-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 4 Part 1 Indonesia


Bab 4
Pertumbuhan Setiap Orang


1


Kemudian kami bergantian bermain di kolam renang dengan anggota grup lainnya dan menikmatinya dengan sepenuh hati.

Setelah bermain voli pantai dua lawan dua, kami sekarang berada di tengah pertandingan voli pantai 5 poin satu lawan satu. Pertandingan pertama adalah antara Keisei dan Airi, yang dimenangkan Keisei 5-2. Lalu terjadilah pertarungan antara aku dan Akito, dimana Akito menang 5 lawan 3. Aku memanggil Airi saat dia duduk di tepi kolam untuk beristirahat, mungkin dia lelah setelah satu pertandingan mengingat kekuatan fisiknya kecil.

“Sepertinya kau sangat bersenang-senang, ya.”

“Ah, Kiyotaka-kun. Un, ini sangat menyenangkan. Meski aku tidak ada perlawanan sama sekali...”

Entah kenapa dia mencoba untuk berdiri, jadi aku menghentikannya dan memutuskan untuk duduk di sebelahnya.

“Sejujurnya, aku masih terkejut. Kamu menunjukkan keberanianmu dengan cara seperti ini, Airi.”

“Itu... un. Aku putuskan untuk memberanikan diri... meski bahkan sekarang ini masih sangat memalukan.”

“Kenapa kamu ingin memberanikan diri?”

Pastinya itu bukan hanya iseng.

“Saat ujian di pulau tak berpenghuni, kita bersama grup hampir 24 jam sehari, ‘kan? Jadi, aku berbicara dengan Haruka tentang banyak hal. Tentang masa kecil kami, tentang masa SMP kami. Dan tentang bagaimana kami masuk ke sekolah ini dan akhirnya menjadi teman baik.”

Jika ada waktu, mereka tidak akan bisa menjeda obrolan ringan. Jadi tidak heran bahkan jika mereka terlibat dalam percakapan yang lebih dalam. Mungkin waktu intens yang mereka habiskan bersama membantu mereka untuk saling memahami seolah-olah mereka adalah sahabat lama.

“Kupikir, mungkin aku bisa berubah sekarang... mungkin sekarang atau tidak sama sekali...”

“Bisakah kamu berubah? Itu bukan hanya tentang penampilan, ‘kan?”

“Un. Aku belum bisa mengatakan dengan pasti, tapi... aku mulai berpikir bahwa aku harus berubah, bahwa aku perlu berubah. Tidak cukup bagiku jika aku buruk dalam belajar dan olahraga.”

Sambil tersipu dan merasa malu, Airi menyatakan tekadnya untuk melakukannya.

“Jadi itu dimulai dari merubah penampilan, ya?”

“Haruka-chan marah dan memberitahuku bahwa tidak bagus untuk tidak menonjol dengan sengaja.”

Airi pada dasarnya tidak suka menonjol karena kepribadiannya.

Itu sebabnya dia menjalani hidupnya dengan gaya rambut sederhana dan memakai kacamata palsu yang tidak perlu. Dari segi postur, dia sering membungkuk dan berusaha untuk tidak mengangkat wajahnya. Baik dalam belajar maupun olahraga tidak bisa dicapai dalam semalam, tapi dalam penampilan masih bisa diatur. Saat Airi menatap kolam renang, aku melihat bahwa di pertandingan baru, bola telah mengenai air dan Akito mengambil satu poin dari Haruka.

Dengan ini, Akito melebarkan keunggulannya menjadi 3 banding 1.

“Apakah... sudah terlambat?”

Setelah menceritakan semuanya, Airi menatapku dengan cemas.

“Tidak, belum terlambat.”

Aku ingin dengan jujur memujinya karena membuat keputusan itu.

“Aku akan mendukungmu.”

“Te-terima kasih Kiyotaka-kun. Aku akan melakukan yang terbaik.”

“Ah iya, aku lupa mengatakannya, image change Airi ini masih rahasia loh, ya. Soalnya kita akan memamerkannya ke semua orang saat semester kedua dimulai.”

Mungkin akan lebih baik untuk melakukannya di dalam kelas di mana kami semua berkumpul. Jika dia tetap gugup, semakin sedikit frekuensinya semakin baik.

“Jadi bagaimana pendapatmu, Yukimu? Lihat tuh Airi.”

Saat gilirannya servis, Haruka berhenti bergerak dan berbicara dengan Keisei yang sedang menonton pertandingan.

“Ja-Jangan tanya aku sih.”

“Kalau tidak tanya mana bisa tahu, ‘kan? Katakan saja pendapat jujurmu.”

Karena diminta, Keisei menatap langsung ke Airi dan mengamati seluruh tubuhnya.

Kurasa tentu saja itu memalukan, Airi mencoba melarikan diri.

“Kamu tidak boleh lari loh, Airi.”

Saat Airi menggeram dan mengibaskan kakinya, Haruka melakukan yang terbaik untuk menahannya.

Dan setelah menyelesaikan pengamatan, evaluasi Keisei adalah...

“...Kurasa, itu tidak buruk, ‘kan? Maksudku, tidak, itu boleh juga...”

Keisei yang biasanya tidak tertarik pada perempuan, menjawab dengan senyum gugup.

“Woh, kalau Yukimu bereaksi seperti ini, kedengarannya sempurna!”

Merasa senang seolah itu tentang dirinya, Haruka melompat tinggi pada saat itu.

Dia kemudian menghantamkan servisnya ke Akito, yang terpaku pada Airi dan menatapnya.

“Uwah!”

“Satu poin! Dengan ini 2 lawan 3!”

“Itu curang, Haruka.”

“Itu salah Miyachi karena melongo melihat seorang gadis, bukan? Jangan lengah, jangan lengah.”

“Jangan sembarangan. Tapi... mungkinkah seorang gadis bisa berubah seperti ini hanya dengan melepas kacamatanya dan sedikit mengubah gaya rambutnya?”

“Itu berarti bahan aslinya adalah yang terbaik. Masak hal seperti itu saja tidak tahu?”

“Bahkan jika kau mengatakan sesuatu seperti itu... iya, ‘kan?”

Akito dan Keisei saling memandang dan mengangguk bersamaan.

“Yare yare. Yah, meski karena kalian seperti inilah makanya aku juga tidak ragu untuk berhubungan dengan kalian.”

Akito menghilangkan hasrat duniawinya dan berkonsentrasi pada servisnya sendiri.

Saat pertangdingan dilanjutkan, Airi merintih.

“Aku bertanya-tanya bagaimana aku bisa menjadi lebih baik atau lebih pintar dalam belajar...”

Airi dan yang lainnya mempersiapkan ujian setiap hari, tapi pada dasarnya mereka tidak memiliki sesi belajar dari dasar seperti yang dilakukan Horikita dan Sudou. Bagian itu akan sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan akademik mereka.

Keisei mendengar sesuatu yang berhubungan dengan belajar dan mulai menjelaskan terlebih dahulu.

“Bukankah sudah waktunya untuk mulai mencari tahu apa yang bisa dan tidak bisa kamu lakukan? Mulai dari tahun pertama SD, semua orang mulai berlari berdampingan pada awalnya. Tapi lambat laun, orang-orang mulai menunjukkan kekuatan dan kelemahan mereka dalam belajar, dan kamu tahu kenapa?”

“Etto...”

“Kemampuan setiap individu untuk belajar dan menyerap berbeda-beda, begitu pula kemampuan mereka untuk berkonsentrasi. Ada yang tidak tahan bahkan satu menit saja, dan ada yang bisa melewati satu jam pelajaran dengan mengontrol konsentrasi secara fleksibel. Itu saja akan mulai membuat perbedaan dalam kemampuan belajar, tapi seberapa banyak kau belajar di luar jam pelajaran juga merupakan faktor besar.”

“Itu benar. Memang benar anak-anak yang pergi bimbel itu pintar-pinter.”

Airi mengangguk setuju, meskipun itu sudah jelas.

“Rra!”

Bola memantul dari tangkapan Huruka, dan dia mencetak poin kelimanya. Hasilnya adalah 5-2 untuk Akito.

“Yosshi. Ini adalah kemenanganku.”

“Ngeselin ih. Tapi aku sedikit penasaran dengan apa yang kalian berdua bicarakan hingga aku tidak bisa berkonsentrasi, dan itulah sebabnya aku kalah.”

Sambil membuat analisis dan alasan itu, Huruka juga datang ke sisi pantai.

“Kenapa kamu tidak mengajarinya saja, Kiyopon?”

Dari alur percakapan, Haruka menyarankan itu.

“Maaf, tapi aku tidak pandai mengajar. Selain itu, kita sudah memiliki spesialis untuk mengajar di sekitar kita, bukan?”

Tatapan yang diarahkan padaku beralih ke Keisei seolah mendesaknya.

“Yah... kalau Airi mau, aku tak keberatan.”

“Tidak tapi kan, Yukimu kau tahu, aku dan Akito akan sangat merepotkanmu mulai sekarang. Akan sulit untuk mengajarinya jika kita menempatkan Airi pada level yang berbeda, bukan?”

“Eh , itu artinya aku bodoh, ya? ...Uu.”

“Ah, bukan, bukan! Bukan itu maksudku!”

“Tidak, kata-katamu hanya bisa ditangkap seperti itu loh, Huruka.”

Tidak dapat membelanya, Akito bergumam sambil menghela nafas.

“Aku cuman, maksudku... Aa mou, aku minta maaf, kata-kataku mungkin sedikit berlebihan!”

Dia membungkuk dalam-dalam pada Airi, dan pada saat yang sama, kedua gumpalan itu membesar———

Duh jangan melihatnya. Itu akan mengambil konsentrasiku sampai ke akarnya.

Kemudian semua orang mulai tertawa dan suasana menjadi santai.

“Sshi. Kalau gitu, sekarang Airi dan Keisei akan bermain untuk pertarungan balas dendam.”

“eEh, mau berapa kalipun mencoba mana mungkin aku bisa menang~!”

“Aku juga akan main meski cuman membantu, jadi kamu tidak usah khawatir.”

“Tu-Tunggu dulu, Akito. Kalau begitu aku yang sangat dirugikan!”

Meskipun mengeluh, Keisei dengan patuh masuk ke dalam kolam renang. Dia sangat serius tentang itu.

“A-Aku akan melakukan yang terbaik!!”

Mendapatkan rekan yang dapat diandalkan di Akito, Airi membuat pose tinju kecil.

Aku dan Haruka memutuskan untuk menonton pertarungan dua lawan satu yang orisinil dari tepi kolam renang.

“Ano sa, bolehkah aku tanya sedikit?”

“Hm?”

Tak lama setelah pertandingan dimulai, Haruka bertanya padaku dengan tatapan tertuju pada pertandingan.

“Kuharap itu hanya perasaanku saja, tapi bukankah Kiyopon sedikit dingin terhadap Airi?”

“Aku tidak bermaksud begitu.”

“Tapi kan, kamu bisa saja mengajarinya satu lawan satu. Itu saja kamu bisa melakukannya, kan?”

(Tln : raw nya man-to-man, belajar berduaan itu kata lainnya apa ya?)

Jika aku harus memilih antara bisa melakukannya dan tidak bisa melakukannya, aku bisa melakukannya tanpa masalah.

“Aku merasa ini tidak adil, loh, untuk Airi.”

“Aku berusaha bersikap adil kepada semua orang.”

“Benarkah?”

“Aku tidak pernah benar-benar pilih kasih kepada siapa pun kecuali untuk kepura-puraan.”

“...Apa itu berarti kamu akan bersikap adil bahkan kepada sahabat atau pacarmu?”

“Itu benar.”

“Rasanya, bukankah itu sedikit aneh? Sepertinya jarak kita terlalu jauh. Aku akan mengambil kesempatan ini untuk mengatakannya, Kiyopon sudah melihat kami dari kejauhan sejak sebelumnya, bukan?”

Tampaknya fakta itu sudah tersampaikan pada Huruka.

“Seperti wajahmu yang tersenyum, aku belum pernah melihatnya.”

Mengatakan itu, dia mengulurkan tangan kanannya dan mencubit pipi kiriku.

Dia memainkannya, menariknya dengan kuat dan lemah.

“Kuharap setidaknya kami bisa membuatmu tertawa, Kiyopon.”

“Padahal bukan berarti aku dengan sengaja tidak tertawa.”

Aku melepaskan ujung jarinya dari pipi yang dia cubit dan dia menyilangkan tangannya tidak puas.

“Masih ada alasan lain yang tidak bisa kukatakan secara langsung. Jarak antara Airi dan aku sudah terlalu dekat dari awal.”

“Apa itu?”

“Kupikir bukan aku yang membuatnya tumbuh, tapi lingkungan di sekitarnya.”

“Lingkungan sekitarnya?”

“Ada Haruka, ada Akito, dan ada Keisei. Faktor terpenting bagi Airi adalah tumbuh dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya. Faktanya, sekarang Airi banyak berubah berkat Haruka.”

“Menurutku sih yang terpenting bagi Airi adalah Kiyopon.”

“Jika dia adalah tipe orang yang tumbuh karena cinta, itu mungkin bisa saja.”

“Aku pernah dengar sebelumnya kalau Kiyopon menyadari perasaan Airi padamu, tapi gimana bilangnya ya, kurasa cara bicaramu itu sedikit jahat...”

Dia menatapku dengan mata yang rumit, seolah-olah dia tidak tahu bagaimana mengekspresikan sendiri.

“Sejak tahun pertama, Airi selalu memikirkanku setiap saat. Aku merasa senang untuk itu. Hanya saja———”

Dia menatapku dengan mata cemas, seolah-olah dia adalah seorang gadis yang menunggu jawaban atas pengakuannya.

Cinta Airi. Fakta yang tak terbantahkan bahwa dia adalah sahabat yang mendoakan keberhasilannya.

“Yang dibutuhkan Airi sekarang adalah teman-teman yang bisa dia percaya.”

“Ta-tapi ‘kan. Tapi tidak ada salahnya kan kalau ada elemen cinta di sana. Mungkin bisa membuatnya lebih bersemangat.”

“Mungkin memang akan ada efek sinergis.”

Tapi masalahnya, cinta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan lebih dari sekali secara paralel.

Pada dasarnya, hanya satu orang yang bisa duduk di kursi itu, dan jika kamu ingin membawa orang kedua, kamu harus mengambil tindakan untuk membuang orang pertama. Tentu saja, bukan tidak mungkin untuk memiliki dua atau tiga orang pada saat yang sama, tetapi harus kukatakan bahwa itu tidak cocok untuk di terapkan di lingkungan tertutup sekolah ini, dan kerugian saat terungkap jauh lebih besar. Aku berdiri dari tepi kolam.

“Setelah ini, Airi akan menerima sedikit kejutan secara mental. Pada saat itu Haruka, tolong kamu ada di sisinya untuk menyemangati dan menghiburnya lebih dari siapa pun.”

“Apa itu, apa maksudmu?”

“Maaf, tapi aku tidak bisa menjawabnya sekarang.”

Airi adalah orang yang paling tidak berharga di kelas.

Kemampuan akademik + kemampuan fisik + faktor lainnya. Secara keseluruhan, itulah yang harus aku simpulkan.

Hal yang sama tidak hanya untuk OAA tapi juga untuk kesan pribadiku.

Tapi, tergantung pada Airi, yang akan berubah dari sini, dia akan tumbuh secara perlahan.

Setengah tahun atau setahun kemudian, mungkin saat itu dia sudah bisa lolos dari peringkat terbawah di kelas.

Related Posts

Related Posts

11 comments

  1. Galama lagi bakal terungkap hubungan ayano dan kei

    ReplyDelete
  2. Siap siap kena mental nih si Airi
    Aaokwkak
    Semangat nge-TL nya min

    ReplyDelete
  3. Makasih atas translate nya min

    ReplyDelete
  4. gw lebih ship kiyo & shiina hiyori

    ReplyDelete
  5. ano sa : begini

    "satu lawan satu" pake kata "kau bisa mengajarinya seorang diri kan?"

    ReplyDelete
  6. Airi sudah ditolak sebelum mengungkapkan perasaannya:v

    ReplyDelete
  7. Airi kena mental karena hubungan Kiyo x Kei terungkap atau kah karena persaingan kelas yg semakin sulit sampe Airi tidak bisa melakukan apa apa?

    ReplyDelete
  8. Gw sih lebih milih Kiyo ama shina atau Haruka

    ReplyDelete