-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 5 Part 1 Indonesia

Bab 5
Game Berburu Harta Karun yang Dipenuhi Masalah Wanita


1


Sejumlah besar siswa memadati venue di tempat yang ditentukan.

Aku bertanya-tanya berapa banyak orang yang akan ikut berpartisipasi, tapi ini kira-kira setengah dari seluruh siswa di sekolah.

Aku membayangkan akan ada lebih dari ini, tapi mungkin para siswa yang tidak tertarik dengan perburuan harta karun akan mengambil kesempatan untuk bersenang-senang di kolam yang tidak terlalu ramai.

Karena ini adalah partisipasi bebas, terserah pada para siswa untuk memutuskan bagaimana mereka ingin menghabiskan hari ini.

Tak lama kemudian, panggung di depan mulai riuh, mungkin batas waktunya telah tiba.

Sepertinya Takatō-sensei, wali kelas dari kelas A tahun ketiga, yang menjelaskan isi dari game tersebut.

Hampir semua guru sepertinya ada di sini, tapi aku tidak bisa melihat direktur pengganti Tsukishiro atau Shiba, wali kelas dari kelas D tahun pertama. Jika Shiba juga dipekerjakan oleh pria itu, tidak mengherankan jika dia mengundurkan diri setelah kejadian itu.

Faktanya, penampilan dan perannya telah diketahui oleh Mashima-sensei dan Chabashira.

“Selamat pagi semuanya. Karena sekarang sudah pukul 10.00, kami akan menutup pendaftaran dengan siswa yang ada di sini saat ini.”

Guru lain yang berdiri di pintu masuk perlahan menutup pintu.

Aturan adalah aturan, bahkan jika ini adalah game dengan partisipasi sukarela.

Begitu satu detik berlalu, mereka tidak akan mengizinkan yang datang terlambat untuk berpartisipasi.

“Sebelum saya memulai penjelasannya, saya akan menjelaskan bagaimana kami mendapatkan ide untuk memainkan game berburu harta karun ini. Game berburu harta karun ini berawal dari saran dari ketua OSIS Nagumo-kun, bahwa kita harus memiliki kegiatan rekreasi yang menarik dan menyenangkan untuk mempererat persahabatan kita setelah bersaing satu sama lain berdasarkan tahun ajaran saat tinggal di pulau tak berpenghuni yang keras. Nagumo-kun, silahkan berikan salam.”

Takatō-sensei memanggil namanya, dan Nagumo berdiri di depan para peserta.

“Pada kesempatan ini, dengan kerjasama penuh dari sekolah, game bonus sekarang akan diadakan. Ide ini datang dari studi OSIS yang bertujuan untuk memperkaya dan meningkatkan kehidupan sekolah. Dalam ujian di pulau tak berpenghuni, semua tahun ajaran sering bersaing satu sama lain dengan cara yang kejam, tetapi dalam perburuan harta karun ini, dimungkinkan untuk membuat mitra di luar tahun ajaran. Kami berharap kalian akan memanfaatkan kesempatan ini untuk berpartisipasi.”

Dia mengakhiri pidato singkatnya dengan pernyataan khas dari ketua OSIS yang serius.

Ini mengingatkanku pada Nagumo yang muncul di depan kami kemarin.

Ichinose adalah salah satu anggota OSIS, duduk di samping para guru dan mendengarkan penjelasan.

Sejauh yang bisa kulihat dari sini, tidak terlihat sesuatu yang berbeda sih....

Aku ingat air mata yang tak kusangka ditetaskan oleh Ichinose kemarin.

Aku yakin luka yang dideritanya jelas tidak ringan. Meskipun dia bertindak secara alami sekarang, itu akan memakan waktu lama baginya untuk sembuh.

Pada saat itu, cinta yang dia miliki untukku akan hilang, atau dia bahkan mungkin akan memusuhiku.

Entah perubahan seperti apa yang akan dia alami, sudah pasti bahwa itu akan menjadi titik balik utama baginya di masa depan.

Setelah salam dari Nagumo selesai, mikrofon diserahkan lagi kepada Takatō-sensei.

“Anggota OSIS tidak akan bisa berpartisipasi dalam perburuan harta karun ini karena mereka akan mengelola operasinya. Kalian akan mengerjakan tugas administrasi selama liburan, jadi terima kasih atas kerja sama kalian!”

Beberapa anggota OSIS, termasuk Horikita dan Ichinose, dipanggil untuk berkumpul di tempat Nagumo.

“Kemudian saya akan memberikan gambaran tentang game berburu harta karun, sangat sederhana tanpa aturan yang rumit.”

Tangan kanan Takatō-sensei terangkat. Di antara ibu jari dan telunjuknya, dia memegang selembar kertas persegi. Mungkin luasnya sekitar 5 sentimeter persegi. Kertas itu memiliki kode QR yang tercetak di atasnya.

