-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 6 Part 4 Indonesia

Bab 6
Masa Lalu yang Mengikat


4


Saat itu sekitar pukul 02:00 pagi di aula konser.

Aku membuka pintu yang berat itu dengan pelan.

Di ruangan besar, hanya ada satu orang yang duduk di kursi dengan punggung menghadap ke arahku.

Aku mendekati orang itu dalam diam, begitu sunyi sehingga bahkan langkah kakiku di atas karpet pun seperti bergema.

“Padahal siswa dilarang untuk meninggalkan kamar tamu mereka di jam segini.”

“Jangan berkata begitu. Jika bukan di jam segini, jelas tidak akan ada kesempatan untuk kita berduaan.”

“Jika seseorang melihat kita, kau akan bertanggung jawab, ‘kan? Chabashira-sensei.”

Chabashira bahkan tidak berbalik untuk melihatku.

“Jangan khawatir. Patroli malam guru hanya sampai tengah malam.” (00:00)

“Baguslah kalau begitu. Jadi, untuk apa kau sampai repot-repot memanggilku ke sini?”

“Setelah liburan musim panas, semester kedua akan dimulai. Dan ujian berikutnya akan dimulai.”

“Kurasa begitu. Tahun lalu, kita langsung festival olahraga, ya.”

“Ya. Tapi tidak tahun ini, akan ada satu ujian khusus yang diadakan sebelum itu.

“Apa kau yakin? Memberiku informasi itu.”

Seorang guru seharusnya tidak diperbolehkan untuk memberikan informasi yang bermanfaat kepada siswa atau kelas tertentu.

“Atau, jangan-jangan ujian khusus berikutnya sudah dimulai?”

“Tidak———bukan seperti itu.”

Jika demikian, maka fakta bahwa dia memanggilku ke sini dan percakapan ini adalah inisiatifnya Chabashira sendiri. Ini mengejutkan, karena kupikir dia adalah wali kelas yang biasanya tidak memiliki keterikatan khusus dengan kelas.

Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan, dan tiba-tiba dia diam.

Tidak ada gunanya berdiri di sampingnya, jadi aku agak berjalan ke panggung.

Biasanya, aula konser ini adalah tempat yang bagus untuk menikmati musik live.

Grand piano kelas atas yang besar masih ada di tempatnya.

Mungkin karena pertunjukan diadakan di aula ini hari ini juga, tentu saja tidak ada debu di atasnya.

“Direktur pengganti Tsukishiro bahkan sampai mempertaruhkan karirnya sendiri untuk menyingkirkanmu di pulau tak berpenghuni. Bahkan jika ayahmu adalah seorang yang terkenal, kegigihannya luar biasa.”

“Kurasa begitu. Jika aku boleh mengoreksi satu hal, Tsukishiro tidak pernah tertarik dengan posisi direktur sejak awal. Dia hanya menggunakan posisi itu untuk menyingkirkanku.”

“Jadi itu menunjukan bahwa ada kekuatan yang sebegitu besarnya telah bekerja, ya?”

Chabashira menyilangkan tangannya, sama sekali tidak bisa memahaminya.

“Apa kau sudah siap untuk bicara?”

“...Aa.”

Setelah jeda untuk bernapas, Chabashira berbicara dengan pelan.

“Bagaimana kau menganalisis kelasmu sendiri?

“Bagaimana, maksudnya?

“Apa kau pikir kalian memiliki apa yang diperlukan untuk naik ke kelas A?”

“Apa kau serius menanyakan hal itu kepada siswa di kelasmu sendiri?”

“Aku ingin menanyakannya padamu.”

Tumben, jelas tidak seperti itu.

Mungkin Chabashira hanya sedang memikirkan sesuatu.

“Baiklah, kupikir kelas itu tidak salah lagi memiliki potensi tertinggi di antara tahun kedua. Tapi, itu tidak berarti kau bisa membiarkannya begitu saja dan naik ke kelas A. Cukup sulit untuk mengejar ketinggalan dari kelas Sakayanagi, yang saat ini memiliki keunggulan besar sebagai kelas A.”

