-->
olNGIb4NkK5r2x7x4oG3GpEzizVpnY6KNCck9cym

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4 Chapter 5 Intro


〇Spekulasi Setiap Orang


Rangkaian peristiwa kembali ke hari ke-9 dari ujian di pulau tak berpenghuni sehari setelah Nanase berpisah dengan Ayanokouji.

Housen yang telah bertindak sendiri sejak hari pertama saat membentuk grup beranggotakan tiga orang, terbaring di tenda bahkan setelah area yang ditunjuk pada pukul 07:00 pagi diumumkan.

Setelah pukul 08:00 pagi, bayangan seseorang mendekati Housen dan memanggilnya.

“Selamat pagi, Housen-kun.”

“Hah?”

“Ini aku, Nanase.”

“Aku tahu itu dari suaramu. Ada urusan apa?”

“Urusan apa? Kita adalah satu grup dan bukan hal yang aneh untuk berhubungan.”

Itu adalah jawaban yang serius, tapi Housen tertawa terbahak-bahak saat mendengarnya.

“Apa kau benar-benar mengatakan itu? Sepertinya kau sangat bersenang-senang dengan Ayanokouji, jadi bagaimana hasilnya?”

“...Tidak. Aku bukan lawan yang setara untuknya.”

“Hah, palingan kamu menantangnya langsung tanpa menggunakan senjata wanita, ‘kan?”

“Senjata wanita...?”

Terhadap balasan yang mempertanyakan tentang apa itu, Housen tertegun dan melanjutkan.

“Kebiasaan pemilik payudara besar, otaknya sama sekali tidak berguna.”

“Ano, aku tidak mengerti apa hubungannya antara ukuran payudara dan otak.”

“Dah lah. Jadi? Apa kau datang ke sini hanya untuk melaporkan itu?”

Housen, yang mengeluarkan tablet, melakukan pencarian GPS tanpa ragu-ragu.

Karena dia tidak tahu siapa yang mengikuti Nanase, dia menilai bahwa perlu untuk mewaspadai lingkungan sekitar. Tapi, tidak ada bayangan manusia yang ditandai oleh Housen di lingkungan sekitar.

“Aku gagal mencoba mengeluarkan Ayanokouji-senpai sendirian. Karena itu, aku ingin meminjam bantuan Housen-kun. Tolong beri tahu aku jika kamu punya rencana.”

Housen tidak begitu saja mempercayai Nanase untuk bertindak semaunya dan bergabung dengannya pada tahap ini. Sebaliknya, dia tidak mempercayai siapa pun sejak awal.

“Enyahlah, aku akan melakukannya sendiri”

“...Aku akan menunggu sampai kau berubah pikiran.”

“Daripada melakukan itu, pergilah ke area yang ditunjuk. Yang bisa kau lakukan hanyalah mencegah penalti.”

Nanase tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi, meskipun dia sudah diusir.

Housen mengabaikannya, menutup matanya dan mencoba membiarkannya begitu saja.

Sekitar 10 menit kemudian, Nanase memanggil lagi.

“Housen-kun.”

“Apa kau masih di sini? Kau hanya membuang-buang waktu.”

“Sepertinya kita kedatangan pengunjung.”

Saat Housen membuka matanya tipis-tipis, ada satu siluet lain selain Nanase.

“A-Ano Housen-kun... ini aku.”

“Tidak, lu siapa? Mana gw kenal sama lu?”

Dia membalas dengan kata-kata yang mengintimidasi pada seseorang yang memanggilnya tanpa menyebutkan namanya.

“Aa... aku dari kelas C... Ka-Katagiri.”

“Aku tidak kenal.”

“Biar aku yang mendengarkan sebagai gantinya. Ada urusan apa?”

“Itu, umm, aku membawa sesuatu yang harus aku berikan pada Housen-kun.”

“Sesuatu yang harus kau berikan? Sebenarnya apa itu?”

“I-Itu aku hanya boleh menyampaikannya pada Housen-kun...”

Housen mendengarkan tanpa minat, tapi dia keluar dari tenda untuk melihat apa yang telah dia pertimbangkan kembali.

Dan saat dia berdiri, raksasa itu menatap Katagiri yang mungil.

“Jika ini membosankan, aku akan memukulmu?”

“Eh... ini!”

Sembari memejamkan mata dan gemetar, dia memberikan transceiver di tangannya.

“Sepertinya itu transceiver.”

“D-Dengan ini. Kau bisa bicara dengan Utomiya-kun.”

Katagiri memberi tahu Housen hal tersebut meski masih merasa takut dengannya.

“Hah. Apa dia ingin menghubungiku sampai repot-repot mengirim kroco?”

Dia mengambil transceiver-nya layaknya sedang merampas.

“Apa tujuanmu sampai repot-repot mengirim orang untuk menghubungiku? Apa kau ingin bermain denganku? Utomiya.”

Dia mengatakan hal itu melalui transceiver, tapi tidak ada tanggapan dari pihak lain.

Sementara itu, Housen mengoperasikan tabletnya untuk memeriksa lokasi Utomiya di peta.

“Aku gak peduli entah itu kamu gak sadar atau mengabaikannya, tapi ini kesempatan pertama dan terakhirmu, kau mengerti?”

Setelah di beri peringatan terakhir, balasan datang dari sisi lain.

[...Aku tidak ingin menghubungimu. Tapi, aku tidak punya pilihan lain agar rencana tersebut dapat berjalan.]

“Rencana? Kau ini ngomongin apa sih?”

[Apa kau sudah lupa tentang hari ke-6?]

“Aa, aku ingat, kau menyuruhku untuk berkumpul secara rahasia. Maaf, aku lupa.”

Karena dia sebelumnya menemani Ayanokouji, ekspresi Nanase, yang tidak memiliki informasi apa pun, menjadi sedikit lebih mengeras.

Melirik itu sekilas, Housen mendengarkan transceiver tanpa beranjak.

[Aku sudah mempertimbangkan fakta itu.]

“Begitu, ya. Lalu?”

“Kami akan segera menjalankan operasi untuk menyelamatkan siswa tahun pertama.”

“Menyelamatkan siswa tahun pertama?”

Saat dia menjawab begitu, Housen menghentikan pengiriman suara Utomiya.

Nanase buru-buru mengeluarkan tablet dari ranselnya dan menampilkan 10 grup terbawah.

Saat ini, ada 4 grup siswa tahun pertama yang berisiko dikeluarkan dari sekolah.

“Ada 2 grup dari kelas D tahun pertama kita juga.”

“Hah, aku tidak peduli jika sampah itu lenyap. Jangan bilang, apa dia pikir aku akan bergerak untuk menolong teman sekelasku?”

“Jangan lengah. Aku pikir mereka sedang merencanakan sesuatu.”

“Bacod.”

Karena dia 100% sudah menyadari hal itu, Housen mengaktifkan pengiriman lagi.

“Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, tapi apa hubungannya denganku?”

Nanase merasakan dengan kulitnya bahwa semacam tawar-menawar telah dimulai.

Nanase mendengarkan setelah menghilangkan suaranya, tapi posisinya jelas terlihat dengan pencarian GPS.

Tidak salah lagi kalau pihak sana berbicara setelah memeriksa daerah sekitar Housen.

Dia mendapat kesan bahwa pihak sana juga tidak berani untuk menyebutkannya.

[Karena sosok sang penyelamat itu sangat penting...]

Ekspresi Utomiya tidak terlihat karena hanya memakai transceiver.

Tapi, Housen merasa bahwa bagian yang bukan niat sebenarnya itu tersembunyi.

Housen tidak sebodoh itu sehingga dia tidak bisa melihatnya.

“Apa kau mendengar hal itu dari seseorang? Bukankah itu menarik?”

[Jika kau menolak, tolak saja. Aku hanya berbicara untuk saling memahami, dan dari awal aku pikir kami bisa melakukannya tanpamu.]

“Kalau begitu, sudah selesai, ‘kan. Aku menolak.”

Housen berkata begitu, dan setelah jawaban singkat, transmisi berakhir.

Sambil memegang transceiver yang sepertinya langsung diabaikan, dia menunggu balasannya.

[...Housen.]

Utomiya menyebut nama Housen, meski frustasi.

Tapi, Housen membalasnya dengan diam sebagai tanggapan.

[Artinya aku tidak bisa mendapatkan bantuan darimu, ya?]

Karena sifat dari Utomiya, kemungkinan besar dia akan tertangkap jika Housen menolak.

