-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 5 Part 3 Indonesia

Bab 5
Game Berburu Harta Karun yang Dipenuhi Masalah Wanita


3


Kurang dari satu jam telah berlalu sejak dimulainya perburuan harta karun. Banyak peserta yang tersebar, dan aku tidak bisa lagi melihat pemandangan puluhan orang berkumpul, tapi meski begitu aku masih sering berpapasan dengan mereka, dan melihat mereka mencari dengan sungguh-sungguh di tempat yang sama.

Secara psikologis, sulit untuk memindai kode QR pertama yang ditemukan.

Karena bahkan jika itu adalah kode QR, yang dianggap paling sulit ditemukan, mereka tidak memiliki kriteria lain. Mungkin ada persentase tertentu dari siswa, termasuk kami, yang telah menemukan kode QR senilai 500.000 poin dan 1.000.000 poin, tapi telah menahan diri untuk memindainya atau mengabaikannya.

“Selamat pagi, Ayanokōji-senpai~.”

“Hmm? Aa, selamat pagi Nanase.”

Ketika kupikir mungkin aku sudah dipanggil oleh seseorang dari belakang, itu adalah Nanase.

Nah, hari ini adalah hari lain, yang berarti kami telah memecahkan rekor untuk pertemuan berturut-turut sejak liburan dimulai.

“...Siapa?”

Satō yang untuk beberapa alasan menunjukkan kewaspadaan terang-terangan, memelototi nanase.

Nanase, sementara itu, tidak melihat tatapan tidak menyenangkan itu dan menundukkan kepalanya.

“Aku Nanase Tsubasa, dari kelas D tahun pertama.”

“Fuun... kok gak terlihat seperti tahun pertama, ya.”

Melihat bagian tertentu, kata Satō seolah meludah, tapi Nanase memiringkan kepalanya bertanya-tanya.

“Begitukah? Aku tidak berpikir aku cukup layak untuk dilihat jauh lebih tua dari diriku biasanya.”

“Ha, haa? Apanya yang tidak layak? Tidak peduli bagaimana melihatnya, itu layak!”

“Iya, kah? Aku senang jika senpai memujiku. Aku akan bekerja keras setiap hari agar menjadi lebih layak.”

“Yang benar saja menjadi lebih layak dari itu, lagian, bagaimana caramu untuk menjadi lebih layak?”

Satō bertanya, sedikit agak maju, seolah dia ingin menjadi layak juga.

“Sulit untuk menjelaskan secara spesifik, tapi... uun, kupikir pertumbuhan hati sangat penting.”

“Ha-hati? Bukan minum susu atau mendapatkan pijatan setiap hari?”

“Tentu saja, aku percaya bahwa tindakan seperti itu yang mendorong pertumbuhan fisik juga terhubung untuk menjadi lebih layak, tapi dalam kasusku, kurasa memang dari hati.”

“Hee... aku baru denger. Mungkin ada semacam sifat meyakinkan.”

Terkesan sih boleh-boleh saja, Satō, tapi kupikir kamu dan Nanase mungkin tidak membicarakan hal yang sama....

“Nanase juga ikut mencari harta karun?”

“E? Aa, tidak, aku tidak ikut kok. Entah kenapa aku hanya ingin bersantai hari ini.”

Sepertinya dia tidak berpartisipasi dalam perburuan harta karun. Tetapi jika demikian, kenapa dia muncul di tempat seperti ini?

“Aku senang melihat Ayanokōji-senpai tampak baik-baik saja hari ini. Kalau begitu, aku permisi dulu.”

Setelah berpisah dengan Nanase, aku berpapasan dengan Nakaizumi tak lama setelah itu.

“Nakaizumi, ya.”

“Hmm? Ada apa dengan Nakaizumi-kun?”

Aku sudah berusaha untuk tidak memikirkannya selama beberapa hari terakhir, tapi sepertinya itu bukan kebetulan.

Pertemuanku dengan Nanase setiap hari bukan hanya kebetulan.

Pertama-tama, Nanase mencoba melakukan kontak denganku untuk memeriksa kondisiku.

Pada hari ketiga, aku menemukan Nanase sedang makan siang di deck, tapi bahkan jika aku tidak pergi ke tempat itu, dia mungkin akan datang menemuiku.

Dan ada Nakazumi, yang mengikuti Nanase.

Dia mungkin tidak mengikuti Nanase setiap saat, tapi dia pasti merencanakan sesuatu. Dan di belakang Nakaizumi, ada bayangan Ryūen yang bersembunyi dari pandangan.

Aku bertanya-tanya apakah dia sedang menyelidiki hubungan antara aku dan Nanase, tapi Nakaizumi tidak pernah menunjukkan tanda-tanda memperhatikanku. Jika demikian, akan lebih baik untuk berasumsi bahwa dia benar-benar menandai Nanase.

Aku punya sedikit teori kenapa mereka menandai Nanase. Ryūen sedang mencari pelaku yang melukai Komiya dan Kinoshita. Jika ada hubungannya dengan itu, Nanase benar-benar putih. Ini bisa diklarifikasi dengan mengambil kesaksian dari Sudō dan Ike. Lalu, kenapa mereka mengawasi Nanase? Dia dan aku memiliki pemahaman yang sama bahwa kami melihat Amasawa hari itu, tapi jika Nanase menyembunyikan lebih banyak informasi dari itu, maka lain cerita. Bahkan jika aku memikirkannya sekarang, aku tidak akan tahu apa-apa lebih dari itu. Letakkan di sudut pikiranku dulu.

“Aa, adanih, Ayanokōji-kun! Di tempat yang agak sulit ditemukan!”

