-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 6 Part 2 Indonesia

Bab 6
Masa Lalu yang Mengikat


2


Pada hari dimana pesta minum yang berisi keluhan dari para guru itu dilakukan.

Para siswa yang tidak tahu apa-apa bergabung dengan teman-temannya untuk membuat kenangan di sisa waktu yang ada di kapal pesiar mewah.

Tetapi, aku Horikita Suzune, akan menggunakan beberapa hari liburan yang tersisa untuk sesuatu yang sama sekali berbeda.

Di depan pintu masuk kolam renang pribadi terdapat konter untuk karyawan dan penerimaan.

Jika tersedia, sepertinya aku harus mendaftar di sini dan membayar sebelum aku bisa menggunakan kolam renang.

Tapi kudengar kolam renang pribadi sangat populer di kalangan para siswa, jadi kukira mereka hampir selalu dipesan.

Tentu saja, itu hal yang bagus untukku.

“Permisi, aku sedang berpikir untuk memesan kolam renang pribadi.”

Aku bicara dengan karyawan di meja penerimaan. Mungkin karena sudah berulang kali melakukan percakapan yang sama dengan banyak siswa, karyawan tersebut mulai memberiku penjelasan singkat dengan lancar.

“Silakan isi slot waktu yang kamu inginkan. Jika sudah penuh, kami bisa memasukkanmu ke dalam daftar tunggu.”

Kemudian karyawan itu menyerahkan papan itu kepadaku.

Aku tidak datang ke tempat ini untuk menikmati kolam renang pribadi.

Aku harus repot-repot kesini untuk mendapatkan papan yang baru saja kudapatkan di depanku.

“Aku pinjam sebentar.”

Kafe dan tempat lainnya semuanya memiliki sistem penerimaan reservasi menggunakan tablet dan mesin.

Tapi untuk kolam renang pribadi, di mana waktunya ditetapkan setiap jam untuk setiap kelompok dan pemesanan dapat dilakukan hingga beberapa hari sebelumnya, semua pemesanan dilakukan di atas kertas.

Aku pura-pura mencari hari dan waktu memesanku, dan memperhatikan tulisan tangan masing-masing.

Ini adalah kolam renang pribadi untuk banyak orang, tapi pemesanan diisi oleh perwakilan kelompok.

Sebenarnya, aku ingin menyelesaikan pencarianku dengan game berburu harta karun tempo hari.

Pesertanya adalah sekitar setengah dari semua siswa.

Untuk siswa tahun pertama, tingkat partisipasi lebih dari 66%.

Sebelum akhir ujian, aku sudah memeriksa nama dan tulisan tangan semua siswa tahun pertama yang berpartisipasi, tapi tidak ada kandidat yang cocok dengan tulisan tangan yang ada di ingatanku.

Apakah kebetulan salah satu dari 34% itu adalah orang yang mengirimiku surat itu?

Tidak, atau dia tidak berpartisipasi karena dia tidak ingin aku mencocokkan nama dengan tulisan tangannya?

Yang jelas, oleh karena itu, aku masih berusaha mencari sisa 34% siswa tahun pertama.

Meski begitu, yang mengejutkanku adalah tingkat reservasi untuk kolam renang pribadi.

Hampir semua slot waktu terisi, termasuk sampai hari terakhir.

Tidak ada biaya untuk membatalkan reservasi hingga sehari sebelumnya, jadi beberapa siswa mungkin memutuskan untuk menahannya untuk sementara, tapi ini beneran sangat populer.

Ada kotak untuk menulis nama perwakilan dan jumlah siswa, tapi tidak perlu menulis tahun ajarannya.

Huruf-huruf yang kulihat tertulis di kertas itu sangat indah.

Aku membolak-balikan halaman dan memeriksa semuanya, tapi aku tidak dapat menemukan tingkat tulisan tangan yang sama.

Aku punya firasat itu tidak akan mudah ditemukan, tapi sepertinya aku benar.

Tidak setiap hari aku punya kesempatan untuk melihat nama dan tulisan tangan siswa.

Selama aku tidak dapat menemukannya, ini akan menjadi awal dari proses yang melelahkan.

Sekali lagi, penting untuk melihat setiap nama dan membandingkannya dengan OAA.

Meski bukan daftar ratusan reservasi, proses pengecekannya saja memakan banyak waktu. Sangat mudah untuk melewatkan siswa dengan tulisan tangan yang sangat jelek atau kebiasaan yang berbeda, tapi aku ingin memastikan dan mengklarifikasi tentang siapa yang bisa dikecualikan di sini.

Kecualikan Kibayashi-kun, kelas B tahun pertama, dan Mochidzuki-san, kelas D tahun pertama. Etō-san... aku sudah memeriksa tulisan tangannya setelah berpartisipasi dalam game berburu harta karun kemarin, jadi dia dikecualikan. Aku bersyukur resepsionis tidak memperhatikanku melihat daftar dengan ponselku di tangan, karena dia memiliki banyak pekerjaan yang harus dilakukan.

Meski begitu, ini benar-benar tidak mudah untuk ditemukan, ya. Untuk memastikannya, aku melihat daftar peserta perburuan harta karun tahun kedua dan ketiga, tapi aku tidak dapat menemukan siapa pun yang kupikir adalah orang yang sama.

Dimana sebenarnya orang yang menulis kertas itu....

Beberapa menit telah berlalu ketika aku selesai mengecualikan orang kesembilan.

Tepat ketika kupikir resepsionis akan mencurigaiku, aku tiba-tiba dipanggil dari belakang.

“Um, apa masih butuh waktu lebih lama?”

“Eh!? Y-ya. Maaf. Aku sedikit kesulitan menyesuaikan waktu dengan teman-temanku.

Aku terlalu fokus melihat daftar nama hingga aku tidak memperhatikan kehadiran siswa yang berdiri di belakangku.

Aku berasumsi bahwa hampir tidak ada siswa yang akan datang untuk membuat reservasi, tapi aku salah....

Sulit untuk membuatnya menungguku membuat daftar pengecualian selama beberapa menit.

Kemudian aku memutuskan bahwa akan lebih baik untuk membiarkan anak laki-laki itu membuat reservasi terlebih dahulu.

Dan dari kelihatannya, sepertinya dia bukan senior, dia adalah siswa tahun pertama.

“Aku masih butuh waktu untuk memutuskan, jadi silahkan kamu duluan.”

“Begitu, ya? Maka dengan senang hati.”

Mengatakan itu, seorang siswa laki-laki mengambil papan itu dariku.

Dia tinggi, hampir sama tingginya dengan Sudō-kun atau sedikit lebih pendek. Aku memainkan ponselku, berpura-pura sedang mengobrol dengan teman sambil menunggu pengunjung selesai mengisi daftar reservasi.

Mungkin karena hanya ada sedikit tempat di mana dia bisa melakukan reservasi, dia memutuskan lebih cepat dari yang kuharapkan.

Segera setelah itu, anak laki-laki itu menoleh ke arahku lagi, mungkin karena dia sudah selesai menulis reservasinya.

“Terima kasih banyak. Permisi.”

Begitu aku menerima kembali daftar namanya, aku segera memeriksa nama siswa tahun pertama yang sudah mengisi daftar.

“...Ketemu.”

Nama perwakilan, Ishigami Kyō. Jumlah pengguna adalah lima.

Dia tidak berpartisipasi dalam game berburu harta karun, jadi ini pertama kalinya aku melihat namanya.

Aku mencari namanya di OAA yang sudah terbuka dan juga menemukan bahwa dia adalah siswa kelas A tahun pertama.

Tulisan tangannya halus, dan tidak mengherankan bahwa dia sudah melakukan tulisan tangan selama bertahun-tahun.

Tapi, yang namanya tulisan tangan sangat mudah untuk menunjukan kebiasaan. Tulisan tangan yang aku lihat di pulau tak berpenghuni itu tidak sama seperti contoh ketikan mesin. Meski begitu, ini adalah tulisan tangan terdekat yang pernah kulihat sejauh ini. Jika ada selembar kertas yang tersisa di tanganku, aku akan bisa mencocokkannya secara detail, tapi karena Amasawa-san telah merobek dan membuangnya, itu tidak mungkin. Tidak ada kepastian bahwa tulisan tangan di ingatanku dan tulisan tangan Ishigami-kun ini benar-benar berbeda.

Ketika aku menatap tulisan tangan itu, aku merasakan sensasi yang mirip dengan Gestaltzerfall.

Yang kulihat hanya tulisan tangan sejak beberapa hari yang lalu, dan sepertinya itu membebani otakku.

“Maaf, bisa beri aku waktu sebentar?”

Aku memanggil Ishigami-kun, yang berjalan menjauh dariku, agak keras.

Dia berbalik menatapku dengan penasaran, dan aku melanjutkan.

“Sebenarnya, aku baru saja selesai bicara dengan teman-temanku, tapi sepertinya bertepatan dengan waktu yang kamu tulis. Jadi aku ingin tahu apakah aku bisa membicarakan hal itu denganmu.”

Apapun topiknya, aku butuh petunjuk untuk melihat apakah dia orang yang mengisyaratkan pengusiran Ayanokōji-kun.

“Bukannya aku tidak bisa membicarakannya, tapi aku baru saja memberi tahu teman-temanku kalau aku sudah melakukan reservasi di waktu itu.”

Dia mengangkat ponselnya sampai di sekitar wajahnya dengan sisi belakang menghadap ke arahku.

Untuk saat ini, aku berhasil menghentikannya, jadi aku bisa terhubung dengannya. Jika pria di depanku adalah orang yang telah menulis di secarik kertas di pulau tak berpenghuni, bahkan jika aku tidak tahu apakah dia mengirimkannya langsung ke tendaku, ada kemungkinan besar dia mengenalku.

“Bisakah aku melihat daftarnya lagi?”

“Tentu saja. Maaf, ya.”

“Tidak, tidak apa-apa kok, Horikita-senpai.”

Dia memanggil namaku, dan detak jantungku sedikit meningkat.

“...Kau tahu namaku, ya. Aku tidak ingat pernah bicara denganmu.”

“Aku hafal sebagian besar nama dan wajah siswa tahun kedua kemampuan akademiknya tinggi dalam ujian khusus pertama tepat setelah aku masuk sekolah.”

OAA memang serba guna juga bisa membantu mengingat nama senpai dan kōhai.

“Kamu memiliki ingatan yang bagus, ya. Kupikir aku juga sudah ingat beberapa siswa dengan kemampuan akademik tinggi, tapi aku tidak mengenalimu, Ishigami-kun.”

“Aku bukan orang yang menonjol, sih.”

Pembicaraan berjalan lancar tanpa perselisihan atau kecurigaan di pihakku.

Aku tidak mendapatkan bukti yang pasti, tapi aku masih merasa bahwa tulisan tangannya agak berbeda.

Merasa tidak enak karena menahannya lebih lama lagi, aku memutuskan untuk membiarkannya pergi.

“Bolehkah aku bertanya satu hal padamu, Horikita-senpai?”

Namun kali ini, akulah yang diajak bicara oleh Ishigami-kun.

“Ketika kamu menghentikanku, kamu bilang kamu pikir kamu ingat beberapa siswa dengan kemampuan akademik tinggi, tapi kamu tidak mengenaliku?”

“Ya, ada apa dengan itu?”

Aku tidak ingat sudah mengatakan sesuatu yang aneh, tapi....

“Apa kamu benar-benar tidak mengingatku?”

Dia mengkonfirmasi begitu seolah-olah aku sedang diingatkan.

“Tentu saja itu benar.”

Faktanya, aku tidak memiliki ingatan tentang Ishigami-kun.

“Kalau begitu, pada titik mana kamu mengetahui kalau aku memiliki kemampuan akademik tinggi? Kalau saat aku menghubungi temanku untuk memberitahukan waktu reservasi, kupikir itu akan memakan waktu cukup lama untuk menjalankan OAA dan memeriksanya.”

Aku tidak bisa segera menanggapi pertanyaan tajam yang tidak kuduga.

Tidak ada yang aneh dengan fakta bahwa aku menemukan namanya dalam daftar. Tapi ada sesuatu yang aneh tentang fakta bahwa aku tahu bahwa dia memiliki kemampuan akademik tinggi, seperti yang dikatakan Ishigami-kun.

Dia bisa saja menunjukkan hal itu sebelumnya, tapi dia melemparkannya perlahan.

Seolah-olah dia telah mengatur waktu kelegaannya karena dapat menyelesaikan tanggapannya dengan lancar.

“Aku kebetulan sedang membuka OAA dan menjalankannya di latar belakang. Nama Ishigami-kun ada di slot waktu yang ingin ku pesan, jadi aku buru-buru memeriksa foto wajahmu untuk memastikan itu adalah kamu.”

Itu sedikit alasan yang menyakitkan, tapi itu bukan sesuatu yang benar-benar mustahil.

Ishikami-kun selesai mengkonfirmasi dengan temannya lewat ponselnya dan dengan acuh tak acuh mengubah waktu reservasi.

“Begitu, ya. Maaf aku salah paham dengan aneh.”

“Tidak apa-apa. Aku yakin kamu sedikit terkejut, dan dapat dimengerti kalau kamu salah paham.”

“Kalau begitu, aku permisi.”

“Oh... iya, Ishigami-kun, terima kasih banyak untuk reservasinya.”

“Aku tidak keberatan, tapi———”

Dia akan mengatakan sesuatu, tapi dia sepertinya sedikit ragu tentang kata-kata selanjutnya.

“Apa?”

“Tidak. Sampai bertemu lagi, Horikita-senpai.”

“Ya. Sampai bertemu lagi.”

Ternyata tidak seperti yang kuharapkan, dan Ishigami-kun berbalik dan mulai berjalan pergi.

Aku tidak berpikir dia hitam kalau dari tulisan tangan, tapi anehnya aku penasaran dengan siswa itu.

(Tln: Hitam = orang yang dimaksud/dicari)

Untuk saat ini, kupikir yang terbaik adalah memposisikannya sebagai abu-abu yang lebih dekat ke putih.

(Tln: Abu-abu = tidak jelas, Putih = Bukan orang yang dicari)

Setelah melihatnya pergi sampai aku tidak bisa melihat punggungnya lagi, aku berdiri di sana dengan daftar nama di tanganku.

Sekarang setelah aku punya reservasi, tidak wajar bagiku untuk duduk di sini dan melihat daftar nama.

Aku harus ingat untuk melakukan pemberitahuan pembatalan setelah beberapa saat.

Selain itu karena aku tidak mendapatkan petunjuk, aku harus memikirkan apa langkahku selanjutnya.

“Kau terlihat seperti sedang dalam banyak masalah, ya~, Horikita-san.”

Tidak biasanya, Hoshinomiya-sensei, yang muncul di tempat ini, memanggilku.

Guru itu sepertinya sedang duduk dengan Kanzaki-kun, yang berada di kelas tanggungannya, dan mata kami bertemu.

“Benarkah, kukira itu sama seperti biasanya.”

“Iya, kah? Kurasa begitu.”

Aku lebih penasaran dengan kenyataan bahwa Hoshinomiya-sensei meletakkan tangannya di dinding.

“Um, apa Anda sedang tidak enak badan?”

“Aa~ ini? Jangan khawatir tentang aku, ini adalah penyakit khusus untuk orang dewasa.”

Penyakit khusus untuk orang dewasa? Kira-kira penyakit macam apa itu, ya....

“Omong-omong, anak keren tadi itu... etto, siapa ya namanya~. Aku merasa pernah melihatnya di suatu tempat.”

Anak yang berpapasan dengan Hoshinomiya-sensei sebelumnya tidak lain adalah Ishigami-kun.

“Dia Ishigami, dari kelas A tahun pertama.”

Sebelum aku bisa menjawab, Kanzaki-kun yang berdiri di samping guru menjawab.

“E? Siswa tahun pertama? Kalau dia tahun kedua atau tahun ketiga wajar sih kalau aku tahu, tapi...”

Hoshinomiya-sensei memiringkan kepalanya seolah penasaran karena suatu alasan.

“Ada apa dengannya? Apa Anda memikirkan sesuatu tentangnya?”

Asalkan aku bisa mendapatkan petunjuk apa pun, dengan niat itu aku bertanya.

“Uun, aku merasa aku pernah melihatnya di sekolah beberapa waktu yang lalu... mungkin aku salah lihat. Maaf, Horikita-san, tapi aku payah emang~!”

Sambil kakinya terhuyung-huyung, Hoshinomiya-sensei berlari dan menuju deck.

Aku mengikutinya, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

“A, ugugu, hii!”

Aku tidak begitu mengerti apa yang terjadi, tapi dia berjalan keluar sambil menjerit kesakitan. Kemudian, dengan tegukan keras, Hoshinomiya-sensei mencengkeram mulutnya dan meraih pagar deck.

“Oroooroorooro!”

Muntah yang berkilauan (kenyataannya, itu bukan sesuatu yang indah) tertiup angin laut yang kencang. Bersama dengan Kanzaki-kun, yang datang beberapa saat kemudian, kami hanya menatapnya.

Apa yang sedang dia tunjukkan kepada kami....

“Sensei... kupikir itu ada banyak hal yang salah dengan perilaku Anda.”

Aku menunjukkan aspek kebersihan dan moral.

“Ugh, aku mengalami campuran mabuk minum dan mabuk laut, muaaf, ya, Horikita-san———ororororo.”

Paling tidak yang bisa disyukuri adalah bahwa yang di bawah itu laut...

“Maaf, aku akan kembali ke kamarku untuk tidur aja deh.... Padahal kamu sedang bicara, Kanzaki-kun, maaf ya.”

“Tolong tidak usah dipikirkan. Aku akan memanggil sensei lagi.”

“Dan Horikita-san juga, maaf karena aku sudah menunjukkan sesuatu yang aneh~... ugh!

Dia melambaikan tangannya, tapi dengan cepat menekan mulutnya dan berlari ke kapal.

“...Kau pasti sibuk, ya.”

“Kalau kau tidak terbiasa melihatnya, itu akan membingungkanmu.”

“Apa kau pernah melihatnya beberapa kali?”

“Aku sudah ditunjukkan hal semacam itu sekitar tiga kali di homeroom pagi.”

Itu... bagaimana harus kukatakan, aku turut prihatin mendengarnya.

Dengan Hoshinomiya-sensei tidak lagi terlihat, aku membungkuk dengan ringan ke Kanzaki-kun dan berbalik untuk pergi.

“Horikita, apa hubunganmu dengan Ishigami?”

Segera setelah aku dihentikan, aku diminta untuk berbicara tentang sesuatu yang tidak kuharapkan.

“Apa, maksudnya?”

Karena arti sebenarnya dari kata-katanya tidak jelas, aku hanya bisa membalas demikian.

“Kau sudah berbicara dengannya, bukan?”

“Cara bicaramu, sepertinya kalian saling mengenal, ya. Kamu juga tahu namanya.”

“Karena aku memiliki banyak kesempatan untuk melakukan kontak dengan tahun pertama dalam ujian khusus tepat setelah promosi ke tahun kedua.”

Siswa terbaik tahun pertama, banyak yang diambil oleh kelas Sakayanagi-san dan kelas Ryūen-kun.

Tidak mengherankan jika Kanzaki-kun mengenal Ishigami-kun dalam prosesnya....

Sedikit mengejutkanku bahwa Kanzaki-kun, yang biasanya tidak berbicara denganku, melakukannya.

“Aku bertemu dengannya dalam reservasi kolam renang pribadi. Itu saja.”

Aku menjelaskan situasinya secara singkat, tapi Kanzaki-kun tampaknya sedikit tidak yakin.

“Ngomong-ngomong, apakah dia kōhai yang bisa dipercaya di matamu?”

Aku masih belum tahu petunjuk yang kucari, dan seberapa banyak kesaksian yang dimilikinya.

Itulah kenapa aku ingin mendapatkan informasi dari sebanyak mungkin orang.

“Kemampuan akademiknya sempurna. Itu bisa kau lihat di OAA.”

“Benar, dia mendapat nilai A yang tak terbantahkan.”

Sebaliknya, kemampuan fisiknya tidak begitu baik, dan dia mendapat nilai D.

“Tetapi bisa belajar bukan berarti bisa dipercaya.”

“Apa alasanmu ingin tahu apakah Ishigami bisa dipercaya atau tidak? Sepertinya tidak ada hubungannya dengan reservasi.”

Saat ini, kami berada di tengah liburan musim panas tanpa ada ujian khusus yang diadakan.

Memang benar tidak aneh jika dia penasaran dengan hal itu.

Kanzaki-kun sepertinya memikirkannya, jadi aku bertanya padanya, tapi mari kita berhenti di sini.

“Gak papa kok, tidak usah dipikirkan. Aku hanya entah bagaimana ingin bertanya.”

Aku mencoba untuk mengakhiri percakapan karena aku tidak bisa memberinya informasi tentang tulisan tangan.

Tapi, dia tidak berpaling dariku dan terus berbicara.

“Bukannya aku tidak punya beban tentang apakah aku bisa memercayai pria itu atau tidak.”

Ini cara yang aneh untuk mengatakannya, tapi itu berarti Kanzaki-kun tahu sesuatu tentang Ishigami-kun.

“Aku tidak keberatan memberi tahumu tentang Ishigami kalau kau bisa menjawab pertanyaan dariku.”

Aku menilai bahwa dia abu-abu yang lebih ke putih, jadi aku tidak perlu memaksakan diri untuk mengikuti percakapan. Tapi, ekspresi wajah Kanzaki-kun kali ini tampak berbeda dari ekspresi tenang yang biasa dia tunjukkan, dan itu melekat padaku.

“Pertanyaan? Apa itu?

“Aku sudah memikirkan tentang kelas Horikita untuk sementara waktu.”

“...Kelasku?”

“Di antara mereka, terutama... aku ingin tahu kemampuan yang sebenarnya dari Ayanokōji.”

“Bahkan jika kamu menanyakan itu padaku, aku tidak bisa menjawabnya. Kamu bisa tanyakan itu langsung kepadanya?”

Dalam hatiku aku terkejut bahwa nama Ayanokōji-kun disebutkan di sini, tapi aku mencoba untuk menyingkirkan topik itu.

“Aku tidak berpikir dia adalah tipe orang yang akan menjawab dengan jujur ketika ditanya.”

“Mungkin itu benar. Tapi, bukan berarti kamu juga bisa mempercayai kata-kata yang keluar dariku, ‘kan?

“Sudah cukup jika itu bisa kujadikan sebagai satu referensi.”

“Kami memang sudah lama saling kenal, tapi aku tidak tahu apa-apa tentang dia.”

“Terlalu berlebihan untuk menyebutnya tidak tahu apa-apa. Kalau kau menyebut dirimu sebagai pemimpin kelas, kau seharusnya tahu sesuatu tentang informasi teman sekelasmu.”

“Aku belum mendapatkan kepercayaan dari semua teman sekelasku. Itu juga berlaku untuk Ayanokōji-kun.”

Aku belum memiliki kualifikasi untuk dengan bangga menyebut diriku seorang pemimpin.

Setidaknya, aku belum bisa menjadi seperti Sakayanagi-san, Ichinose-san, dan Ryūen-kun.

“Tidak bisakah kau menjawab dengan jujur? Karena mungkin dia adalah aset berharga bagi kelas Horikita.”

“Hanya dengan memberiku kewaspadaan seperti itu membuatku merasa bahwa keberadaannya itu berharga.”

Aku akan menghargainya jika dia berusaha untuk memikirkannya, terlepas dari kemampuannya.

“Apakah ada hal lain yang ingin kamu tanyakan padaku?”

“Tidak, hanya itu yang ku pedulikan untuk sekarang.”

Jika demikian, apa boleh buat jika dia tidak akan memberitahuku tentang Ishigami-kun.

Aku tidak bisa mengejarnya terlalu kuat, pikirku, tapi....

“Siswa yang bernama Ishigami adalah siswa yang pintar, penyayang, dan memiliki kemampuan untuk mengeksekusi. Dia sudah diakui sebagai pemimpin kelas A tahun pertama, dan teman-temannya pasti memiliki kepercayaan penuh padanya. Cara terbaik untuk menggambarkannya adalah dengan mengatakan bahwa dia adalah bagian terbaik dari Ichinose dan Sakayanagi.”

“Itu artinya dia pasti sangat bisa diandalkan oleh teman-temannya, ya.”

“Tetapi, itu hanya terhadap teman-temannya. Tidak demikian halnya dengan keberadaan yang mengancam teman-temannya. Dia mungkin tipe orang yang akan memamerkan taringnya tanpa ampun.”

Bagiku dia terlihat seperti siswa yang santun, jadi sulit membayangkan dirinya dengan informasi yang ku miliki sekarang.

“Lalu bagaimana sikap dia terhadap seseorang yang bukan teman atau musuhnya?”

“Kalau orang itu bukan teman atau musuh, dia akan bersikap apatis.”

“Apatis?

Kanzaki-kun, yang sedang berbicara denganku di depanku, berhenti bergerak.

“...Ya. Aku yakin dia tidak peduli dengan keberadaan yang tidak berarti apa-apa baginya.”

“Dia berkata [sampai jumpa lagi] padaku. Aku ingin tahu apakah seseorang yang apatis akan meninggalkan kata-kata yang mengisyaratkan pertemuan kembali.”

“Ishigami berkata begitu? Tidak, dia bukan tipe pria yang akan mengatakan hal seperti itu dengan mudah. Apa dia benar-benar mengatakan itu?

“Kalau aku tidak salah dengar sih. Meski begitu, sepertinya kamu tahu banyak tentang dia, ya.”

Aku ingin tahu apakah ada sesuatu yang terjadi antara Kanzaki-kun dan Ishigami-kun yang tidak ada hubungannya dengan masalah yang aku kejar.

“Aku tidak tahu banyak. Karena dia belum pernah menanggapiku secara serius sebelumnya.”

Setelah menggumamkan ini pada dirinya sendiri, dia melanjutkan.

“Faktanya memang pria itu hanya tertarik pada satu dari dua hal, sekutu atau musuh. Dengan kata lain, Horikita sudah diklasifikasikan sebagai salah satu dari keduanya di benak Ishigami.”

“Meski kau bilang begitu, aku tidak begitu mengerti.”

Aku melakukan kontak pertamaku dengan Ishigami-kun hari ini.

Sebelum itu, kami bahkan tidak pernah bertatap muka atau bertukar sapa.

Kami jelas bukan sekutu maupun musuh, begitulah analisis yang biasa.

“Tanpa sadar memiliki hubungan dengan seseorang adalah sesuatu yang sering terjadi.”

“Apakah kamu mau bilang kalau tindakanku secara tidak langsung mempengaruhinya?”

“Kemungkinan itu tidak bisa dikesampingkan.”

Ada sesuatu tentang cerita Kanzaki-kun yang aku tidak bisa mengerti.

Kanzaki-kun merenung sejenak, tapi kemudian bergumam pelan.

“Aku akan memberimu satu nasihat. Jangan terlibat lagi dengan Ishigami.”

“Aku tidak punya niat untuk terlibat sejak awal. Berbicara tentang nasihat, apakah ada tahun pertama lainnya yang harus ku waspadai?”

“Tahun pertama lainnya?”

Sejauh ini, tidak ada satu pun yang tampaknya jelas merupakan tersangka. Aku butuh petunjuk. Jika Amasawa-san atau nama lain muncul, itu akan menambah kedalaman dari pernyataannya.

Aku pikir begitu, tapi....

“Satu-satunya tahun pertama yang harus diwaspadai adalah Ishigami.”

Kanzaki-kun menjawab begitu, lalu berbalik dan mulai berjalan. Dalam perjalanan ke sana, dia berpapasan dengan Ibuki-san yang sedang menatapku, tapi dia bahkan tidak melakukan kontak mata dengan Kanzaki-kun.

“Apa kau dekat dengan Kanzaki?”

“Tidak, sama sekali tidak? Kami kebetulan berbagi topik yang sama untuk dibicarakan hari ini, ada apa?”

“Dia tidak suka terlihat pintar, sama sepertimu, ya.”

Buang-buang waktu untuk menganggapnya serius.

“Topik apa yang sama dengan pria itu?”

“Tentang Ishigami-kun, siswa tahun pertama. Dia adalah siswa yang tulisan tangannya sedikit mirip dengan yang kucari.”

Mengatakan itu, aku mengakses OAA dan membuka profil Ishigami-kun.


Kelas A Tahun Pertama, Ishigami Kyō

Kemampuan Akademik A (95)

Kemampuan Fisik D (25)

Kemampuan Berpikir Cepat B+ (77)

Kontribusi Sosial D (31)

Kekuatan Keseluruhan B (61)


“Selain itu, dari cara dia berbicara dan bertindak, aku tidak bisa melihat dasarnya, dan itu sedikit menyeramkan.”

“Fuun? Apa itu berarti kau mencurigainya?”

“Aku tidak yakin. Kupikir dia abu-abu lebih ke putih, tapi.... Kalau penilaian kemampuan fisik ini bukan penilaian sebenarnya dari kemampuannya, mungkin aku akan langsung mencurigainya.”

Meski aku berkata demikian, aku tidak punya cara untuk memastikannya saat ini.

“Si Ishigami ini putih, loh.”

Ibuki menyela, seolah-olah menyangkal alasanku.

“Bagaimana kamu bisa begitu yakin?”

“Kemarin lusa, aku samar-samar seperti melihat orang-orang bermain dari lantai yang menghadap ke kolam renang.”

“Sendirian? Pasti kesepian, ya.”

“Ha? Apa kau ingin aku berhenti bicara?”

“Aku hanya bercanda. Lanjutkan.”

“Dasar.... Karena dia tinggi, jadi dia sedikit menonjol dan aku melihatnya. Dia memiliki tubuh normal tanpa tubuh bagian atas atau bawah yang terlatih. Itu jelas tidak seperti dia sudah melatih tubuhnya. Orang yang sedang kau cari adalah seseorang yang kuat seperti Amasawa atau Ayanokōji, ‘kan?”

“Apa jangan-jangan, kamu pergi ke kolam renang... untuk mencari seseorang yang melatih tubuhnya?”

Baru nyadar? Seolah-olah mengatakan itu, dia mengangkat bahunya dan melanjutkan.

“Kekuatan selalu sebanding dengan tubuh. Kalau seorang pria bisa bergerak, dia pasti memiliki tubuh yang kencang, dan jika dia memiliki kekuatan, dia pasti akan memiliki otot-otot yang terlatih dengan baik.”

Kesampingkan fakta bahwa itu adalah penilaian dari seorang amatir, Ibuki-san adalah seorang petarung.

Jika dia melihat Ishigami-kun dengan tubuh bagian atasnya telanjang, maka data ini sangat bisa diandalkan.

“Kamu memiliki sudut pandang yang bagus.”

Jika informasi Ibuki-san benar, kemampuan fisiknya tidak dapat disangkal dalam kisaran D.

Tentu saja, tidak terbatas hanya pada orang yang kuat seperti tebakan awalku....

Kupikir aku bisa berasumsi bahwa dia benar-benar putih.

“Bagaimanapun juga, liburan akan segera berakhir, dan kita akan lanjutkan ketika semester kedua dimulai.”

“Aku tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan.”

Aku tidak mengerti kenapa dia merasa kecewa, tapi kami tidak memiliki bukti yang pasti saat ini.

Kami hanya harus terus melakukannya untuk sementara waktu.

Related Posts

Related Posts

9 comments