Guru akan tahu lebih baik tentang sekolah ini.

“Aku yakin bahwa itu adalah persyaratan minimum agar kelas bersatu. Dan itu termasuk kamu, Chabashira-sensei.”

Saat aku mengatakan itu, Chabashira menatapku dengan wajah terkejut. Itu adalah wajah yang mengatakan bahwa dia tahu apa yang kumaksud.

“Aku.... Guru seperti apa aku di matamu?”

Chabashira selalu bersikap dingin terhadap murid- murid disekelasnya.

Sebaliknya, dia menghabiskan hari-harinya seolah-olah dia telah menjauhi dan meninggalkan mereka.

“Seorang guru yang berpikir dia tidak bisa menang, tapi tidak bisa putus asa. Itu saja secara singkat.”

“Itu kasar sekali.”

“Fakta bahwa kau mencoba menggunakanku dan kesanku tentangmu tidak berubah sama sekali.”

“Ya, itu benar.’

Kecuali dia dengan tulus memperbaiki kesalahan itu, Chabashira tidak akan pernah berubah.

“Jangan membuat siswa bekerja keras karena kau sendiri yang ingin naik ke kelas A. Kaulah yang harus bekerja keras untuk siswa yang memiliki keinginan kuat untuk naik ke kelas A.”

“Ayanokōji...”

“Dengan begitu, jawaban yang kau cari akan datang dengan sendirinya. Begitulah menurutku.”

“...Kau bilang kelas perlu bersatu, ‘kan?”

“Ee.” (Ya)

“Dan tentu saja itu termasuk kamu.”

“Tentu saja.”

Tatapan kami saling bersilangan, dan Chabashira menarik napas dalam-dalam.

“Bagaimana kalau kukatakan aku akan membuang diriku di masa lalu?”

Mata yang mempertanyakan tekadku.

Aku harus berpikir bahwa setiap kebohongan yang kukatakan di sini akan terlihat.

“Kalau kau mengatakan kau akan membuangnya, aku juga akan membuang semua pemikiranku selama ini. Jika kau serius mengincar kelas A, aku tidak akan menahan diri lagi di masa depan.”

“...Begitu, ya.”

Apa yang akan berubah atau tidak berubah pada diri Chabashira dengan kata-kata ini?

Itu masih belum diketahui saat ini, tapi....

“Ketika kau mulai bisa melihat ke depan, kelas pasti akan mulai berubah dalam arti yang sebenarnya.”

“...Sepertinya.”

Menatap langit-langit yang tinggi, Chabashira menutup kedua matanya.

Tampaknya lebih dari mungkin bahwa itu membuat bayangan yang dalam di benaknya.

Aku seharusnya langsung pergi saja dari sini, tapi entah kenapa aku merasa sedikit berbeda dari biasanya saat ini.

Penilaianku terhadap Chabashira sebagai guru wali kelas tetap rendah.

Namun, ketika aku melihatnya sebagai manusia, penilaianku mulai berubah, meskipun hanya sedikit.

Dia jauh lebih rapuh dari yang kuduga, seseorang yang tampaknya tumbuh hanya dalam penampilannya.

Aku duduk di kursi dan membuka penutup keyboard.

“...Kamu mau apa? Jangan bilang kamu bisa main piano?”

Tanpa menjawab pertanyaannya itu sam sekali, aku menggerakkan ujung jariku di atasnya dan mulai memainkan nadanya.

Ketika pertunjukan selesai, Chabashira bertepuk tangan tidak terlihat seperti dirinya.

“Aku bukan ahli musik, tapi itu mengesankan. Bahkan dengan latihan, aku tidak akan pernah bisa bermain di level itu selama sisa hidupku. Kalau aku tidak salah ingat, lagu itu———”

Dan kemudian, di aula konser yang sunyi, ada sedikit suara di belakang.

Chabashira berdiri dengan panik dan berbalik.

Tsukishiro yang tersenyum muncul dari kegelapan.

“Beethoven, Eliise no Tame ni, ya. Mekipun lagunya itu sendiri tidak terlalu sulit, kau memainkannya dengan sangat sempurna, itu keterampilan yang mengagumkan. Sayang sekali hanya aku dan Chabashira-sensei yang menonton pertunjukan musikmu. Namun, dilarang bagi siswa untuk keluar sembarangan di jam segini. Apa kau tahu kalau ada hukuman yang menunggumu jika kau melanggar aturan ini dengan mudah?”

“Direktur pengganti Tsukishiro, ini...”

Chabashira buru-buru mencoba membuat alasan, tapi Tsukishiro menghentikannya dengan pelan.

“Jangan khawatir. Mulai hari ini, aku sudah diberhentikan sebagai direktur pengganti. Sejak direktur Sakayanagi diputuskan untuk diangkat kembali, aku sekarang hanyalah warga sipil yang tidak ada hubungannya. Aku tidak akan melapor ke sekolah.”

“...Bisakah saya mempercai Anda?”

“Kamu tidak perlu mempercayaiku. Tetapi, sejak aku muncul di sini, Ayanokōji-kun sudah menyadari kehadiranku. Jika perasaanmu terganggu, itu akan ditransmisikan ke pertunjukan musikmu. Tapi aku tidak melihat 1 milimeter pun kegelisahan dalam pertunjukan musikmu... kenapa demikian?”

“Itu sederhana. Bahkan jika aku terkena hukuman, aku tidak akan dikeluarkan dari sekolah. Satu-satunya pertarungan antara aku dan kamu adalah apakah aku dikeluarkan atau tidak. Tidak ada gunanya memberikan penalti padaku karena aku keluar tanpa izin, ‘kan?”

“Bahkan jika tahu itu, orang biasanya akan panik jika melihat adegan yang tidak ingin mereka lihat. Aku ingin tahu apakah keberanian itu diwariskan oleh ayahmu.”

“Sayangnya, aku tidak ingat pernah dibesarkan oleh orang itu.”

Aku menutup penutupnya dan menjauh dari piano.

“Di pagi hari aku tidak akan pernah bisa berbicara denganmu lagi. Dengan pemikiran itu, kupikir setidaknya aku akan bicara denganmu untuk terakhir kalinya.”

Kapal ini telah dilengkapi dengan banyak kamera pengawas.

Jadi dia selalu memeriksa bahkan cuplikan koridor di kamar tamuku, ya. Dia punya banyak waktu.

“Jika Anda lebih suka saya pergi, saya akan pergi.”

“Tidak, itu tidak perlu. Akan lebih merepotkan jika Ayanokōji-kun ditinggal sendirian denganku. Kamu lebih baik tetap di sini untuk melindungi siswa.”

Tsukishiro berjalan ke arah kami dan duduk di kursi yang berjarak dua kursi dari Chabashira.

“Apakah konsernya sudah selesai?”

“Kalau kau perlu bicara denganku, tolong lakukan secepat mungkin.”

Karena aku tahu itu hanya lelucon, aku mendesak Tsukishiro untuk berbicara secepatnya.

“Aku datang di sini ingin bernegosiasi untuk terakhir kalinya, karena tak ada ruginya mencoba. Apakah kamu bersedia untuk mengirimkan laporan keluar dari sekolah dan pulang?”

“Direk———Tsukishiro-san. Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”

Ketika mendengar kata keluar, Chabashira menyela dengan sedikit marah.

“Lakukan, apa maksudmu?”

“Kamu ikut campur dalam ujian khusus tanpa izin dan mencoba mengeluarkan Ayanokōji. Itu saja pada dasarnya adalah tindakan yang tidak bisa dimaafkan.”

“Itu sama untukmu, loh, Chabashira-sensei. Kamu mencoba untuk melakukan percakapan pribadi tentang ujian khusus berikutnya, bukan?”

Detailnya tidak diketahui, tapi tampaknya Tsukishiro telah menebak tujuan dari Chabashira dengan caranya sendiri.

“Memang benar itu tidak pantas dipuji. Tetapi aku di sini bukan untuk memberinya keuntungan dengan memberi tahunya tentang isi dari ujian itu.”

“Itu mungkin benar menurutmu, tapi kamu tidak bisa membuktikannya. Kebetulan aku muncul di sini mencegah ketidakadilan sebelum itu terjadi.”

“Itu...”

“Selain itu kejahatanmu bukan hanya satu. Kamu mengerti, ‘kan?”

Pada titik ini, kejahatan Chabashira adalah memanggil seorang siswa saat dia tidak diizinkan keluar.

Bahkan jika itu pertemuan antara seorang guru dan seorang siswa, fakta bahwa kami adalah seorang pria dan seorang wanita tidak bisa diabaikan.

Tsukishiro bisa memanfaatkan celah kecil itu tanpa henti.

“Bukan aku yang akan mendapat masalah karena membuat keributan ini, tapi kamu, Chabashira-sensei. Dan Ayanokōji-kun juga.

Jika aku dianggap melakukan perzinahan dengan seorang guru, itu tidak akan berakhir hanya dengan peringatan.

Itu adalah ancaman dari Tsukishiro seolah berkata, “kalau kamu mengerti, jangan ikut campur.”

“Kuh...”

Chabashira, yang telah melupakan bagian itu, memahami posisinya dan mundur selangkah.

“Baguslah kalau kamu mengerti.”

Tanpa kehilangan senyumnya, Tsukishiro mendekatiku, menutup jarak menjadi sekitar dua meter.

“Aku tidak akan melakukan apa pun di sini, tolong jangan khawatir.”

“Kau akan bertindak dalam situasi apa pun jika itu menguntungkanmu. Seperti itulah aku menganalisismu.”

“Jadi itu artinya kamu sudah menilaiku sampai batas tertentu, ya.”

Sejauh ini, aku telah berhasil menghindari serangan dari Tsukishiro.

Tapi, itu hanya karena Tsukishiro mengikuti apa yang hampir tidak bisa disebut rencana yang keterlaluan.

Hal-hal seperti manipulasi ujian, kekerasan, dan penculikan.

Mungkin jika pria ini ingin melakukannya, itu tidak akan seburuk yang dia lakukan selama ini.

“Aku tidak akan keluar dari sekolah.”

“Sayang sekali, tapi apa boleh buat. Jadi kamu ingin tinggal di sekolah ini sampai kamu lulus?”

“Itulah niatku. Asalkan aku mengikuti aturan sekolah dan tidak dikeluarkan dari sekolah.”

“Tidak peduli seberapa besar kamu ingin tinggal di dunia ini, kamu jelas tidak bisa menolaknya.”

Kami sama-sama tidak membicarakannya di sini, tapi bayangan siswa White Room masih berkedip-kedip di sekitar.

“Kamu pintar. Dan kuat. Saking bagusnya sehingga siapa pun yang tahu kemampuanmu akan setuju.”

Akhirnya Tsukishiro berdiri di depanku.

“Tapi tidak peduli seberapa baik dirimu, kamu masih anak-anak. Kamu sebaiknya mengerti bahwa orang itu mengirimku setelah memperhitungkan kekuatanmu itu.”

Dengan kata lain, pria itu juga meramalkan masa depan dimana Tsukishiro akan dipecat seperti ini...?

“Jika kau ingin menjalani kehidupan sekolah bahkan untuk satu hari lebih lama, pikirkan lagi baik-baik.”

“Aku akan mengingatnya.”

Dengan senyum tipis, Tsukishiro tertawa sendiri, mungkin dia memikirkan sesuatu.

