-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

– Nanase Tsubasa SS – Tak Terduga


Youjitsu 2nd Year Volume 3

– Nanase Tsubasa SS –
Tak Terduga

Data menunjukkan bahwa pria memiliki stamina yang lebih baik daripada wanita.

Tapi sejauh yang aku tahu, tidak ada perbedaan besar antara aku dan Ayanokouji-senpai.

Anggapan itu berasal dari keyakinan dan kepercayaan diri yang didapat dari pelatihan sejak aku masih kecil.

Tapi sekarang aku mengerti dengan jelas bahwa itu terlalu naif bagiku.

Ayanokouji-senpai tidak terlalu lelah akhir-akhir ini.

Dia selalu berada di sekitar 50-60% dan menyelesaikan setiap rintangan seperti tanpa masalah.

Dia dengan mudah melampauiku, memanjat tebing yang menjulang tinggi.

Jika ini terus berlanjut, aku tidak akan berhasil mengikutinya.

Aku harus menghindari jatuh terlalu jauh apapun yang terjadi.

Khawatir semuanya akan berakhir, aku dengan paksa mengambil keputusan.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

“Tolong... jangan pedulikan aku. Aku adalah aku, dan aku akan mengejar Ayanokouji-senpai...!”

Jika aku berhenti mendaki dan jatuh dari sini, itu berarti aku hanya sebatas itu.

Aku dengan sungguh-sungguh mengulurkan lenganku dan meraih permukaan berbatu.

Sementara pikiranku dipenuhi dengan kemauan keras, tanganku menjerit telah melewati batasnya.

“Jika kamu tidak berhati-hati, kamu hanya akan mundur lo.”

Apakah aku mundur atau tidak, itu tidak penting bagiku.

Tapi apakah aku bisa mengejarnya atau tidak. Semuanya tergantung itu.

Aku fokus pada lengan dan kaki ku ketika tiba-tiba dia kembali kepada ku.

“Peganglah.”

Melihat betapa putus asanya aku, dia mengulurkan tangannya.

“T-Tidak, aku tidak bisa melakukan itu. Karena aku akan menemani senpai dengan syarat tanpa dibantu... Tolong jangan pedulikan aku dan silahkan pergi duluan.”

Meskipun mendaki di sini sangat berbahaya, dia turun kepadaku tanpa khawatir.

Dia selalu tenang dan ada banyak hal yang aku tidak tahu tentang itu. Seperti yang ku duga, orang ini tidak normal.

Dari apa yang dengan berani dia lakukan selama pertarungan dengan Housen-kun hingga pendakian ini.

“Jika aku pergi duluan dan kau terluka rasanya aku tidak enak. Lain cerita jika Nanase yang meminta padaku, ini adalah kebaikan egoisku. Tidak usah dipikirkan.”

“Tapi...!”

“Hanya buang-buang waktu untuk membicarakan hal ini. Kau mengerti, kan?”

Aku tidak lagi punya tempat untuk melarikan diri.

Semakin aku menolak, semakin aku menyadari betapa aku telah menyia-nyiakan waktu berharganya.

“...Ya.”

Aku tidak bisa menyembunyikan kekesalan ku saat aku memegang tangannya.

“Senpai... Apakah senpai punya pengalaman mendaki?”

“Tidak, ini pertama kalinya aku mendaki seperti ini.”

“Ternyata begitu...”

Dia menaikanku bersama dengan ransel beratku.

Orang ini benar-benar memiliki kemampuan yang tak terduga.

Aku ingin tahu apakah aku bahkan bisa melawan dia...

Tidak, itu tidak penting.

Dia pasti——pasti orang yang harus aku kalahkan.

Dan kemudian aku harus menyeret orang itu keluar.

Itulah kenapa aku datang ke sekolah ini sejak awal.

Itu adalah satu-satunya tujuan yang ku miliki.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment