-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Bab 1 Part 4 Indonesia

Bab 1
Menyambut Festival Budaya


4


Ada contoh seperti kelas Horikita, yang terbongkar melalui tindakan pengkhianatan, tapi hingga hari acara, tidak diketahui kelas mana, di mana lokasi stannya, dan kreasi apa yang akan mereka akan tampilkan.

Akan tetapi, semakin besar skalanya, semakin banyak persiapan awal yang perlu dilakukan untuk hari itu.

Faktanya, di sejumlah titik di mana stan-stan yang diperkirakan berada terus mulai diisi oleh berbagai kelas.

Sejalan dengan itu, informasi mengejutkan tersiar dari Kelas A tahun ketiga, yang dipimpin oleh Nagumo.

Mungkin dari awal tak berniat menyembunyikannya, ada rumor yang mengatakan bahwa mereka sepertinya menyewa ruangan besar yaitu gedung olahraga untuk menampilkan kreasi gabungan antara [rumah hantu] dan [labirin].

Mungkin harus kugambarkan sebagai gaya seorang juara yang tidak harus bersaing untuk mendapatkan poin kelas.

Bisa jadi ini bukan inisiatif Nagumo, tapi konsensus kelas dengan membiarkan mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan. Cara ini membuat kemenangan tampak sebagai hal yang sekunder.

Hanya dengan melihat dari kejauhan alat peraga dan benda-benda lain yang dibawa, aku tahu sejumlah besar uang telah digelontorkan. Sebagai pembuktian, akhirnya, kelas A tahun ketiga mengumumkan pra-pembukaannya sendiri sejak kemarin.

Mereka mulai mengumpulkan pendapat dengan memberikan kesempatan kepada para siswa yang ingin merasakan langsung labirin rumah hantu. Aku merasa kalau mereka bertekad untuk mempersembahkan kreasi berkualitas tinggi kepada para tamu undangan pada hari acara.

Sebagai seseorang yang tak tahu apa-apa tentang festival budaya, aku ingin mencicipi secara langsung kreasi dari kelas-kelas lain, apa pun bentuknya.

Sepulang sekolah, aku datang ke gedung olahraga untuk mengikuti pra-pembukaan.

Jumlah siswa tahun pertama dan kedua tidak begitu banyak, bahkan pada hari pertama, mungkin karena pra-pembukaan dibagi selama beberapa hari.

Gedung olahraga dengan lampu redup suasananya sedikit lebih menakutkan daripada biasanya.

Tak lama setelah berdiri di ujung antrian, terdengar suara yang tidak asing.

“Hebat sekali ya ketua OSIS. Dia terang-terangan mempublikasikannya.”

“Dengan skala yang sebesar ini, tidak mudah untuk menyembunyikannya. Itu adalah keputusan yang cerdas untuk merilis informasi sejak awal jika akan sekalian digunakan untuk latihan.”

Sekilas melihat ke belakang, Ichinose dan Kanzaki sedang mendekat.

Rupanya sama sepertiku, mereka datang untuk melihat keadaan serta melakukan penginatian.

“Ah...”

Ketika hendak masuk ke dalam antrean, tentu saja kehadiranku terlihat oleh mereka berdua.

Ichinose yang bereaksi paling cepat dan peka menundukkan kepalanya sedikit sekali dan mengalihkan pandangannya.

Kanzaki dalam diam berbaris seperti Ichinose dan aku dalam satu barisan.

Di saat keheningan yang canggung mulai terasa, antrean tidak kunjung juga bergerak.

Mungkin karena ini adalah hari pertama, para siswa tahun ketiga tampaknya tidak dapat maju dengan lancar.

“...O-Oh, iya. Aku, um, aku baru ingat ada urusan mendesak. Kanzaki-kun, maaf, bisakah aku serahkan ini padamu...?”

Jelas sekali dia hanya mencari alasan, tapi Kanzaki mengangguk setuju tanpa mempertanyakannya.

“Sa-Sampai jumpa.”

Dalam keadaan apapun Ichinose tidak bisa bersikap kejam, jadi dia mengucapkan sepatah kata padaku juga dan meninggalkan barisan. Kini hanya aku dan Kanzaki yang tersisa dan suasananya terasa berat.

Situasi di mana bahkan siswa yang tidak tahu apa-apa akan sedikit menyadari alasannya. Adapun bagi Kanzaki, situasinya mungkin sangat jelas.

“Apa kabar?”

Aku bertanya padanya bukan tentang apa-apa, tapi wajah Kanzaki langsung berubah muram.

“Menurutmu aku terlihat baik?”

Kelas Ichinose yang perlahan-lahan kehilangan poin kelas, tidak mungkin berada dalam kondisi yang baik.

Pertanyaanku pasti terdengar seperti setengah provokasi.

Aku mengisikan namaku dan menerima penjelasan tentang aturannya.

Kubilang penjelasan, tapi ini lebih seperti tata krama terendah.

[Dilarang mengoperasikan ponsel di dalam ruangan. Pastikan ponselmu selalu dalam mode senyap]

[Dilarang mengobrol dengan suara keras]

[Jangan berlama-lama di dalam tanpa alasan]

[Pada prinsipnya, jangan menyentuh benda apapun]

Saat aku selesai membaca penjelasannya, Kanzaki sudah meninggalkan barisan dan memunggungiku.

Mungkin dia menunggu kembalinya Ichinose.

Kesimpulan itu dilandasi oleh asumsi bahwa ia akan kembali pada saat aku meninggalkan gedung olahraga.

Meninggalkan Kanzaki sendiri, aku menandatangani persetujuanku atas penjelasan itu dan kemudian melangkah ke dalam ruangan.

Rumah hantu yang dikelilingi oleh dinding tentu saja sempit dan memiliki jarak pandang yang cukup buruk.

Untuk mempersempit sumber cahaya, lampu yang tampaknya dibeli dari toko seragam dibungkus dengan selotip sehingga tidak menyinari ruangan dengan baik.

(Tln: Toko seragam atau Toko 100 yen, toko yang menjual barang apapun dengan harga 100 yen)

Belakangan ini, aku sering menggunakan internet untuk mencari tahu tentang festival budaya, tapi aku bertanya-tanya, apakah mungkin untuk menghasilkan kualitas yang setinggi ini.

Sejujurnya, aku kagum dengan keterampilan tangan para siswa tahun ketiga, atau lebih tepatnya kelas A tahun ketiga.

Aku mengabaikan para hantu dan mulai mengamati dengan lebih cermat.

Kupikir ini sudah jelas, pada dasarnya suasananya diciptakan oleh dekorasi ruangan, dan sebagian besar bagian untuk menakut-nakuti dilakukan oleh manusia.

Kemunculan leher panjang rokurokubi diatur sesuai dengan waktu kedatangan pelanggan oleh para siswa yang bersembunyi di belakangnya.

(Tln: Rokurokubi = wanita leher panjang)

Ochimusha yang melompat keluar dan menghunus pedangnya tentu saja juga dilakukan oleh orang lain.

(Tln: Ochimusha = Prajurit yang melarikan diri/pecundang/pembelot)

Ada beberapa gimmick yang terlihat masih dalam proses pembuatan, tapi dalam pertunjukan aslinya nanti dengan tambahan itu semua maka kualitasnya pun akan ikut meningkat.

Ini mungkin tidak terlalu menarik di kalangan orang dewasa, tapi bagi keluarga mereka, terutama anak-anak, ini mungkin akan sangat populer. Biaya yang mahal cenderung membuat orang menghindarinya, tapi jika itu yang diinginkan anak mereka, mereka akan rela untuk merogoh kocek dalam-dalam.

Hal ini akan menjadi faktor yang penting untuk lebih menyempurnakan kebijakan maid café mulai sekarang.

Barangkali sudah mencapai sekitar separuh jalan.

Saat aku hendak mengikuti tanda yang mengatakan belok kiri, bayangan dalam penglihatanku bergerak.

Kelihatannya ada yang mencoba menakut-nakutiku lagi dengan gimmick yang berbeda.

“Wa, a a aaaah!?”

Tanpa menghiraukanku, yang seharusnya menjadi orang yang berteriak, hantu yang melompat keluar itu tersandung lantai tinggi di depanku dan terjatuh hebat. Itu adalah kelas A tahun ketiga, Asahina Nazuna.

Aku tidak menolongnya karena kukira itu mungkin bagian dari atraksi, tapi melihatnya tersungkur kesakitan membuatku yakin bahwa ini adalah kecelakaan yang tak terduga.

(Tln: Wkwkw. Kasian Asahina-senpai. Ini ngingetin aku sama pertemuan pertama mereka)

Dalam kegelapan ini, bisa dimaklumi jika dia tidak memperhatikan pijakannya....

“Aduh, aduh!!”

“...Kau baik-baik saja?”

Mengulurkan tangan ke hantu yang seharusnya sudah mati agaknya potret yang menakutkan.

“Te-Terimakasih... aw aw aw.”

Dia rupanya mengalami kesulitan berdiri sendiri, jadi dia pun akhirnya duduk di tempat.

Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja seperti ini, jadi aku memutuskan untuk meminjamkan bahuku.

“Jalan keluarnya lewat mana?”

“Eh? Ja-Jalan keluar...? Mungkin kesini... kali...?”

“Kalau gak yakin, apa kita perlu putar balik?”

Aku ingat jalan ke pintu masuk, jadi kami pasti bisa kembali dengan cepat bahkan sambil aku memapahnya.

“Bener kok, percayalah sama Senpaimu... aw...!”

Ia menjerit kesakitan. Itu karena ia melakukan pose belaga yang tidak perlu.

Petunjuknya terdengar sangat tidak bisa diandalkan, tapi lebih baik aku ikutin saja.

Harusnya lebih cepat daripada aku mencari sendiri jalan keluarnya dari awal.

Aku tersesat beberapa kali dan kemudian tiba di pintu keluar sambil memapah Senpai yang ketakutan ketika ditakut-takuti oleh teman sekelasnya.

(Tln: Lah?)

Aku bermaksud untuk segera pergi setelah meminta orang lain merawat Asahina, tapi karena pra-pembukaan, tampaknya tidak ada siswa yang nganggur.

“Jangan khawatirkan aku. Terima kasih, Ayanokōji-kun. Aku akan baik-baik saja setelah sedikit sebentar.”

Aku berjongkok untuk memeriksa pergelangan kaki Asahina.

“Tu-Tunggu?”

“Coba aku lihat.”

“U-Un...”

Sudah mulai membengkak lebih awal untuk hanya sekedar terpelintir.

Jika tidak menerima perawatan yang tepat, ini bisa mempengaruhi kehidupannya di kemudian hari.

“Kupikir ini harus dibawa ke ruang kesehatan. Bisa gawat kalau kamu tidak bisa ikut membantu di festival budaya, bukan?”

“Ya, kau benar. Un, kurasa aku akan kesana.”

Ia hendak berdiri untuk berjalan keluar sendiri, dan ternyata ia tidak bisa menahan rasa sakitnya, lalu ia pun mencoba untuk berdiri dengan kaki kirinya yang tidak sakit dan berjalan dengan satu kaki.

Akan tetapi, ia tampak kesakitan karena getarannya ditransmisikan ke kaki kanannya setiap kali ia melompat sedikit.

“Sini biar kubantu saja.”

“Uu... tapi...”

Aku yakin bukan hanya karena dia merasa malu, tampaknya ada alasan lain kenapa dia enggan meminta bantuanku.

“Ketua OSIS Nagumo, ya?”

“...Kamu tahu?”

“Yah. Kurang lebih aku bisa menebaknya.”

“Jika ia melihat Ayanokōji-kun terlibat dengan siswa kelas A, ia mungkin tidak akan senang. Aku tidak mau kamu mendapatkan masalah karena aku.”

Dia tampaknya lebih mengkhawatirkanku daripada cederanya sendiri.

“Jangan khawatir. Karena aku yakin aku sudah tidak lagi dianggap oleh Ketua OSIS Nagumo.”

“Benar, kah?”

“Dia mungkin sadar bahwa dia sudah menilai terlalu tinggi diriku.”

Aku memutuskan untuk membantu Asahina dan membawanya ke ruang kesehatan.

“Makasih, ya.”

Pakaiannya yang agak mencolok ini memang cukup merepotkan, tapi apa boleh buat.

Aku meminjamkan bahuku hingga sampai ke ruang kesehatan diikuti oleh tatapan penasaran dari beberapa orang.

Aku menyuruhnya untuk duduk di atas tempat tidur agar dokter bisa langsung melakukan pengobatan.

Asahina diminta untuk menunggu sebentar sampai dokternya siap.

Saat aku hendak berbalik untuk pergi, aku dipanggil.

“Ngomong-ngomong, kelasmu sungguh malang, ya Ayanokōji-kun.”

Bukan waktu yang tepat untuk meninggalkan ruang kesehatan, aku mulai bicara sambil berdiri.

“Maksudmu soal kebocoran informasi, tentang kami yang akan mendirikan maid café?”

“Ya.”

Tepat pagi ini, sebuah tipu muslihat yang dilakukan oleh Ryūen.

Kreasi maid café yang diam-diam kami kerjakan menjadi terkenal di seluruh sekolah.

Tentu saja, pada dasarnya ada lebih banyak kerugian apabila kreasi kami diketahui lebih awal.

“Karena kelas C... kelas Ryūen juga mengaku akan bersaing dengan kedai kopi.”

Sederhananya, karena ada kedai pesaing, kami akan bersaing untuk mendapatkan pelanggan dengan tujuan yang sama.

“Kami hanya bisa berharap agar tidak ada lagi yang ikut-ikutan setelah tahu bahwa sudah ada 2 kelas yang bertarung dengan kreasi yang serupa.”

“Karena jika ada 3 atau 4 kelas dengan kreasi yang sama, itu hanya akan membuat persaingan untuk mendapatkan pelanggan menjadi lebih buruk ya.”

Ikut-ikutan hanya akan meningkatkan risiko.

Bukan tidak mungkin untuk membuka stan sebagai sambilan, tapi tidak mudah untuk mengalahkan kami yang mencurahkan banyak tenaga untuk itu.

Segera setelah itu, dokter datang membawa perban dan alat perawatan lainnya. Pada akhirnya, aku melihat pengobatannya. Dia diberitahu pengobatan akan segera selesai dan dia akan dapat berjalan tanpa masalah jika dia menunggu beberapa hari untuk beristirahat. Setelah tahu bahwa cederanya tidak akan menganggu festival budaya, Asahina mengekspresikan kelegaan dan rasa sakit yang dialaminya secara bersamaan.

“Ah, syukurlah. Aku tak ingin membuat kelas dalam masalah karena hal ini.”

“Keunggulan kelas tidak akan berubah, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bukan?”

Jika mereka berada di urutan terakhir dalam festival budaya, mereka tidak akan kehilangan poin kelas.

“Tidak bisa begitu. Karena tidak ada yang lebih baik daripada memiliki lebih banyak poin kelas. Bahkan kali ini, masih ada beberapa anak yang menentang Miyabi.”

Asahina melanjutkan, dengan mata tertunduk.

“Bagi para siswa yang kemenangannya belum pasti, mereka membutuhkan poin kelas sebanyak-banyaknya, bukan? Bahkan di festival budaya, jika kami menempati peringkat pertama, semakin banyak poin pribadi yang akan kami dapatkan sebelum kelulusan.”

Mengingat aturan tahun ketiga yang diterapkan oleh Nagumo, wajar jika ingin meluluskan sebanyak mungkin siswa sebagai Kelas A.

Sekalipun sebagai Kelas A, mereka tidak tega meninggalkan Kelas B dan di bawahnya.

“Jadi tampaknya dikatakan bahwa kelas lain selain kelas A akan dibuat bersaing dan akan diambil satu orang dari kelas yang menempati peringkat pertama.”

Dengan demikian, keluhan dari 3 kelas lainnya tidak akan terlalu keras.

Tapi meski begitu, itu tidak bisa sepenuhnya ditekan tanpa menunjukkan kemauan untuk mendapatkan poin kelas sebanyak mungkin.

Dengan tidak lagi memperdulikan kemenangan, tekanan pada Kelas A tahun ketiga hanya akan terus meningkat di masa depan.

“Soal yang tadi. Ayanokōji-kun, kamu bilang Miyabi sadar bahwa dia sudah menilaimu terlalu tinggi, bukan?”

“Ya.”

“Awalnya kupikir itu benar. Tapi setelah kupikir-pikir lagi itu mungkin salah.”

“Kenapa?”

“Kamu dan Miyabi belum memutuskan dengan jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah, bukan?”

“Itu benar sih.”

Aku dan Nagumo belum pernah sekali pun menuntaskan pertarungan satu lawan satu.

“Kalau begitu, berarti benar ini belum berakhir.”

“Aku tidak ingin bertarung dengannya. Memang karena aku tidak menginginkannya.”

Tak ada gunanya Nagumo berurusan denganku.

“Kurasa itu tidak penting. Malahan... ini bisa lebih buruk dari sekarang. Bukan Ayanokōji-kun, tapi bisa jadi dia melakukan sesuatu pada seseorang yang dekat denganmu.”

Mungkin ada beberapa hal yang hanya bisa dilihat oleh Asahina, yang telah menemani Nagumo di sisinya selama tiga tahun terakhir.

“Seperti mantan ketua OSIS Horikita, ketua OSIS Nagumo suka berkompetisi, ya.”

“Ah, ya. Kupikir itu tidak salah lagi.”

“Pernah tidak dia kalah telak dari seseorang? Atau pernahkah dia gagal sedikit?”

Melihat sikap Nagumo selama ini, pasti sudah bisa ditebak.

“Miyabi... kurasa tidak pernah sekalipun gagal. Setidaknya sejauh yang kutahu.”

Kepercayaan teman sekelas pada Nagumo untuk menang sangat kuat.

“Tidak diragukan lagi bahwa Ketua OSIS Nagumo adalah orang yang luar biasa. Jika kemampuannya itu palsu, tidak mungkin dia bisa membodohi OAA atau menjadi Ketua OSIS.”

Ada banyak aspek yang tidak bisa dikelola hanya dengan manuver politik saja.

“Dia suka menjadi nomor satu. Itulah mengapa dia berjuang untuk menjadi nomor satu di sekolah ini. Pada akhirnya, ia bahkan menjadi ketua OSIS, jadi ia benar-benar orang yang melakukan apa yang ia ucapkan.”

“Tapi, kalau aku ditanya apakah Nagumo adalah orang nomor satu, aku akan langsung menyangkalnya.”

“Kenapa begitu...? Dia tidak pernah kalah dari siapapun sebelumnya loh.”

“Menurutku itu karena dia beruntung dengan lawan-lawannya.”

Nagumo tidak lemah.

Namun, tidak diragukan lagi bahwa lawan-lawan bertarung Nagumo memang lemah.

“Mungkin kesialan terbesarnya adalah bahwa tidak ada seorang pun diangkatannya yang setara atau lebih baik darinya dan yang bisa bersaing dengannya.”

“Maksudmu... dia tidak memiliki rival yang layak?”

“Ya.”

Sialnya Nagumo terus menempati posisi nomor satu tanpa usaha keras karena dia hanya bersaing dengan orang-orang yang berperingkat lebih rendah. Tentu saja, ia mungkin pernah di urutan kedua atau ketiga pada awalnya, tapi ia segera menyalip mereka dan memimpin sendirian.

Setelah dia selesai berlari, dia menoleh ke belakang dan tidak ada seorang pun yang mengejarnya.

Mereka semua hanya berjalan atau berhenti karena menyerah tidak dapat mengalahkan Nagumo.

Terkadang mungkin ada orang-orang di sekitarnya yang memiliki bakat seperti Kiryūin, tetapi jika mereka tidak mencoba untuk mengejar dan menyalip Nagumo, mereka tidak ada bedanya dengan rumput liar dan batu di pinggir jalan.

Tidak mengalami kerasnya dan sulitnya persaingan, serta rasa frustrasi karena kalah sejak masih muda, bisa dilihat sebagai penyebab dari penyimpangan pemikiran Nagumo selama ini.

Alasan ia merencanakan dan menjalankan rencana balas dendam yang aneh terhadapku juga bukan karena dikalahkan, atau inferioritas seperti merasa lebih rendah, tapi hanya ingin menyeretku ke depan panggung.

Waktu dia meminta pertandingan satu lawan satu di festival olahraga, dia juga tak pernah berpikir akan kalah.

Tentu saja, itu apa boleh buat karena dia tidak tahu segalanya tentang aku, tapi biarpun ia melihat kekuatan penuhku dari dekat, Nagumo pasti tidak akan memiliki keraguan bahwa ia akan kalah.

Seorang pria yang tidak pernah benar-benar mengenal kekalahan. Sisi negatif dari kemenangan beruntun demi kemenangan beruntun.

“Kuharap kita bisa berhenti bertarung di sekolah ini.”

“Entahlah.”

“Kuharap tidak akan terjadi apa-apa...”

Kurasa itu tidak akan terkabul.

Di festival budaya, keadaan Nagumo yang secara tidak langsung kurasakan sangat jelas berubah.

Bagi kebanyakan orang, akan tampak hanya bahwa sisi agresif Nagumo, rasa ingin tahunya, telah ditekan.

Tetapi tidak demikian.

Ini adalah ketenangan sebelum badai.

Nagumo akan melakukan sesuatu padaku... tidak, lebih tepatnya pada orang lain selain aku setelah ini.

Mungkin tidak cukup untuk mengusir satu atau dua orang.

Harus kukatakan ini adalah konsekuensi karena sudah sangat meremehkan Nagumo.

Jika bom yang sudah sangat membengkak ini dibiarkan begitu saja, hal-hal yang baru saja kusebutkan tadi sedang menunggu.

Orang itu, Manabu pernah berkata.


[Banyak orang yang tidak senang dengan metode Nagumo]


Itu setengah benar.

Tentu saja, aku tidak bisa menyangkal bahwa aku berperan dalam faktor itu, tapi pilihan itu awalnya hanya membara dalam emosi dan pola berpikir Nagumo.

Setengahnya lagi tidak benar.

Itu adalah, para siswa yang semula tidak akan lulus sebagai Kelas A karena metode Nagumo ternyata memang mendapatkan kesempatan itu.

Tak hanya siswa tahun ketiga, siswa tahun pertama dan kedua juga mendapatkan tiket pindah kelas, meskipun secara terbatas.

Ini adalah produk yang tidak ada di era Manabu, meskipun penggunaannya terbatas.

Jika ini adalah diriku sampai tahun lalu, aku pasti hanya akan melihat dan mengabaikan tindakan Nagumo.

“Aku mulai sedikit tertarik dengan Ketua OSIS Nagumo.”

“Dengerin gak sih yang kubilang tadi?”

“Ya.”

Ketertarikan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, muncul dari dalam diriku.

“Kau ini memang aneh ya.”

Setelah menjatuhkan padangannya ke kakinya yang diperban, Asahina tertawa kecil.

“Pertemuan kalian mungkin kebetulan, tapi mungkin itulah mengapa Miyabi ingin bertarung denganmu.”

Kalau dipikir-pikir, produk [kebetulan] adalah faktor utama dalam pertemuanku dengan Asahina.

Kebetulan———ya.

Dalam percakapanku dengannya, aku membangun sebuah logika.

Kebetulan yang baru saja kusebutkan adalah hal yang tak terkendali.

Tapi itu tidak sepenuhnya di luar kendali.

Sebab, kebetulan bisa sangat berubah bentuk yang diperlihatkannya dari satu sudut pandang atau perspektif ke sudut pandang lainnya.

Asahina Nazuna dan jimatnya, keberadaan yang kebetulan dan Nagumo Miyabi.

Ini tidak buruk sebagai satu kasus uji coba.

Sebagaimana eksperimen adalah serangkaian kegagalan yang diikuti oleh keberhasilan.

Related Posts

Related Posts

4 comments

  1. "Sebagai orang yg tidak tahu apa apa tentang festival olahraga"
    Sue amat di Whiteroom ga ada yg kaya gini.
    "Aku mengabaikan para hantu"
    Anjir dicuekin dong. Coba masuk sama Ichinose (Sebelum ada masalah) atau Kei pasti enak.
    "Aku tidak menolongnya karena kupikir itu bagian dari atraksi"
    Kasian njir Nazuna.

    ReplyDelete
  2. Selesai nabung, saatnya baca santai..

    ReplyDelete