-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 5 Part 2 Indonesia

Bab 5
Game Berburu Harta Karun yang Dipenuhi Masalah Wanita


2


Nah, game berburu harta karun tiba-tiba dimulai dan berlangsung hingga malam hari.

Ada beberapa aturan yang perlu diikuti, tapi pada dasarnya itu hanya tentang pelanggaran.

Sekarang yang harus aku lakukan adalah menarik keberuntungan besar dan ikut berpartisipasi, tapi....

Area di sekitar titik awal sangat ramai karena berada di dalam area di mana kode QR ditempelkan.

Seperti belalang yang melahap tanaman, pencarian berlangsung dengan sangat cepat.

Jika aku bergabung sekarang, tidak akan ada ruang bagiku untuk menyela.

Dengan cara yang sama, beberapa siswa yang seperti melihat segerombolan belalang mulai mengubah titik pencarian mereka.

Dan yang lebih sering terlihat adalah bahwa banyak siswa menggunakan ponsel mereka untuk tetap berhubungan satu sama lain. Mungkin mereka mencari kode QR sekaligus merekrut orang lain untuk menjadi pasangan mereka.

Karena pasangan dapat dibentuk lewat aplikasi tanpa bertemu secara langsung, ada juga metode untuk berpisah menjadi dua.

“Hei, Mori-san, kenapa kita tidak mulai dari atas saja?”

Kei terlambat keluar dari venue dan berjalan dengan ramah dengan teman sekelasnya Mori Nene.

Rupanya Kei sudah menangkap teman sekelasnya lebih awal dan membuat pasangan.

Aku tentu saja masih sendirian, jadi aku memutuskan untuk turun ke lantai terendah untuk saat ini.

Karena kalau aku pergi dari lantai atas, seperti Kei, kami akan berbagi ruang yang sama.

Meski begitu———tidak ada satu pun obrolan yang masuk di ponselku.

Di saat seperti ini, apa salahnya sih kalau ada satu saja orang yang mau mengundangku?

Tidak, jangan terlalu dipikirkan. Aku merasa sudah kalah jika memikirkannya.

Lagian, tidak banyak orang yang bertukar informasi kontak baik untuk email atau obrolan denganku.

Keisei tersedia di grup Ayanokōji, tapi dia sudah mengungkapkan sejak awal kalau dia tidak akan berpartisipasi, seolah-olah dia tidak tertarik dengan game semacam ini. Akito sedang tidak enak badan, lalu Haruka dan Airi sudah seperti pasangan sejak awal.

“A...”

Saat aku mulai bergerak untuk mencari pasangan, tiba-tiba aku bertemu dengan Satō dari depan.

Aku mengangkat tanganku dengan ringan untuk memberi salam dan kemudian mencoba untuk pergi, tapi....

“Ah, tu-tunggu sebentar!”

Dia meraih lenganku dan menghentikanku dengan panik.

“Aku mau nanya... Ayanokōji-kun, apa kamu sudah berpasangan dengan seseorang?”

“Belum, aku sendirian.”

Aku tidak menambahkan “untuk saat ini” karena aku tidak berencana untuk membuat pasangan setelah ini.

Memiliki lebih banyak teman adalah satu hal, tapi memiliki teman yang bisa di ajak bekerja sama di acara seperti ini adalah hal lain.

Aku merasa sedikit hampa ketika mengatakannya, tapi aku menahannya.

“Ka, kalau begitu? Maukah kamu... berpasangan denganku?”

Dia membuat usulan yang tidak terduga, dan aku bingung bagaimana harus menanggapinya.

Satō adalah orang pertama dalam hidupku yang mengakui perasaannya padaku tahun lalu. Aku tidak bisa membalas perasaannya, jadi aku menolaknya, dan setelah itu aku berpacaran dengan Kei, ada kronologi seperti itu. Sebagai seseorang yang pantas dia benci, aku tidak pernah berharap akan ditawari untuk menjadi pasangannya.

Sejujurnya aku tidak punya alasan khusus untuk menolaknya, tapi aku juga tidak punya alasan untuk menerimanya.

Baru saja aku melihat kalau Kei sudah berpasangan dengan Mori karena dia merahasiakan hubungannya denganku, tapi itu tidak berarti bahwa aku boleh-boleh saja berpasangan dengan Satō.

“Kamu kepikiran soal Kei-chan...?”

Sulit bagiku untuk menjawab “begitulah”, tapi Satō sepertinya langsung menebaknya dari sikapku.

“Aku sudah dengar kalau kalian akan memberi tahu semua orang bahwa kalian sudah berpacaran, loh.”

“Benarkah itu?”

Sepertinya Kei sudah membuat langkah pertama untuk membuka hubungan antara aku dengan dirinya di semester kedua.

Aku sudah tahu kalau Satō menyadari hubungan antara aku dan Kei dari cerita Matsushita di masa lalu.

“Kami sudah berpacaran cukup lama sih. Itu bukan sesuatu yang kami bisa rahasiakan selamanya.”

“Yah, ada kok pasangan yang berpacaran secara sembunyi-sembunyi, tapi kupikir hanya sedikit orang yang akan menyadari kombinasi antara Ayanokōji-kun dan Kei-chan.”

Satō sudah memberitahu beberapa gadis yang dekat dengannya bahwa dia mencurigai hubungan antara aku dan Kei.

Tentu saja, aku tidak mendengar dia mengatakannya secara langsung, tapi dari cara Matsushita berbicara saat melakukan kontak denganku, aku yakin dia melakukannya. Tentu saja, Satō tidak melakukan kesalahan apa pun. Karena dia hanya menebak-nebak apa yang ingin dia katakan tanpa mengetahui apa pun tentang hal itu.

“Aa tapi, itu loh? Aku mengusulkan agar kita berpasangan karena, yah, aku pikir aku bisa mengandalkanmu sebagai partner. Aku tidak memiliki maksud lain kok... gak boleh?”

Dia mengatakan dengan tegas bahwa usulannya bukan karena alasan yang aneh.

“Berapa poin pribadi yang kamu miliki?”

“Hm, agak memalukan untuk memberitahumu, tapi... sekitar 180.000 poin.”

Aku tidak dalam situasi keuangan di mana aku bisa berbicara untuk orang lain, tapi mengingat fakta bahwa ini tepat setelah poin pribadi ditransfer, tampaknya tidak banyak. Meskipun risikonya kecil, dia pasti memiliki tekad untuk menghabiskan 10.000 poin pribadinya yang berharga untuk berpartisipasi.

Kemudian dia ingin menemukan kode QR yang sulit ditemukan dan dia juga ingin berpasangan denganku.

“Baiklah. Kalau Satō tidak keberatan denganku, kita bisa menjadi pasangan. Meskipun aku tidak bisa menjanjikan hasil.”

“Benarkah!? Yatta!”

Sikap Satō yang terang-terangan senang terhadap sesuatu yang membuatnya senang juga membuatku merasa senang sebagai partnernya.

Mengambil ponsel masing-masing, kami meminta dan menerima pasangan melalui aplikasi.

Kami sekarang resmi menjadi pasangan dan akan diberi hadiah dengan kode QR yang kami pindai dengan salah satu ponsel kami.

Sekarang kami hanya perlu meraih hadiah minimal 30.000 poin.

“Omong-omong, para guru memberi kita selembar kertas yang aneh, ‘kan?”

Satō mengeluarkan secarik kertas kusut dari sakunya.

“A!?”

Mungkin dia lupa bahwa dia sudah meremasnya saat dia melihat kondisi kertas yang dia coba keluarkan, dia segera memasukkannya ke dalam sakunya, tampak malu.

“Ah, i-ini tuh... habisnya meski kulihat aku tidak mengerti... ahaha. Kamu juga punya, ‘kan, Ayanokōji-kun?”

Sepertinya dia merasa tidak bisa memecahkan pertanyaannya dan telah menggulung kertas itu secara acak.

Aku mengeluarkan selembar kertas yang dilipat menjadi empat dan membukanya di depan Satō.

“Ini yang membuat kita bisa menemukan tiga lokasi yang menunjukkan letak kode QR, ‘kan?”

“Begitulah.”

“Jadi kalau bisa menyelesaikan ini, apakah ada kemungkinan kita bisa mendapatkan satu juta poin?”

“Tidak, kurasa tidak akan.”

Maaf menghancurkan harapanmu, tapi aku akan segera menjawabnya.

“Ee? Benarkah?”

Hanya tiga dari 100 kode QR yang jawabannya diberikan dalam format pertanyaan.

Oleh karena itu, dia ingin menaruh harapan besar pada kode QR dengan menyelesaikan pertanyaan di kertas ini terlebih dahulu, tapi...

“Ketiga petunjuk ini semuanya serupa dalam hal level. Jika demikian, aku tidak berpikir ada perbedaan dalam hadiah yang akan kita dapatkan tidak peduli yang mana yang kita pecahkan. Ada salinan kode 100.000 poin yang lumayan.... Atau bisa juga 50.000 poin.”

“Ee? Tapi kan, ada tiga petunjuk berarti hanya tiga kartu di dalamnya, bisa saja itu 300.000 poin, ‘kan?”

“Memang benar, mudah untuk mengikat 300.000 poin dengan tiga salinan terbatas, tapi kemungkinannya rendah.”

Hadiah poin pribadi yang tinggi kemungkinan tidak akan disertakan.

“Eeh? Bahkan jika kita bisa memecahkan pertanyaan yang sesulit ini, hanya itu yang bisa kita dapatkan?”

“Game harta karun ini sepenuhnya didasarkan pada keberuntungan, dan diposisikan sebagai permainan bonus. Kalau seorang siswa yang cepat mengerti atau memecahkan pertanyaan mendapatkan sedikitnya 1.000.000 poin atau 500.000 poin, atau 300.000 poin seperti yang Satō katakan, banyak siswa lain mungkin bereaksi dengan mengatakan mereka tidak terima. Tidakkah kamu sendiri akan berpikir demikian, Satō?”

Jika semuanya 300.000 poin, maka tidak akan ada yang tersisa dalam game, yang seharusnya menjadi game keberuntungan. Jika demikian, itu sama dengan kegagalan sebagai sebuah game.

Masalah ini hanyalah bagian dari bailout dan harus dilihat sebagai hadiah sederhana.

“Be-begitu, ya. Memang sih, aku mungkin akan kesal kalau ini semua adalah kode QR yang mahal...”

Memikirkan bagaimana perasaannya jika dia tidak bisa mecahkannya, dan sepertinya dia langsung paham.

“Tidak ada salahnya menggunakan petunjuk ini untuk menemukan kode QR, tapi kita tidak akan tahu hasilnya sampai kita memindai kode yang kita temukan dan mendapatkan poin pribadi. Jika kita membuat langkah yang buruk, kita bisa kehilangan peluang kita.”

Game berburu harta karun ini berlangsung selama berjam-jam, tapi pertarungan terbesarnya diputuskan dalam satu atau dua jam pertama.

“Kalau begitu apa sebaiknya kita mengabaikan ini saja, ya?”

“Kalau aku akan menggunakan kertas petunjuk ini, itu mungkin ketika aku tidak bisa menemukan kode QR yang bagus sampai mendekati akhir. Aku tahu ke mana itu diarahkan.”

Yah, pada saat aku mencoba mengandalkannya, sepertinya siswa lain sudah mengumpulkannya.

“...Apa mungkin Ayanokōji-kun, kamu sudah memecahkan petunjuk di kertas ini?”

“Entah bagaimana.”

“Hebat...!”

Setiap petunjuk tidak dibuat terlalu sulit. Karena sistem yang memungkinkan siswa dari tahun pertama hingga ketiga untuk berpartisipasi, ini lebih seperti memecahkan teka-teki daripada metode langsung.

Sementara kami berbicara, di sekitar kami, siswa yang berpartisipasi dalam perburuan harta karun sedang mencari kode QR secara acak. Meskipun area di mana kode QR ditempelkan terbatas sampai batas tertentu, jika 200 orang mencari semuanya sekaligus, kebanyakan dari mereka akan segera ditemukan.

Mungkin juga ada kode QR mahal yang tersembunyi jauh dari titik awal.

“Kurasa kita coba cari di lantai yang lebih rendah saja dulu untuk saat ini.”

“Oke, aku akan serahkan pada Ayanokōji-kun untuk memutuskan dari mana kita harus mulai mencari.”

Aku dan Satō berjalan berdampingan ke lantai terendah dari area pencarian yang ditentukan.

Selama lima menit berikutnya, kami berdua mencari kode QR, tapi hanya menemukan dua stiker mencolok. Apakah kami berada di tempat yang buruk, atau mereka tersembunyi di tempat yang lebih sulit?

Sementara aku belum mendapatkan jawabannya, jumlah siswa di sekitar secara bertahap mulai meningkat.

“Hei, Ayanokōji-kun...”

“Ada apa, kamu menemukannya?”

“Bu-bukan begitu... bo-bolehkah aku ke kamar kecil sebentar? Aku terlalu banyak minum pagi ini... sebenarnya aku mau pergi dari tadi, tapi...”

Satō menanyakan hal seperti itu sambil terlihat sangat malu.

“Aku mengerti, saat itulah kamu menemukanku, ya?”

Dia menganggukkan kepala, wajahnya memerah.

“Maaf ya, padahal kita harus mencarinya secepat mungkin.”

Aku tidak punya niat untuk memberitahu dia untuk jangan pergi ke kamar kecil. Aku dengan senang hati mengirim Satō pergi.

“A-aku akan segera kembali!”

“Jangan terburu-buru.”

Aku sudah mengirim Satō ke kamar kecil dan melanjutkan pencarianku di dekat situ sendirian.

“Apa kamu juga berpartisipasi dalam game berburu harta karun, Ayanokōji-kun?”

Saat aku mengintip di bawah sofa, seseorang memanggilku dari belakang.

Kupikir siapa yang sudah menghentikanku, ternyata itu adalah teman sekelasku, Matsushita.

Hari ini adalah hari ketika aku sering didekati oleh teman sekelasku yang tidak biasa.

Pada saat yang sama, siswa tahun ketiga Tatara, yang sepertinya sedang berbicara dengan Matsushita, menunjukkan tatapan curiga.

“...Jadi ini Ayanokōji?”

“Kamu kenal? Dengan Ayanokōji-kun ini.”

Saat Matsushita dengan penasaran menatap wajah Tatara, dia mengalihkan pandangannya dengan ekspresi pahit di wajahnya.

Matsushita tidak tahu, tapi aku yakin kalau Nagumo sudah mengkomunikasikan sesuatu tentangku kepada seluruh siswa tahun ketiga.

“Kita sedang berburu harta karun, jadi ngobrolnya nanti saja. Jangan buang-buang waktu, ayo pergi?”

“Kalau menurutmu begitu, Tatara-senpai juga sama kok. Tidak usah pedulikan aku, silakan berpasangan dengan gadis lain.”

Kehadiran tahun ketiga, Tatara, yang muncul di sini mungkin bisa menjadi peluang bagus untuk mengetahui siasat Nagumo.

“Senpai juga berpartisipasi dalam perburuan harta karun, ya.”

Ketika aku memanggilnya seolah melompat masuk, dia memberiku tatapan jijik yang terang-terangan dan mengalihkan pandangannya.

Ketika mendengar decak kecil lidahnya, Matsushita juga tahu kalau gelagat Tatara telah berubah.

“Apakah ada yang salah? Tatara-senpai.”

Ketika aku memanggilnya sekali lagi, jelas bahwa Tatara mulai menunjukkan sikap melarikan diri.

Aku tahu dari kesan pertamaku bahwa dia memiliki semacam perasaan terhadap Matsushita.

Fakta bahwa dia lebih enggan untuk melakukan kontak denganku daripada keinginannya berpasangan dengan Matsushita berarti dia berada di bawah instruksi untuk tidak terlibat dalam percakapan yang ceroboh.

“Matsushita, sampai jumpa lagi, ya.”

“Aa, ya.”

Tertawa ringan tanpa benar-benar mengerti, Matsushita melambaikan tangan pada Tatara.

Dia memandang Matsushita seolah dia menyesal, tapi kemudian memelototiku dan pergi.

“Fuuh. Aku tidak tahu ada apa, tapi aku tertolong. Ayanokōji-kun, apa terjadi sesuatu dengan Tatara-senpai?”

Bahkan jika dia tidak tahu tentang perintah dari Nagumo, dia akan curiga jika dia melihat sikapnya itu.

“Tidak ada. Aku bahkan belum pernah berbicara dengannya.”

“Fuun?”

Dia tampaknya tidak yakin, tapi dia mengelus dadanya lega seolah beban sudah terangkat dari pundaknya.

“Hei, mungkinkah kamu sendirian juga? Kalau kamu sendirian, mau berpasangan denganku?”

“Aa gak boleh———”

Tepat saat Matsushita akan mengundangku untuk berburu harta karun, aku mendengar langkah kaki berlari di belakangku.

“Hei Matsushita-san, Ayanokōji-kun itu sudah berpasangan denganku, tahu!”

Ketika Satō kembali dari kamar kecil, dia berlari kencang untuk menutup jarak antara aku dan Matsushita dan meraih kedua bahunya.

