-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 5 Part 4 Indonesia

Bab 5
Game Berburu Harta Karun yang Dipenuhi Masalah Wanita


4


Meskipun kapalnya luas, siswa tidak bisa bergerak bebas kemana-mana. Mau tidak mau, mereka akan berkonsentrasi pada tempat-tempat di mana mereka bisa bermain dan bersantai, yang sering kali mengarah pada pertemuan yang tidak terduga.

Seorang pria menuju café terrace, juga seorang pria lain kembali ke kamar tamu.

Dua orang yang pergi ke tempat yang sama sekali tidak berhubungan bertemu di sebuah koridor.

Keduanya berjalan di tengah jalan dan tidak menunjukkan tanda-tanda saling memberi ruang. Para pria itu menyadari kehadiran satu sama lain pada waktu yang hampir bersamaan dan berhenti sekitar satu meter di depan satu sama lain.

“Yo Ryūen, aku banyak berhutang budi padamu tempo hari.”

Orang pertama yang angkat bicara adalah Hōsen Kazuomi, siswa kelas D tahun pertama.

“Apa kau yakin kau baik-baik saja tidak tidur? Paling juga, kau akan berada di tempat tidur selama seminggu atau lebih.”

Ryūen Kakeru mendengar kata-kata itu, menjawab seolah-olah dia menerimanya.

“Tenang saja. Karena membuatmu setengah mati———tidak, menghabisimu sampai mati di tempat ini saja tidak akan memuaskanku. Aku punya dua target untuk dibunuh, bukan satu, jadi aku akan sibuk.”

“Kalah dari lawan yang sama dua kali itu tidak keren. Jadi jangan memaksakan diri.”

Mereka berulang kali memprovokasi satu sama lain, tapi tidak pernah mengeluarkan tinju mereka.

“Hah. Daripada itu, kudengar kau sudah diam-diam membeli efek kartu ambil keuntungan dari tahun pertama. Tampaknya kau bertaruh pada Nagumo atau siapa itu dari tahun ketiga, tapi kau pasti menghasilkan banyak uang, ‘kan?”

“Kuku. Siapa yang membocorkannya? Padahal aku sudah membuat kesepakatan agar mereka tutup mulut.”

Sebelum ujian di pulau tak berpenghuni, Ryūen mendekati siswa tahun pertama yang memiliki kartu ambil keuntungan dan membuat kesepakatan dengan mereka. Jika grup yang ditunjuk juara, mereka harus menyerahkan semua poin yang diperoleh. Jika grup itu hanya memenangkan 50% teratas, dia hanya akan mendapatkan 30.000 poin. Dengan kata lain, jika dia membayar lebih dari itu, beberapa orang secara alami akan melepaskan hak mereka. Hasilnya, Ryūen menebak Nagumo dan mendapatkan 280.000 sebagai kompensasi untuk jumlah siswa yang mendaftar.

Sebagian besar teman sekelas Ryūen tidak mengetahui fakta ini, hanya mereka yang dia gunakan untuk mengeksekusinya yang tahu tentang itu.

“Jilat sepatuku dan aku akan memberimu sedikit tumpahannya, loh? Gorila.”

Sambil tertawa, Ryūen berjalan pergi tanpa sekali pun mengeluarkan tangannya dari sakunya.

Hōsen bisa saja membiarkannya menabrak dirinya begitu saja, tapi dia mengambil langkah ke samping dan membuka jalan untuknya.

Ishizaki waspada terhadap Hōsen, tapi bergegas mengikutinya.

Hōsen juga berjalan dengan percaya diri di tengah koridor tanpa melihat ke belakang.

“Dia masih sama menakutkannya seperti biasanya, ya. Tapi, dia ketakutan dan membukakan jalan loh.”

“Memangnya dia bakal seperti itu?”

“Tapi...”

“Kalau dia melakukan ini padaku, itu adalah tanda tekad bahwa dia akan membiarkanku lolos kali ini.”

Tepat saat mereka berpapasan, Ryūen merasakan luapan niat membunuh dan kekerasan.