“Tetapi sekolah ini ternyata sangat menarik. Karena hanya ada satu sekolah di dunia yang bisa mengadakan ujian khusus di pulau tak berpenghuni, ‘kan? Ini mengingatkanku pada saat aku masih kecil dan aku sangat menyukai Pramuka.”

Setelah mengatakan itu, Tsukishiro mengulurkan tangan kirinya di depanku.

“Kali ini, selamat tinggal, Ayanokōji-kun. Maukah kamu berjabat tangan denganku?”

Tangan kiri yang disodorkan ini tidak tampak seperti ucapan selamat tinggal belaka.

Aku mengulurkan tangan kiriku dengan cara yang sama dan meremasnya kembali, dan Tsukishiro mengangguk seolah puas.

“Kalau begitu———sampai jumpa [lagi] di lain kesempatan.”

Terakhir, dia menepuk bahu kiriku dengan telapak tangan kanannya, dan Tsukishiro berbalik.

“Aa, selain itu, silahkan berpisah dalam lima menit. Jika kalian melanggar, aku akan melaporkannya.”

Aku dan Chabashira melihat Tsukishiro pergi sampai dia hilang dari pandangan.

“Tidak ada gunanya mengkhawatirkan detailnya, tapi dia meminta jabat tangan dengan tangan kirimu. Itu artinya dia memusuhimu sampai akhir, ya?”

Secara umum, jabat tangan dilakukan dengan tangan kanan.

Yah, orang-orang saat ini tidak peduli tentang hal-hal seperti itu dan bahkan mungkin tidak tahu apa artinya.

“Aku tidak berpikir demikian sih.”

“Apa maksudmu?”

Tanpa peringatan, Tsukishiro memberi tahuku kalau dia sangat menyukai Pramuka. Normalnya, berjabat tangan dengan tangan kiri dianggap tidak sopan, tapi dalam kasus Pramuka, ini merupakan pengecualian.

Dan artinya adalah———.

(Tln: Artinya itu singkatnya dia punya niat baik)

“Tolong lupakan saja. Mungkin tidak ada gunanya memikirkan pemikiran pria itu.”

Mungkin saja itu tidak ada artinya meskipun hal itu memiliki arti.

“Aku akan kembali lebih dulu.”

“Iya, itu ide yang bagus.”

Karena Tsukishiro sudah menemukan kami, akan berisiko mengabaikan peringatannya di sini.

“Aku minta maaf. Aku memberi direktur pengganti Tsukishiro kesempatan untuk mengambil keuntungan dariku hanya karena aku memanggilmu dengan mudah.”

“Aku tidak ada masalah kok. Entah bagaimana aku mulai bisa melihat beberapa hal.”

Ketika kami mendekati pintu keluar masuk, aku memutuskan untuk meninggalkan beberapa kata untuk Chabashira tanpa melihat ke belakang.

“Seperti yang kukatakan sebelumnya, apakah kelas akan tetap bertahan atau tenggelam di masa depan bukanlah sisi lain dunia yang tidak ada hubungannya bagi sensei. Kau sebaiknya memahami itu.”

Tidak peduli ujian khusus apa yang menunggu mereka, para siswa hanya bisa bergerak maju.

Hanya wali kelas dari setiap kelas yang bisa memimpin dan menyokong mereka.

Related Posts

Related Posts

13 comments

  1. Sayonara Tsukishiro
    Sankyuu Min

    ReplyDelete
  2. Ka pw nya kpn, atau nanti dikasih kalau udh full, masi new d web ini soalnya?

    ReplyDelete
  3. mantep kak lanjut, gasabar ni pen baca

    ReplyDelete
  4. yg piano itu beethoven-fur elise ya ?
    btw.....anjir klw beneran chibasira sensei dimasa depan serius sama kelasnya ayano juga bakal serius.buat nyampai ke kelas A Persentasenya bakal ningkat drastis sih :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh, Beethoven―Für Elise. Emang seharusnya dari awal Chabashira-sensei kayak gitu. Lagian kan dia guru wali kelasnya.

      Delete