Housen membaca bahwa itu karena spekulasi orang lain terlibat sehingga hal itu tidak terjadi.

“Tunggu. Aku tidak bilang tidak akan membantu siapapun.”

[...Apa katamu?]

Di sisi lain dari transceiver, Utomiya sedikit bingung.

Dapat dilihat bahwa itu adalah panggilan dimana dia siap untuk tidak menerima balasan lagi.

“Jika kau datang kesini untuk berlutut dan memohon padaku, aku mau kok membantumu?”

[Jangan konyol. Siapa yang mau menundukkan kepalanya padamu?]

“Kalau begitu pembicaraan ini berakhir. Tidak masalah dengan itu, ‘kan? Tsubaki.”

Housen memberi tahu Tsubaki, yang mungkin mendengarkan pembicaraan di sebelah Utomiya.

[Jadi kau menyadarinya? Atau apa kau melakukan pencarian GPS?]

“Mana mungkin aku menggunakan satu poin untuk sesuatu yang begitu jelas. Aku sudah lama tahu bahwa kau wanita mencurigakan.”

Itu adalah kebohongan Housen. Dia menyadari bahwa Utomiya dan Tsubaki berada di posisi yang sama dalam pencarian GPS yang dia gunakan sebelumnya, jadi dia memberi tahu mereka seolah-olah itu intuisinya.

[Sudah kuduga aku tidak bisa menyerahnya padamu begitu saja, Utomiya-kun.]

Housen tertawa kecil saat mendengar percakapan antara Utomiya dan Tsubaki.

“Apa kau tidak percaya pada Utomiya?”

[Ini hanya tentang Housen-kun. Karena sudah jadi fakta umum bahwa kalian berdua seperti kucing dan anjing, dan aku enggan memutuskan negosiasi dengan emosi yang tidak penting.]

“Jadi, apa maksudnya menyelamatkan siswa tahun pertama?”

[Kau sudah tahu, ‘kan? 4 dari 10 grup terbawah adalah siswa tahun pertama. Apalagi ada 2 grup yang dari kelas D tahun pertama. Jika ujian khusus selesai seperti ini, kerusakan pada kita siswa tahun pertama dan kelas Housen-kun akan sangat besar.]

Normalnya untuk orang yang mengelola kelas D tahun pertama, ini adalah situasi yang mengerikan.

Aneh jika dia tidak menunjukkan ketidaksabaran untuk melakukan sesuatu tentang hal itu.

Namun, Housen bahkan tidak peduli, apalagi bergerak.

“Jadi? Jangan bilang kalau kau mengajakku untuk menyelamatkan semua siswa tahun pertama di peringkat terendah itu?”

[Satu hal sebelum aku menjawab. Kita bisa menganggap Nanase-san sebagai sekutu, ‘kan?]

Untuk pertama kalinya di sini, Tsubaki menyentuh keberadaan Nanase.

Dia sedang mencoba mengumpulkan informasi dalam keheningan.

“Untuk saat ini. Karena kelas D isinya penuh dengan sampah, sepertinya dia adalah orang yang bisa digunakan sampai batas tertentu.”

[Begitu. Maka aku akan melanjutkan tanpa perlu khawatir, itu adalah jawaban yang benar. Aku akan menyelamatkan semua 4 grup terbawah sekarang dan grup yang kemungkinan besar akan tenggelam ke 5 grup terbawah di masa depan.]

“Kau mengatakan banyak hal, tapi memangnya kau bisa? Sejauh ini, kau belum memainkan peran yang menonjol. Jika kau mengambil waktuku yang berharga tanpa arti, aku tidak akan memaafkanmu?”

[Daripada waktu berharga, sepertinya itu hanya waktu santaimu.]

Kata-kata Tsubaki itu menunjukkan bahwa Housen sedang dipantau oleh GPS sejak tahap awal.

“Apa kau ingin aku menggunakan Katagiri untuk bersenang-senang, dan membuatnya babak belur sebelum mengembalikannya padamu?”

Katagiri yang ada di depannya menyusut saat ekspresinya menjadi lebih kaku.

Kebanyakan siswa akan gentar dan takut dengan sedikit perubahan suasana seseorang.

[Jangan sombong kau, Housen. Kalau kau sampai menyentuh Katagiri, aku akan menghabisimu.]

