-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Bab 4 Intro Indonesia

Bab 4
Pertemuan Pada Hari Sebelum Festival Budaya


Waktu berlalu dengan cepat, Jumat 12 November. Tepat sepulang sekolah sehari sebelum festival budaya.

Semua kelas dengan serius tengah mempersiapkan kelas mereka untuk festival budaya. Hari ini sepulang sekolah adalah gladi bersih yang dipimpin oleh OSIS. Ini akan menjadi ujian penting untuk pertunjukan besok.

Semua anggota kelasku, kecuali beberapa orang, mulai bergerak serempak untuk memulai persiapan.

Ada total empat kreasi di kelas Horikita.

Yang pertama adalah maid café yang terkenal, di mana penjualan utamanya adalah minuman seperti teh dan kopi. Kemudian berfoto dengan para maid. Berfoto ini khususnya lebih hemat waktu dan memiliki patokan harga yang lebih tinggi, jadi jika ada banyak orang yang tertarik, ini bisa menjadi sumber pendapatan yang besar.

Yang kedua dan ketiga adalah stan-stan di luar ruangan yang menjual produk berbahan dasar tepung (Takoyaki, okonomiyaki, dll), dan stan-stan yang menjual pasta dan roti gaya barat.

Stan-stan ini menghasilkan penjualan tersendiri dan juga menerima pesanan di maid café. Jika ada pesanan, para siswa yang bertindak sebagai pengangkut pergi ke stan-stan untuk mengantarkan barang.

Untuk memaksimalkan orisinalitas maid café, menu makanan terbatas juga tersedia, yang merupakan sedikit modifikasi dari menu yang ada yang dijual di stan.

Dan yang keempat dan terakhir adalah kompetisi kuis luar ruangan untuk anak-anak, yang ditambahkan mendadak dengan anggaran tambahan.

“Hasebe-san dan yang lain, tidak apa-apa dibiarin pergi?”

Kata Maezono melihat punggung Haruka, Akito dan yang lainnya, yang baru saja meninggalkan ruang kelas.

“Tidak ada gunanya memaksa mereka. Mari kita anggap ini kesempatan bagus untuk menguji apakah 35 orang, tidak termasuk Kōenji-kun dan 2 lainnya, Hasebe-san dan Miyake-kun, bisa bekerja tanpa masalah.”

Akan tetapi, bukan hanya mereka bertiga yang tidak menunjukkan sikap kooperatif.

Selama beberapa minggu terakhir, Kushida hampir tidak pernah berucap soal kreasi untuk festival budaya, dan langsung pulang tanpa membantu sepulang sekolah.

Ia tahu bahwa ia akan bertugas melayani pelanggan sebagai maid pada hari acara, dan dia juga beberapa kali telah memberi Horikita ide. Meskipun elemen kecil, beberapa di antaranya bahkan telah diterima.

Namun, dia tidak ikut serta dalam latihan apa pun agar para maid tetap selaras.

“Aku ingin melakukan pengecekan akhir untuk acara besok, dan juga melatih gerakan kita untuk hari itu... apakah kamu ada waktu hari ini?”

Mengumpulkan sedikit keberanian sambil berusaha sebisa mungkin agar dia tidak menyadari ketakutannya, Satō memanggilnya.

Kushida yang baru bangkit dari tempat duduknya, berhenti dan memutar badan di tempat.

“Maaf ya, Satō-san. Aku ada keperluan yang benar-benar tidak bisa aku lewatkan sepulang sekolah.”

Kalimat itu, sebenarnya hari ini bukan pertama kalinya dia gunakan.

“Dengar ya, kau terus menolakku seperti itu... kau ini serius tidak ingin membantu?”

Horikita hendak bangkit dari tempat duduknya karena suasana semakin memanas, tapi Yōsuke yang berdiri di sampingnya, menghentikannya seolah-olah dia telah memperkirakan hal itu.

Tidak jelas mana yang benar. Tetapi tidak mungkin membuat kelas yang kondusif jika ia mencampuri segala sesuatu. Kadang-kadang pihak-pihak yang terlibat harus mencari solusinya sendiri.

Dapat dikatakan bahwa perilaku ini di luar karakter Yōsuke, yang biasanya lebih peduli dan lebih sering ikut campur daripada orang lain....

Mungkin karena dia merasa bahwa menunjukkan perlakuan khusus Kushida yang tidak perlu oleh Horikita kepada teman-teman sekelasnya adalah ide yang buruk. Tentu saja, Horikita juga mengerti itu.

Dia mengerti itu, tapi dia juga merasakan dilema karena dia tidak bisa membiarkannya begitu saja.

“Jangan khawatir, aku sudah tahu harus melakukan apa besok, dan aku tidak akan menjadi beban.”

“Tapi Kushida-san, kamu belum berlatih sedikit pun, bukan? Tidak sangat, tapi aku tak bisa mempercayakan peran penting untuk menjadi maid padamu.”

Hari ini adalah gladi bersih, tempat terbaik untuk berlatih.

Selama ini, Satō mentolerir ketidakikutserataannya, tapi tampaknya baru hari ini dia tidak bisa menyerah.

Akan tetapi, Kushida juga sama, dia tidak nampak akan setuju.

“Kalau begitu, kenapa aku tidak diganti saja? Meski kurasa tidak ada kandidat lain yang layak sih.”

Itu adalah pernyataan tanpa belas kasihan, tapi dia benar.

Biarpun kita hanya ambil penampilan Kushida saja, para siswa yang saat ini tidak bertugas menjadi maid tidak dapat menggantikannya.

“Sampai jumpa di festival budaya besok. Bye bye.”

Nada suaranya sama seperti Kushida yang lembut seperti biasanya, tapi perilakunya bisa dianggap dingin. Ia menolak ajakan Satō sampai akhir dan meninggalkan ruang kelas.

Apakah dia tidak ingin menghabiskan waktu yang sama dengan teman sekelas yang mengetahui sifat aslinya?

Atau apakah dia memang ada keperluan yang benar-benar tidak bisa dia lewatkan?

Jelas sekali suasana di ruang kelas telah memburuk, tapi apa boleh buat.

“Hei Horikita-san. Besok sudah kita tampil, dan aku masih berpikir Kushida-san harus diganti...”

Karena tidak tega melihat Satō tampak sedih dan frustrasi, Matsushita berbicara langsung dengan Horikita.

“Aku tahu apa maksudmu. Tetapi aku tidak berniat untuk menggantinya saat ini.”

“Tapi dia setiap hari bilang ada keperluan, itu jelas sekali bohong, ‘kan?”

Dia benar, perilaku Kushida belakangan ini memang ada kesan yang mengganjal. Dia telah menjauhkan diri dari banyak orang sejak ujian khusus suara bulat itu tidak bisa dihindari, tapi meskipun demikian, sikap tidak kooperatifnya sangat terlihat.

“Bisa jadi. Aku juga tidak tahu alasan kenapa dia tidak mengikuti latihan.”

“Makanya———”

“Tapi jangan khawatir. Dia memikirkan festival budaya dan maid café dengan caranya sendiri.”

“Jadi kau percaya pada Kushida-san.”

“Yah, bisa dibilang kalau semuanya dimulai dengan mempercayainya sih... iya, ‘kan?”

Meski tampak tidak puas, Matsushita mengangguk dan kemudian pergi menghibur Satō.

Mungkin karena dia salah satu anggota pendiri, kali ini Matsushita juga melakukan banyak pekerjaan.

Meskipun ketidakikutsertaan Kushida dalam latihan jelas menimbulkan kecemasan, ekspresi Horikita tidak menunjukkan tanda-tanda kegelisahan. Sebaliknya, dia tampak menunjukkan kepercayaan diri yang dilandasi oleh sesuatu.

Mungkin itulah sebabnya Matsushita juga bertaruh pada itu dan menarik argumennya.

Karena mereka tampaknya tidak meminta bantuan, maka aku akan mengawasinya saja.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment