-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Bab 1 Part 1 Indonesia

Bab 1
Menyambut Festival Budaya


1


Di ruang kelas sepulang sekolah hari ini.

Seusai mengosongkan ruangan, anggota utama berkumpul.

Satō, Matsushita, Mī-chan dan Maezono. Keempatnya adalah pencetus dari maid café.

Kemudian aku dan Horikita, total ada 6 orang.

Sejak presentasi awal, diskusi terkait maid café sebagian besar dilakukan melalui telepon seluler untuk mencegah kebocoran informasi, tapi setelah mencapai tahap di mana kami akhirnya bisa melanjutkan dengan sungguh-sungguh, seperti memutuskan tata letak dan lokasi kios, maka perlu diadakan pertemuan terperinci di gedung khusus yang sebenarnya akan kami sewa. Karena konsep dan skala maid café, pilihan untuk diluar ruangan adalah yang pertama kali dicoret.

Dengan kata lain, kotak yang disebut ruang kelas sudah ditetapkan sejak awal, tapi kami masih ragu-ragu untuk menentukan lokasi kiosnya.

Murid-murid dari kelas dan tahun ajaran lain juga datang setiap hari untuk meninjau dan mengintai lokasi kios yang potensial.

Oleh karena itu, pemeriksaan dilakukan dengan cara yang cerdik untuk menghindari penyempitan lokasi kios mana yang akan kami gunakan. Normalnya, akan lebih efektif untuk mengawasi orang-orang disekitar jika anak laki-laki seperti Yōsuke dimasukan ke kelompok ini, tapi sayangnya, dia sedang sibuk dengan kegiatan klub di waktu ini. Dan jika kelompoknya terlalu besar, itu juga akan menimbulkan masalah tersendiri.

Begitu semuanya berkumpul dan mulai bergerak, Matsushita melihat Horikita dan aku, lalu bertanya.

“Soal Hasebe-san dan Miyake-kun... apa yang akan kamu lakukan pada mereka?”

“Apa yang akan aku lakukan, maksudmu?”

“Mereka datang ke sekolah setiap hari, tapi mereka tidak mau bicara dengan siapa pun. Itu berarti mereka terus melihat kita, seluruh kelas, sebagai musuh, ‘kan?”

“Kurasa begitu. Yah, mungkin terutama terhadapku.”

Setelah dipaksa untuk mengeluarkan sahabatnya Airi dari sekolah, Haruka telah menciptakan tembok besar.

Meskipun kini ia sudah masuk sekolah, tembok itu belum menghilang.

“Kayaknya Hasebe-san sedang mencoba untuk membalas dendam pada kelas di masa depan.”

Dia tentu tidak dipanggil atau diberitahu langsung oleh Haruka.

Tetapi dengan melihat Haruka yang sekarang dan merasakan auranya itu, orang-orang seperti Matsushita akan bisa menebaknya.

“Mungkin saja begitu. Namun kenyataannya juga sejauh ini belum ada perilaku bermasalah yang terlihat. Dia bahkan menghadiri diskusi untuk festival budaya.”

Haruka tahu tentang pembukaan maid café karena aku meminta dia untuk menjadi maid sejak awal. Tidak ada alasan untuk tidak memasukkannya ke dalam kelompok.

“Apa itu berarti kamu membenarkan balas dendam?”

“Tentu saja tidaklah. Aku mengerti kenapa ia marah, tapi bukan berarti dia boleh menyebabkan masalah bagi kelas dengan leluasa.”

Gangguan yang tidak perlu alasan untuk bersimpati, seperti yang tidak dapat dihindari dalam ujian khusus, harus dianggap sebagai kejahatan total.

Horikita juga sangat berharap bahwa Haruka tidak lepas kendali.

“Ya. Tapi ini bukan situasi di mana logika semacam itu berlaku. Seharusnya tidak butuh waktu lama.”

Matsushita berulang kali hanya mengalihkan pandangannya padaku.

Dia tampaknya mencoba mengeluarkan kata-kata dariku sambil bertukar kata dengan sang pemimpin yaitu Horikita. Tapi aku tidak akan menyampaikan pendapatku di sini.