“Merepotkan, ya.”

“Biarkan saja. Aku tahu dia lawan yang merepotkan, tapi pertama-tama kita harus mencari pelakunya.”

“Siap. Aku sudah menyuruh Nishino menahannya.”

Mengeluarkan ponsel untuk memastikannya, lalu Ishizaki memandu jalan Ryūen.

Tidak lama setelah itu, Ryūen dan Ishizaki tiba di tempat tujuan.

Sebelum Ishizaki sempat mengucapkan kata-kata selanjutnya, Ryūen mendekati seorang gadis.

“Kau Nanase Tsubasa?”

“Ya. Apa senpai ada perlu denganku?”

Nanase, yang sedang ditahan, menatap Ryūen tanpa tanda-tanda panik.

Dia tidak mengerti kenapa dia diincar oleh senpai yang satu tingkat di atasnya.

“Maaf, tapi aku akan mengambil waktumu sebentar.”

Biasanya, Ryūen sendirian atau berdua dengan Ishizaki sudah cukup, tapi dia membuat Nishino, gadis yang dia gunakan untuk menahannya, menemaninya. Dia tahu bahwa situasi dengan hanya pria yang mengelilingi seorang kōhai wanita bisa merugikannya, dan tidak ada untungnya.

“Aku punya pertanyaan untukmu tentang ujian di pulau tak berpenghuni.”

“Tentang ujian, ya?”

Nanase masih tidak mengerti situasinya, tapi kata-kata berikutnya membuatnya mengerti.

“Komiya terluka. Aku sedang mencari tahu siapa pelakunya.”

“Kenapa bertanya padaku?”

“Lima orang pertama yang tiba di tempat kejadian adalah Sudō, Ayanokōji, Ike, Hondō dan kamu. Tidak mungkin Sudō, Ike, dan Hondō mendapatkan petunjuk apa pun.”

“Kalau begitu kenapa tidak tanya saja pada sesama siswa tahun kedua, Ayanokōji-senpai?”

“Tentu saja, aku akan bertanya padanya juga, tergantung situasinya. Tapi, aku akan mulai darimu lebih dulu. Sepertinya kau menempel pada Ayanokōji selama ujian di pulau tak berpenghuni, apa alasannya?”

“Kupikir hal itu tidak ada hubungannya dengan kasus itu.”

“Aku tidak akan bisa menentukan apakah ada atau tidak ada hubungannya dengan kasus itu sampai aku mendengarnya darimu.”

Ketika dihadapkan dengan Ryūen yang pemaksa, kebanyakan orang akan dengan mudah mengaku.

“Maaf, tapi tidak ada yang bisa kukatakan padamu.”

Tetapi bukannya goyah, Nanase dengan tenang menolak.

Nanase menundukan kepalanya dan mencoba pergi, tapi Ryūen menendang dan membenturkan telapak kakinya ke dinding.

“Kau tidak punya hak untuk memutuskan untuk tidak berbicara.”

“Senpai cukup kasar, ya? Kupikir ini akan menjadi masalah jika ada yang melihat kita dalam situasi ini.”

“Jangan khawatir. Aku punya beberapa orang lain yang berjaga-jaga untuk memastikan itu tidak terjadi.”

“Aku mengerti kalau Komiya-senpai adalah teman sekelas Ryūen-senpai. Tetapi, kurasa aku tidak bisa membantumu sama sekali. Aku tidak punya petunjuk apa pun.”

“Benarkah? Meskipun begitu, bukankah kau sudah banyak bergerak beberapa hari terakhir?”

“Apa maksudmu?”

Dia menjawab bahwa dia tidak tahu apa yang dia bicarakan tanpa mengalihkan pandangannya, tapi itu adalah celah untuk dimanfaatkan oleh Ryūen.

“Di antara orang-orang yang kerjaannya hanya bermain, kau telah mengawasi Kurachi, siswa dari kelas C tahun pertama, sepanjang hari, bukan?”

“...”

Di sini, untuk pertama kalinya, Nanase membuka matanya dan menunjukkan tanda-tanda terguncang.

“Ketika aku mendengar apa yang sudah terjadi dari Komiya, aku mengatur penjaga padamu, Sudō, Ike dan Hondō untuk berjaga-jaga. Tiga lainnya bermain-main seperti orang idiot, tapi itu adalah perilaku yang normal di kapal ini. Tetapi kamu, di sisi lain, tidak bermain sama sekali dan sedang mengintai siswa tahun pertama tertentu. Itu tidak normal, ‘kan?”

“Itu hanya kebetulan.”

“Kebetulan, ya? Banyak orang memainkan game berburu harta karun atau apalah itu hari ini. Si Kurachi itu juga berpartisipasi dalam permainan, tapi kau tidak. Dan malah kau terus bergerak seperti sedang mengikuti Kurachi sampai Nishino menangkapmu, bukan? Apakah tindakanmu hari ini juga kebetulan?”

Setelah seseorang berpartisipasi dalam game, dia harus bergerak untuk mencari kode QR.

Tapi jika dia berpartisipasi di dalamnya, dia tidak perlu melakukan hal itu.

Nanase begitu fokus mengawasi Kurachi sehingga dia tidak menyadari orang yang sedang mengawasinya.

“Aku juga tidak berpengalaman, ya? Tak kusangka aku tidak sadar bahwa aku sedang diikuti hari demi hari. Aku terkejut.”

“Kau seharusnya berterima kasih padaku karena akulah yang pertama mendekatimu.”

“Luar biasa, Ryūen-senpai. Tetapi apa yang terjadi pada Komiya-senpai tidak ada hubungannya dengan Kurachi-kun.”

“Benarkah, kalau begitu kurasa aku harus berbicara langsung dengan Kurachi.”

“Kuharap jangan.”

“Kalau begitu beri tahu aku apa yang kau ketahui. Atau apa kau membutuhkan [seseorang] untuk memberi tahumu apa yang harus kau katakan?”

“Aku tidak butuh itu. Tetapi yang namanya tidak ada hubungannya, ya tidak ada hubungannya.”

“Jangan buat aku mengulanginya. Bukan kamu yang akan menilai itu, tapi Aku.”

Ryūen selalu memiliki senyum di wajahnya, dan dia terus melakukannya, tapi aura yang dia keluarkan berubah.

Ishizaki, yang melihat dari sisinya, telah merasakan intimidasi Ryūen dari sisinya berkali-kali, tapi dia masih belum terbiasa. Dia merasa ingin menyerah meskipun bukan dia yang ditanyai.

“Itu salah. Ryūen-senpai tidak memiliki wewenang untuk membuat penilaian seperti itu.”

Meskipun demikian, Nanase menatap lurus kembali ke mata Ryūen tanpa menunjukkan kegelisahan apa pun.

“Kenapa kau malah bingung? Cepat katakan saja.”

(Tln: Yg bagus sih TLnya “Kok malah bengong?”, tapi gak nyambung sama penjelasan dibawah)

Memang benar, Nanase Tsubasa sedang bingung dan khawatir. Di tengah ujian di pulau tak berpenghuni itulah benih-benih kekhawatirannya itu lahir. Kembali ke hari ketika dia melampiaskan amarahnya yang tak terkendali pada Ayanokōji, setelah Amasawa muncul di depan Nanase dan Ayanokōji dengan membawa senjata.

Saat itulah Ayanokōji memprediksi bahwa ada seseorang atau orang lain di depan Amasawa.

Saat itu, Ayanokōji menolak melakukan pencarian GPS, tapi Nanase diam-diam melakukannya di tenda yang baru saja dia dirikan.

Tetapi alih-alih melihat detailnya, dia malah masuk ke dalam tenda Ayanokōji. Dia tahu bahwa jika dia menyelidikinya dengan buruk dan menemukan sesuatu, keterkejutan dan kegelisahannya akan terbaca. Sebagai hasil dari pencarian GPS rahasia itu, ada dua orang, selain Amasawa, yang dekat dengan Nanase dan Ayanokōji. Keduanya adalah Kushida Kikyo, siswa tahun kedua, dan Kurachi Naohiro, siswa tahun pertama. Biasanya, keduanya harus diselidiki, tapi penyelidikan Kushida, seorang siswa tahun kedua, telah ditunda karena dia adalah teman sekelas Ayanokōji.

