-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 4.5 Bab 6 Prolog Indonesia

Bab 6
Masa Lalu yang Mengikat


Di malam hari, teman-teman di kamar tamu sangat antusias dengan obrolan tidak penting.

Aku khawatir dengan kondisi fisik Akito, tapi demamnya sudah turun dalam sehari dan dia sudah sembuh, dan dia tampaknya tidak ada masalah dengan berbicara sambil berbaring. Aku menghabiskan malam mengoperasikan ponselku sambil menonton mereka dari samping, sesekali menyela beberapa kata.

Ketika aku sedang berselancar di internet sembari menunggu kantuk, aku menerima sebuah chat.

[Aku mau melakukan panggilan telepon sekarang, boleh?]

Begitulah pesan dari Kei.

Sudah beberapa hari sejak larangan mengirim chat dicabut, tapi kami mengobrol kira-kira sekali sehari.

Tidak ada emoticon atau stiker yang digunakan hari ini, bisa dilihat bahwa ini adalah pembicaraan yang serius.

[Sekarang aku sedang di kamar, beri aku tiga menit.]

Tidak sulit untuk keluar dari kamar tamu karena ini belum jam malam.

Setelah mengirim balasan, aku memutuskan untuk segera bangun dari tempat tidur.

“Aku mau beli minum.”

Aku menggunakan kalimat serba guna yang bisa digunakan kapan saja untuk keluar dari kamar tamu dan menuju koridor.

Karena sudah sekitar pukul 21:00 malam, aku tidak melihat ada siswa yang lewat.

Kemudian aku berjalan keluar ke deck di malam hari dan meluangkan waktu sejenak untuk memeriksa lingkungan sekitar.

Setelah memastikan tidak ada orang di sekitar, aku memutuskan untuk menelepon Kei.

“Halo?”

“Maaf tiba-tiba. Tapi apapun yang terjadi, aku ingin meneleponmu hari ini.”

(Tln: Aku mencoba yang terbaik untuk terdengar imut :3 )

Dia mengatakan kata-kata imut seperti yang akan dikatakan seorang pacar.

Aku ingin tahu apakah ini permintaan dari kekasih yang seperti [aku hanya ingin mendengar suaramu].

“Begini———”

Setelah sedikit jeda dalam kata-katanya, Kei mulai angkat bicara.

“Aku sudah dengar rumor buruk tentangmu. Kamu bisa menjelaskannya kepadaku, bukan?”

“Rumor buruk?”

Mu? Kata-kata yang kuharapkan tidak keluar, tapi sebaliknya Kei sepertinya sedang dalam suasana hati yang buruk.

Keheningan yang lama dan aku tidak segera mendapatkan balasan.

“Rumor buruk?”

Aku tidak tahan lagi dan bertanya padanya dua kali, tapi dia hanya memberiku pertanda jengkel dan tidak menjawab.

Malahan, dia tampaknya curiga dengan fakta bahwa aku mengulangi kata-kata yang sama kata demi kata.

“Apa ada sesuatu yang terlintas di pikiranmu?”

“Tidak ada sesuatu yang terlintas di pikiranku”

Aku menjawab tanpa ragu-ragu, tapi ada beberapa hal yang terlintas di pikiranku.

Pertama, sudah jelas tentang Ichinose.

Nangumo melihat percakapan antara aku dan Ichinose dan sudah menduga bahwa kami berada dalam situasi yang serius.

Dan sekarang dia tahu bahwa Kei dan aku sedang menjalin hubungan, tidak aneh jika dia menyebarkan fakta itu. Selain itu, fakta bahwa aku berpasangan dengan Satō, yang pernah menyatakan perasaannya padaku, dan fakta bahwa aku telah mengobrol dengan Matsushita muncul di benakku.

“Apa kamu yakin tidak ada sesuatu yang terlintas di pikiranmu?”

Setelah jeda, dia tampak seperti sedang melakukan pemeriksaan terakhir untuk membuat penilaian.

“Tidak ada sih.”

Meski begitu, aku tetap pura-pura tidak tahu tentang apa yang dia bicarakan. Kalau aku tahu pasti apa yang Kei maksud dengan [yang terlindas dipikiranku], entah itu tentang Ichinose atau Satō, aku akan mengakuinya. Tetapi, selama aku belum tahu pasti apa itu, jika aku sembarangan mengatakan sesuatu, lukanya mungkin akan melebar. Ini seperti kalah dalam pertempuran untuk memenangkan perang.

...eh, kenapa malah jadi seperti ini bukannya panggilan telepon yang manis?

“Kei?”

Ketika aku memanggil namanya untuk segera menjawab, bibirnya seolah bergetar saat dia berbicara.

“Ada rumor yang beredar bahwa kamu, um, merayu seorang kōhai!”

“...Hm?”

Aku mendengar apa yang tampak seperti rumor, tapi aku tidak bisa memahaminya dan memiringkan kepalaku.

Tebakanku tentang yang terlintas di pikiranku meleset, ya.

Sudah kuduga tidak sembarangan mengatakan sesuatu adalah pilihan yang tepat.

“Dari mana rumor itu berasal dan bagaimana awal mula kamu mendengarnya?”

“Mana kutahu! Tapi, kudengar kau terlihat berulang kali bertemu dengan seorang gadis tahun pertama.”

Seorang gadis tahun pertama. Satu-satunya orang yang datang ke pikiranku dengan cepat adalah Nanase....

Memang benar aku telah berbicara dengan Nanase berulang kali selama liburan.

Bukannya kami bertemu secara rahasia, jadi akan ada saksi di mana-mana.

Sekarang setelah aku tahu apa yang sedang terjadi, inilah saatnya untuk berbicara.

“Dia hanya kōhai.”

“Aku tahu soal itu! Atau lebih tepatnya, kalau bukan hanya kōhai, gak boleh!”

Memang benar.

“Juga! Aku belum denger kalau kamu berpasangan dengan Satō-san di berburu harta karun!?”

Uh, sepertinya Kei juga menyadari salah satu yang terlintas di pikiranku.

“Memang benar aku belum melaporkannya, tapi kalau itu tentang Kei, kamu pasti langsung tahu, ‘kan?”

Karena aku dan Satō telah berkeliling berburu harta karun dan ada banyak saksi, bahkan Matsushita mengetahui hal ini.

“Te-tentu saja aku langsung tahu, tapi... aku sudah tahu sih, tapi kan~?”

Dia tampaknya tidak puas dan menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kudengar.

“Padahal aku sangat ingin berpasangan denganmu, Kiyotaka.”

“Aku mengerti bagaimana perasaanmu, tapi apa itu tidak terbalik?”

“Buu~.”

“Ngomong-ngomong, bagaimana hasil pencarianmu dengan Mori?”

“...Kau tanya soal itu?”

“Tidak, lupakan.”

Suasananya semakin buruk, jadi aku memutuskan untuk tidak membuatnya lebih buruk. Aku bisa terus mendengarnya mengeluh seperti ini, tapi karena dia mengangkat topik tentang Satō, aku ingin menanyainya tentang hal itu.

“Kamu sudah memberi tahu Satō tentang apa yang akan terjadi, ya?”

“Eh? A-aa, un. Lagipula, aku ingin memberi tahu Satō-san terlebih dahulu.”

“Yah, kurasa itu taruhan yang aman. Omong-omong, kamu membicarakan hal ini melalui panggilan telepon atau chat?”

“Mana mungkin. Hal-hal seperti ini tuh harus dibicarakan secara langsung. Kami membicarakannya di kafe.”

“Kafe, ya. Apa kau ingat seseorang yang mungkin mendengar kalian?”

“Aku juga sudah berhati-hati, kali. Setidaknya tidak ada seorang pun dari tahun kedua yang mendengarnya, jadi tidak usah khawatir.”

Memang benar, siswa tahun kedualah yang paling diwaspadai Kei.

Baik siswa tahun pertama maupun tahun ketiga, pada dasarnya tidak menunjukkan minat yang kuat pada kisah percintaan tahun ajaran lain.

Apalagi jika subyeknya adalah aku, bahkan lebih.

Tetapi, siswa tahun ketiga adalah kebalikannya, dan tidak mengherankan bahwa mereka hanya tertarik pada topik tentang aku.

“Aa~h tapi, ada beberapa gadis tahun ketiga datang untuk duduk di dekat kami, jadi agak sulit untuk bicara.”

Seolah-olah sedang memeriksa jawabnya, Kei mengingat kembali saat dia bertemu Satō.

Dari sudut pandang Kei, yang tidak tahu apa yang sedang terjadi, ditandai siswa tahun ketiga pastilah tidak masuk dalam dugaannya.

“Baguslah kalau dia bisa mengerti.”

“Un. Tapi beneran gak papa, ‘kan? Bahkan jika kita membuka fakta bahwa kita berpacaran.”

“Tentu saja tidak masalah.”

Sebaliknya, aku tahu bahwa itu adalah tindakan yang diperlukan cepat atau lambat.

Semakin kami menundanya, semakin merepotkan untuk menangani hal-hal lainnya.

“Yah, ketika kau mengatakan akan membukanya, bukan berarti kita akan mengumumkannya di depan teman-teman sekelas kita. Biarkan itu menyebar secara alami dari teman-temanmu, dan orang-orang akan mengetahuinya seiring berjalannya waktu.”

Aku yakin akan ada reaksi yang beragam nantinya, tapi itu bukan masalah besar.

“Tapi kau tahu... Kiyotaka kan, sangat populer.”

“Benarkah?”

“Uwa, sikapmu yang kayaknya gak tahu apa-apa itu rasanya sangat ngeselin.”

“Kalau begitu, kau tidak perlu membicarakan hal itu, ‘kan?”

“Uh, itu benar sih, tapi meskipun aku tahu itu, aku bertanya karena aku khawatir tahu!”

Bukannya aku tidak mengerti apa yang ingin dia katakan, tapi ada beberapa kontradiksi.

“Bukankah itu deklarasimu untuk menghindari hama yang tidak penting?”

Selama orang yang disukai dianggap tidak memiliki pacar(cow) atau pacar(cew), dia mungkin akan diserang dengan instens. Untuk menghindari hal itu, kau harus membukanya ke publik tentang fakta bahwa dia sudah berpacaran dengan seseorang.

Dengan melakukan itu, kebanyakan orang akan menyerah dan berhenti menyerangnya.

Tentu saja, aku tahu bahwa ada beberapa pengecualian, tapi....

“Aku masih khawatir...”

Beberapa pengecualian itu adalah bahwa Kei takut pada musuh yang belum terlihat.

“Kamu mungkin belum mengetahuinya, tapi ada loh gadis-gadis yang jatuh cinta dengan seorang pria yang mereka tahu memiliki pacar dan bersemangat ingin mencurinya.”

“Begitu, ya.”

“Dengar. Awas saja kalau kamu sampai selingkuh dariku, ya.”

Untuk tipe ketergantungan seperti Kei, dia tidak akan pernah membiarkan pacarnya selingkuh.

(Tln: ison-gata : tipe ketergantungan, ada dalam tipe dere)

Aku sudah tahu itu bahkan sebelum kami mulai berpacaran.

“Tenang saja, aku tidak akan melakukan itu.”

“Sungguh?”

“Ya, sungguh.”

“Kau sungguh sungguh?”

“Ya, sungguh.”

Kami bolak-balik dalam pertukaran yang berulang dan tampaknya hampir tak berarti.

Tetapi, perilaku yang tampaknya hampir tak berarti ini merupakan salah satu ekspresi kasih sayang dalam proses cinta.