“Eh? Ah, benarkah itu?”

Matsushita melihat ke belakang sambil terkejut dengan kecepatan dan tekanan yang tidak biasa itu.

“Lagian, aku melihat Tatara-senpai tadi, bukankah dia bersamamu, Matsushita-san?”

“Daripada menyebutnya bersamaku, lebih tepatnya dia hanya mengikutiku kemana-mana...”

Ternyata bukan hanya Matsushita tapi juga Satō yang tahu tentang siswa tahun ketiga bernama Tatara ini. Dia adalah siswa kelas A tahun ketiga yang memiliki nilai keseluruhan B sampai C di OAA, sedikit lebih tinggi dari rata-rata. Dia juga memiliki gaya rambut yang tidak biasa, panjang untuk seorang anak laki-laki.

Yang seperti itu, disebut rabut apa, ya... aku tidak begitu paham dengan hal seperti itu.

“Aku sedikit menjauhinya karena dia terlalu banyak gerak. Secara tak langsung sih aku sudah menolaknya.”

“A~ aku ngerti~”

Aku tidak mengerti.

Untuk saat ini, aku harus memeriksa lagi bagian bawah sofa yang sedang aku periksa.

“Ngomong-ngomong, Ayanokōji-kun, bukannya di sana tidak ada? Kalau pun ada, kupikir itu kode QR yang murah.”

Memang benar, di bawah sofa mudah dipilih sebagai tempat persembunyian khas untuk kode QR.

Faktanya, ada kode QR di lantai sofa ini yang mengintip ke arahku saat aku berjongkok dengan sudut yang sedikit berbeda. Tentu saja, aku tidak melakukan apa pun untuk memindai kode QR ini.

“Yang terpenting adalah pola dari pihak sekolah.”

“Pola?”

“Ketika mereka memutuskan untuk menjalanankan game lotere ini, penting untuk mengetahui cara menentukan nilai dari kode QR.”

“E-etto...?”

Satō memiringkan kepalanya, tidak mengerti.

Sebaliknya Matsushita menjawab tanpa benar-benar memikirkannya.

“Tentu saja, mereka akan menyiapkan kode QR bernilai tinggi untuk lokasi yang sulit ditemukan.”

“Ya. Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang akan menentukan [sulit ditemukan] itu?”

“Guru!”

Kali ini, seolah ingin menjawab, Satō berkata sebelum Matsushita menjawab.

Tetapi, Matsushita menambahkan sebagai pelengkap.

“Cukup sulit juga untuk memasang 100 kode QR, ya. Kurasa tidak salah lagi kalau guru yang memasangnya, tapi sulit untuk membayangkan kalau itu hanya dilakukan oleh satu atau dua orang. Bahkan jika mereka berpisah dan memasangnya di tengah malam tadi malam, beberapa orang pasti dikirim keluar...”

“Entah itu mereka secara perlahan memutuskan di mana di atas kapal untuk menempelkan kode QR saat para siswa melakukan ujian di pulau tak berpenghuni, atau mereka mempercayakannya kepada guru yang bertanggung jawab atas tugas itu secara mendadak. Jika kita bisa mengetahuinya, akan lebih mudah untuk menebak di mana stiker itu ditempelkan.”

“Maaf, aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu katakan...”

“Konstruksi koridor dan penempatan dekorasi pada dasarnya sama, ya.”

“Apa kamu tahu apa artinya yang barusan, Matsushita-san?”

“Begitulah.”

“Kamu hebat, Ayanokōji-kun!”

“Aku pikir sudut pandang itu menarik, tapi tidak bisakah mereka setidaknya membuatnya sedikit lebih mudah hanya untuk game berburu harta karun?”

“...Iya, sih.”

Setelah mengatakan itu, sudah tidak ada yang bisa kukatakan kembali.

Singkatnya, aku hanya berpikir akan lebih baik untuk memberikan sedikit argumen yang logis, jadi aku tidak akan menyesal.

“Tapi yaah, sayang sekali. Gak nyangka aku udah keduluan.”

“Sa-sayang sekali?”

“Kurasa aku juga akan mencari pasangan yang sedikit lebih bisa diandalkan. Sampai jumpa lagi, ya.”

Bahkan jika kami berdiri dan ngobrol, semua orang di tempat ini hanya akan kehilangan kesempatan.

Related Posts

Related Posts

4 comments