Dan selain itu, dia telah melakukan kontak rutin dengan Ayanokōji untuk memastikan dia baik-baik saja dan untuk melindunginya jika diperlukan, tapi apa yang dia lakukan sepertinya tidak sadari.

“Ini hanya buang-buang waktu, lebih baik kita bicara langsung dengannya?”

Nanase melihat ke bawah seolah-olah dia sudah menyerah, tapi dia dengan cepat melihat ke atas.

“Sayang sekali, tapi aku tidak tahu kemana dia pergi di kapal ini untuk menemukan kode QR.”

Ryūen tertawa kecil dan mengeluarkan ponselnya.

“Di mana Kurachi? Lantai kamar tamu, lantai empat, ya? Ya, aku akan segera ke sana.”

Ryūen sudah mengantisipasi semua ini, mengakhiri panggilan singkatnya dan menyimpan ponselnya di saku.

“Setelah kau menariknya dariku, kau menyuruhnya mengawasi Kurachi-kun, ya?”

“Tidak sepertimu, aku memiliki banyak orang yang bisa menjadi tangan dan kakiku, mata dan telingaku.”

“Dia mungkin benar-benar tidak ada hubungannya, loh, Kurachi-kun itu.”

“Kau tidak perlu sampai harus memberi tahuku. Aku hanya perlu menghapusnya satu per satu.”

Entah itu Nanase atau Ryūen, Kurachi adalah satu-satunya petunjuk yang bisa mereka ikuti sekarang.

“Sekarang putuskanlah dengan cepat apakah kau akan ikut atau tidak.”

Jika di sini Nanase menolak, tak perlu dibayangkan bahwa Ryūen akan mendekati Kurachi sendirian.

Nanase mengangguk sekali dan memutuskan untuk pergi menemui Kurachi bersama Ryūen.

Tidak lama kemudian, mereka bisa melihat Kurachi sedang mencari kode QR dan Taguri, yang sepertinya adalah pasangannya.

“Pertama-tama, tolong biarkan aku bicara dengan Kurachi-kun.”

“Apa?”

“Karena aku bisa mendapatkan informasi darinya dengan lebih baik.”

“Apa jaminannya kalau kau akan memberikan aku informasi yang kau dapatkan darinya?”

“Percayalah saja padaku.”

“Maaf, tapi aku tidak bisa mempercayaimu.”

“Bahkan jika kamu tidak percaya padaku, kamu harus percaya padaku. Aku pasti akan melaporkan semuanya.”

“Yah, okelah. Tapi kalau kau sampai mengacau, aku tidak akan segan-segan bahkan jika kau seorang wanita, mengerti?”

“Aku mengerti.”

Dengan dagunya, Ryūen memberikan instruksi kepada Nishino dan Ishizaki untuk menarik Taguri menjauh dari Kurachi.

Jika siswa tahun kedua, termasuk Ishizaki dan yang lainnya, memanggilnya, dia tidak punya pilihan selain mematuhinya dengan patuh.

“Apa kamu punya waktu sebentar, Kurachi-kun?”

“Eh? Kamu kalau tidak salah, Nanase dari kelas D... ‘kan?”

Kurachi bingung dengan dipanggilnya Taguri oleh senpai mereka dan menjadi gelisah.

“Aku ingin menanyakan beberapa hal padamu.”

“Maaf, tapi aku sedang berburu harta karun sekarang, jadi aku tidak punya waktu———”

“Katakan padaku alasan kenapa kamu mengincar Ayanokōji-senpai saat ujian di pulau tak berpenghuni.”

“Ha? A-apa yang kamu bicarakan sih?”

Jika dia menghabiskan banyak waktu, dia tidak tahu kapan Ryūen akan melakukan kontak dengan mereka.

Nanase perlu menanyakan hal itu mumpung mereka masih berduaan.

“Tidak ada gunanya menyembunyikannya. Saat hujan deras di hari ketujuh ujian, aku menggunakan pencarian GPS untuk mencari tahu siapa yang ada di sekitar. Yang ada hanya Amasawa-san, dan satu orang lainnya, kamu. Dan di dekat tempat kejadian, ada alat yang digunakan untuk memukul orang. Kau tidak bisa mengelak.”

“Aku tidak tahu apa maksudmu!”

Kurachi menyangkalnya dengan keras dan mencoba untuk melarikan diri, tetapi Nanase meraih lengannya.

“Kau bisa melihat siswa tahun kedua di belakangku. Dia mati-matian berusaha menemukan pelaku yang hampir menyerang Ayanokōji-senpai. Dalam beberapa kasus, dia bahkan mungkin akan menggunakan kekerasan.”

“Ha-hah? Ja-jangan bercanda, apa-apaan itu!”

“Ssst. Demi kebaikanmu sendiri lebih baik kamu jangan melawan dengan berteriak terlalu keras.”

“Uh! Ta-tapi aku... aku hanya...!”

“Hanya?”

“...Aku diberitahu... jika aku menyerang Ayanokōji-senpai aku akan diberi uang...”

“Jika kamu menyerang, ya?”

“Normalnya aku tidak akan menerimanya. Tapi aku sudah menggunakan semua poin pribadiku, selain itu...”

“Selain itu?”

“Aku diberitahu kalau aku hanya perlu [berpura-pura] menyerangnya dan itu bukan masalah besar. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun, kau tahu itu, ‘kan?”

Memang benar jika dia berpura-pura menyerang, dia bisa menganggapnya sebagai lelucon.

“Siapa yang menyuruhmu berpura-pura menyerang dengan menawarimu uang? Lagian itu kapan?”

“Itu... sebelum ujian di pulau tak berpenghuni...”

“Se-sebelum ujian, ya?”

Nanase juga terkejut terhadap waktu yang tidak terduga.

“Dengan kata lain, itu sudah direncanakan sejak awal... ya?”

“Selain itu aku tidak tahu siapa itu. Poin pribadinya ditransfer begitu saja.”

“———Itu bohong, ‘kan?”

“Uh!? I-itu tidak bohong.”

“Jelas terlihat bahwa kamu mengetahui sesuatu dan menyembunyikannya.”

“Aku tidak kok...”

“Kupikir Kurachi-kun tidak tahu banyak tentang ini, tapi karena tindakanmu saat itu, selain Ryūen-senpai, rencana Hōsen-kun juga telah berubah.”

Kurachi mengerutkan kening saat percakapan tiba-tiba berubah.

“Sekarang dia mati-matian mencari pelakunya. Kira-kira apa yang akan terjadi kalau aku melaporkannya, ya? Aku yakin Hōsen-kun tanpa ampun akan mengangkat tinjunya ke arah Kurachi-kun.”

Ryūen, siswa tahun kedua, dan Hōsen, siswa tahun pertama. Kedua seniman bela diri mengancam akan membunuhnya.

“Tu-tu-tu-tunggu, kubilang tunggu! Oke, aku akan bicara! Aku akan berbicara, tapi tolong jangan lakukan itu!”

Dia berbisik, tapi dengan putus asa meninggikan suaranya.

Hōsen adalah yang paling dibenci dan ditakuti dari semua siswa tahun pertama.

Efektivitas nama itu lebih dari yang bisa Nanase bayangkan ketika dia mencobanya.

“...Dia teman sekelasku Utomiya.”

“Utomiya-kun, ya?”

“Ya. Begitu ujian khusus ini selesai, aku akan memberimu uang, jadi aku ingin kamu menyerang Ayanokōji-senpai, begitu katanya.”

“Apakah itu benar?”

“Serius itu beneran!”

Melihat mata Kurachi itu, Nanase mengangguk sekali.

“Aku percaya padamu, Kurachi-kun. Terakhir, izinkan aku mengajukan satu pertanyaan lagi, apa kamu tahu sesuatu tentang cedera pada Komiya-senpai dan yang lainnya?”

“Komiya? Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Tidak, sungguh, aku tidak tahu. Pokoknya, tolong jangan beri tahu Hōsen kalau aku ada hubungannya dengan itu, ya? Oke?”

“Baiklah, aku berjanji.”

Dia menginstruksikannya Kurachi untuk pergi, dan Taguri dibebaskan pada saat yang sama.

Ryūen segera mendekat dan meminta Nanase untuk berbicara. Kurachi sepertinya tidak tahu apa-apa tentang kasus Komiya, tapi Ryūen tidak percaya bahkan jika dia mengatakannya dengan jujur. Bahkan jika dia menatapnya dari kejauhan, dia bisa tahu kalau Kurachi memberi tahu Nanase sesuatu yang dia tahu.

“Dia bilang... Utomiya-kun mungkin tahu sesuatu.”

“Utomiya?”

“Utomiya Riku-kun, siswa kelas C tahun pertama sama seperti Kurachi-kun.”

Ryūen segera mengeluarkan ponselnya dan memeriksa wajah dan kemampuan Utomiya dengan OAA.

“Aku tidak ingat pernah melihat mukanya. Tapi dia memiliki kemampuan fisik A, ya.”

“Dia mungkin memiliki kemampuan untuk mendorong Komiya-kun ke bawah tanpa dia sadari, tapi kita belum punya bukti.”

“Banyak hal sudah mulai terlihat.”

“...apa yang akan kamu lakukan?”

“Itu sudah jelas, bukan? Aku akan memburu bocah Utomiya ini dan membuatnya bicara.”

“Tunggu sebentar. Aku tidak setuju dengan itu.”

Jika Utomiya adalah siswa White Room, akan sulit untuk menghadapinya, bahkan untuk Ryūen.

Di atas segalanya, fakta bahwa dia telah melangkah sejauh ini tanpa izin Ayanokōji bukanlah sesuatu yang layak untuk dipuji.

“Ini adalah insiden tanpa ada bukti pasti... tidak, ini adalah perkara. Anggaplah jika Utomiya-kun adalah pelakunya, jika dia dibebaskan dari semua tuduhan, itu akan menjadi akhir dari itu, bukan?”

(Tln: Jiken = insiden/kejadian, Jian = perkara/penyebab terjadinya jiken)

“Seperti bagaimana Kurachi tadi buka mulut, ini semua tentang bagaimana kau mengancam seseorang.”

“Aku sudah mengikutinya selama beberapa hari terakhir dan sudah melakukan penelitianku sebelumnya. Mengingat kepribadian aslinya, aku tahu kalau aku bisa menjatuhkannya jika aku menekannya. Tetapi untuk Utomiya-kun tidak diketahui.”

“Lalu kau mau aku apa?”

“Tolong beri aku waktu. Tentu saja, aku tidak akan memintanya secara gratis.”

“Hoo? Katakan padaku.”

“Aku sudah lama diam tentang hal itu, tapi ada saksi yang tidak diketahui Ryūen-senpai selama perkara Komiya-senpai. Aku bisa memberitahumu siapa orang itu.”

“Siapa itu?”

“Aku tidak bisa memberitahumu sekarang. Aku akan memberitahumu jika kamu menahan diri untuk tidak melakukan kontak dengan Utomiya-kun.”

“Ini negosiasi yang sulit untukku. Yah, okelah, aku akan menerima persyaratanmu.”

“Terima kasih. Aku akan menghubungimu lagi dengan detailnya.”

“Tapi, jika kau berbohong, kau harus bersiap untuk itu, oke?”

“Aku tidak berbohong.”

“Kuku, kurasa. Silakan hubungi aku sebelum aku kehilangan kesabaran.”

Nanase memberikan jawaban lembut, mengangguk dan meninggalkan tempat itu.

Related Posts

Related Posts

3 comments