“Kami telah menempelkan 100 stiker dengan kode QR ini di seluruh kapal. Peserta akan diminta untuk memainkan game berburu harta karun untuk menemukan stiker tersebut. Dengan memindai stiker dengan aplikasi khusus, poin pribadi untuk hadiah akan diberikan. Namun, setiap ponsel hanya dapat memindai satu kali. Harap dicatat bahwa hasilnya akan tercermin dan dihargai segera setelah mengakses situsnya. Tentu saja, setelah kode QR digunakan, kode tersebut tidak akan valid dan kalian tidak akan menerima hadiah apa pun jika kalian memindainya dengan ponsel lain. Juga, siapa pun yang menghapus stiker tanpa izin atau menggunakan pena untuk membuat kode tidak terbaca akan dihukum berat, bahkan jika ini hanya game, jadi harap pastikan agar tidak melakukannya.”

Aku mengerti, ini adalah permainan yang sangat sederhana dan keberuntungan itu penting.

“Jumlah poin pribadi terendah yang bisa kalian dapatkan adalah 5000 poin. Ada 50 dari mereka, persis setengah dari total. Dan yang paling banyak berikutnya adalah 30 lembar 10.000 poin.”

Sayangnya, ini berarti setengah dari 100 kartu akan merugikan.

Bahkan jika aku bisa menemukan satu kartu yang 30% dari total, tidak ada untung yang didapat.

“Untuk 20 kartu sisanya, 10 kartu bernilai 50.000 poin, 5 kartu bernilai 100.000 poin, 3 kartu bernilai 300.000 poin. Sisanya adalah 500.000 poin dan 1.000.000 poin. Semakin sulit menemukan kode QR tersembunyi, semakin banyak poin pribadi yang akan kalian terima.”

Dengan sekitar 200 peserta, itu artinya satu dari dua orang tidak akan mendapatkannya, tapi jika aku menemukan stiker dengan kode QR yang paling sulit, itu adalah satu juta poin. Ini bukan jumlah yang mudah untuk didapatkan, bahkan dalam ujian khusus. Aku tidak akan terkejut jika ini adalah sesuatu yang setengah dari kami akan mengambil risiko kehilangan uang, tapi....

“Jumlah siswa yang berpartisipasi lebih dari 200, tapi hanya tersedia 100 kode QR. Tidak dapat dihindari bahwa beberapa siswa tidak akan mendapatkannya. Namun, kami telah menyiapkan cara untuk menghindari risiko tersebut. Peserta dari tahun ajaran berapa pun dapat dipasangkan, dan jika salah satu dari mereka menggunakan ponsel mereka untuk memindai kode QR saat dipasangkan, hadiah untuk kode QR itu, misal itu 30.000 poin, maka 30.000 poin akan diberikan kepada setiap pasangan.”

Artinya bahwa jika hanya pasangan yang memindai 100 kode QR, maka 200 orang akan mendapatkan hadiahnya. Ini bisa sangat mengurangi kemungkinan kehilangan uang tanpa mendapatkan satu poin pun.

Satu-satunya kelemahan adalah jika kami menemukan lebih dari satu kode QR, kami mungkin kesulitan menentukan kode QR mana yang akan dipindai. Terlepas dari kekurangan seperti itu yang memerlukan beberapa penyesuaian, tampaknya berpasangan sangat bermanfaat.

“Juga, tempat di mana kode QR ditempelkan telah ditentukan sebelumnya.”

Tentu saja, ada banyak tempat di seluruh kapal yang dianggap sebagai daerah yang tidak dapat diganggu gugat.

Takatō-sensei menjelaskan menggunakan layar.

Untuk meringkas secara singkat, stiker kode QR tentu saja tidak disembunyikan di toilet dan kamar tamu, serta lantai dan kamar khusus karyawan juga tentu saja dikecualikan.

Dan tidak ada stiker yang disembunyikan dalam lantai di mana siswa tidak diizinkan masuk. Ditegaskan hanya sebatas tempat-tempat umum dan jangkauan pergerakan siswa yang diperbolehkan untuk didatangi.

“Dan kemudian———kami akan memberi kalian ini.”

Dengan mengatakan itu, para guru mulai membagikan kertas sekaligus.

Tak lama kemudian, aku menerima selembar kertas yang terlipat menjadi dua.

Peta kapal yang telah sedikit dimodifikasi, dan area tempat stiker ditempelkan telah diisi dengan warna. Dan ada huruf dan angka yang tidak dikenal di atasnya.

“Pada dasarnya, game ini sebagian besar tentang keberuntungan. Tetapi, kami telah mencampurkan sedikit elemen yang terkait dengan kemampuan.”

Mungkin yang dimaksud adalah karakter tulisan di peta yang diberikan padaku.

“Ada tiga pertanyaan yang tertulis di sini. Jika kalian menyelesaikannya, kalian akan dapat menemukan tiga kode QR tersembunyi, dan tolong pikirkan bahwa kalian tidak akan dapat menemukan ketiga kode ini kecuali kalian memecahkan pertanyaan itu.”

Dari total 100 kartu, tiga kode QR yang disiapkan dengan istimewa, ya.

Aku membaca ketiga teka-teki secara diagonal dan kemudian memasukkan kertas itu ke dalam sakuku.

“Pendaftaran akan berlangsung selama 30 menit dari sekarang. Harap tunjukkan apakah kalian akan berpartisipasi atau tidak melalui ponsel kalian. Jika ada di antara kalian yang tidak dapat menyalakan ponsel kalian karena baterai habis atau alasan lain, segera beri tahu guru terdekat.”

Satu demi satu, siswa mengeluarkan ponsel mereka dan mulai mendaftar. Ada beberapa siswa yang meninggalkan ruangan, tapi tidak diragukan lagi kalau hampir semua orang yang hadir akan berpartisipasi. Game berburu harta karun dijadwalkan berakhir pada pukul 17:00 sore. Kode QR harus dipindai pada saat itu.

Aku juga, seperti banyak orang lain, mengeluarkan ponselku dan memutuskan untuk berpartisipasi.

Tetapi dengan begitu banyak orang di sini, tatapan kepadaku adalah yang terbesar yang pernah aku alami dalam beberapa hari ini.

Pada skala yang sebesar ini, beberapa siswa dari tahun ajaran lain juga menyadari bahwa tatapan mereka di arahkan ke suatu tempat. Aku bertanya-tanya apakah mereka saling berkoordinasi, atau apakah mereka telah diinstruksikan untuk melakukannya sebelumnya, karena ketika tahun ajaran lain mulai mengikuti tatapan mereka, jumlah tatapan yang diarahkan padaku untuk sementara berkurang dan tersebar.

Sepertinya mereka tidak akan membiarkan fakta bahwa mereka sedang mengawasiku diketahui pada titik ini.

Mereka menyimpannya sampai situasi yang lebih efektif atau lebih merusak.

Selama aku tidak tahu apa tujuan akhir mereka, aku perlu menyiasatinya dengan baik.

Aku akan berhati-hati dalam bertindak seolah-olah semua informasi telah dicuri.

Aku melihat Kei, pacarku, di antara para peserta, tapi kami bahkan tidak saling memandang.

Ini karena kami menahan diri untuk tidak melakukan kontak mata secara eksplisit selama hubungan kami belum diumumkan.

Tentu saja, bahkan jika dikatakan kami bisa berpasangan, kami tidak akan pernah melakukannya.

Tidaklah normal jika Ayanokōji Kiyotaka dan Karuizawa Kei berpasangan di tempat di mana semua orang di sekitar mengenal kami.

Pada titik ini, Horikita muncul di depan para siswa dengan mikrofon.

“Saya Horikita dari OSIS. Saya memiliki permintaan untuk semua siswa yang akan berpartisipasi. Untuk memastikan pencegahan penipuan, para peserta akan diminta untuk mengisi nama mereka di daftar kelas tertentu sekaligus memproses pembayaran 10.000 poin ketika meninggalkan ruangan. Penulisan pengganti tidak diperbolehkan. Harap dipahami bahwa ini adalah tindakan untuk mencegah partisipasi yang tidak sah menggunakan ponsel pihak ketiga. Setelah menerima hadiah kalian, silakan kembali ke sini dan laporkan pada akhir ujian. Jika kalian mengabaikannya, hadiah kalian mungkin tidak valid.”

Dengan pembayaran seluler sederhana, tidak ada cara untuk mengikat ponsel dengan siswa.

Hal ini akan memungkinkanku untuk menggunakan telepon yang berbeda untuk berpartisipasi. Terlepas dari seberapa besar masalah itu sendiri, itu tentu saja menyimpang dari tujuan awal game, yaitu berpartisipasi dengan mengikuti aturan. Tetapi, dengan memaksa pengguna untuk mengisi daftar yang menyertakan identifikasi pada saat pembayaran, ponsel bisa ditautkan ke orang tersebut. Bahkan jika aku bisa menggunakan ponsel orang lain untuk membayar, mereka akan dapat mendeteksi pelanggaran aturan pada pemeriksaan terakhir, dan bahkan jika aku membawa pemilik ponsel, itu tidak akan diterima karena namanya tidak ada dalam daftar. Orang-orang dari OSIS dan guru bekerja sama, dan meja panjang khusus ditempatkan di pintu masuk dan keluar.

Di sana sepertinya peserta harus membayar biaya partisipasi melalui ponselnya dan menulis nama mereka berdasarkan kelas sebelum meninggalkan ruangan.

Mungkin juga ada orang yang belum membayar biaya partisipasi mengunduh aplikasi secara diam-diam.

Mereka yang telah selesai menginstal aplikasi meninggalkan tempat ini secara berurutan.

Di tengah keramaian, aku mengantre, akhirnya aku sampai di depan Horikita yang berada di meja penerimaan.

“Isi namamu di sini. Lalu saya akan kumpulkan 10.000 poin.”

Dia berbicara dalam bahasa administratif dan aku memasukkan namaku dalam daftar.

Kemudian aku meletakkan ponselku di terminal untuk pembayaran dan membayar 10.000 poin.

Aku sekarang secara resmi menjadi bagian dari game berburu harta karun.

“Orang berikutnya.”

Tanpa melakukan percakapan khusus dengan Horikita, aku mengikuti arus dan meninggalkan ruangan.

Related Posts

Related Posts

3 comments