Memang, jelas sekali bahwa Haruka merencanakan balas dendam, tapi dia sekarang berangkat ke sekolah, mengikuti ujian secara normal dan tidak melakukan satu tindakan pun untuk menimbulkan masalah di kelas.

Bahkan entah apa yang akan terjadi di masa depan, kami tidak bisa menginterogasinnya pada tahap ini.

“Hampir tidak ada yang bisa aku lakukan padanya. Menceramahinya agar jangan membalas dendam hanya akan membuatnya tersinggung. Hanya saja...”

“Hanya saja?”

“Jika dia benar-benar mencari kesempatan untuk balas dendam, aku yakin dia tidak akan menundanya selama berbulan-bulan.”

Aku setuju dengan pendapat itu.

Sulit membayangkan bahwa ia akan terus menjalani kehidupannya di sekolah dengan tenang selama setengah atau satu tahun ke depan.

Dengan kata lain, waktu yang paling mengkhawatirkan adalah———.

“Kita tidak bisa mengesampingkan kemungkinan dia akan melakukan sesuatu di festival budaya.”

Matsushita yang kuyakin ingin mendengar kata-kata itu, mengangguk pelan.

“Ayanokōji-kun menjawab bahwa Hasebe-san tidak mau bekerja sebagai maid. Jadi, kami memberi dia dan Miyake-kun peran umum sambil memberitahu mereka situasinya. Jika kita menyembunyikan informasi atau mengucilkannya dari kelompok, itu akan secara terang-terangan memberitahunya bahwa kita mencurigainya.”

Jika, Horikita dan yang lainnya sampai melakukan sesuatu seperti mengabaikan pihak Haruka, padahal dia tidak berniat balas dendam, ada kemungkinan percikan api yang padam akan mulai membara lagi.

“Jadi ini tentang meninggalkan kesan seperti kita berada di pihaknya, tapi juga menjauhkannya dari peran penting.”

“Ya. Kupikir aku harus melakukan itu untuk berjaga-jaga.”

Tentu saja, bukan berarti dia memiliki kekhawatiran yang kuat bahwa Haruka akan mengamuk di festival budaya.

Meski begitu, sebagai seorang pemimpin, penting untuk mengambil inisiatif.

Pada festival budaya, banyak tamu undangan yang datang. Jika reputasi buruk kelas Horikita menyebar ke para tamu undangan, tidak mengherankan jika mereka akan menerima semacam hukuman.

“Aku tahu kamu mungkin penasaran tentang Haruka dan Akito, tapi sebentar lagi kita sampai.”

Karena terlalu larut dalam percakapan, Matsushita sepertinya tidak menyadari bahwa kami sudah semakin dekat dengan tempat tujuan.

Saat ini banyak kelas yang masih bingung di mana mereka harus mendirikan kios kreasi mereka.

Kami tidak pernah tahu, di mana pernyataan yang tidak disengaja bisa didengar orang lain.

Ada total delapan ruang kelas yang tersedia untuk kios di gedung khusus, yang memiliki tiga lantai. Saat ini kami berada di lantai tiga, dan semakin dekat ruangan itu ke tangga masuk, biayanya akan meningkat secara bertahap. Karena paling jauh dari gerbang utama untuk lokasi kios indoor, lokasi ini juga memiliki keuntungan karena paling hemat biaya. Lantai tiga dapat disewa dengan harga antara 10.000 dan 13.000 poin, sedangkan lantai pertama dapat disewa dengan harga tetap 50.000 poin. Selisih hampir 40.000 bisa digunakan untuk membeli makanan dan hal-hal lain. Poin yang diberikan untuk kelas terbatas. Perencanaan tentang berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk biaya lokasi kios adalah kesulitan yang tidak dapat dihindari.

“Untuk sampai di sini ternyata lebih jauh daripada yang aku kira.”

Kesan pertama Mī-chan pastilah tentang jaraknya.

Pasti semua orang setuju dengan itu.

“Bagaimana menurutmu, Satō-san?”

Mī-chan bertanya pada Satō, yang belum berbicara sekali pun hari ini, tapi tidak ada jawaban segera.

“Satō-san?”

Ketika dipanggil sekali lagi, kali ini dari jarak dekat, Satō buru-buru menjawab.

“Ah, um. Menurutku juga ini kayaknya agak jauh... ya, kupikir jauh.”

“Kalau begini kreasi kita harus cukup bagus atau semua orang tidak akan mau jalan sampai ke sini, ya.”

Karena pendapat mereka sama, kami tidak tinggal lama di lantai tiga dan menjadikannya prioritas rendah.

Setelah itu, kami semua turun ke lantai dua, satu lantai di bawahnya.

“Kayaknya lantai dua memang lebih cocok daripada lantai tiga, ya~. Kalau bisa sih, idealnya di lantai dasar.”

Maezono bergumam sambil melihat ke luar jendela.

“Aku setuju. Tapi lantai... harga lantai dasar masih cukup mahal, ‘kan?”

Mī-chan terlihat muram saat dia menatap ponselnya.

“Tapi kita harus segera memutuskan. Ruangannya hampir terisi penuh.”

Matsushita mengatakan itu sambil mengintip ponsel Mī-chan.

“Iya. Dua dari lima lokasi yang diambil sudah terisi.... Tapi karena masih ada kandidat lokasi dari lantai dasar hingga lantai tiga, menurutku malah buat bingung.”

Antara memilih kenyamanan dengan biaya besar, atau membuang kenyamanan dengan biaya kecil.

“Kalau aku lebih milih lantai dasar. Karena jika tamu tidak bisa naik ke atas karena terganggu oleh kreasi lain, itu saja sudah merugikan kita.”

“Kurasa tidak masalah mau di lantai dua atau tiga juga, selama kita bisa membuat orang ingin datang.”

Maezono, Mī-chan dan Matsushita berdiskusi.

Satō yang selalu antusias dan sering membicarakan hal-hal yang belum pernah kudengar, dari tadi hanya diam.

Teman-temannya sesekali menatapnya seolah-olah mereka khawatir, tapi dia sendiri terlihat seperti sedang memikirkan hal lain.

“Belakangan ini dia selalu seperti itu, Satō-san.”

Menyadari keresahanku, Matsushita berbisik pelan ditelingaku.

“Kalau dipikir-pikir, dia mungkin merasa tidak enak badan dalam beberapa hari terakhir ini.”

“Kupikir Ayanokōji-kun mungkin tahu sesuatu, tapi sepertinya tidak.”

Apakah Matsushita mengira aku seorang esper atau semacamnya?

Atau mungkin pernyataan itu dibuat karena dia tahu kedekatan Kei dengan Satō, tapi bagaimanapun juga aku tidak punya informasi persisnya.

“Dia tidak terlihat seperti sedang sakit, dan aku bertanya apakah dia punya masalah, tapi jawabannya tidak jelas.”

“Adakalanya seseorang hanya ingin ditinggalkan sendiri, bukan?”

“Iya sih. Tapi gimana ya, rasanya tidak begitu untuk yang satu ini.”

“Maksudmu?”

Matsushita yang menyangkal mungkin tahu sesuatu, dia melanjutkan tanpa mengakhiri pembicaraan.

“Dia seperti ingin bicara tapi tidak bisa. Karena dia adalah tipe orang yang suka menyimpan unek-unek di dalam hatinya.”

Setelah satu setengah tahun berteman dengannya, dia bahkan bisa tahu hal semacam itu.

“Dia tidak hanya akan memendamnya di dalam hati, bukan?”

“Itu yah... biasanya dia akan meminta saran.”

“Kalau begitu, kita harus menunggu dan melihatnya sebentar lagi. Jika tebakan Matsushita benar, dia akan meminta saran tidak lama lagi, bukan?”

“...Mungkin.”

Meskipun tampak agak gelisah, Matsushita bersikap dewasa, karena jenis percakapan panjang seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan di dekat Satō.

Aku agak kepikiran dengan kondisinya, tapi prioritas pertama adalah memutuskan di mana kami akan membuka kiosnya.

Sudah waktunya untuk memilih dan melanjutkan ke tahap berikutnya. Setelah menyelesaikan pemeriksaan kami di lantai dua, kami bertemu dengan kelompok kecil lain saat akan pindah ke lantai dasar untuk tujuan akhir.

“Yo, Ayanokōji. Kamu juga sedang mencari tempat untuk membuka kios di festival budaya, ya?”