Satō berteriak gembira dan mengacungkan jarinya.

Itu ada di balik penutup lampu dudukan, yang hampir tidak terlihat.

Itu adalah stiker dengan kode QR yang menempel di atasnya untuk bersembunyi di sana.

Untungnya, tidak ada orang lain yang terlihat selain kami saat ini.

“Tapi kita tidak akan tahu berapa banyak poinnya sampai kita memindainya, bukan?”

“Ini bagian sulitnya.”

Aku merasa itu bukan kode QR dengan jumlah salinan paling banyak, tapi sulit untuk menilainya karena tempat ini tampaknya sulit ditemukan dan tidak terlalu sulit ditemukan.

“Apa yang harus kita lakukan?”

“Apa, ya...”

Namun, itu pasti kode QR yang sayang sekali kalau dibuang.

Aku mengeluarkan ponselku, mengaturnya ke mode kamera, dan mengarahkannya ke kode QR.

“E? Ga-gak papa nih? Memindainya.”

“Tidak, aku tidak memindainya.”

“e?”

Aku menekan tombol bidik dan mengambil gambar kode QR yang diperbesar.

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

“Kode QR yang tampaknya bernilai banyak poin pribadi akan ku simpan dalam foto seperti ini. Kalau kita tidak bisa menemukan kode QR bagus lainnya setelah ini, aku bisa menggunakan ponsel Satō untuk memindai kode QR dari foto yang ku simpan.”

“E? Be-benarkah itu? Apa kode yang di foto juga bisa merespons?”

“Selama aku mendapatkan bidikan yang jelas, itu akan berfungsi dengan baik.”

Tidak efisien untuk kembali ke sini untuk mencari kode QR yang kami temukan di masa lalu. Mungkin itu akan diambil alih oleh para pesaing lain, tapi jika kami menemukan beberapa dan menyimpannya, kami bisa memindainya secara acak ketika saatnya tiba. Jika salah satunya berhasil, maka itu adalah berkah. Dimungkinkan untuk menampilkan URL dengan mengarahkan kamera ke kode QR, meski hanya dengan satu perangkat.

Tapi, ponsel kami tidak mengizinkan kami menyalin URL jika kami tidak ingin mengaksesnya. Dengan kata lain, jika kami ingin menyimpan URL, kami harus mengetikkannya secara manual. Selain itu, jika kami tidak sengaja menyentuh URL, itu akan terbaca dan poin akan ditransfer.

“Sekolah mengatakan hanya ada keuntungan untuk membuat pasangan, tapi itu bukan hanya tentang berbagi poin. Kita bisa menggunakan dua ponsel untuk teknik menghemat waktu dan pencegahan kecelakaan.”

Karena itu, siswa yang terburu-buru untuk memulai mungkin telah mengabaikan hal ini, tapi pasti banyak siswa juga akan mempraktekkan teknik semacam ini.

Sekarang aku hanya perlu berharap bahwa mereka tidak menemukan kode QR ini.

Jika kami terlihat sedang melihat lampu meja, tempat ini akan langsung terekspos.

“Ayo pindah.”

“Un.”

Kemudian kami pindah lantai dan mulai mencari kode QR lagi.

Aku sedang meraba-raba di bawah salah satu sofa ketika aku merasakan sebuah tonjolan.

“Sepertinya ada di sini juga.”

“Ini pola yang mudah dipahami, ya. Di bawah sofa yang terlihat sama.”

“Satō. Bisakah kamu awasi sekeliling sebentar?”

“Oke, tapi ada apa?”

Aku duduk di depan sofa dan menundukkan wajahku untuk mengintip di bawahnya.

“Bukankah kita tidak bisa mengharapkan kode QR ada di tempat seperti itu?”

“Kode QR yang ada di sini tuh...”

Aku menyentuh bagian bawah sofa, bukan di bawah sofa, dengan tanganku.

Biasanya, kau akan mengintip ke dalam dan melihat ke lantai di bawah sofa, tapi bukan di bagian balik sofa.

Daripada tidak melihatnya, lebih tepatnya kau tidak bisa melihatnya.

Tetapi, jika kau menyentuhnya dengan tanganmu, kau akan merasakan sensasi yang berbeda. Pada dasarnya, bagian balik sofa terbuat dari kain dan aneh jika tidak rata. Ada sedikit tonjolan 5 cm persegi di ujung sentuhanku. Dengan kata lain, ini berarti ada skiter di atasnya.

Aku meletakkan ponsel di tanganku di bawah sofa dan mengambil gambar.

Bersamaan dengan cahaya dari flash, kode QR dalam kegelapan ditangkap sebagai sebuah foto.

“Wah, beneran. Ini kode QR...! Biasanya ini tidak akan bisa ditemukan, bukan!”

Kalau aku berpartisipasi dalam game berburu harta karun ini sendirian, tidak akan mudah untuk memindai kode QR ini. Kalau aku menyalakan flash, aku bisa menyimpan gambar dengan kode QR setelah mengambil gambarnya, tapi aku tidak bisa memindainya dengan ponselku sendiri.

Bahkan jika aku membalikkan sofa, aku harus siap untuk memindai kode QR ini secara praktis, mengingat kode ini cukup besar dan mencolok serta dapat dilihat oleh siswa lain.

Tetapi, jika aku berpasangan, aku cukup memindai foto-foto ini memakai ponsel Satō dan itu akan bekerja dengan lancar.

“Sekolah sepertinya punya banyak pemikiran, ya.”

Setelah menemukan kandidat pemindaian baru, kami memutuskan untuk melanjutkan.

Related Posts

Related Posts

8 comments