosi yang beragam di antara teman-teman sekelasnya.

Ini juga merupakan sesuatu yang hampir semuanya hanya bisa memberikan efek positif.

Sementara beberapa dari mereka masuk di antara nama-nama peringkat atas, yang lainnya pasti jatuh ke peringkat bawah.

Mereka itu, kasarnya bisa dibilang, adalah anggota tetap, tapi jika dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas lain, jelas bahwa telah terjadi beberapa perubahan.

(Tln: anggota tetap = siswa yang gak bisa berubah secara signifikan)

Tampaknya semakin banyak siswa yang berusaha untuk meningkatkan diri, meskipun pada tingkat yang rendah, dan perlahan-lahan mereka mulai menunjukkan hasil. Tentu saja, tidak semua orang akan seperti Sudō. Ada perbedaan dalam bakat untuk bisa menyerap setiap study, dan ada pula perbedaan yang signifikan dalam hal ketekunan dan ketahanan fisik.

Di atas segalanya, kita juga tidak boleh lupa bahwa dalam kasus Sudō, motivasinya berasal dari cintanya kepada Horikita, yang mengajarinya. Yang jelas, dengan dikeluarkannya Airi telah memicu dimulainya persaingan bahkan di peringkat terbawah.

Related Posts

Related Posts

4 comments