[Chotto, Utomiya-kun, jangan ganggu aku sekarang.]

[Tapi———]

Perdebatan dimulai dari sisi lain, dan komunikasi pun terputus.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Hai!” (Ya!)

Katagiri tanpa sadar menjauh, mungkin karena senyum Housen terlihat menakutkan.

“Cih, pria yang membosankan. Lo pergi saja.”

“T-Tapi transceiver-nya...”

“Aku akan menyimpan ini untukmu.”

“Tapi...”

“Katagiri-kun, aku tidak bermaksud buruk. Sebaiknya kamu serahkan saja ini pada Housen-kun?”

Menerobos di antara keduanya, Nanase membujuknya.

Sambil mengirimkan tatapan bahwa tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika dia tetap ngotot di sini.

Mata Housen yang melotot dari belakang menghancurkan hati Katagiri dan dia berbalik untuk mulai berlari dengan ketakutan. Dia terjatuh di tengah jalan, tapi terus kabur.

“Dasar bodoh.”

“Kamu pemaksa, ya.”

“Begitulah caraku. Kau sudah sangat tahu, ‘kan?”

Setelah pertukaran di antara keduanya, tanggapan datang dari Tsubaki.

[Maaf sudah menunggu. Bisakah kita lanjutkan pembicaraannya?]

“Aku tidak masalah, tapi si Katagiri itu meninggalkan transceiver-nya dan pergi ke suatu tempat.”

[Kau mengancamnya, ‘kan?]

Tak perlu menebak, Tsubaki membalas dengan singkat.

“Sulit untuk jadi yang lemah dalam perkelahian, karena hasilnya sudah terlihat sebelum pertarungan di mulai. Itu juga berlaku untukmu, loh? Tsubaki.”

[Memang dalam perkelahian aku tidak bisa menang darimu bahkan jika kau berdiri terbalik. Tapi, hanya di sini yang berbeda.]

“Di sini?”

[Kepala, yaitu otak.]

Housen tanpa sadar tertawa mendengar balasan serius yang sepertinya bukan lelucon.

“A... akan jadi masalah besar jika kau benar-benar lebih tajam dariku.”

[Ada cara untuk secara paksa menyelamatkan grup yang bermasalah. Untuk melakukan itu, aku membutuhkan sebanyak mungkin kolaborator. Sepertinya siswa senior sudah menggunakan strategi yang sama, dan aku ingin meminjam kekuatan kelas D tahun pertama juga.]

Itu sebabnya Tsubaki mengatakan dia meminta kerja sama dari Housen, yang sampai sekarang seenaknya sendiri.

“Aku sangat ingin bekerja sama, tapi ada yang harus kulakukan. Aku masih sangat sibuk.”

Tsubaki dan yang lainnya tahu bahwa Housen punya waktu luang karena dia tidak bergerak bahkan setelah area yang ditunjuk telah diumumkan, tapi dia masih berani mengatakan itu untuk melihat reaksinya.

[Sangat sibuk katamu... apa kau sedang mencoba untuk mengeluarkan Ayanokouji-senpai?]

“Begitulah. Aku tidak peduli mau berapa banyak sampah di kelas yang menghilang.”

[Tapi bagaimana kamu akan membuatnya dikeluarkan? Bahkan di pagi hari ke-8, Ayanokouji-senpai masih bergerak sendiri. Tapi, namanya tidak terdaftar dalam 10 grup terbawah. Syarat untuk pengusiran dalam ujian khusus ini hanya ada dua pilihan: mundur dalam grup atau tenggelam ke dasar dalam hal skor.]

Dan situasi di mana peringkat yang lebih rendah menurut skor jelas tidak dapat diharapkan.

[Juga sepertinya ada beberapa siswa yang mundur dalam seminggu terakhir, tapi grup yang tersingkir masih nol untuk saat ini. Sisa satu minggu dari sini, saat lingkungan mulai semakin sulit, grup tersebut mungkin akan tersingkir di suatu tempat.]

[Itu memang benar. Beberapa orang telah mencapai batas makanan mereka.]

Suara Utomiya yang berbicara di sebelah Tsubaki juga terdengar. Utomiya dan yang lainnya telah membantu grup siswa tahun pertama yang menderita kekurangan makanan sebagai masukan beberapa kali.

