-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 16 Selingan 2 Part 2 Indonesia

Selingan
Di Kerajaan Centostella


◇◇◇


Takahisa dan Masato saling berhadapan di sudut aula latihan yang luas. Masato memakai pedang satu tangan dan perisai, sementara Takahisa menggenggam pedang panjang dengan kedua tangannya.

“Jangan membuat alasan seperti kau sedang menahan diri saat kau kalah, Aniki.”

Kata Masato pada Takahisa. Itu lebih merupakan konfirmasi daripada provokasi, tapi——,

“Aku dan kamu terpaut usia 4 tahun loh, Masato. Tidak mungkin aku akan kalah darimu yang masih anak-anak.”

Takahisa menjawab dengan nada jengkel, seolah dia tersinggung.

“Fun. Aku tidak yakin. Untuk orang yang kerjaannya hanya sembunyi di kamar.”

Kau tidak tahu sudah seberapa kuat diriku, ‘kan, Aniki? Kata Masato, kali ini dengan maksud provokasi.

“...Jangan meremehkanku?”

Takahisa bahkan lebih tersinggung.

“Kalian berdua. Harap berhati-hati agar tidak terlalu panas. Harap gunakan hanya ilmu pedang murni untuk menang. Jika dianggap berbahaya, saya akan segera menghentikannya.”

Sebagai wasit, Kiara berdiri di antara mereka, menghela nafas kecil, dan kemudian mengatakan itu untuk menyela mereka.

“Silahkan mulai kapan saja, Kiara-san.” jawab Masato, memegang pedang dan perisainya tanpa celah.

“.........”

Takahisa tetap diam, tapi sepertinya dia juga sudah siap sepenuhnya. Dengan ekspresi tegas di wajahnya, dia menatap Masato dan memposisikan pedangnya.

“...Mulai!”

Tanda dari Kiara dimulainya pertandingan.

Dan pada saat yang sama, Takahisa memegang pedangnya di bagian atas dan bergegas menuju Masato. Dia tidak berniat untuk mengetahui kekuatan Masato atau bagaimana dia akan bereaksi, tetapi dia bertekad untuk memenangkan pertandingan secepat mungkin. Dia melakukan ini karena dia sepenuhnya yakin bahwa dialah yang lebih kuat dari keduanya. Tapi——,

“Terlihat jelas!

Masato memperkirakan waktu ayunan pedang Takahisa dan melangkah maju. Dengan perisainya, dia menerjang ke depan dan mendorong pedang Takahisa yang belum sepenuhnya terayun. Masato menggunakan momentum dorongannya dan dengan ringan menusuk tubuh Takahisa dengan gagang pedangnya, yang dia sembunyikan di balik perisainya.

“Guh...”

Dia tidak merasakan sakit karena serangan itu tidak terlalu kuat, tetapi Takahisa didorong mundur oleh momentum dan tersandung ke belakang.

“Jika ini adalah pertandingan antar ksatria, itu tadi akan menjadi serangan yang efektif. Yah, aku tidak akan menghitungnya. Jika berakhir dengan itu, ini akan terlalu mudah.”

Masato memberi Takahisa keringanan.

“.........”

Kemarahan Takahisa meningkat, mungkin karena dia telah dipermalukan oleh seseorang yang dia pikir lebih lemah darinya.

“Ayo, majulah.”

Masato dengan ringan melangkah mundur, menjaga jarak tanpa lengah, dan mengobarkan semangat juang Takahisa. Segera setelah itu——,

“Hah!”

Takahisa melakukan serangan lain ke arah Masato. Maka dimulailah babak kedua. Sementara itu——,

“Bagaimana menurutmu, Hilda?”

Liliana sedang menonton pertandingan bersama Aki, bertanya kepada seorang wanita bernama Hilda yang merupakan kapten dari Ksatria Pengawal.

“Saya bisa mengetahuinya dari kuda-kuda mereka bahwa Masato-sama lebih terbiasa memegang pedang. Gerakannya efisien, dan dia sangat terbiasa dengan pertarungan yang sebenarnya. Itu adalah bakat yang luar biasa, semua berkat usahanya sendiri. Dia pasti sudah belajar dengan baik dari guru pedangnya, Tuan Amakawa, sebelum datang ke kerajaan kita.”

Hilda tidak menyebutkan keterampilan Takahisa, tapi memuji Masato. Sebaliknya, Hilda memahami bakat Masato dengan baik karena dia pernah bertanding satu lawan satu dengannya.

Selain itu, Masato telah mempraktikkan ajaran Rio, melakukan latihan berulang dan pertarungan setiap hari, tanpa lelah dan sabar. Tidak mudah bahkan seorang prajurit profesional untuk berlatih setiap hari tanpa henti.

“Sepertinya Onī-chan menekannya, tapi...” kata Aki sambil menyaksikan pertarungan antara keduanya.

Baru belasan detik sejak ronde kedua dimulai, tapi sekarang tampaknya Takahisa yang bertubuh lebih besar mengayunkan pedangnya dan membuat Masato kewalahan.

“Semua serangan Takahisa-sama terbaca dan ditahan oleh Masato-sama. Jika dia terus mengayunkan pedangnya dengan ceroboh, pedang itu akan segera aus. Aku yakin Masato-sama sedang menunggu untuk itu. Dia sangat tenang.”

Hilda memberitahu bahwa dia juga terbiasa dengan pertarungan yang sebenarnya di bagian ini. Faktanya, Masato memanfaatkan perisainya dengan baik untuk berhasil menangani serangan Takahisa.

(Itu bukan intuisi bertarung, melainkan aturan dari pengalamannya. Tuan Amakawa pasti sudah melatihnya cara terbaik bertarung dan keputusan apa yang harus diambil pada waktu yang tepat. Mungkin Tuan Amakawa juga adalah tipe orang yang bertarung dengan logika)

Pikir Hilda diam-diam menganalisis, meskipun dia tidak mengatakannya dengan keras.

“Be-Begitu, ya...?”

Aki mengerti dengan ekspresi yang agak rumit. Aki sangat mengerti bahwa Rio-lah yang mengajari Masato cara bertarung, setelah tinggal bersamanya. Mau tak mau dia merasa rumit ketika dia berpikir bahwa ajarannya telah membuahkan hasil hingga hari ini.

Kemudian, saat itulah itu terjadi. Masato yang telah berkonsentrasi pada pertahanan seolah-olah dia sedang memeriksa keahlian Takahisa sejauh ini, memutuskan untuk melawannya. Dia menggunakan perisainya untuk memblokir lintasan pedang yang diayunkan Takahisa ke bawah——,

“Bersiaplah, Aniki!

Masato terjun langsung ke dada Takahisa. Tapi——,

“Tidak akan kubiarkan!

Takahisa membiarkan refleksnya mengambil alih, dia memutar tubuhnya, dan mengayunkan pedangnya secara akrobatik ke Masato yang merunduk ke dalam dadanya. Ujung pedangnya mengiris udara dan menggambar lintasan yang kuat menuju Masato. Namun, Masato langsung memposisikan kembali perisainya dan memblokir pedang Takahisa.

Biasanya, serangan yang datang dari lintasan yang tidak terduga akan mengejutkanmu dan menyebabkan tubuhmu menegang dan reaksimu tertunda, tapi cara dia bereaksi terhadap serangan itu tanpa salah menilai dan tanpa ragu-ragu benar-benar mengesankan. Dia bahkan tidak mengambil risiko untuk menutup celah setelah memblokir serangan itu. Sementara itu——,

“Kuh...”

Takahisa hanya bisa memutar tubuhnya dan mengayunkan pedangnya, jadi dia meletakkan kakinya di tanah dengan kasar kehilangan postur tubuhnya.

(Sepertinya Aniki takut karena dia mencoba melakukan gerakan aneh padahal dia tidak memiliki dasarnya. Dia hanya memiliki refleks yang bagus)

Pikir Masato tampak bosan. Atau begitulah dia pikir——,

“Haah!”

Masato memastikan bahwa celah Takahisa besar, dan dia menyiapkan perisainya dan menyerang lagi. Dia langsung menuju Takahisa untuk memukulnya dengan perisainya. Meskipun tubuh Masato lebih kecil, akan mudah baginya untuk mematahkan postur Takahisa, yang kebingungan karena serangannya diblokir dengan memaksanya mengayunkan pedangnya.

“Kuh!”

Takahisa susah payah mengayunkan pedangnya secara horizontal sambil mundur dengan terhuyung-huyung. Tapi Masato melangkah masuk dengan tajam, membungkuk rendah——,

“Seranganmu sangat buruk, Aniki!”

Dia menangkis pedang Takahisa dengan perisainya dari bawah ke atas. Masato langsung mengayunkan pedangnya dengan kompak ke Takahisa dalam upaya untuk menghentikannya, dan kali ini pertarungan akan segera diputuskan.

Tapi kemudian.

“A-Aku belum selesai!”

Takahisa mengayunkan pedangnya agak terlambat. Meskipun demikian, lintasan pedang itu jauh lebih cepat daripada pedang yang diayunkan Masato——,

“uh...!?”

Dengan kecepatan yang tidak biasa, dia membalik pedang yang diayunkan Masato dengan sekuat tenaga. Pedang Masato, yang dikalahkan oleh kekuatan itu, terlempar, berputar dan terbang di udara. Setelah beberapa saat, pedang Masato jatuh ke tanah. Setelah melihat itu——,

“...Oi, Aniki. Tadi...”

Masato memelototi Takahisa. Pada saat terakhir, sepertinya Takahisa telah memperkuat tubuhnya dengan senjata ilahi. Kalau tidak, Masato pasti menang.

“A-Aku pemenangnya.”

Takahisa menyatakan kemenangannya sendiri dengan suara yang sedikit meninggi, seolah tidak sabar.

“.........Begitu, ya?”

Masato berhenti sejenak, lalu mengatakan itu.

“...Tolong tunggu sebentar. Di saat-saat terakhir.”

“Tidak apa-apa, Kiara-san.”

Kiara juga terganggu dengan fakta bahwa gerakan Takahisa tampaknya semakin dipercepat di akhir, dan dia mencoba untuk mengatakan sesuatu sebagai wasit. Tetapi, Masato menghentikannya dengan kata-katanya.

“Tapi...”

“Aniki pemenangnya, bukan? Iya, bukan? Itu benar-benar yang kau inginkan, bukan? Itulah sikap layaknya seorang kakak, bukan?”

Sementara Kiara ragu-ragu, Masato menatap Takahisa dengan tatapan tajam dan menegaskan.

“.........”

Dia menatap Takahisa, yang memalingkan muka darinya dengan muram dan diam——,

“Begitu, ya? ... Maka aku yang kalah. Untuk hari ini, ya. Ayo kita bertarung lagi.”

Masato berbalik dengan ekspresi agak kasihan dan berjalan menjauh dari Takahisa.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment