-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 4 Part 6 Indonesia

Bab 4
Pertumbuhan Setiap Orang


6


Saat itu senja, ketika matahari terbenam di balik cakrawala.

Di tempat yang dijanjikan, Ichinose sedang menungguku sambil menatap laut.

Melihat profilnya yang rapuh, aku merasa sedikit ragu untuk memanggil namanya.

“Ichinose.”

“Ayanokōji-kun. Hai.”

Kami saling menyapa dengan ringan dan aku berdiri di depannya. Suasana hati untuk langsung ke topik utama tidak ada, jadi aku memutuskan untuk mengobrol sebentar.

“Apa kalian masih melanjutkan strategi untuk menyimpan poin pribadi?”

Itu tidak ada hubungannya dengan topik utama, tapi Ichinose tidak menunjukkan ketidaksenangan.

“Un. Karena tidak ada ruginya melakukannya. Dan itu mudah karena aku hanya menyimpannya dan ketika tidak dibutuhkan lagi, aku cukup mengembalikan poin yang telah ku simpan kepada semua orang saat itu.”

Dia bilang itu mudah, tapi ini adalah strategi yang Ichinose bisa terus terapkan karena dia adalah orang yang bisa dipercaya.

Seperti yang baru saja dia katakan, bukan ide yang buruk untuk menyimpannya. Jika uangnya otomatis berkurang, tentu akan menyebabkan keresahan, tapi jika dia berjanji untuk mengembalikan sebanyak yang diberikan, ada baiknya untuk bisa memindahkan banyak uang jika terjadi keadaan darurat.

Fakta bahwa itu adalah satu-satunya keuntungan yang diberikan kepada Ichinose juga merupakan faktor besar.

“Tapi, strategi penyatuan adalah untuk keadaan darurat. Itu saja tidak akan cukup, ‘kan?”

“Ceritanya akan berbeda jika itu adalah awal dari yang baru, tapi yang ini merupakan kelanjutan sih, ya.”

Dengan kata lain, mereka tidak menyiapkan strategi baru, mereka hanya mempertahankan status quo.

“Menurutmu apa yang kurang dari kami, Ayanokōji-kun?”

“Apa yang kurang dari kelas Ichinose?”

“Un. Kami tidak bisa melihatnya sendiri dengan benar, atau lebih tepatnya... aku ingin tahu seperti apa kelas kami dari sudut pandang Ayanokōji-kun.”

“Dalam ujian di pulau tak berpenghuni, aku bisa berbicara dengan beberapa teman sekelas Ichinose. Kesan pertama yang ku dapatkan berdasarkan itu dan pesta terima kasih adalah bahwa banyak siswa yang memiliki kepribadian yang baik.”

Aku yakin dia tahu ini tanpa perlu kukatakan, tapi ini juga merupakan elemen yang tidak terpisahkan.

Tapi, karena pada dasarnya mereka tidak suka konflik, mereka tidak bisa secara agresif mengejar poin kelas.

“Kurasa penting untuk menjadi sedikit lebih keras kepala. Aku tidak menyarankanmu untuk berbuat curang atau akal-akalan, tapi kupikir penting untuk menjadi kuat melawan permainan kasar.”

“Permainan kasar... ya. Itu benar. Kami harus lebih tegas untuk bertarung, ya.”

Dia belum memiliki solusi konkret dalam pikirannya saat ini.

Satu-satunya hal yang bisa kurasakan dengan menyakitkan adalah bahwa dia mencoba yang terbaik untuk mendorong maju menuju kegelapan di depan.

“Tentang ujian di pulau tak berpenghuni tempo hari. Aku akan memberikan jawabannya...”

“U-un... itu benar, kita bertemu di sini untuk itu, ya.”

Aku dengan lembut mendekatkan wajahku ke telinga Ichinose dan mencoba berbicara dengan suara yang sulit didengar kecuali fokus padanya, mengetahui bahwa tidak ada orang lain di sekitar———di saat itu.

“Apa yang kamu dan Honami bicarakan dengan bertemu di tempat seperti ini berduaan?”

Ichinose, dikejutkan oleh pemilik suara itu, ketua OSIS Nagumo, dengan panik menjauh dariku, tapi dia pasti sudah melihat adegan itu mengingat jarak kami yang hampir nol.

Apa dia mengikutiku? Tidak, aku tidak cukup bodoh untuk diikuti tanpa menyadarinya.

Berarti Ichinose sudah ditandai dari awal, ya?

Tidak, ini mungkin karena banyaknya mata yang dimiliki Nagumo yang mengawasi.

Tidak peduli seberapa banyak aku bergerak untuk menghindari pasang mata, hampir tidak mungkin untuk sepenuhnya lepas dari mata semua tahun ketiga di kapal pesiar ini. Aku tidak akan terkejut jika beberapa dari mereka melihatku dalam perjalanan ke sini.

Tapi, tidak ada tanda-tanda kontak dari Nagumo dalam beberapa hari terakhir.

Seolah-olah sudah direncanakan, dia melakukan kontak denganku pada saat yang paling aku harapkan untuk dihindari.

“Terima kasih atas kerja kerasmu, ketua OSIS Nagumo”

Memutus arus sekaligus, Ichinose memberi salam dengan tergesa-gesa untuk kembali ke mode normal.

Bukan berarti dia bisa menghilangkan kegelisahan dan kebingungan totalnya.

Tapi, bahkan jika dia bisa memperbaikinya dengan sempurna, itu tidak akan berarti untuk Nagumo saat ini.

“Sepertinya kalian juga bertemu di hari terakhir di pulau tak berpenghuni, tapi apakah kalian menyelinap pergi bersama lagi?”

“E-etto...”

Ichinose tersedak dalam kata-katanya saat tiba-tiba dia mengingat kejadian di pulau tak berpenghuni. Dari sudut pandangnya, itu adalah insiden di mana dia secara tidak sengaja mengaku kepadaku, dan itu tidak mudah untuk ditutupi.

Aku hendak menyela, tapi Nagumo menghentikanku dengan tangannya.

Aku sedang berada di bawah tekanan kuat untuk tidak menyela sekarang.

“Yah, entah apa itu aku tidak peduli. Hanya saja———jika itu berarti mungkin akan membuat sesama anggota OSIS, Honami, menangis, sebagai ketua OSIS, aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, bukan?”

Sudah kuduga, itu yang terjadi.

Aku sudah bisa menebak ini dari saat aku sepenuhnya menyadari bahwa Kiriyama berada di pihak Nagumo.

Nagumo bergerak lebih dekat ke arah kami dan berdiri di samping Ichinose.

“Membuatku menangis...?”

“Kuharap hanya kesalahpahamanku saja, tapi tentang Karuizawa.”

Dia tidak perlu mengatakan sepatah kata pun, tapi perlahan dan bertahap untuk membuatnya mengerti secara mendalam.

“Karuizawa-san?”

Tentu saja, Ichinose tidak bisa mengerti kenapa nama Kei disebutkan saat ini.

“Sepertinya kau baru hanya memberi tahu orang-orang terdekatmu, tapi ku dengar kau sudah cukup lama berpacaran dengan Karuizawa. Benar begitu, ‘kan? Ayanokōji.”

Berpacaran dengan Karuizawa.

Ichinose mungkin tidak langsung mengerti apa yang dia maksud ketika mendengar kata-kata itu.

“Oh, baru dengar, ya? Honami dan Ayanokōji sepertinya berteman baik, jadi kupikir kalian sudah membicarakannya.”

Kemudian setelah jeda singkat, dia melanjutkan.

“Kau tidak berpikir untuk memiliki dua orang pada saat bersamaan, bukan?”

Aku tidak mengembalikan apa pun pada serangan sepihak Nagumo.

Tidak ada gunanya mengatakan di sini bahwa aku mencoba memberitahunya bahwa aku telah berpacaran dengan Kei.

Sebaliknya, jelas bahwa ini hanyalah tindakan menabur garam pada luka.

“Benarkah... itu?”

“Oi Ayanokōji, Honami sudah bertanya, kenapa kau tidak menjawabnya? Atau, aku salah dan kau tidak ada hubungannya dengan Karuizawa? Jika demikian, sangkal saja, dan aku akan meminta maaf sebesar-besarnya.”

Kiriyama melihat aku dan Kei bersama.

Tetapi, aku sama sekali tidak memberikan indikasi definitif bahwa kami berpacaran.