“Apa kamu... mencintaiku?”

Aku melihat sekeliling sekali untuk berjaga-jaga.

Tentu saja, tidak ada siswa yang ingin keluar ke deck yang gelap di jam segini.

“Ya, aku mencintaimu.”

Setelah aku tahu tidak ada orang di sekitar, aku bisa mengatakannya tanpa ragu-ragu.

“...nfufufu.”

“Ada apa dengan tawa yang tidak menyenangkan itu?”

Kupikir dia akan senang atau membalas dengan cara yang sama, tapi aku tidak menyangka dia akan menertawakanku.

“Habisnya, aku merasa geli ketika kupikir Kiyotaka mengatakan itu sambil mengkhawatirkan sekelilingmu.”

Rupanya Kei bisa melihat apa yang aku lakukan.

“Ku tutup nih teleponnya.”

“Aa~, tunggu, tunggu. Katakan sekali lagi dong.”

“Mu.”

Ketika dia memintaku untuk mengatakan itu lagi, kata-kataku tersangkut di tenggorokanku.

“Aku pergi dengan alasan mau beli minum, jadi sebaiknya aku segera kembali.”

“Tunggu! Katakan kau mencintaiku sih!”

“Tadi kan sudah kukatakan.”

“Aku mau mendengarnya sekali lagi!”

Sungguh egoisnya. Tidak, meski begitu, mungkin kata-kata yang sama, beratnya bisa sangat berbeda.

“...Aku mencintaimu.” [Sukida]

“......pupuh.”

“Oi.”

Kei mencoba menahan tawanya, tapi pada akhirnya dia tidak bisa menahannya dan mengeluarkan jeritan.

“Un, sudah kuduga kamu yang terbaik. ...Aku tidak akan pernah menyerahkanmu pada gadis lain.”

Tadi aku telah memberitahunya kalau dia tidak perlu khawatir tentang itu, tapi kekhawatirannya tampaknya semakin besar.

“Yakin gak mau minta aku mengatakannya juga?”

“Kalau aku minta, emangnya kamu akan mengatakannya?”

“Kasih tau gak ya?”

“Kalau begitu, sampai jumpa besok.”

“Hei! Di sana seharusnya kamu memintanya, tahu!”

Bagaimana harus kukatakan, sepertinya dari tadi dia memberiku pilihan, tapi nyatanya tidak.

“Kalau begitu katakan padaku.”

“Begitu saja! Kau sepertinya tidak peduli! Aku tidak senang!”

“...Tolong katakan padaku.”

“Eh~! Gimana, ya~.”

Aku menahan apa yang ingin kukatakan dan menunggu balasan dari Kei.

“...Aku cinta.” [Suki]

Singkat, sambil tertawa kecil, tidak, sambil malu-malu Kei membalas.

“Selamat malam, Kiyotaka.”

“Aa, selamat malam.”

Saat aku menutup panggilan, kata suki dari Kei bergema di belakang telingaku.

“Tidak buruk juga.”

Yang namanya cinta ini memang sungguh menarik.

Itulah yang kupikirkan di malam hari.

Related Posts

Related Posts

16 comments

  1. Sebenarnya sih gua tim ichinose, but this ship isn't bad tho

    ReplyDelete
  2. Makin lama makin mesra aja mereka, so sweet~

    ReplyDelete
  3. Mereka yg telponan, kok gw yg senyum sendiri

    ReplyDelete
  4. ini yang kutunggu-tunggu.... tengkyu min:)

    ReplyDelete
  5. Horikita nanti pas tau kalau kiyotaka udah pacaran pasti shock, soalnya udh keliatan flag si suzune ini kalau ada rasa sama kiyotaka( di ss sudut pandang Horikita) wkwkwk mampusss tsundere enaknya itu tikung

    ReplyDelete
  6. Mesra banget, kei kawaiii....~
    Gua senyum senyum sendiri
    Best cople kei x kiyotaka

    ReplyDelete