-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 7 Bab 4 Part 3 Indonesia

Bab 4
Pertemuan Pada Hari Sebelum Festival Budaya


3


Beberapa kelas tahun pertama dan tahun ketiga telah mendirikan sejumlah kreasi yang menyerupai stan festival. Elemen teknisnya termasuk menembak sasaran, lempar cincin, atau menjatuhkan kelereng di atas meja buatan tangan dan menerima hadiah yang tertulis di ujung pendaratannya. Kumpulan kreasi-kreasi serupa menciptakan pemandangan yang terlihat seperti festival.

“Ah, itu Yukimura-kun dkk.”

Dari arah yang pertama ditunjuk Kei, aku melihat anak laki-laki seperti Keisei dan Sotomura sedang sibuk menyiapkan stan. Mungkin karena mereka telah berlatih membuat makanan di asrama atau tempat lain, mereka tampaknya melakukan pekerjaan yang cukup baik. Lebih baik kami tidak mengganggu mereka dengan mengajak bicara yang tidak perlu.

“Mau nyoba lempar cincin?”

“Mau! Ah, boneka binatang itu agak imut. Pengen deh aku.”

Dari belakang siswa yang mencobanya lebih dulu, Kei meninggikan suaranya dan menunjuk.

Pada hadiah beruang warna-warni yang menggemaskan.

Namun sayangnya, stan lempar cincin ini adalah demonstrasi. Sekalipun berhasil melemparkan cincin, kami tidak akan menerima hadiah apa pun. Meskipun anggarannya berasal dari OSIS, jumlah hadiahnya terbatas.

Mungkin alasannya jika siswa membawanya pulang hari ini, akan sulit untuk mengisi kembali hadiah-hadiah tersebut.

Sementara itu, kreasi menembak sasaran yang ditawarkan oleh kelas B tahun pertama di seberangnya, tampaknya berhadiah camilan, dan mereka memastikan bahwa kami akan menerima hadiahnya jika kami benar-benar berhasil menjatuhkan sasaran.

Hadiah yang bisa didapatkan dari yang termurah 10 poin dan sekitar 200 poin yang paling mahal.

Dalam praktiknya, mungkin akan ada lebih dari sekadar camilan, tapi ini sudah cukup untuk membuat tesnya tidak berbeda dari yang sesungguhnya.

“Kamu coba dong, Kiyotaka.”

Aku diminta untuk mencobanya, dan pungungguku dengan ringan didorong hingga ke depan meja di mana lima senjata tembak ditempatkan berjajar.

Karena aku memang tertarik dengan ide permainan menembak sasaran, jadi aku mau mencobanya.

Lima peluru diberikan setiap permainan.

Rupanya ini adalah jenis mainan yang diisi dengan gabus dan ditembakkan, yang disebut pistol gabus.

Masing-masing senjata yang dijajarkan terlihat lebih berat dari yang diperkirakan.

Namun bentuk pelurunya bengkok, aku ragu peluru tersebut dapat ditembakkan dengan presisi.

Aku tidak pernah memegang pistol sejak aku lahir hingga hari ini.

Perasaan aku punya gambaran dari film dan drama, tapi tidak jelas apakah itu benar-benar tepat.

Karena kebetulan tidak ada siswa lain yang bermain, aku pun tidak bisa melihat contohnya.

Apa boleh buat, di sini aku akan ambil pistol yang diletakkan di tengah-tengah dan membidik persis seperti yang kubayangkan.

“Incar yang paling mahal ya.”

Untuk menjatuhkan bungkusan camilan yang paling mahal, aku harus menembak jatuh yang paling berat.

Aku tidak tahu seberapa kuat daya tembaknya....

Aku akan mencobanya dulu. Aku menembakan tembakan pertama diiringi dengan sorakan melengking dari Kei.

Dengan letupan ringan, peluru gabus ditembakkan dan mendekati bungkusan yang kuincar.

Namun, peluru itu melintas beberapa sentimeter di sebelah kirinya begitu saja.

Bidikan mataku semestinya tepat mengenai sasaran, tapi lintasannya benar-benar berubah arah.

Maka berikutnya aku akan menggeser moncongnya beberapa sentimeter ke kanan dan kutempakan tembakan kedua.

Kupikir sekarang aku sudah mengoreksi lintasannya dengan sempurna, tapi kali ini peluru itu melintas secara diagonal ke kanan dan meleset.

“Susah juga...”

Ketika peluru ketiga aku masukan, siswa-siswa lain mulai ikut bermain satu per satu.

Aku memutuskan untuk mengamati siswa lain dan mencoba untuk lebih memperbaiki lintasanku. Namun, para siswa yang menembakkan pistol sama sepertiku, mereka kesulitan dalam membidik sasaran. Sementara itu, hanya peluru yang ditembakkan oleh seorang siswa yang mengenai bungkusan dari tembakan pertama. Itu tidak terjatuh, tapi berhasil mendorongnya ke belakang. Aku terus mengamati untuk melihat apakah ada trik untuk itu, dan ternyata itu bukan karena keterampilan, tapi karena setiap pistol, yang tampak sama, memiliki kinerja individual yang berbeda.

Perbedaan milimeter dalam proses pembuatan dan kualitas gabus peluru itu sendiri.

Berbagai hal berpadu untuk menciptakan lintasan yang tidak terduga pada setiap bidikan.

Ini adalah mainan yang sangat menarik, tapi pada saat yang sama aku juga memahami kesulitan untuk mengenai dan menjatuhkan target.

Hasilnya, hanya tembakan terakhir yang mengenai bungkusan yang awalnya aku bidik, tapi itu tidak dapat mudah dijatuhkan dan permainan menembak sasaran pertamaku berakhir dengan kegagalan total. Akan tetapi, aku mulai memahami kecenderungan pistol itu sendiri.

Sekarang aku tinggal mencoba lagi, menggunakan bentuk gabus untuk memprediksi lintasan peluru ketika ditembakkan———

Pikirku begitu, tapi aku melihat kertas yang tempel bertuliskan [Hari ini hanya satu tantangan per orang] dan aku pun menyerah.

“Ha. Bahkan Ayanokōji-paisen yang hebat, ternyata bukan penembak yang handal, ya?”

Ketika kuletakkan kembali pistolnya, Hōsen keluar dari balik stan sambil tertawa seperti sedang melihat sesuatu yang lucu.

Kreasi kelas D tahun pertama Hōsen, fokus utamanya adalah mengkhususkan pada [permainan].

“Mengejutkan. Aku tidak pernah mengira kau akan membuat kreasi seperti ini.”

Permainan di mana orang dewasa kembali ke masa kanak-kanak mereka dan terlarut dalam hadiah kecil dari menembak sasaran atau melempar cincin.

“Sewaktu masih kecil, aku biasa berbaur dengan orang dewasa di stan-stan seperti ini dan menghasilkan banyak uang.”

Masa kecil macam apa itu....

(Tln: Kau tidak pantas mengomentari masa kecil orang lain)

“Aku ingin membuat tempat judi yang lebih spesifik, tapi sayangnya itu ditolak oleh sekolah yang terlalu ketat. Tapi menembak sasaran atau apalah, itu sama dengan perjudian. Perjudian semacam ini dirancang agar bandar selalu menang. Ini adalah festival budaya satu kali, jadi mereka tidak akan tahu kalau mereka telah ditipu.”

Dia mengeluarkan korek api dan menaruhnya di rak, kemudian berjalan ke sisiku dan mengambil pistol kedua dari ujung kiri.

Peluru yang ditembakkan dari pistol tembak sasaran yang dia bidikan terbang lebih lurus daripada yang kubayangkan, mengenai korek api.

Meskipun bergoyang, namun tidak ada tanda-tanda akan terjatuh.

“Selama mereka tidak mengambil hadiah terbatas, tidak ada masalah.”

“Tapi kalau begitu, bukankah pelanggan tidak akan bertahan lama?”

“Kami hanya perlu menambahkan nilai pada hadiah partisipasi yang setipis kertas dan membagikannya ke semua orang.”

Jika hadiah partisipasi tidak menarik, orang dewasa mungkin akan menghindarnya....

Hōsen tampaknya punya rencana. Apa yang terlihat seperti hadiah partisipasi tersingkap dari keranjang.

Foto sejumlah besar siswa laki-laki atau perempuan, telah disiapkan dengan menggunakan mesin cetak, itu semua dilaminasi dan hadiah buatan tangan disiapkan dalam berbagai pola.

“Sebagai kenangan bahwa pernah ikut meramaikan festival budaya, bagi orang dewasa, ini adalah cara yang bagus untuk membuktikannya.”