Dengan kata lain, ada kemungkinan tidak nol bahwa dia bermain trik pada Kei setelah mengasumsikan tentang hubungannya denganku.

Tapi tidak ada pilihan di sini untuk aku mengatakan, [Itu tidak benar].

Jika aku mengatakannya dengan kata-kata dan di kemudian hari ternyata kami berpacaran, kebohongan akan terungkap.

Tidak, lagian, karena ini Nagumo, lebih baik aku berpikir untuk membenarkannya dan melangkah masuk.

“Aku sama sekali tidak mengatakan kepada siapa pun, dari mana kau mendapatkan informasi itu?”

“...!”

Aku bisa melihat kejutan yang jelas di mata Ichinose ketika aku mengakuinya.

Pertama tidak salah lagi, Nagumo pasti menyadari bahwa perasaan Ichinose diarahkan kepadaku.

“Sepertinya kau tahu kalau aku tidak hanya bermain pada gosip dan spekulasi, ya?”

Dia menunjukkan giginya dengan senang, tapi tidak mengungkapkan triknya atau cara dia mengumpulkan bukti.

Aku dengan jelas ingat kata-kata Kiryūin bahwa Nagumo adalah tipe orang yang sulit ku tangani.

“Aku tidak bermaksud untuk mengkritik kehidupan cinta seseorang. Tapi, seperti yang ku katakan sebelumnya, Honami adalah anggota OSIS. Dia memiliki cukup peluang untuk menjadi ketua OSIS di masa depan. Jadi aku harus melindunginya.”

“Aku bisa mengerti kalau hubungan antara aku dan Ichinose tidak wajar di mata ketua OSIS Nagumo. Tapi, bukankah gegabah bagimu untuk melangkah di tahap ini?”

“Memang benar. Kecuali kau mau menipu Honami untuk berkencan denganmu, tapi sepertinya tidak terlihat seperti itu. Ini bisa saja pembicaraan yang sama sekali tidak ada hubungannya. Tapi, kau tahu, jika dua orang bertemu di tempat yang sepi seperti ini sebelum makan malam, bisa dimengerti bahwa aku akan berpikir begitu, bukan? Aku yakin pacarmu akan sangat sedih melihatmu dalam situasi ini.”

“Memang, ini bisa menyebabkan kesalahpahaman yang tidak diinginkan.”

“Sebagai ketua OSIS... tidak, aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan sebagai anggota OSIS.”

Hal terakhir yang Nagumo lakukan adalah memberi Ichinose pandangan sekilas sebelum mendekatiku.

“Tolong perkenalkan aku dengan pacarmu lain kali. Aku ingin melihat wajahnya setidaknya sekali saja.”

Kemudian Nagumo menepuk pundakku dan berbisik di telingaku.

“Terserah apa pendapatmu tentang metodeku. Tapi, kau tahu, kita bahkan belum mulai, loh?”

“Bahkan belum dimulai, ya?”

“Aku bisa mencampur 100 kebenaran dengan 1 kebohongan dan tidak ada yang akan menyadarinya. Kau harus membuat keputusan sebelum kau tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau kau ingin melawanku, kau bisa datang temui aku kapan pun kau siap. Kalau kau mau berlutut sekali saja, dan aku akan menjadi lawanmu.”

Dengan kata lain, kecuali jika aku setuju untuk melawan Nagumo, pengawasan dan gangguan tanpa henti akan terus berlanjut tanpa henti.

Ini adalah tentang menyeret ku secara paksa ke panggung pertarungan.

“Sampai jumpa.”

Setelah mengatakan itu, dia meninggalkan tempat ini.

Ini bahkan belum dimulai, ya? Hanya Nagumo yang memiliki jaringan pengawasan dan intelijen yang luar biasa.

Semua siswa tahun ketiga bergerak seperti tangan dan kakinya sendiri, menjadi mata dan telinganya.

Untuk siswa sekolah ini yang tinggal di tempat ini, itu sama dengan mengungkapkan seluruh kehidupannya ke ranah publik. Dan kemudian ada ungkapan 1 kebohongan untuk setiap 100 kebenaran.

Saat ini, dia hanya meneteskan kebenaran, tapi itu berarti kebohongan akan mulai bercampur di sana.

Dari perspektif orang luar, itu hanya perpanjangan dari gangguan. Bisa dibilang kelakuan Nagumo sungguh kekanak-kanakan. Tapi, dia telah menyebabkan lebih banyak kerusakan mental daripada siapa pun yang telah aku lawan sejauh ini.

Nagumo tidak peduli bahwa obsesinya terhadapku bisa membuat teman-temannya membencinya.

Apakah dia tidak berpikir kalau dia akan kehilangan kepercayaan karena hal seperti ini, atau apakah dia tidak berniat untuk mendapatkan kepercayaan dari awal dan berpikir bahwa cukup mengikat mereka dengan aturan?

Yang jelas, sudah pasti bahwa Nagumo siap untuk melakukan apa pun.

Dengan perginya Nagumo, yang tersisa di tempat ini hanyalah keheningan sesaat.

Sudah tidak ada lagi suasana hati yang mengalir tepat setelah kami bertemu, rasanya seperti melayang entah kemana.

Yang ada hanya waktu yang berat dan sunyi.

“A-ahaha. Rasanya, pembicaraan kita sepat terhenti, ya...”

“Ya.”

“Eetto, um... kenapa aku dipanggil ke sini, ya?”

“Ini tentang di pulau tak berpeng———”

“Ah! Itu, soal itu, ya? Itu... itu umm... makanya...”

Setelah berteriak keras, suaranya berangsur-angsur memudar.

“Busakah kamu... melupakannya?”

Senyum Ichinose tidak pernah goyah saat dia mengatakannya.

“Maaf, aku tidak tahu apa-apa. Aku terbawa suasana sendiri, dan mengatakan hal aneh, itu, sendiri...”

“Seperti yang Nagumo katakan, aku belum memberi tahu siapa pun. Wajar saja kalau kamu tidak tahu.”

“Be-begitu, ya? Mungkin begitu, tapi… aku tahu aku memang bodoh! La-lagipula, Ayanokōji-kun baik… dan sangat, menawan… tidak mungkin kamu tidak punya pacar, ‘kan…”

Bertentangan dengan keinginan kuat Ichinose untuk tidak pernah mematahkan senyumnya, matanya jelas terlihat basah dan sejumlah besar air mata mulai menggenang di matanya. Dia mencoba yang terbaik untuk menahan air matanya agar tidak meluap sambil berusaha untuk tetap tenang dan berpura-pura tidak ada yang salah.

Aku bertanya-tanya emosi macam apa yang orang rasakan ketika mereka mencintai seseorang dan orang itu sudah memiliki orang lain.

Ini adalah sesuatu yang tidak dapat aku pahami dari melihat TV, buku, atau hanya dari mendengarnya.

Itu sedikit berbeda dari apa yang aku rencanakan, tapi aku bisa mengalaminya tepat di depan mataku.

“———Sayonara.”

Ichinose lari, meninggalkan satu kata yang telah dia peras.

Aku tidak mengatakan sepatah kata pun kepadanya atau mengulurkan tanganku padanya, tapi hanya melihatnya pergi dalam diam.

“Nagumo, ya. Kupikir aku sudah membuat musuh yang jauh lebih merepotkan daripada yang kukira.”

Ini sedikit berbeda dari apa yang ku rencanakan, tapi ini tidak mengubah jalan yang ku tuju.

Meskipun aku merasakan situasi yang tidak menguntungkan menumpuk tanpa henti, aku tidak bisa menahan rasa ingin tahu yang mengalir dari dalam hatiku. 


Related Posts

Related Posts

11 comments

  1. Hari Patah hati buat Ichinose
    Sankyuu Min

    ReplyDelete
  2. Thanks update tan nya min, smangat

    ReplyDelete
  3. Kasian ichinose, mending ama sy :)

    ReplyDelete
  4. arghhh sial kenapa anime ini ngk harem aja woyy wkwkw waifunya banyak banget cok ngk bisa milih satu

    ReplyDelete
  5. Bukankah bagus jika
    Ayanokoji,sakayanagi,ryuen kerja sama ngeluarin nagumo:v

    ReplyDelete
  6. Terlepas Honami kena mental atau liciknya si Nagumo, masih g suka sama Kiriama yg udah beber2 jadi ajingnya Nagumo demi naik ke Class A

    ReplyDelete