Hashimoto dari Kelas A tahun kedua memanggilku. Tak lama kemudian, pemimpinnya yaitu Sakayanagi juga muncul bersama dengan Kamuro.

Jika ketiganya bergerak bersama-sama, itu tidak mungkin hanya sekedar jalan-jalan.

“Siapa tahu. Mungkin juga sudah diputuskan, atau bahkan mungkin belum diputuskan, apakah akan dibuka di dalam atau di luar ruangan.”

“Belum diputusakan? Jelas sekali bohong. Memang kamu membawa Horikita dan yang lainnya ke sini untuk berkeliaran di sekitar gedung khusus tanpa alasan, gitu? Kasih tahu aku kreasi apa yang akan kalian tampilkan.”

Sakayanagi tidak bergabung dalam percakapan, tapi melihat dengan senyum tipis di wajahnya.

“Percuma saja bertanya padanya. Dia tidak dalam posisi mengetahui segala sesuatu tentang kelas.”

Karena tidak bisa hanya diam dan mendengarkan, Horikita turun tangan dan menyela percakapan.

“Jadi, dia hanya menikmati haremnya ya?”

Dia menunjukkan bahwa aku adalah satu-satunya laki-laki dari 6 orang dan meminta persetujuan Kamuro.

“Kau pun juga sama kan, Hashimoto-kun? Sakayanagi-san dan Kamuro-san. Jumlahnya mungkin berbeda, tapi kamu adalah satu-satunya anak laki-laki. Kamu ngatain orang aneh-aneh, kira-kira kamu sendiri sadar diri enggak?”

(Tln: Yang seperti ini yang aku suka dari Horikita. Meski ada noda dimasa lalu)

Horikita menunjukkan respons yang santai dengan berani mengembalikan komentarnya.

Itu adalah satu pukulan, tapi itu tidak berpengaruh pada Hashimoto.

Sebaliknya, dia mengubah topik pembicaraan seolah-olah percakapan tadi tidak pernah terjadi.

“Satō, Matsushita, Wang, dan Maezono, ya. Kalian sering berdiskusi bahkan di sekolah akhir-akhir ini.”

Hashimoto mengalihkan tatapannya pada keempat inisiator maid café.

Sementara tiga lainnya terlihat waspada, Matsushita melangkah maju, tampak sama seperti biasanya.

“Kamu tidak akan bisa mendapatkan apa-apa dari kami.”

“Kuharap kamu bisa cepat mengerti.”

Dengan Matsushita juga ikut memelototinya seperti Horikita, kedua gadis itu membalas Hashimoto.

“Aku tidak bermaksud begitu, kok. Tidak, sungguh. Hanya saja———”

Cara dia menyiratkan hal itu membuat para siswa, kecuali aku, mulai merasa terganggu.

“Ups, mungkin aku sudah kelewatan?”

Sambil menyeringai, Hashimoto di sini memandang Sakayanagi untuk pertama kalinya.

Tidak masalah kan kalau aku katakan? Tampaknya seolah-olah ia mengajukan pertanyaan ini.

“Sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu katakan ya, Hashimoto-kun.”

Matsushita yang berdiri melindungi ketiga gadis itu, bertanya dengan suara yang agak jengkel.

Seakan telah menunggu kata-kata itu, dia berbicara dengan cepat.

“Aku khawatir dengan festival budaya kalian, tahu. Nampaknya kerja sama kalian dengan Ryūen di festival olahraga berjalan dengan lancar, tapi dengan itu, apa kalian pikir kalian bisa terus mempercayainya?”

“Apa maksudmu?”

“Ya seperti itu. Dia berpura-pura menjadi sekutu dan tidak akan ragu menikammu dari belakang.”

“Festival olahraga adalah festival olahraga, festival budaya adalah festival budaya. Kelas Sakayanagi-san dan yang lainnya jelas adalah musuh yang harus kami kalahkan, begitu juga dengan kelas Ryūen-kun. Jadi sudah pasti kami tidak akan mempercayainya, bukan?”

“Kuharap begitu. Kukira kalian hanya akan beraliansi dengan Ryūen lagi.”

Jika kalian beraliansi, maka berhati-hatilah, dia mengatakan sesuatu yang seperti keprihatinan itu.

Matsushita yang tajam pasti merasakan petunjuk dan makna di balik kata-kata itu.