[Jika 5 grup tersingkir lebih dulu, hampir tidak mungkin untuk mengeluarkan Ayanokouji-senpai, bukan? Bukankah bisa untuk menganggap bahwa menyelamatkan siswa tahun pertama juga akan membantu mengeluarkan Ayanokouji-senpai?]

Untuk pertama kalinya, senyuman Housen melemah dan mulai terlihat lebih serius.

“Jadi untuk itu perlu menyelamatkan siswa tahu pertama, ya. Yah, sepertinya itu bukan rencana yang buruk... beritahu aku bagaimana cara kerjanya.”

[Bukankah tadi aku sudah bilang, seperti siswa senior lainnya, dengan menyatakukan tahun ajaran. Serap dan ambil grup yang tenggelam ke peringkat terbawah ke dalam grup yang aman. Jika perlu, aku ingin menggunakan cara untuk merebut tugas dari grup yang tenggelam ke dasar di tahun kedua dan ketiga.]

“Bukankah sulit untuk mengumpulkan mereka semudah itu? Belum lagi kelas A dan B. Aku tidak berpikir mereka akan membantu kelas D dan kelas C.”

[Kau tidak perlu khawatir soal itu. Sudah lama diputuskan bahwa kami akan bekerja sama. Sisanya menunggu persetujuan dari Housen-kun.]

Jika kelas D tahun pertama berjanji untuk bersatu, artinya mereka bisa mulai bergerak.

“Ini bukan negosiasi yang buruk, tapi tidak ada jaminan bahwa kita akan menang. Pada akhinya, menggunakan strategi yang sama hanya akan membuat kita berada pada panggung yang sama. Perbedaan dalam pengalaman, hasil dari kekalahan tahun pertama tidak akan tergoyahkan.”

Sementara tampak mendengarkan dengan baik, Housen mengembangkan strategi Tsubaki di dalam kepalanya.

Dan meskipun probabilitas penyelamatan siswa tahun pertama meningkat, dia menyimpulkan bahwa situasi yang tidak menguntungkan tidak dapat diatasi.

[Itu benar. Jika terus begini, mungkin pengorbanan dari tahun pertama tidak bisa dikurangi menjadi nol.]

“Bukankah yang kau katakan itu tidak sesuai? Bukannya kau ingin menyelamatkan semua siswa tahun pertama?”

[Jika semua tahun ajaran menggunakan strategi yang sama, yang dirugikan adalah tahun pertama. Itu seperti yang ditebak Housen-kun. Jadi kenapa kita tidak memaksa mundur grup di penghujung hari terakhir ujian?]

Di sini, niat sebenarnya dari Tsubaki dan tujuannya menjadi jelas.

[Karena ada beberapa siswa senior yang masih bertindak sendiri, jadi tenggelamkan saja mereka.]

“Jadi begitu, jika 5 grup solo tergelincir, pastinya semua siswa tahun pertama bisa diselamatkan.”

[Aku pikir jika kita ingin memulai pertarungan adalah ketika semua orang mulai lelah. Awalnya kami berencana melakukannya pada hari ke-8 hingga ke-10 paruh kedua ujian, tapi ada sesuatu yang tak terduga.]

Housen tidak muncul pada hari ke-6.

Hampir seharian cuaca buruk pada hari ke-7, sehingga kekuatan fisik yang menurun telah pulih.

Hal itu langsung terlintas di kepala Housen.

“Jadi? Katakan padaku secara spesifik apa yang ingin kau minta aku untuk lakukan.”

[Kau sudah mendengar saran dari penyelenggara ujian ini juga, bukan? Tidak akan ada masalah untuk menenggelam musuh dengan kekerasan. Housen-kun akan mengalahkan Ayanokouji-senpai dengan paksa, bukan?]

“Yah, karena itulah satu-satunya cara.”

Housen menjawab seperti itu, tapi niatnya yang sebenarnya berbeda.

Tidak peduli berapa banyak strategi lain yang dia miliki, dia sudah memutuskan untuk menghancurkan Ayanokouji secara langsung dengan tangannya sendiri.

[Tapi sulit menahan Ayanokouji-senpai yang terus bergerak sendirian. Karena itu, sampai sekarang Housen-kun tidak bisa mendapatkan peluang untuk melakukannya. Tapi lain cerita jika ada pengepungan yang luas.]

