-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 8 Bab 1 Part 5 Indonesia

Bab 1
Kenali musuhmu, kenali dirimu sendiri, dan kamu tidak akan takut pada seratus pertempuran


5


Lewat jam 7 malam, ketika matahari sudah benar-benar terbenam, Sudō mengunjungi kamarku.

“Maaf datang tiba-tiba tanpa ngasih kabar dulu. ... Hmf, hmf... hari ini mau makan kare ya.” 

Gumam Sudō mencium aroma makan malam yang tercium sampai ke pintu depan.

Sudō tiba-tiba melihat dua sepatu yang berjejer di pintu masuk.

“Apa ada yang datang ke sini?”

“Ya, aku baru mau nyiapin kare untuk makan malam dengan Kei.”

“Jadi Karuizawa...”

Segera setelah dia menjawab, pintu yang mengarah ke ruang tamu terbuka dan Kei yang berpakian polos keluar.

“Apa salah kalau ada aku?”

“E-Enggak salah kok. Anjirlah, apakah kalian selalu bersama...?”

Dari reaksi ini, dapat diprediksi kalau dia berkunjung karena dia pikir tidak ada orang di kamarku.

“Tentu saja kami selalu bersama. Kami kan couple.”

“Masa couple sepanjang waktu... bersama mungkin bisa juga sih.”

Sudō hendak menyangkalnya, tapi dia mengakuinya dengan ekspresi cemberut, mungkin dia membayangkan beberapa couple disekitarnya. Ike dan Shinohara, misalnya, sudah melakukan hal-hal yang mencolok akhir-akhir ini, seperti berpegangan tangan dan duduk di pangkuan pacar didepan umum.

Kayaknya hari ini juga mereka berdua bilang mau pergi ke karaoke sepulang sekolah.

“Kelihatannya kamu baru pulang dari kegiatan klub ya, Sudō.”

Sepengetahuanku ia biasanya pulang sekitar waktu ini.

“Karena aku tidak punya pacar, jadi yang kupunya hanyalah basket.”

Itu adalah... kalimat yang tidak aku tahu bagaimana harus menjawabnya.

“Nah, maaf mengganggu makan malam kalian, tapi bisa kita bicara? Gak akan makan banyak waktu kok.”

Mungkinkah itu sesuatu yang rahasia, mengingat ia sampai memeriksa sepatunya pas di awal tadi.

“Makan saja duluan.”

“E~h? Aku tungguinlah. Gak lama, ‘kan? Kamu juga bilang gak akan makan banyak waktu.”

Ketika ditanya balik, Sudō berpikir sejenak lagi, lalu menjawab bahwa itu akan memakan waktu kurang dari 5 menit, Kei pun merasa puas dan menutup pintu.

Aku memakai sepatuku dan pergi ke koridor dengan Sudō.

Tidak mungkin Kei akan membocorkan apa pun ke pihak ketiga, tapi ini mungkin membuatnya lebih tenang.

“Ayanokōji, kau... nggak, yah, gimana ya bilangnya? Kamu... sudah melakukannya dengan Karuizawa?”

Dia menanyakan hal ambigu semacam itu dengan kalimat yang tidak jelas.

“Kuserahkan itu pada imajinasimu.”

“Uh... itu, seperti kamu praktis mengatakan kalau jawabannya sudah...”

Bagaimana itu diterima, terserah pada penerimanya.

“Jadi? Apa yang ingin kamu bicarakan?”

“O-Oh, iya. Pantas saja kau populer, karena bukan tempatku untuk menanyakan hal itu.”

Menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran jahat, Sudō melihat sekelilingnya.

“Sebenarnya akhir-akhir ini, kegigihan Onodera itu. Cukup kuat, tahu? Aku jadi bingung.”

Katanya, namun tidak tampak senang... melainkan dengan tatapan bingung.

Aku bisa tahu bahwa kata-kata yang kuucapkan di Festival Budaya sangat membebani Sudō hari demi hari.

Itulah sebabnya, sebagai orang yang bertanggung jawab, aku harus menanggapi obrolan ini dengan serius. Namun demikian, aku harus mengoreksi apa yang perlu dikoreksi.

“Kau bilang kegigihan Onodera, tapi dari yang aku lihat tidak banyak yang berubah sejak Festival Olahraga. Mungkin saja kamu merasa seperti itu karena caramu memandangnya telah berubah, Sudō.”

Sedangkan Onodera, dia tidak sedikit pun berpikir Sudō telah menyadari bahwa dirinya menyukai Sudō. Di permukaan, seharusnya itu tidak lebih dari ajakan biasa kepada seorang teman untuk makan atau bermain.

“...Itu mungkin saja.”

Dia menggaruk kepalanya dan terlihat gelisah.

“Sejak kau memberitahuku soal perasaan Onodera, aku merasa gelisah, atau tidak nyaman. Bahkan ketika aku bicara dengannya, aku terus memikirkan apa yang sebenarnya dia pikirkan.”

Sudō hanya melihatnya sebagai teman baik dengan kesan dan hobi yang sama sebagai olahragawan.

Bisa dimaklumi jika itu berubah begitu ia tahu kalau Onodera mungkin menyukainya. Di sini obrolan dengan Sudō terhenti. Kemudian ada keheningan selama 10 detik.

“Jadi? Yang ingin kau bicarakan denganku? Kupikir masih ada lanjutannya.”

Aku meminta kelanjutannya, Sudō mulai bicara lagi seolah telah membulatkan tekad.

“Ketika aku bersama Onodera... muncul semacam perasaan buruk dalam diriku. Jika aku memacarinya, aku mungkin bisa mendapatkan pacar pertamaku, lagian jika Suzune tidak membalas perasaanku, itu tidak buruk juga, pikirku. Aku tidak tahu apakah itu yang disebut tidak tulus, tapi Onodera juga cukup cantik.”

Dan lagi, selain topik obrolan Sudō dan Onodera nyambung, keduanya adalah olahragawan yang tabah.

Jika hanya melihat kecocokannya saja, mereka adalah kombinasi terbaik di antara orang-orang yang kukenal.

“Tidak ada yang salah dengan pemikiran seperti itu. Lagipula, cinta terhadap lawan jenis tidak selalu terbalas. Pasti banyak juga yang bertepuk sebelah tangan.”

Meski begitu, tidak semua orang bisa menerimanya dengan lapang dada.

Sudō juga datang kesini karena galau akan hal itu.

“Mungkin... selain itu, aku juga memikirkan hal lain. Bisa jadi sejak awal anggapanmu itu salah, Ayanokōji, dan dia mungkin hanya menganggapku sebagai teman, ‘kan? Jika benar begitu, tidak ada yang lebih memalukan daripada keangkuhan ini, jadi kepalaku pusing.”

Hampir pasti Onodera menyukai Sudō.

Namun, tentu tidak ada yang bisa menjamin bahwa itulah yang benar-benar dia rasakan.

Anak panah yang mengarah ke hari esok, bisa saja mengarah ke orang lain di suatu tempat.

“Kau juga pasti galau banget, ‘kan? Karuizawa kan dulu pacaran dengan Hirata.”

“Yah, begitulah.”

Kenyataannya benar-benar berbeda, tapi aku akan menuntunnya ke arah situ untuk saat ini.

“Jika, seandainya Onodera mengaku padaku———itulah yang aku takutkan.”

“Kalau dia mengaku sekarang, apa jawabanmu?”

“...Entahlah.... Bukan, itu... salah. Mungkin aku tidak akan menerima pengakuan itu.”

Jawab Sudō, membuang sendiri kesempatan untuk meraih kebahagiaan.

“Aku belum berubah. Aku masih menyukai Suzune.”

Itulah jawaban tunggal pasti yang dimiliki Sudō saat ini.

“Hanya dengan membayangkan dia terluka karena kutolak, membuatku menderita.”

“Jadi kamu datang ke sini karena kamu tidak tahu harus berbuat apa?”

“Bukan.... Aku tidak meminta nasihatmu. Karena ini tentang perasaanku, salah jika aku mencari jawabannya dari orang lain.”

Sepertinya dia datang ke tempat ini bukan untuk meminta bantuan.

“Aku sudah menemukan jawabannya sendiri. Aku hanya ingin kamu mendengarnya.”

“Biar kudengar. Seperti apa jawabannya.”

“Aku akan——benar-benar mengaku pada Suzune dalam perjalanan sekolah. Dengan serius, aku akan memintanya untuk menjadi pacarku.”

“Jadi begitu.”

Sekarang mungkin bukan lagi soal apakah itu akan diterima atau tidak.

Untuk keluar dari situasi ini, dia menyimpulkan bahwa dia yang harus bergerak.

“Aku masih menyukai Suzune, dan aku tidak bisa berpaling untuk berpacaran dengan orang lain sekarang. Apa pun hasilnya, aku ingin memperjelasnya.”

Sejauh ini, Sudō telah menunjukkan pertumbuhan yang pesat.

Horikita sendiri pasti juga sangat mengapresiasinya.

“Peluangnya mungkin rendah. Aku mungkin hanya akan mempermalukan diri sendiri. Meski begitu...”

Sudō percaya bahwa jika ia tidak mengungkapkan perasaannya, ia tidak akan bisa bergerak maju.

Itulah sebabnya dia membulatkan tekadnya.

“Jika aku ditolak, aku tidak berpikir untuk langsung memacari Onodera setelahnya, loh? Malah, itu mungkin membuatku merasa lebih enggan untuk menyerah...”

Mengatakan itu, Sudō mengepalkan tinjunya.

“Aku datang ke tempatmu hari ini karena aku ingin kamu menyaksikan tekadku ini, Ayanokōji.”

“Menyaksikan? Jangan bilang itu saat kamu akan mengaku?”

“Aku tahu pengakuan biasanya tidak diperlihatkan kepada orang luar, tapi mungkin aku membutuhkannya.”

Itu mungkin merupakan dorongan yang ia butuhkan untuk mengumpulkan keberanian.

Dengan memotong jalan mundur, dia akan bisa mengungkapkan perasaannya pada Horikita.

“Aku akan bilang maukah kau berpacaran denganku, lalu kuulurkan tanganku. Jika kamu mau menerimanya, peganglah tanganku ini...”

Katanya, lalu dia mengulurkan tangan kanannya sendiri untuk latihan.

Memang belum sampai pada tahap itu, tapi aku bisa merasakan tingginya semangat yang sudah dimasukkan ke dalam tangannya.

Di depan Horikita, dia akan menuangkan semua perasaan itu ke dalam kata-kata.

Dilihat dari tahap ini, peluang keberhasilan tidak terlalu tinggi.

Tapi——atau———dia hanya berpikir begitu, aku bisa tahu ini dari kekuatan, antusiasme, dan tekadnya.

Yang kita bicarakan ini Horikita, dia mungkin tidak akan menjawab untuk langsung menjadi pacarnya.

Meski begitu, jawaban awal dimulai dengan menjadi teman masih sangat mungkin.

“Baiklah. Kupikir itu tergantung waktu dan tempat, tapi aku akan mengawasimu sebisa mungkin. Itu cukup, ‘kan?”

Mendengar ini, Sudō merasa tenang dan mengelus dadanya karena lega.

“Oo, maaf ya. Memintamu untuk melakukan ini. Oke, jadi itu saja... nanti kuhubungin. Aku minta maaf karena mengganggu waktumu dengan Karuizawa.”

Karena tidak mau menyita waktuku lebih lama lagi, Sudō kembali ke kamarnya.

Setelah melihat kepergiannya, aku pun kembali ke kamarku, di sana Kei sedang duduk di atas bantal di depan meja.

Sepertinya dia menunggu dan belum menyajikan karenya.

“Met datang kembali~. Kalian ngomongin apa?”

“Banyak hal.”

“Banyak haal? Bikin penasaran, kasih tahu siih. Aku akan merahasiakannya.”

“Aku bisa kasih tahu, tapi pertama-tama kamu harus berdiri sebentar.”

“Hm?”

Kei yang memiringkan kepalanya karena penasaran berdiri setelah kuminta, dan aku menyentuh permukaan bantal dengan tanganku.

Ketika kuraba itu terasa dingin.

“Sudah kuduga kamu nguping.”

“...Lah ketahuan?

Kalau dia hanya duduk menunggu, bantalnya pasti hangat.

“Aktingku buruk ya?”

“Aktingmu sempurna. Hanya saja, aku menduga jika Kei pasti akan menguping.”

“Uh———jadi begitu.”

“Dan kalau kamu mau menipuku, setidaknya jangan sampai langsung ketahuan dari bantalnya. Kamu bisa ke kulkas untuk mengambil minuman tepat saat aku masuk, misalnya. Selain air, bahkan ada susu dan teh juga di sana.”

“Eeh~? Tapi kan belum makan kare, apa gak malah aneh? Di gelas juga sudah ada air minum. Kiyotaka juga pasti akan meriksa kulkas untuk melihat berapa banyak yang tersisa.”

“Jika kamu mau menguping tanpa ketahuan, semua itu diperlukan. Air minumnya tinggal diminum, dan kalau kamu sudah tidak kuat minum, siram saja ke dapur. Toh dapurnya juga sudah tergenang karena proses masak.”

Kalaupun dia menyiramkannya, tidak mungkin untuk bisa membedakannya.

Jika dapurnya tidak basah, dia juga bisa memakai toilet.

“Da-Daripada itu, oh iya, mending kita ngomongin perjalanan sekolah.”

Kata Kei sambil mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mengalihkan topik tersebut.

Tidak ada gunanya melanjutkan topik tadi lebih jauh, jadi aku ikuti saja kemauannya.

“Kei sendiri, apa pendapatmu tentang jadwal perjalanan sekolah? Banyaknya aktivitas bebas jadi topik pembicaraan di kelas, ‘kan?”

“Kayaknya begitu. Tapi buatku ini seperti kerugian. Habisnya kita hanya boleh menghabiskan waktu dengan orang-orang dari grup yang sama, bukan? Kemungkinan bareng Kiyotaka sepertinya juga rendah. Iya, ‘kan?”

Kemungkinannya sekitar 5%. Namun, ini hanya jika ditentukan oleh murni probabilitas saja.

“Ya Allah, kumohon persatukan kami!”

Kei menyilangkan jari-jari kedua tangannya untuk memohon pada yang kuasa.

“Meskipun kita tidak bisa bersama untuk aktivitas bebas, tidak ada batasan selama kita tinggal di ryokan. Malahan, aku melihatnya sebagai peluang bagus untuk mengenal kelas-kelas lainnya dengan lebih baik.”

Jika aku segrup dengan Kei, tentu saja kami akan menghabiskan waktu bersama sepanjang hari.

Aku tidak bilang itu adalah momen yang buruk, tapi rasanya agak sia-sia.

Kami bisa menghabiskan waktu bersama kapan pun kami mau seperti halnya yang kami lakukan sekarang.

“Kok, rasanya kamu kek gak mau segrup denganku.”

“Mana ada. Cuma, lebih baik kamu menetapkan hati untuk menikmatinya, meskipun kita tidak satu grup.”

Kei mungkin mengerti itu dalam benaknya, tapi dia tampaknya tidak bisa menerimanya dengan ikhlas.

“Habisnya...”

Dia menggembungkan pipinya ngambek dan memeluk bahuku.

“Tanpa Kiyotaka, aku mungkin akan mati kesepian.”

“Itu berlebihan.”

“Tapi tapi~...”

Di sinilah sedikit kecerdikanku mungkin diperlukan untuk memotivasi Kei.

“Ada alasan kenapa kupikir bagus juga jika aku dan Kei berada dalam grup yang terpisah. Kita sampai pada tahap di mana kita membutuhkan informasi tentang setiap kelas untuk naik ke kelas A. Banyak siswa juga tidak terlindungi selama perjalanan sekolah.”

(Tln: tidak terlindungi = defenceless/mudah dikorek informasinya)

Kepada Kei yang tidak puas, aku melanjutkan.

“Setelah mendengar tentang jadwal dan grup perjalanan sekolah, aku sedikit melakukan pencarian di internet tentang sekolah lain. Ternyata aktivitas bebas selama hampir 2 hari penuh adalah contoh yang cukup langka. Mempertimbangkan hal ini, aku berpikir bahwa tujuan sekolah adalah untuk membuat perubahan dalam hubungan kita dengan kelas lain selagi sempat.”

“Buat apa?”

“Aku masih belum tahu itu, tapi bisa jadi pada akhir semester kedua, atau akhir semester ketiga. Pokoknya, dalam waktu dekat, informasi dari perjalanan sekolah bisa sangat berguna.”

“Jadi kamu ingin aku mengumpulkan informasi yang bisa digunakan sebagai senjata?”

“Karena kemampuanmu luar biasa. Mumpung ada kesempatan, aku ingin memanfaatkannya dengan baik.”

Setelah aku mengatakan ini sambil mengelus-elus kepalanya, ketidakpuasannya sedikit mereda, meskipun belum sepenuhnya hilang.

“Y-Yaah? Aku bisa mengerti kenapa kamu mungkin ingin mengandalkanku, tapi.”

“Tentu saja jika kita satu grup, kita akan bersenang-senang. Tapi bahkan jika tidak, bersenang-senang tanpa kehilangan motivasi, dan di saat yang sama, bergunalah untuk kelas.”

“...Un. Jika Kiyotaka berkata begitu, akan kulakukan yang terbaik.”

(Tln: kalau ada un artinya anggukan, uun artinya gelengan)

Mengelus kepalanya berulang kali, aku putuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan.

“Soal Sudō tadi———”

“Ah, soal Sudō-kun yang mau mengaku ke Horikita-san, ya? Un, aku mungkin sedikit tertarik dengan itu.”

Aku tidak yakin dia akan menggigitnya, tapi ternyata dia lebih tertarik daripada yang kukira.

“Gadis-gadis sepertinya menyukai cerita pengakuan orang lain ya.”

“Ya jelas dong. Yah, aku yakin dia akan ditolak.”

“Benarkah?”

“Eh? Apa Kiyotaka pikir dia akan diterima?”

“Aku merasa ada kemungkinan. Kalau dimulai lebih dari sekedar terman sudah dapat dianggap sukses, aku akan bertaruh pada sukses.”

“Buset, serius? Kalau begitu ayo taruhan denganku. Kita taruhan apakah dia akan sukses atau gagal.”

“Apa yang mau kamu pertaruhkan?”

“Hmm~. Kalau begitu, jika aku menang, aku akan minta hadiah Natal yang sedikit lebih mahal kali~.”

Katanya, dan dia sudah mulai mengkhayalkan ini dan itu.

“Mudah ditebak. Lalu bagaimana jika aku yang menang?”

“Aku akan menuruti apa pun yang kamu katakan.”

“Kamu yakin? Taruhanmu sebesar itu.”

“Habisnya itu jelas mustahil. Bukan soal Sudō-kun itu baik atau buruk, tapi yang kita bicarakan ini Horikita-san. Dia pasti tidak tertarik dengan cinta.”

“Aku tidak yakin.”

Memang, sekilas tidak ada indikasi bahwa Horikita sedang jatuh cinta.

Apalagi jika aku ditanya apakah dia menyukai orang tertentu saat ini, itu akan menjadi pertanyaan besar.

Tapi, bagaimana kita bisa yakin bahwa pengakuan itu tidak akan berhasil karena karena dia tidak menyukai orang tersebut.

Horikita juga sedang dalam proses belajar banyak hal saat ini.

Kemungkinan bahwa dia akan melangkah ke tahap itu seperti yang kulakukan tidak bisa disangkal.

Jika orang tersbut adalah Sudō, Horikita juga tidak akan memberi kesan buruk.

“Aa~, jadi gak sabar nih buat Natal~. Enaknya minta dibeliin apa ya~?”

“Kalo gitu, aku akan pikirkan perlahan dan baik-baik, enaknya minta Kei lakuin apa ya.”

“Wah, pasti lagi mikir kotor ya!”

Itu hanya imajinasi liar Kei saja.

(Tln: Apa iya)

Related Posts

Related Posts

3 comments

  1. Kiyotaka gak ke sudo, gak ke kei bikin mikir yg enggak2 nih 😈

    ReplyDelete
  2. Sudo ini sejauh ini char dengan perkembangan terbaik kedua dari kelas D dari yg awalnya tukang marah marah dan bikin masalah jadi atlit yg bagus perkembangannya dalam akademik (Terbaik pertama ya masih Horikita. Cewek nyebelin egois jadi kooperatif walaupun sifat ego nya masih ada waktu maksa mempertahankan Kushida). Ada kemungkinan Sudo diterima tapi kecil soalnya Horikita ga pernah diceritain ada minat sama lawan jenis. Btw Kiyotaka sekarang jadi konsultan cinta anjir.

    ReplyDelete
  3. Wahh gua punya feeling kalo nanti kiyotaka yang menang taruhan dan dia minta putus sama kei.. Tapi semoga gak kejadian sih😌

    ReplyDelete