Matsushita ingin bertanya apakah dia tahu sesuatu, tapi dia menahan diri.

“Kita sedang buru-buru, jadi kurasa kita tidak bisa bermain kata-kata terlalu lama. Iya, ‘kan? Teman-teman.”

Dia berbalik dan meminta persetujuan kepada para gadis dan aku.

“Kau benar. Kita harus pergi, buang-buang waktu saja bicara dengannya di sini.”

“Sepertinya mereka membencimu?”

Hashimoto menghembuskan nafas terpaksa mendengar komentar mengejek Kamuro.

“Mungkin. Padahal aku hanya ingin bertanya.... Yah, semoga berhasil deh.”

Sampai akhir, Sakayanagi tidak mengucapkan sepatah kata pun dan masuk ke dalam ruang kelas yang kami lihat beberapa waktu yang lalu.

“Aku sedikit takut...”

Mī-chan mengelus dadanya karena lega, bergumam pada Satō yang berdiri di sebelah kirinya.

“...Eh? Ah, y-ya. Sedikit.”

Entah dia mendengarnya atau tidak, di sini lagi-lagi sikap Satō tidak wajar.

“Ayo kita lanjutkan saja.”

Bicara sambil berdiri di sini hanya akan membuat kami segera bertemu dengan anggota Kelas A lagi.

Itu adalah sesuatu yang ingin semua orang hindari, jadi kami memutuskan untuk mencari lokasi pilihan lainnya.

“Soal yang dikatakan Hashimoto-kun tadi... tidakkah itu mengganjal?”

Maezono mempertanyakannya.

Selama proses persiapan maid café, aku dan Horikita hanya menginformasikan hal ini kepada anggota ini terlebih dahulu. Dia pasti terguncang dan merasa cemas.

“Di festival budaya nanti sudah dipastikan kalau kita akan bekerja sama dengan kelas Ryūen-kun lagi, ‘kan?”

“Ya. Saat kita bekerja sama dalam festival olahraga, aku juga sudah mendapat persetujuan dari pihak Ryūen-kun.”

Konten kreasi tidak boleh saling tumpang tindih.

(Tln: Tidak boleh sama)

Lokasi kios tidak boleh saling berdekatan apabila ada kios yang serupa atau bersaing.

Pastikan bahwa personil bisa ditukar secara efisien, bisa dipinjamkan sementara atau bisa saling membantu.

Meskipun ada sedikit penyesuaian, ini adalah kesepakatan kontingensi.

(Tln: kontingensi adalah keadaan yang masih diliputi ketidakpastian)

“Aku tidak begitu keberatan karena festival olahraga berjalan dengan baik, tapi ketika aku mendengar hal-hal seperti itu, aku merasa cemas... apakah kamu yakin kita bisa memercayai mereka?”

“Tentu patut dipertanyakan apakah kita bisa mempercayai Ryūen-kun secara pribadi atau tidak. Itulah kenapa aku menempatkan Katsuragi-kun di antara kami. Aku yakin kita akan baik-baik saja.”

“Aku juga ingin mempercayainya. Tapi, bukankah Hashimoto-kun tampaknya mengetahui sesuatu?”

“Ya, aku juga merasakannya. Biarpun mereka tidak mengkhianati kita, mungkin saja mereka membocorkan informasi bahwa kita beraliansi, ‘kan?”

“Yang tahu adalah aku dan Ayanokōji-kun. Lalu kalian berempat yang ingin mendirikan maid café. Dari kelas Ryūen-kun adalah Katsuragi-kun. Mereka mungkin sudah memberi tahu anggota kelas inti mereka lainnya, tapi tidak ada untungnya membocorkannya.”

Horikita menjelaskan kepada keduanya bahwa sulit membayangkan informasi akan bocor.

“Aku juga setuju dengan Horikita. Karena aku yakin mereka tidak mengharapkan Horikita dan Ryūen untuk beraliansi dan mengalahkan kelas A di festival olahraga. Mereka hanya waspada bahwa mungkin saja kita akan beraliansi lagi. Mungkin akan ada kontak dan penyelidikan serupa di lain waktu, tapi kita tidak perlu mencemaskannya.”

Aku mendukungnya dengan santai.

“I-Itu benar. Aku mengerti.”

Maezono dan Mī-chan mengangguk, dan Matsushita serta Satō juga menegaskan kembali tekad mereka.

Setelah itu, kami kembali ke kelas dan berkumpul untuk membuat penilaian akhir.

“Menurutku kita yang ada di sini harus mengambil suara mayoritas tentang di mana kita akan mendirikan kiosnya. Kalian setuju?”

“Bagaimana jika pendapatnya terbagi rata?”

“Kita akan pikirkan lagi nanti. Mari kita coba sekali dulu. Batu untuk lantai dasar, gunting untuk lantai kedua, kertas untuk lantai ketiga. Oke?”

Mī-chan mengulanginya dengan berbisik agar tidak bingung, dan kemudian melihat telapak tangannya.

“Siap. Satu dua tiga.”

Keenamnya termasuk aku secara serentak mengekspresikan lantai yang mereka inginkan dengan tangan mereka.

Kesimpulannya bisa dilihat sekilas. Empat batu, dua gunting dan nol kertas adalah hasilnya.

Lantai tiga jelas dikecualikan karena letaknya yang jauh untuk dicapai.

Aku mengeluarkan gunting untuk mengurangi biaya awal, tapi bukan pilihan yang buruk untuk memilih lantai dasar karena kenyamanannya. Yang memilih gunting satunya adalah Matsushita.

Bagaimanapun, ini merupakan langkah maju karena dengan ini pendaftaran lantai dasar sudah diputuskan.

“Aku akan langsung mendaftar. Ada banyak kelas yang masih melihat-lihat, akan merepotkan jika diambil.”

Melalui ponselnya, Horikita langsung memulai proses pendaftaran untuk menempati lantai dasar.

“Jadi itu saja untuk hari ini?”

“Tidak, sebelum itu, aku perlu membicarakan satu hal.”

Aku sudah mengumpulkan informasi tentang maid café dengan caraku sendiri sampai saat ini.

Aku perlu menyebutkan hal itu.

“Target utama maid café adalah laki-laki. Meskipun banyak tamu undangan di festival budaya yang ditemani oleh anggota keluarganya, namun pada dasarnya tamu pria adalah target kita.”

“Kurasa bukan berarti sama sekali tidak akan ada pelanggan wanita, tapi dari segi persentase akan ada perbedaan yang cukup besar.”

Inilah yang dipikirkan semua orang dari gambaran umum mengenai hal itu, tanpa perlu mencari tahu.

“Kudengar di dunia ini ada yang namanya butler cafe, kebalikan dari maid café. Jadi yang melayani para tamu bukanlah seorang gadis maid, tetapi seorang pria yang berpakaian seperti butler.”

Mungkin baru pertama kalinya mendengar informasi ini, Matsushita dkk terkejut seolah mereka terkesan.

“Maid dan butler keduanya merupakan jenis konsep kafe.”

“...Ternyata kamu juga tahu banyak ya, Horikita.”

“Setidaknya aku sudah mengumpulkan informasi. Entah itu berguna atau tidak, hanya bisa aku putuskan setelah aku mempelajarinya.”

Harus kubilang bahwa dia bisa diandalkan dalam hal itu.

“Kalau begitu, mari kita lanjutkan. Hal yang paling penting dan esensial adalah kebersihan. Bukan hanya lantai berapa, kupikir kita harus mempertimbangkan hal itu juga sebelum mendirikan kios di ruang kelas gedung khusus.”

Frekuensi penggunaan setiap ruang kelas untuk belajar juga sangat bervariasi.

“Kerusakan pada lantai, dinding, langit-langit, dan pada kursi juga sangat bervariasi seiring bertambahnya usia. Aku ingin kita memeriksanya juga tanpa ada satu pun yang terlewatkan.”

“Itu hal yang penting. Sekalipun kita membersihkannya sendiri sampai batas tertentu, masih ada bagian di mana tidak bisa kita tutupi. Semakin bersih tempatnya, semakin baik untuk kiosnya.”

Semua orang di tempat ini setuju, dan mulai melihat sekeliling kelas lagi.

Kesadaran yang sebelumnya hanya terfokus pada kenyamanan dan tampilan luar akan mulai berubah.

“Selain itu juga terkait seragam, jangan mengumbar erotisme terlalu berlebihan secara terang-terangan.”

“Eh? Apa yang kamu katakan...?”

“Erotisme. Eros dan erotic telah dianggap sebagai elemen penting dalam seni sejak zaman kuno. Jangan pernah berpikir untuk menunjukkan pakaian dalammu, tapi penting untuk tidak menolak harapan bahwa itu mungkin akan terlihat.”

(Tln: Eros adalah hasrat)

Horikita juga terlihat tercengang, mungkin karena ia belum bisa memahami hal itu seperti yang kuduga.

“A-Anu, Ayanokōji-kun. Kok perasaan kamu jadi semakin tahu banyak tentang itu?”

“Selama aku bertanggung jawab menjalankan maid café, tentu saja aku tidak bisa setengah-setengah. Aku belajar sebanyak mungkin dari bantuan orang lain.”

Adanya beberapa siswa di kelas yang kuat dalam topik semacam ini juga melegakan. Tentu saja, aku menghindari penyebutan secara eksplisit tentang kelas Horikita yang akan mendirikan maid café, dan mendekati mereka dengan asumsi kalau aku secara pribadi tertarik. Namun hal ini agak meresahkan karena beberapa siswa mengira aku telah terbangun sebagai seorang otaku dan memberiku keramahan dan pengajaran yang tidak biasa, sambil mengatakan bahwa mereka tidak menginginkan imbalan apa pun asalkan itu akan memperbanyak teman mereka.

“Bisa aku lanjutkan?”

“Y-Ya, silahkan...”

Karena sepertinya tidak ada yang menghentikanku, setelah itu untuk beberapa saat aku dipersilahkan untuk berbicara tentang seperti apa menjadi seorang maid itu.

Penting bagi mereka yang benar-benar akan mengenakan pakaian maid untuk memahami hal ini.

Hal ini juga akan membuat mereka bisa merespons pelanggan secara sadar.

“Kemudian aku juga memikirkan strategi penjualan. Selain menyediakan makanan dan minuman, kita juga akan menjual hak untuk mengambil foto, yang disebut Cheki. Kita akan menggunakan kamera khusus untuk ini dan menetapkan harga 800 poin untuk berfoto dengan satu orang maid. Pelanggan yang ingin berfoto dengan dua orang maid, harganya 1.200 poin. Untuk menekan biaya, aku menyarankan untuk memakai metode mencetak dengan printer setelah mengambil gambar dengan ponsel, tapi itu ditolak oleh Hakase yang mengajariku. Katanya, jika kamu mengabaikan kualitas demi keuntungan, tidak ada yang akan melihatnya.”

(Tln: Cheki dalam bahasa ing ‘check it’ atau layak dilihat)

Jika dimanfaatkan dengan baik, hasil penjualannya mungkin bisa sebagus menu makanan.

“Tapi kita juga mesti memikirkan soal stoknya, ‘kan?”

“Tidak, aku optimis dengan roll filmnya. Aku juga punya rencana agar itu bisa terjual habis. Syaratnya, tentu saja, foto-foto itu tidak dipublikasikan. Kemudian, di bawah kepemimpinan Horikita, kita juga sudah mulai mendirikan kios yang dipimpin oleh anak laki-laki, tapi bahan makanan di sini juga harus dikaitkan dengan maid café.”

Ketika aku selesai bicara, Horikita terdiam sejenak sebelum terbatuk sekali.

“Tingkat persaingan pasti akan tinggi, karena ada tanda-tanda bahwa ada banyak restoran akan didirikan, termasuk dari tahun ajaran lain. Karena itu, kita akan mengkhususkan diri pada makanan ringan dan mematok harga yang murah.”

“Tapi, dari situ kita tidak akan bisa menghasilkan banyak uang, bukan?”

“Ya. Makanya ini adalah batu loncatan menuju maid café, yang merupakan tujuan utama kita. Pembeli akan menerima tiket setengah harga untuk satu minuman yang dapat digunakan di maid café.”

Kami harus membuat orang tahu akan keberadaan maid café dan membuat mereka mengunjungi gedung khusus.

Jadi kami perlu mempromosikannya di luar ruangan dan menyediakan sarana untuk memandu mereka.

Related Posts

Related Posts

3 comments