Dikatakan bahwa Tsubaki akan memainkan peran itu.

[Aku sudah menyelidiki berapa banyak siswa tahun pertama, termasuk Utomiya-kun dan Housen-kun, yang percaya diri dalam perkelahian dan kekerasan dan tidak ada perlawanan. Jika kita mengepungnya secara menyeluruh, dia tidak akan bisa melarikan diri.]

“Karena kau yang akan mengatur tempat itu, jadi kau meminta kerja samaku, ya?”

[Un.]

“Apa mereka mau menyeberangi jembatan yang berbahaya seperti itu? Kesampingkan Utomiya, aku tidak berpikir mereka akan bekerja secara gratis.”

[Tentu saja. Orang-orang yang mau bekerja sama setuju untuk dibayar 500.000 poin sebagai hadiah untuk kesuksesan. Aku pikir itu adalah biaya yang diperlukan untuk mengurangi bagian Housen-kun.]

Ini adalah usulan untuk berbagi poin pribadi yang diperoleh dengan mengeluarkan Ayanokouji.

[Tunggu, Tsubaki. Pada prinsipnya kekerasan itu dilarang, apa mereka benar-benar setuju hanya untuk 500.000 poin?]

Sepertinya Utomiya juga baru pertama mendengar tentang detail dari isi strateginya.

Suara seperti itu terdengar dari sisi lain transceiver. Di sini, Housen menyadari bahwa Tsubaki sengaja membocorkan sesuatu yang tidak diketahui Utomiya.

Normalnya, transceiver dapat mengirim suara ke pihak lain hanya jika tombolnya ditekan.

Jika Utomiya mengatakan sesuatu yang tidak nyaman, lepaskan saja tombolnya.

Dia secara tidak langsung mengungkapkan rahasianya sendiri.

[Tentu saja, tidak untuk mungkin meminta hal ini pada hari pertama. Paruh kedua ujian, yang sulit secara fisik dan mental. Stres pada para siswa cukup besar. Semua orang ingin merasa nyaman dan ingin menjadi radikal, keadaan di mana dua perasaan itu saling bertabrakan. Tentu saja, aku rasa mereka akan merasakan perlawanan yang kuat untuk melakukan pukulan pertama. Itulah kenapa aku ingin menyerahkan kepemimpinannya padamu, Housen-kun.]

Tsubaki dengan tenang menganalisanya dan mengatakan bahwa itu mudah untuk direalisasi.

[Banyak orang ingin mengabaikan lampu merah di depan mereka karena hanya ada sedikit mobil. Tapi, jika ada orang lain yang melihat, mereka tidak dapat mengambil langkah pertama. Tapi jika ada satu orang mulai menyeberang, situasinya akan berubah.]

Tsubaki mengatakan kalau dia ingin menyerahkan peran itu kepada Housen.

“Yah, itu bukan metode yang kubenci, tapi sekolah juga tidak sebodoh itu.”

[Saat itu, kedua belah pihak harus disalahkan. Menjual dan membeli kata, keduanya akan dikeluarkan dari sekolah. Aku yang akan bertanggung jawab sebagai dalang yang memberikan instruksi kepada siswa tahun pertama dan dikeluarkan.]

“Ha?”

[Aku tidak memiliki penyesalan di sekolah ini. Jadi aku merasa seperti aku bisa berhenti kapan saja. Anak-anak yang segrup denganku punya poin pribadi dan kartu dibagi dua.]

Tsubaki menjawab bahwa bukan hanya dia yang merencanakannya, tapi juga tidak apa-apa jika grupnya yang bertanggung jawab.

“Orang yang rela berkorban itu menakutkan. Aku terkesan.”

(Tln: Housen di sini sebenarnya berkata Minaoshita ze ‘pendapatnya tentang Tsubaki jadi lebih baik’, aku persingkat jadi terkesan)

Housen memberikan kata-kata kekaguman pada Tsubaki yang datang ke sini dan memiliki senjata ampuh.

[Aku tidak membicarakan hal ini denganmu, tapi apa kau akan menolak rencana itu, Utomiya-kun?

[...Tidak. Sebaliknya, aku pikir kalau taktik yang buruk tidak ada gunanya. Aku mengamati Ayanokouji dengan caraku sendiri, tapi itu bukan hanya kebetulan bahwa dia ditargetkan untuk 20 juta poin. Aku pikir itu diputuskan untuk menjadi sasaran karena dia jelas keberadaan yang aneh. Bahkan jika kau mencoba untuk menjatuhkannya dengan aturan, dia pasti akan menghindarinya. Jika kau memang sudah siap untuk itu, aku tak punya hak untuk menghentikanmu.]

Utomiya tidak menentang kekerasan, tapi dia khawatir tentang kurangnya prospek.

Jika Tsubaki bertanggung jawab penuh, situasinya akan berubah.

Jika Housen, Utomiya, atau yang lainnya adalah pihak yang digunakan, ceritanya akan berubah.

Mungkin akan ada beberapa bentuk penalti, tapi kecil kemungkinan pihak sekolah akan mengeluarkan puluhan orang dari mereka.

[Pasti sulit untuk mengeluarkan Ayanokouji-senpai secara langsung. Itulah kenapa menurutku sebuah panggung telah disiapkan di pulau tak berpenghuni ini yang berada di luar jangkauan pengawasan.]

[Aku mengerti. Jadi ini bukan sebuah kebetulan, ya?]

Housen menutup tampilan peta di tabletnya dan beralih ke mode perekaman.

“Jadi rencana untuk memaksa Ayanokouji mundur dengan kekerasan adalah pemikiranmu sendiri, ya? Tsubaki.”

[Begitulah.]

“Jika kami mengikutimu, kami dari tahun pertama tidak akan dikeluarkan dari sekolah. Bisakah kau menjaminnya?”

[Aku berjanji. Dan jika terjadi sesuatu akulah yang akan bertanggung jawab.]

Setelah mendengar itu, Housen merasa puas dan menyelesaikan rekamannya.

[Apa kau sudah mengambil bukti dengan benar? Dengan kesaksianku, kau bisa lega bukan?]

Housen tersenyum puas atas kata-kata Tsubaki yang bisa menebaknya.

“Jadi? Kapan kita mulai?”

[Aku belum bisa mengatakan itu. Karena aku tidak akan dengan mudah membocorkan informasi tentang pelaksanaannya.]

“Jadi kau tidak bisa mempercayaiku? Aku tidak masalah dengan kerahasiaan, tapi dengan itu aku tak akan bisa membantu sesuatu yang bisa ku bantu.”

[Untuk itu makanya ada transceiver.]

Transceiver yang dia curi dari Katagiri adalah sesuatu yang sudah disiapkan untuk Housen sejak awal.

Hasilnya tidak berubah meski dia merampasnya.

“Jadi itu maksudnya.”

[Aku akan menghubungimu lagi dari waktu ke waktu, jadi mohon kerja samanya.]

Mengatakan itu, Tsubaki mengakhiri komunikasi secara sepihak.

“Sepertinya dia wanita yang tidak bisa diakali.”

Sambil tertawa, Housen memasukkan transceiver ke sakunya.

“Apa yang akan kau lakukan.”

“Tidak peduli apa yang kupikirkan, tidak ada salahnya mengikuti strategi Tsubaki, ‘kan? Karena aku akan menghancurkan Ayanokouji sendirian apa pun caranya.”

Untuk itu, diperlukan pencarian GPS berulang kali.

Jika pihak Tsubaki yang akan mempersiapkan hal itu, dia menilai bahwa menunggangi mereka secara gratis adalah ide yang bagus.

“Aku bisa mengamuk sesukaku, dan Tsubaki yang merupakan dalang akan bertanggung jawab atas semuanya. Bukankah itu terlalu pintar.”

“Sebaliknya, apa kau tidak merasa curiga... misalnya dia mungkin memanfaatkanmu?”

“Jika itu yang terjadi aku akan menyambutnya. Yah, yang jelas seperti itulah.”

“...aku juga akan bekerja sama.”

“Ha?”

“Aku juga ingin melindungi grup dari kelas D tahun pertama. Tolong izinkan aku tetap di sisimu sampai informasi rinciannya datang dari Tsubaki-san.”

Menanggapi permintaan dari Nanase, Housen hanya menjawab, “Lakukan sesukamu”.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment