-->

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 8 Bab 4 Intro Indonesia

Bab 4
Perjalanan Sekolah Hari Ke-3


Bus berangkat dari ryokan jam 9 pagi, menempuh perjalanan kurang dari 50 menit.

Bus berhenti di dekat Stasiun Sapporo, dan sampai di tujuan awal untuk kegiatan hari ini.

Di sini juga terdapat Menara Jam Sapporo, dan di daerah ini terdapat banyak tempat menarik yang ideal untuk berwisata.

Hari ini, seperti biasa, kami beraktivitas dalam grup, tapi ada satu perbedaan dari kemarin.

Ujian kecil yang diberlakukan oleh sekolah. Dari 15 destinasi yang telah ditentukan sebelumnya dalam batas waktu (hingga jam 5 sore), para siswa harus mengunjungi total 4 tempat dalam kombinasi apa pun.

Dengan mencapai lokasi foto yang ditentukan untuk setiap tempat, dan mengambil foto kenang-kenangan bersama seluruh anggota grup, maka mereka akan dianggap telah mengunjungi satu lokasi. Intinya adalah mengulangi proses ini.

Aturan ini dibuat agar grup yang dengan sengaja memisahkan anggotanya untuk mengumpulkan poin dengan cara yang tidak lazim, atau grup dengan siswa yang tidak bisa berkeliling bersama dan bertindak egois, tidak akan bisa menyelsaikan ujian ini.

Kondisi diskualifikasi hanya jika grup mengunjungi kurang dari 6 tempat dalam batas waktu yang diberikan. Saat itu terjadi, aktivitas bebas hari keempat perjalanan sekolah akan dihapus dan sesi belajar akan diadakan di ryokan sampai jam 4 sore.

Setiap spot juga memiliki skornya tersendiri, dan grup yang mendapatkan total 20 poin atau lebih di 6 spot akan dihadiahi 30.000 poin pribadi untuk semua orang. Namun karena besar kecilnya skor tidak mempengaruhi diskualifikasi, terserah grup untuk memutuskan apakah akan mengincar hadiah atau tidak.

Selain itu, apabila fotonya tidak jelas dan orangnya tidak dapat diidentifikasi, maka itu tidak akan dihitung. Terlepas dari apakah grup akan mengincar hadiah atau tidak, jika para siswa ingin menikmati aktivitas bebas esok hari sepenuhnya, mereka harus serius dan bekerja sama untuk mengunjungi spot-spot tersebut.

Juga tidak ada batasan berapa kali angkutan umum dapat digunakan, tapi perjalanan dengan taksi dilarang. Kami juga diminta untuk mencatat dengan cara apa kami mengunjungi spot-spot tersebut.

Para siswa mungkin akan lebih senang jika diberi kebebasan di hari ketiga ini juga, tapi menurutku bukan ide yang buruk untuk berjalan-jalan di sekitar Hokkaidō berdasarkan kondisi yang diberikan oleh sekolah seperti ini.

Jika kami hanya diberi aktivitas bebas, perjalanan sekolah akan berakhir dengan tur wisata yang terbatas dan ski saja. Aku benar-benar tidak sabar untuk menelajahi Hokkaidō dengan paksaan.

Saat turun dari bus, kami diberikan sebuah pamflet.

Ini adalah amflet buatan sekolah yang memaparkan spot-spot yang harus kami kunjungi di sini.

Menara Jam Sapporo, Menara TV Sapporo, dan Museum Seni Modern Hokkaidō bernilai 1 poin. Taman Nakajima dan Kuil Hokkaidō bernilai 2 poin. Kebun Binatang Maruyama Sapporo, Museum Hokkaidō, dan Pasar pusat grosir di luar lokasi bernilai 3 poin. Taman Moerenuma dan Taman Shiroi Koibito bernilai 4 poin. Gunung Moiwa bernilai 5 poin. Akuarium Sunpiazza bernilai 6 poin. Jozankei Onsen bernilai 7 poin. Dan Danau Shikotsu dan Danau Utonai bernilai 8 poin.

Penting juga untuk dicatat, bahwa kami tidak hanya pergi ketempat-tempat itu tanpa tujuan.

Di Kebun Binatang Maruyama Sapporo misalnya, kami harus memasuki taman dan berfoto dengan beruang kutub atau paviliun beruang kutub sebagai latar belakang untuk menyelesaikan tur wisata.

“Ini agak mengejutkan. Kesannya seperti sekolah biasa...”

Kata Kushida setelah turun dari bus. Entah kenapa, dia melihat ke arah lain.

“Aku di sini loh.”

“Ah, maaf, maaf. Aku sama sekali tidak tahu~”

Itu tidak mungkin, tapi tidak, dia tidak melihatku saat mengatakan itu.

Dia menoleh dan tersenyum, mungkin karena dia sangat menyadari ketidakwajaran tersebut.

“Kalau kita tidak menyelesaikan ujian ini dan kita kehilangan satu hari penuh untuk sesi belajar rasanya enggak enak ya. Mungkin alasan kita dibiarkan seharian bebas beraktivitas kemarin tanpa batasan apa pun, ada hubungannya dengan tur wisata ini.”

“Bisa jadi.”

Sekarang pertanyaannya adalah pilihan apa yang akan kami dari grup 6 akan ambil.

Tur wisata telah dijelaskan kepada kami sebelum perjalanan sekolah, tapi kami baru mendengar di dalam bus, bahwa ini akan sedikit seperti ujian dengan aktivitas bebas sebagai taruhannya dan ada poin pribadi sebagai hadiahnya. Dengan kata lain, kebijakan grup belum diputuskan pada saat ini.

Tidak dapat dihindari akan ada kasus beresiko di mana grup yang ingin mendapatkan hadiah poin pribadi tidak memenuhi batas waktu.

Beberapa grup tampaknya tetap di tempat untuk berdiskusi, tapi sebagian besar mulai berjalan ke arah yang sama.

“Ternyata memang banyak grup yang menuju ke Menara Jam Sapporo, karena itu yang paling dekat.”

Ada juga pilihan untuk menuju Danau Shikotsu atau Danau Utonai yang memiliki poin tinggi, tapi itu berisiko.

“Karena lebih efisien juga untuk mendiskusikannya sambil berjalan.”

Yang paling biasa, seperti kata Kushida, rute aman pertama adalah pergi dari Stasiun Sapporo ke Menara Jam, berfoto di tempat yang telah ditentukan, kemudian dari Taman Odori menuju ke depan Menara TV.

Kami dapat mengunjungi 2 tempat dalam waktu singkat dan tanpa mengeluarkan uang.

Akan tetapi, pada titik ini belum jelas apakah proses mengincar lebih dari 20 poin itu ideal.

Setelah itu, kami semua berdelapan anggota grup 6 juga telah turun.

“Aku barusan melakukan pencarian cepat di aplikasi peta, tapi bahkan jika kita boleh menggunakan taksi, sepertinya kita akan memerlukan waktu beberapa jam untuk mengunjungi 6 lokasi dengan poin yang tinggi.”

Perhitungan yang dibuat oleh Amikura pasti tidak memperhitungkan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi pemotretan.

Dengan pemanfaatan penuh angkutan umum sekali pun, tidak mungkin untuk hanya melakukan tur ke spot-spot dengan poin tertinggi dalam batasan waktu.

“Adakah di sini yang tahu banyak soal Hokkaidō?”

Tanya Watanabe kepada para anggota grup 6, tapi tidak ada jawaban yang bagus.

Seperti siswa lainnya, aku tidak punya pengetahuan tentang cara mengelilingi Hokkaidō atau dengan sarana apa yang paling efisien, jadi aku tidak tahu ke mana dan bagaimana kami harus berkeliling secara efisien tanpa melakukan pencarian.

“Nn~~. Aku coba untuk mencari rute di aplikasi peta, tapi aku bahkan tidak tahu di mana dan ada apa di sana, jadi urutannya menjadi kacau.

Amikura tampaknya mengotak-atik aplikasi peta dan mengetikkan tujuan secara acak.

Karena spotspot itu tersebar di timur, barat, utara, selatan dan selatan dari lokasi kami saat ini, dia harus mulai dengan mencari tahu di mana lokasinya. Selain itu, tidak ada jaminan bahwa spot tersebut dapat dijangkau oleh angkutan umum, dan tidak menutup kemungkinan sekolah tidak mencantumkan spot yang sulit dicapai di dalam pamflet.

“Sekalipun kita mendapatkan poin pribadi, itu hanya 30.000. Ini adalah kesempatan kita untuk berkeliling ke tempat-tempat wisata, jadi kenapa kita tidak melupakan hadiahnya dan bersenang-senang saja?”

Saran dari Watanabe itu adalah salah satu jawaban yang tepat.

Keseruannya akan berkurang separuhnya jika kami harus mengunjungi suatu spot hanya untuk mendapatkan 20 poin tepat waktu.

Tidak ada waktu untuk bersantai dan menikmati pemandangan setempat.

“Jadi, aku berada di kubu yang setuju agar kita tidak perlu memaksakan diri.”

“Aku juga, secara pribadi, akan lebih suka pergi ke tempat yang kuinginkan. Contohnya aku ingin pergi ke kebun binatang.”

Para siswa yang biasanya tinggal di sekolah tidak memiliki kesempatan untuk mengunjungi kebun binatang atau akuarium.

Wajar saja jika mereka tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang tidak akan datang dua kali ini.

“Ayo kita mulai dengan menyusun daftar keinginan tempat-tempat yang kita semua ingin kunjungi.”

Amikura mengusulkan untuk mendaftar ke mana kami ingin pergi terlebih dahulu, dengan mengabaikan poin. Kemudian, 6 orang, termasuk aku, dengan mudah setuju untuk tidak mengejar poin dan melakukan tur santai di sejumlah spot dengan poin minimum.

Akan tetapi, ini adalah hal yang perlu didiskusikan dan diputuskan oleh seluruh anggota grup.

Pendapat Kitō dan Ryūen, yang sejauh ini belum mengatakan setuju maupun tidak setuju, masih ada.

“Bagaimana denganmu, Kitō?”

Tanya Watanabe kepada Kitō yang sejauh ini terus diam.

“Aku tidak keberatan.”

Watanabe dan yang lainnya lega ketika mendengar tanggapan positif terhadap pertanyaan tersebut.

Sekarang sudah 7 orang. Yang terakhir, jawaban dari Ryūen———tak kunjung datang.

“Ah~... eng...”

Watanabe ragu untuk bertanya, jadi aku putuskan untuk bertanya dan memastikan jawabannya.

“Semua orang setuju. Bisakah buat yang diam kita anggap sebagai setuju?”

Tetapi Ryūen sudah menyatakan bahwa dia akan mengumpulkan 800 juta poin. Jawabannya sudah jelas.

“Aku akan mengambil poin.”

Jawaban sederhana, dengan kata lain, tujuan yang bertentangan dengan kami bertujuh dia tuangkan ke dalam kata-kata.

Tentu saja, setiap orang bebas untuk memutuskan bagaimana mereka akan memandang tur wisata ini.

Karena pasti ada grup yang mengutamakan tur wisata untuk poin pribadi.

Hanya saja, jika pendapat terbagi seperti ini, diskusi tambahan pasti diperlukan.

Karena Watanabe menjadi semakin ketakutan, jadi aku teruskan untuk menanyakan alasannya.

“Bisa beritahu alasannya?”

“Sudah pasti kan, untuk poin pribadi. Bagiku itu bukan hanya sekedar 30.000 poin.”

Setiap kelas akan mendapatkan total 60.000 poin untuk dua orang.

Ini hanyalah setitik debu dari 800 juta poin, tapi ini juga merupakan satu langkah untuk mencapai nilai itu.

“Tidak ada alasan untuk tidak mengambil uang yang jatuh tepat di depanmu. Kalian diam saja dan patuhi aku.”

Pada dasarnya tidak ada kerugian dari tur wisata ini, meski ada risiko kehabisan waktu atau tidak mendapat poin yang cukup karena kesalahan. Jika kami mematuhi aturan dan mencapai tujuan, sekolah akan memberi kami poin pribadi. Dengan kata lain, hanya ada faktor positif.

Tidak mengambil apa yang bisa kami ambil adalah suatu kerugian itu mungkin benar sekali. Tapi tentu saja, tidak mungkin Kitō akan tinggal diam melihat sikap egois yang mengabaikan kehendak ketujuh orang tersebut.

“Kau ingin kami mematuhimu agar kau puas?”

“Ya. Salah kah?”

“Itu cara yang menentang demokrasi. Dalam hal ini, menurutku masalah ini harus diputuskan dengan suara mayoritas.”

“Masa bodo. Sejak kapan grup ini jadi demokrasi?”

“Lagipula aku tidak mengerti kenapa kau terobsesi dengan uang receh. Aku tidak bisa mempercayainya.”

“Lalu, menurutmu untuk apa?”

Entah sudah berapa kali tidak lagi bisa dihitung.

Tidak ada yang mampu menghentikan perselisihan antara Ryūen dan Kitō.

“Kau hanya tidak senang dengan kesepakatan grup dan hanya bicara untuk mengacaukan keadaan.”

“Yah, sebenarnya, mungkin saya lakukan. Tidaklah buruk melihat ekspresi ketidakpuasan di wajah Anda.”

Jika kedua orang ini dibiarkan terus berbicara, kami akan segera menuju ke arah yang berbahaya.

“Kita juga memerlukan sejumlah poin pribadi untuk menggunakan angkutan umum. Dengan pengeluaran itu, pada akhirnya tidak lebih dari 30.000 poin pribadi per orang yang tersisa, apa masih tetap mau?”

Berapa jumlah detailnya tidak diketahui saat ini, tapi sejumlah pengeluaran diperlukan.

“Masihlah. Bahkan jika hadiahnya turun jadi hampir 20.000, aku tak akan menyerah untuk mendapatkannya.”

Tanpa kusadari, hanya tinggal grup kami yang ada di sekitar bus.

“Waktu yang berharga terbuang percuma saat kita memperdebatkan hal ini. Kau mengerti itu kan, Kitō?”

Jadi cepat terima saja dan carilah rute yang tepat. Begitulah tekanan kuat dari Ryūen.

Tentu saja, ucapan yang seperti menambah bahan bakar ke dalam api ini tidak akan membuat Kitō diam.

“Aku menolak. Jika kau berniat untuk tetap kukuh pada poin pribadi dan mengabaikan pendapat mayoritas, maka aku tidak akan membantumu dalam tur wisata ini. Dengan kata lain, jangankan mendapatkan poin pribadi, sudah pasti kau besok akan kehilangan aktivitas bebas.”

Kitō berniat untuk benar-benar menentangnya dan menegaskan bahwa dia tidak akan menuruti keinginan Ryūen.

Dia memprotes keras sekali lagi.

“Kukuh, kaulah yang akan menjadi minoritas, Kitō. Toh seiring berjalannya waktu mereka tidak akan punya pilihan lain selain mematuhiku.”

Apa mereka akan memulai kontes kesabaran dari titik awal yang tidak akan ada gunanya?

Cara termudah untuk menggerakkan Ryūen yang tidak mau mengalah adalah dengan mengarahkan grup untuk mengumpulkan poin pribadi. Pendapatan 30.000 poin bukanlah ide yang buruk untuk kami berenam, dan tidak semuanya merugikan.

Selain itu, jika kami dijamin memiliki aktivitas bebas besok, kami bisa menebus wisata yang tidak bisa kami lakukan hari ini.

Jika keenam orang, tidak termasuk Kitō, condong ke arah Ryūen, itu akan menjadi pendapat mayoritas.

“Bahkan jika semua orang terpaksa mengikutimu, aku akan tetap menentangnya.”

Jika ini yang terjadi, Kitō secara resmi akan menjadi penjahat dengan selisih 7 banding 1.

“Jika kau ingin menghancurkan grup ini sendirian, mungkin ada baiknya untuk merelakan uang itu, bukan?”

“Siapa takut.”

Kitō tidak menunjukkan tanda-tanda gentar, seolah-olah mengatakan bahwa dia sudah terbiasa menjadi penjahat.

“Te-Tenanglah, Kitō. Kalau bisa jangan sampai kita kehilangan waktu bebas...!”

Watanabe yang ketakutan dari tadi, tidak punya pilihan selain menyisipkan kalimat keengganan itu.

“Kalau begitu, kau bujuklah Ryūen.”

“Uh...”

Watanabe bingung karena tidak punya ide untuk membujuknya.

“O-Oh iya, Nishino. Sebagai teman sekelasnya, coba kamu bicarakan dengan Ryūen.”

“Gampang emang nyuruh ngajak dia bicara, tapi itu tidak akan membuatnya berubah pikiran. Aku tidak mau melakukan hal sia-sia.”

Nishino yang sudah lama mengenalnya, pasti bisa melihat hasil dari upaya tersebut.

Dia berada dalam mood untuk menyerah sejak awal, karena dia tahu tidak ada yang bisa dilakukan sekarang setelah ini terjadi.

“...Hei, aku mau bicara sebentar. ...Menurutmu, apa yang harus kita lakukan terhadap situasi ini?”

Lenganku ditarik, dan Kushida berbisik di telingaku dari jarak yang agak jauh.

“Kupikir lebih aman untuk mengikuti Ryūen, tapi Kitō malah jadi seperti itu. Dan kalaupun kita sejalan dengan Kitō, Ryūen juga tidak akan bergerak. Mereka benar-benar egois.”

Sisi hitamnya mungkin bocor karena dia memanggil mereka tanpa gelar kehormatan.

“Bukan berarti tidak ada solusi.”

“Benar, kah?”

“Tapi aku tidak ingin merekomendasikannya kalau bisa.”

“Bisa beritahu aku dulu?”

“Yang diinginkan Ryūen adalah poin pribadi, wisata tidak dia perlukan. Di sisi lain, kita bertujuh ingin pergi ke tempat yang ingin kita kunjungi dan menikmati wisata. Pendapat Kitō juga condong ke kita.”

“Ya. Itu bertentangan, ‘kan?”

“Kalau begitu, kita bertujuh bisa membayar dengan kantong kita sendiri. Kitō mungkin akan memberontak, jadi sebenarnya ada 6 orang. Jika kita mengumpulkan 5.000 poin pribadi per orang dan memberikannya ke Ryūen, dia tidak akan mengeluh, bukan?”

“Ah, aku mengerti, jadi bisa juga diselesaikan seperti itu...”

Tapi ini adalah Ryūen, dia mungkin tidak akan puas hanya dengan membayar 30.000 kepada satu orang.

Aku terus membisikan Kushida tentang risikonya. Setiap kelas menerima 60.000 poin pribadi ketika grup ini menerima hadiahnya. Dengan kata lain, paling tidak, dia akan menuntut dan mengumpulkan 30.000 poin dari Nishino yang satu kelas dengannya. Bahkan jika Nishino menolaknya, Ryūen pada akhirnya akan menuntutnya untuk menebalkan kantongnya.

Dalam hal ini, 5 orang harus membayar 60.000 poin pribadi, atau 12.000 poin pribadi per orang. Akan ada juga yang menolak untuk membayar uang sebanyak itu untuk menikmati wisata.

“Tidak murah... ya.”

Apa yang sejak awal seharusnya menjadi tur wisata yang hanya menguntungkan, ternyata menjadi kerugian.

Aku juga tidak yakin mereka bisa menikmati wisata dengan puas setelahnya.

Ini juga hanya memberikan contoh yang buruk pada grup jika mayoritas mengalah kepada sikap keras kepala minoritas.

“Dan yang terburuk, kita harus mempertimbangkan risiko dia akan meminta lebih banyak poin.”

“Hah? Omong kosong apa itu... jadi dia akan melakukan apa saja untuk itu...”

“Itulah yang kumaksud.”

“Aku mengerti maksudmu, Ayanokōji-kun. Jadi, itu alasannya kamu tidak merekomendasikannya.”

“Yang terbaik adalah menyatukan semuanya tanpa trik kecil.”

“Melakukan diskusi yang damai itu tidak mudah loh. Bahkan mustahil, bukan?”

Memang, sulit membayangkan Ryūen atau Kitō akan mudah patah semangat, dan tidak dapat dihindari bahwa mereka akan menghambat.

“Aku ada ide. Bagaimana kalau kita adakan saja kontes kesabaran? Kita harus bekerja cukup keras untuk mengumpulkan lebih dari 20 poin, bukan? Jika kita habiskan waktu setengah jam atau satu jam di sini, itu akan menjadi sulit untuk dicapai, ‘kan?”

Rencana untuk menghabiskan waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan poin di spot, ya.

Tapi pilihan itu juga mencakup banyak masalah.

“Kalaupun Ryūen menilai bahwa kita tidak memiliki cukup waktu, tidak ada jaminan bahwa dia akan setuju untuk mengunjungi spot dan menikmati wisata setelah itu. Pada akhirnya itu akan runtuh. Waktu bebas besok pasti akan hilang.”

“Aah... aku mengerti. Sudah ketebak, sih ya.”

Tidak banyak pilihan yang bisa diambil di sini.

Tidak ada pilihan lain selain mengambil risiko dan entah bagaimana caranya, menyatukan semuanya.

“Aku juga tidak ingin membuang hari yang berharga ini. Kita harus menanggung rasa sakit agar di sini d\kita bisa bergerak.”

“...Apa yang akan kau lakukan?”

Aku sampai pada satu kesimpulan, tapi sebelum itu, aku menyadari sesuatu yang penting.

Meskipun itu agar tidak terdengar oleh orang-orang di sekitar, aku terlalu lama berdekatan dengan Kushida.

Gambaran di mana hanya aku dan Kushida sedang melakukan percakapan rahasia terlihat sangat jelas.

“Kamu... pacaran dengan Karuizawa, ‘kan?”

Tanya Watanabe sedikit melotot. Amikura juga tidak terlihat senang.

“Rapat strategi. Iya kan, Kushida?”

“Tentu saja. Aku baru saja setuju dengan Ayanokōji-kun. Iya, ‘kan?”

Katanya, lalu Kushida menjauh cukup jauh dariku.

Tindakan berlebihan yang terang-terangan, seperti menjauh dari orang yang tidak dia sukai ini sangat tidak nyaman buatku.

Tapi sepertinya itu telah meyakinkan Watanabe dan yang lainnya, jadi itu pasti langkah yang tepat.

Aku menenangkan diri, mendekati Kitō yang terus melotot, dan Ryūen yang melihat ponselnya tanpa peduli. Kemudian aku membelakangi mereka berdua untuk menghadap ke kelima orang lainnya.

“Ada yang ingin kukonfirmasi lagi dari para anggota, selain Ryūen dan Kitō. Aku ingin menghitung ulang suara tentang pendapat kalian pada tahap ini. Apakah kita akan memprioritaskan wisata atau poin pribadi. Jika ada di antara kalian yang berubah pikiran dan memilih yang terakhir, silakan angkat tangan. Kalian tidak perlu memikirkan orang lain, cukup tunjukkan keinginanmu.”

Watanabe dan yang lainnya masing-masing melihat sekeliling, tapi tidak ada yang mau mengangkat tangan.

Aku bisa melihat dari sikap mereka bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang tampaknya berbohong.

Dengan kata lain, mereka ingin memprioritaskan wisata, tak ada yang setuju dengan kebijakan mengincar poin tinggi.

“Terus kenapa? Apa pun yang kamu katakan, aku tidak akan mengubah pendapatku, Ayanokōji.”

Aku tahu kau tidak akan peduli, sekalipun kau tidak memiliki rekan yang mendukungmu.

“Maaf, tapi sekarang aku mau bicara dengan mereka berlima.”

Setelah berbalik sebentar, aku segera mengalihkan pandanganku dari Ryūen dan melanjutkan pembicaraan dengan mereka berlima.

“Karena situasinya seperti ini, aku simpulkan bahwa kita berdelapan tak akan pernah bisa bersatu dan hanya akan buang-buang waktu untuk membahasnya.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan? Kamu mau kita mengikuti Ryūen?”

Sebagai orang yang juga ingin berwisata, Nishino tidak berusaha menyembunyikan ketidakpuasannya.

“Tidak, bukan itu yang kumau. Pendapat individu harus dihormati semaksimal mungkin, tapi sebagai grup, pengaruh hak untuk bicara hanyalah 1/8. Dan memang seharusnya begitu. Penentangan Kitō terhadap Ryūen juga hanya 1/8 dari total keseluruhan. Bahkan tanpa pendapatku, kalian berlima di sini memiliki 5/8 suara yang lebih dari separuhnya.”

“Aku tahu itu. Tapi, itulah sebabnya kita ada dalam masalah, karena kita tidak dapat mencapai kesepakatan, bukan? Mau itu 1/8 atau 5/8, kita tidak bisa bergerak maju kecuali kita semua membuat pilihan yang sama.”

“Kau benar. Tapi, tidak diragukan lagi bahwa kalian berlimalah yang berhak memutuskan bagaimana kalian akan menyikapi situasi ini. Jika kalian tidak setuju dengan metode atau gagasan Ryūen, kalian tidak harus mengikutinya. Dengan kata lain, kalian bisa membuat ia merelakan pilihan untuk mendapatkan poin pribadi. Kita bisa membuang ide untuk tur wisata sekarang juga, dan kita masing-masing bebas melakukan wisata sendiri.”

“...Jadi kita akan membuang aktivitas bebas besok?”

“Benar. Bahkan jika kita bertindak sesuai rencana Ryūen di sini, pada akhirnya tidak ada jaminan bahwa kita akan bisa pergi ke tempat yang diinginkan oleh grup dalam aktivitas bebas besok. Jika dia bilang bahwa kita tidak akan meninggalkan ryokan, pada saat itu grup ini bahkan tidak akan diizinkan untuk keluar. Di sisi lain, kita dijanjikan kebebasan hari ini.”

“Tapi cuman sampai jam 5, bukan?”

“Itu tidak benar. Batas waktu wampai jam 5 adalah untuk grup menyelesaikan tur wisata agar besok dapat beraktivitas bebas. Kita memiliki hak untuk melakukan apa yang kita inginkan sampai jam 9 malam, jam malam ketika kita harus kembali ke ryokan. Apalagi, kalian bisa melakukan apa pun yang kalian inginkan sendiri-sendiri. Kalian bahkan bisa berbaur dengan grup yang di sana ada teman dekat kalian. Sekolah tak bisa menyalahkan kita untuk itu.”

Membuang hari keempat dan mengubah hari ketiga menjadi aktivitas bebas total yang tidak bisa ditiru oleh orang lain.

Ini adalah otoritas mutlak yang hanya dimiliki oleh mereka berlima.

“Bukan Ryūen ataupun Kitō yang memutuskan apa yang harus dilakukan, aku ingin kalian pikirkan itu baik-baik.”

“...Iya ya.”

Kushida menatap mata para anggota tanpa banyak bicara dan yakin bahwa mereka sudah satu pendapat.

“Ryūen-kun, kami tetap tidak akan mengincar poin pribadi. Soalnya kami ingin mendiskusikan kemana kami ingin pergi hari ini dan bersenang-senang. Jika kamu tidak ikut, kita akan menghabiskan waktu terpisah mulai sekarang. Apa jadinya setelah itu, persis seperti yang baru saja dikatakan Ayanokōji-kun. Mungkin besok kita semua akan mengadakan sesi belajar yang bersahabat seharian.”

Nishino tertawa mendengar kata-kata ini, Amikura, Watanabe dan Yamamura mengangguk seolah siap.

Sebagai tanggapan, Kitō sedikit mengangkat sudut bibirnya.

“Itu saran yang bagus. Aku setuju dengan itu.”

Kitō yang sampai saat ini menentang Ryūen hanya karena memberontak, kini memihak mereka berlima.

Karena semua orang telah sampai pada kesimpulan, bola akan diterukan pada Ryūen untuk pertama kalinya.

Apakah dia akan mengikuti pendapat Kushida dan yang lain dan menyerah pada poin pribadi, atau dia akan menentang mereka dan memisahkan diri?

Apa pun itu, ia tidak akan mendapatkan poin pribadi yang ia inginkan.

Yang ada, dia bahkan akan mendapat sesi belajar besok sebagai bonus tambahan.

“Ikut campur saja kau, Ayanokōji.”

Kata-kata dia mengungkapkan ketidakpuasannya, tapi dia tidak tampak benar-benar tidak puas.

Tapi bagi orang-orang lain, itu mungkin tampak seperti gertakan belaka.

“Aku tidak ingin datang jauh-jauh ke tempat wisata hanya untuk belajar. Jadi aku akan mengikuti kalian.”

Kupikir mungkin ada sedikit perlawanan, tapi Ryūen mundur.

Jika dia bisa mendapatkan poin pribadi dengan cara memisahkan diri, dia pasti akan melakukannya tanpa ragu-ragu, tapi karena dia tahu itu tidak ada untungnya, dia menghindari masalah.

Setelah itu, grup keenam kami mengikuti instruksi sekolah dan melakukan perjalanan yang lebih seperti perjalanan biasa, mengunjungi tempat-tempat di sekitar pusat kota dan kebun binatang yang ingin kami kunjungi.

Hasilnya, poin yang terkumpul kurang dari 20, tapi ini adalah waktu yang memuaskan dan bermakna.

Related Posts

Related Posts

1 comment

  1. Emang ga ada harapan cok Ryuuen kalo Ayanokouji yg turun. Level Kushida atau Kito mungkin masih bisa lah Ryuuen lawan. Beda sama Ayanokouji.

    ReplyDelete