Banyak politisi juga ikut serta dalam festival budaya ini, itu berarti beberapa orang akan mengkomunikasikan keikutsertaan mereka dalam festival budaya ini sebagai kegiatan amal atau kegiatan komunitas. Mengumumkan bahwa mereka telah diberikan foto para siswa juga akan membantu menciptakan kesan positif. Terkejut dengan Hōsen yang memikirkannya semua itu, aku pun berpisah darinya dan kembali ke tempat Kei yang sedang menungguku.

“Aku tidak bisa.”

Laporku padanya, Kei menyeringai dan menyodok perutku dengan sikunya, terlihat senang.

“Aku tidak dapat hadiahnya, tapi kamu kok kelihatan seneng banget.”

“Habis aku bisa lihat sisi imut Kiyotaka. Jadi buatku mah aku sudah sangat puas.”

“Apa itu, sisi imutku?”

Itu adalah waktu dimana tidak ada yang baik sama sekali tentangku.

(Tln: Perasaanku aja atau Kiyotaka ini emng tumpul banget tiap kali nanggepin pemikiran Kei. Beda kalau dia sedang nganalisis orang lain, yang selalu tepat)

“Aku senang karena untuk yang satu ini gak jadi kek di manga-manga yang sekali coba langsung berhasil. Ini membuatku menyadari kalau kamu tidak bisa melakukan segalanya.”

Itu memang benar. Pendekatanku didasarkan pada pengalaman. Kecuali ada pengalaman di masa lalu yang bisa aku manfaatkan, entah itu mainan atau apa, tidak mungkin aku akan berhasil dengan baik di permainan menembak sasaran pertamaku.

“Jadi itu yang kau maksud imut? Aku merasa orang-orang biasanya ingin pacarnya terlihat keren.”

“Kamu udah cukup nunjukin hal itu.”

Dia tidak menyalahkanku, sebaliknya, perasaan Kei tampaknya telah mendapatkan kesenangan karena aku tidak mendapatkan hadiahnya.

Saat kami berkeliling untuk melihat apakah ada kreasi menarik lainnya, aku melihat Ishizaki.

“Yō Ayanokōji!”

“Kelihatannya seperti kreasi yang sungguh tidak biasa.”

“Iya, ‘kan? Kreasi ini adalah ideku dan Albert loh.”

“Heeh, kok bisa bawahan sepertimu dapat izin dari Ryūen? Padahal kau bahkan gak bisa nyiapin pesta ulang tahun?”

Kei menatap Ishizaki dengan curiga.

“Uh... aku ingin mewujudkannya.... Aku membuat permintaan yang sama seperti yang kamu suruh katakan, dan yang kudapatkan malah tendangan...”

Mungkin mengingat kejadian saat itu, dia menekan perutnya. Secara kebetulan, 20 Oktober adalah ulang tahunku dan Ryūen. Ishizaki merencanakan pesta ulang tahun double.

Namun untuk mewujudkannya, dia harus membujuk Kei, yang syaratnya adalah Ryūen harus meminta maaf secara langsung atas tindakannya di atap dan bersujud padanya. Tentu saja, Ryūen tidak menerima syarat berat dari Kei.

“Tapi aku akan membalas dendam tahun depan! Kau tunggu saja ya!”

“Gak ada yang mau nungguin.... Jadi, kreasi macam apa ini?”

“Kau tertarik? Pasti tertark, ‘kan? Sip, kalian harus mencobanya.”

Yang disediakan hanyalah meja dan kardus.

Adanya sumpit dan cangkir sekali pakai memberi kesan makan dan minum, tapi benarkah itu....

“Apa ini?”

“Tunggu saja sampai kau melihatnya.”

Katanya, kemudian Ishizaki menyuruh Albert untuk mengeluarkan peralatan dari kardus.

Itu adalah sekantong protein dan sekantong asam sitrat.

Keduanya biasa dikonsumsi oleh orang-orang yang sedang melakukan latihan otot dan kegiatan lainnya.

“Ini adalah protein rasa cokelat, yah, jilat saja sedikit buat nyobain rasanya.”

Dua cangkir kertas yang ukurannya setegukan kecil diisi dengan protein rasa cokelat oleh Ishizaki.

“Gak mau.”

Kei menolak untuk meminumnya segera setelah itu disajikan.

“Ja-Jangan seperti itu. Ini hanya protein, loh?”

“Aku tidak pernah minum protein dan aku juga tidak mau meminumnya. Aku gak mau jadi berotot tahuu?”

Albert maju selangkah dan menggumamkan bahasa Inggris.

“You can't build muscle just by drinking protein shakes.”

(Tln: Kau tidak bisa membentuk otot hanya dengan minum protein shake)

“Eh? Apa?”

“Jangan khawatir soal itu. Kau tak bisa membentuk otot hanya dengan minum protein. Itulah yang ia katakan. Mumpung sudah di sini, kenapa kalian berdua tidak mencobanya?”

Sejujurnya, aku sedikit tertarik untuk mencoba apa yang dikerjakan oleh Ishizaki.

Aku yang memimpin, mengambil cangkir kertas dan meminum proteinnya.

Produsennya mungkin berbeda dari yang biasa aku minum, tapi rasanya agak mirip dengan masa lalu.

“Yah, kalau begitu aku akan coba meminumnya... gak enak.”

Di sisi lain, Kei yang minum protein untuk pertama kalinya, mengerutkan kening karena rasanya tidak enak.

“Tidak enak, ya? Yah, tapi itu masih bisa diminum, bukan?”

“Memang masih bisa diminum, tapi mungkin aku gak terlalu ingin meminumnya.”

“Kalau begitu, aku minta pembersih mulut.”

Kami diberi air putih, mungkin untuk mencuci mulut sekali.

Pada saat kami selesai meminumnya, persiapan Ishizaki selanjutnya sedang dikerjakan.

“Selanjutnya ini.”

Katanya, kali ini dia menyiapkan minuman asam sitrat di cangkir kertas yang berbeda.

“Yah, ini asam sitrat, sih.”

“Kurasa aku lebih suka yang ini.”

Kami berdua menggumamkan kesan kami setelah meminum asam sitrat.

“Kalau gitu, yang terakhir. 2 minuman yang barusan kamu minum rasanya tidak terlalu buruk, bukan?”

“Aku tidak suka proteinnya.”

“Kamu sudahlah, Karuizawa. Bagaimana denganmu, Ayanokōji?”

“Yah, itu tidak buruk sama sekali.”

Mendengar itu, Ishizaki tertawa senang.

“Tapi tahu gak. Bila kau menambahkan asam sitrat ke protein rasa cokelat ini, kau akan mendapatkan rasa yang sangat aneh, loh.”

Kami diberi protein campuran dan mendekatkannya ke mulut kami. Karena baik konsumsi protein maupun konsumsi asam sitrat bukanlah hal yang buruk, tapi ini seperti membunuh dua burung dengan satu batu....

“Nah, silahkan kalian berdua minum bersamaan.”

“Aku agak takut.”

“Yah, kita coba minum saja.”

Kami memiringkan cangkir kertas kami bersamaan dan menuangkannya ke dalam tenggorokan kami.

Tetapi saat aku memasukkannya ke dalam mulutku, tanpa sadar aku menegang karena rasa yang menyebar dari permukaan lidahku.

“Ubya!?”

Kei menjerit di sampingku dan spontan meludah di tempat.

Setelah itu, dia membuat gerakan meludah yang intens sambil menggeliat.

“Ini, itu, rasanya seperti itu! Ueeee!”

Aku juga ingat rasanya. Selama pelatihan seni bela diri, ketika tinju yang kuat dihantamkan ke perutku, hal itu menyebabkan asam lambung naik dari perutku dan membalikkan makanan yang kucerna.

Bau dan rasa menyebar di mulut. Hampir mendekati itu.

“Wahahaha! Lihat! Lucu, ‘kan!”

“Ini tidak lucu! Air!!”

Mendorong Ishizaki yang tertawa terbahak-bahak, Kei minum air langsung dari botol plastik.

“...Ini, gimana bilangnya ya, memang sangat aneh.”

“Bahkan Ayanokōji pun sedikit terkejut.”

Jauh dari kata enak, jujur rasanya tidak seperti makanan soalnya.

Ketegangan menurun dengan cepat.

“Besok aku ingin mengejutkan para pelanggan. Aku akan menawari mereka pengalaman yang sangat aneh untuk 500 poin per minuman.”

“...Kok bisa Ryūen mengizinkan kreasi ini.”

Aku lebih terkejut dengan hal itu.

“Dia bilang, lakukan apa yang kau inginkan dengan poinmu. Di sini, kami akan membuat kreasi lain besok.”

Begitu ya. Jadi dia menyewa ruang tambahan, dari ruang yang mereka sewa untuk kelas mereka, dan biarkan Ishizaki saja yang mengurusnya. Kalau seperti itu pengeluarannya minimal dan, yah, tidak heran jika 10 atau lebih tamu penasaran ingin mencobanya.

“Uh, kencan yang menyenangkan berubah menjadi bencana...”

Setelah itu, sampai kami meninggalkan tempat ini, Kei hanya terus menatap Ishizaki dengan tatapan kesal.

Mungkin hubungan yang tampaknya sudah sedikit membaik, kembali ke titik awal.

Setelah menyelesaikan pengintaian sambil benar-benar menikmati beberapa kreasi ini dan itu, aku dan Kei kembali ke maid café. Ruang kelas penuh dengan siswa, dan para siswa tampak senang berbicara dengan para maid sesuka hati mereka. Ketika ada siswa yang sesekali menyimpang secara moral dan terus-menerus memanggil, Sudō turun tangan, menyela secara paksa, dan meminta mereka untuk meninggalkan ruangan.

Dia berperan sebagai staff pemecah masalah, tapi dia benar-benar mendalaminya.

Kecuali jika mereka sangat kuat, entah mereka adik kelas atau kakak kelas, jika mereka melihat kegagahan Sudō, mereka tidak punya pilihan lain selain angkat kaki dengan tenang. Festival budaya tiruan selama 2 jam ini akan segera berakhir.

Aku akan diskusikan dengan Horikita apakah kami perlu melakukan perubahan akhir pada personel besok.

Sewaktu anak laki-laki seperti aku dan Sudō mulai membersihkan tempat, Onodera muncul.

“Jadi di sini juga sudah selesai. Padahal aku juga ingin lihat sedikit pakaian maid teman-teman.”

Onodera yang ditugaskan ke stan di luar ruangan, terdengar kecewa begitu ia kembali.

“Kau ingin lihat maid juga toh?”

“Gak boleh tah? Aku juga suka hal-hal yang cantik kali. Selain itu, tahu kan, aku bukan orang yang terlihat cocok dengan pakaian maid... dan kakiku juga gemuk.”

“Cocok apa tidak, kalau gak dicoba mana bisa tahu.”

“...Selain itu, kalau pakaiannya terbatas, aku tidak yakin mereka akan muat kupakai.”

Jawab Onodera dengan senyum kecut bahwa hal itu mustahil baginya. Karena menekuni renang, Onodera memiliki tubuh yang terlatih dengan baik, termasuk bahu dan kaki yang lebih berkembang daripada kebanyakan gadis. Seandainya kami menyiapkan pakaian maid yang sesuai dengan ukuran tubuhnya, pasti akan dikhususkan untuk Onodera. Sudō berjongkok dan menatap lebih dekat ke paha Onodera.

“He-Hei, Sudō-kun!?”

“Kaki-kaki ini bagus untuk seorang atlet yang terlatih sih. Yah, memang rasanya agak berbeda dari kaki untuk seorang maid...”

Di meletakkan jarinya di dagu dan mengatakan apa yang dia pikirkan.

“Aku malu tahu!”

Onodera tersipu dan berlari keluar kelas seperti seekor kelinci.

“Kenapa sih dia... gak perlu sampai lari juga kali.”

Aku menyaksikan interaksi mereka dan merasakan perubahan yang jelas pada Onodera dari dekat.

Dari festival olahraga hingga hari ini, nampaknya Onodera benar-benar telah jatuh cinta pada Sudō. Tapi, Sudō tidak terlihat menyadari hal ini, entah karena dia sudah tahu kalau Onodera menyukainya tapi dia tidak membalas perasaannya, atau mungkin dia bahkan tidak pernah menyadari perasaan itu sampai sekarang.

Akan lebih baik jika kedua anak panah itu saling berhadapan, tapi saat ini keduanya adalah satu arah.

Aku juga belum belajar banyak tentang percintaan, tapi aku tahu kalau pada dasarnya, dalam situasi seperti ini, sudah sewajarnya untuk tetap mengawasi mereka.

Namun, itulah mengapa rasa ingin tahu dalam diriku, dorongan untuk melihat hasil dari pola lain muncul. Jika aku menentang kewajaran, apakah mereka tidak lagi layak sebagai pasangan atau tidak.

“Kau tidak tahu? Kenapa Onodera bersikap seperti itu?”

“Apa sih, emang kamu tahu?”

“Perasaan yang sama yang kau miliki untuk Horikita, Onodera memilikinya untukmu.”

“Haa?”

Karena cara penyampaianku yang agak berputar-putar, Sudō tidak langsung memahaminya.

Namun Sudō tidak terlalu bodoh sekarang sampai-sampai dia tidak bisa memahami makna dari apa yang ku katakan begitu lama.

“Eh? Onodera... sama aku?”

“Ya.”

“Tidak tidak, itu tidak mungkin.”

Dia sepertinya memikirkannya dengan serius, tetapi di menyangkal bahwa itu mungkin terjadi.

Ini juga merupakan reaksi yang wajar.

Tidak ada yang bisa melihat kebenaran di dalam hati orang lain.

“Awalnya Onodera mungkin tidak tertarik padamu, tapi kau telah menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa akhir-akhir ini, Sudō. Tidak mengherankan jika dia memandangmu sebagai lawan jenis, ‘kan?”

Sedikit demi sedikit, wajah Sudō berubah muram saat ia mulai menata pikirannya sekali lagi.

“Apa itu... dia, tidak mungkin, ‘kan?”

“Tentu saja tidak ada jaminan yang pasti. Kalau kau ingin mengetahui kebenarannya, mungkin penting untuk mengamati dan memahami Onodera.”

“Tapi, kan.... Aku———”

Dia tidak perlu meneruskan kalimat itu.

Perasaan Sudō sekarang tertuju kuat pada Horikita.

Itulah sebabnya aku ingin dia menunjukkan padaku bagaimana pernyataan ikut campurku ini akan membuat perubahan.

Apakah dia akan lebih dekat dengan Horikita atau berpaling pada Onodera?

Atau apakah itu akan berubah ke pihak ketiga yang bahkan tidak terduga?

“Percuma. Aku mulai agak bingung, aku akan pergi untuk menenangkan diri sambil melihat stan-stan dulu.”

Dia harus pikirkan baik-baik untuk mendapatkan jawabannya.

“Kiyotaka-kun, tadi itu... apa keputusan tepat?”

Yōsuke yang sedang bersiap-siap di sampingku, sepertinya mendengar percakapan kami.

“Kupikir kita harus membiarkannya sendiri.”

“Iya kah? Aku masih belum benar-benar memahami soal begituan, kalau ucapanku tadi kurang bijaksana, aku merasa tidak enak sama Sudō.”

Aku meminta maaf kepada Yōsuke dengan ekspresi seperti tidak tahu apa-apa tentang hal itu.

Tidak lama kemudian, gladi bersih berakhir.

“Kerja bagus teman-teman. Itu saja untuk hari ini. Jika ada pembagian tugas ulang untuk acara besok, aku akan hubungi kalian lewat ponsel sebelum jam 9 malam.”

Setelah beres-beres dan membersihkan tempat, semua persiapan untuk besok telah selesai.

Para siswa sudah mulai pulang untuk acara besok.

Hanya dua orang yang tersisa di ruang kelas, aku dan Horikita.

“Saat kucoba untuk tetap tenang, tak peduli berapa kali aku memikirkannya, rasanya tidak benar kalau kamu jadi maid, Horikita.”

“Aku pakai ini bukan karena aku ingin memakainya, tapi lebih banyak orang lebih baik, bukan? Ini akan sedikit lebih mudah jika pacarmu mau membantu.”

“Maaf, tapi itu di luar kewenanganku. Aku serahkan itu pada kemauan Kei.”

Termasuk aku, tampaknya Satō dan yang lainnya juga sudah membujuknya, tapi Kei menolak untuk mengenakan pakaian maid.

Dia tidak bilang alasannya, tapi mungkin karena dia tidak ingin melakukan tindakan yang melibatkan berganti pakaian, bukan karena terlalu merepotkan atau dia tidak cocok untuk melayani pelanggan.

Karena tidak semua orang memahami tubuh Kei dan masa lalunya.

“Aku hanya bercanda. Ini bukan sesuatu yang bisa kamu paksakan untuk ia kenakan. Jika dia memakainya ogah-ogahan, itu tidak akan memberikan kesan yang baik untuk pelanggan besok.”

“Ini, lihatlah. Aku sudah membuat sedikit penyesuaian berdasarkan simulasi hari ini.”

Aku serahkan buku catatannya pada Horikita untuk pengecekan akhir.

“Terima kasih. Jadwal yang kamu susun tampaknya tidak ada masalah.”

Horikita mendongak dari buku catatan itu. Peserta festival budaya diwajibkan untuk istirahat selama 1 jam sebelum festival budaya berakhir setelah memberi tahu wali kelas mereka.

Selama waktu istirahat ini, dilarang untuk membantu di stan, dan para pekerja harus dikoordinasikan, terlepas dari apakah mereka sedang sibuk atau tidak.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment