-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Bab 1 Part 2 Indonesia

Bab 1
Menyambut Festival Budaya


2


Selepas pertemuan maid café, aku pergi ke Keyaki Mall.

Karena hari ini aku akan melakukan survei harga bahan makanan.

Bahan makanan yang dijual di mall dan bahan makanan yang bisa dibeli secara online.

Bisa memperoleh barang berkualitas dengan harga serendah mungkin adalah faktor penting.

Jika aku mengajak Kei, ini akan berubah menjadi kencan, bukannya peninjauan, jadi hari ini aku pergi sendirian.

Dalam perjalanan ke supermarket, aku melihat seseorang yang sedang menatap peta dalam gedung.

Aku sedikit penasaran karena dia terlihat sangat muram, jadi aku memutuskan untuk bicara dengannya.

“Hari ini kamu menjadi pusat perhatian ya, Sudō.”

Mungkin dia tidak menyadari kedatanganku sampai aku mendekatinya, dia berbalik agak terkejut.

“Eh? Oh, Ayanokōji toh? Apa maksudmu, pusat perhatian?”

“Soal ujian tengah semester.”

“Oh, soal itu. Aku senang sih, tapi bagiku itu sesuai prediksi... apa ya, tepatnya aku memiliki kesan bahwa itu hampir sama persis dengan penilaianku sendiri.”

Rupanya setelah ujian tengah semester, dia bahkan melakukan penilaian mandiri secara terperinci.

“Aku yakin dirimu sewaktu masuk sekolah pertama kali akan terkejut melihatmu yang sekarang.”

“Hahaha, jelas banget tuh. Aku yakin dia akan berteriak padaku, apa gunanya belajar, menghafal kata-kata dan rumus, jangan buang-buang waktumu seperti itu, berlatihlah basket lebih keras.”

Membayangkan dirinya di masa lalu, Sudō menjawab.

Aku ingin mengajukan satu pertanyaan pada Sudō yang seperti itu, jadi aku memutuskan untuk bertanya.

“Jika dirimu di masa lalu berkata, jangan buang-buang waktumu. Bagaimana kamu yang sekarang akan menjawabnya, Sudō?”

“Eh? ...Gimana ya...”

Setelah memikirkannya sejenak, Sudō menuangkan jawabannya sendiri ke dalam kata-kata.

“Mau jadi apa kamu jika kamu bahkan tidak bisa menghafal kata-kata dan rumus... mungkin?”

Itu adalah balasan yang brilian, tidak seperti dirinya yang biasa, tapi faktanya juga Sudō yang dulu tidak bisa ditangani dengan cara biasa.

“Aku yakin jawaban dia, itu tidak masalah karena aku akan menjadi pemain bola basket profesional.”

“Ugh, benar juga...! Dia pasti akan mengatakan itu... balasan apa yang tepat dalam situasi itu? Pemain pro yang juga bisa memakai otaknya akan lebih baik kan... kali? Susah juga karena logikanya tidak masuk, ya.”

Sudō tersenyum kecut sembari menggaruk-garuk kepalanya.

“Sejujurnya, aku sedikit tidak sabar karena aku semakin sulit untuk memahami materinya. Padahal dulu cukup mudah setelah aku menguasainya.”

Kegelisahan dan ketidaksabaran yang terlihat dari Sudō yang telah berjuang sekuat tenaga untuk mengejar ketertinggalannya hingga titik ini.

Ini seperti memulai kembali dari tingkat SMP, atau dalam kasus Sudō, tingkat SD. Apakah dia merasakan masa kebuntuan ketika dia berhasil menyusul hingga ke tingkat SMA tahun kedua?

Peringkat ke-11 yang dia raih kali ini. Hasil itu, yang sudah melampaui peringkat dari separuh kelas, adalah sesuatu yang bisa dibanggakan, tapi dia khawatir bahwa momentumnya mungkin sudah berakhir di sini.

Mulai sekarang dan seterusnya, ini tidak lagi hanya soal menambah waktu belajar.

Faktor-faktor selain usaha, seperti pemahaman, efisiensi, dan bakat mungkin diperlukan dengan lebih rumit.

“Daripada itu, apa kamu ada perlu denganku?”

“Tidak ada, aku hanya penasaran. Bukankah kamu seharusnya ada kegiatan klub hari ini?”

Selain ekspresinya, yang lebih aneh lagi adalah Sudō berada di Keyaki Mall di waktu ini.

Biarpun festival budaya sudah semakin dekat, tapi kegiatan klub masih diadakan.

“Hari ini, aku ingin libur dulu.”

“Kok tumben.”

Sekilas, dia tidak tampak sedang tidak enak badan.

“Aku punya... masalah lain.”

“Masalah lain?”

“Penglihatanku akhir-akhir ini memburuk hingga aku bisa menyadarinya.”

Katanya lalu menatap ke kejauhan.

“Ketajaman pengelihatanku sudah 2.0 sejak aku masih kecil, tapi akhir-akhir ini terasa aneh.”

(Tln: 2.0 adalah ukuran ketajaman pengelihatan terbaik/mata normal)

Apakah ini berarti bahwa tubuh Sudō menunjukkan perubahan akibat efek buruk dari ketekunannya pada studinya?

Penglihatan penting bagi olahragawan.

Jika penglihatannya nanti terus memburuk, itu akan berdampak pada permainannya. Tentu saja, kacamata atau lensa kontak bisa sangat membantu, tapi tetap saja lebih baik jika tanpa memakainya.

“Jadi, aku mencari toko kacamata untuk mengukur penglihatanku. Aku belum pernah ke sana sebelumnya dan aku ingin tahu di mana tempatnya.”

Jadi itulah kenapa dia menatap peta panduan ya. Jika dia sangat merasakan penurunannya, bukan tidak mungkin penglihatannya benar-benar memburuk.

“Aku akan terus belajar, bahkan jika penglihatanku akan memburuk nantinya. Maksudku, aku tidak ingin berhenti bermain basket karena itu adalah segalanya bagiku.... Meskipun aku bermimpi ingin menjadi pemain profesional, aku mulai berpikir bahwa mungkin aku bisa memiliki pilihan lain.”

“Pilihan lain?”

“...Jangan diketawain ya?”

“Tenang saja.”

“Kupikir aku bisa lanjut kuliah seperti orang pada umumnya dan melanjutkan studiku. Meskipun aku bisa memaksa masuk ke jajaran pemain profesional dengan hak istimewa Kelas A, aku tidak akan digunakan di dunia olahraga jika kemampuanku tidak mumpuni. Dalam hal ini, aku bisa masuk ke universitas yang aku inginkan dan bekerja keras.”

(Tln: Orang pertama yang sadar diri akan tidak bergunanya hak istimewa itu apabila dirimu memang belum/tidak pantas untuk tempat tujuanmu)

Belajar yang dimulai dengan rasa enggan juga telah membawa perubahan signifikan dalam cara berpikir Sudō.

“Aku bisa masuk universitas, lulus dan kemudian menjadi pemain profesional.”

“Ya.”

Bukan berarti dia harus mengubah tujuan karirnya di SMA.

Selama ini, Sudō hanya memikirkan jalan menuju pemain profesional setelah lulus SMA, tapi di sini pilihan untuk melanjutkan ke universitas telah ditambahkan. Jalan yang akan dia tempuh juga akan terbagi lagi.

“Ah.”

Sudō menyadari sesuatu dari sudut matanya, dan bersuara.

Aku juga terlambat mengalihkan pandanganku dan melihat punggung Akito dan Haruka.

“Kencan... seperti bukan, ya?”

“Kurasa.”

Jikalau hanya melihat sosok punggung mereka dari kejauhan, maka hanya akan terlihat seperti sepasang pria dan wanita yang sedang berjalan.

Namun, teman-teman sekelasnya sangat menyadari keadaan keduanya sekarang.

“Apakah tidak apa-apa membiarkanya sendirian terus?”

“Masalahnya tidak ada yang bisa kuperbuat dengan bicara dengannya sekarang.”

“Itu mungkin benar, tapi.”

Sudō mengepalkan tinjunya erat-erat karena gatal.

“Aku tidak terlalu dekat dengan Sakura, tapi aku punya pengalaman serupa.”

Dulu Sudō sering bermain dengan Yamauchi hingga mereka, termasuk Ike, disebut trio idiot.

Itulah sebabnya, dia pasti mengalami masa-masa sulit karena pengusiran Yamauchi.

“Tapi kurasa ini tidak bisa dibandingkan dengan apa yang kualami waktu itu. Aku tidak bisa sampai meminta sebagai gantinya aku yang dikeluarkan.”

Karena bagi Haruka, tampaknya kehidupan sekolah itu sendiri bernilai sama dengan, atau bahkan lebih dari, keberadaan Airi.

“Jika kau punya masalah, kau selalu bisa memberi tahuku. Yah, kurasa Ayanokōji tidak akan membutuhkan bantuanku sih.”

“Itu tidak benar. Jika ada sesuatu yang ingin aku diskusikan denganmu, aku tak akan ragu untuk meminta bantuanmu.”

“Ou. Kalo gitu, aku akan pergi dulu. Sampai jumpa lagi, Ayanokōji.”

Aku berpisah dengan Sudō dan memutuskan untuk pergi ke supermarket.

(Tln: Buat yang paham, percakapan mereka ini sangat memaknai inti cerita dari youzitsu)

Related Posts

Related Posts

2 comments

  1. Aneh sih tapi.. Soalnya ya aku ngelihatnya kurikulum dI yozitsu gak ada bedanya sama sekolah sekolah yang ada.. Bagaimana mengambil buah apel.. Dengan spek yang berbeda beda.. Lucu bilang mereka sekolah spesial

    ReplyDelete
  2. Sangat memaknai inti cerita?? Gimana tuh ada yg bisa jelasin??

    ReplyDelete