-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 16 Bab 4 Part 1 Indonesia

Bab 4
Kembali dan Reuni

 

◇◇◇


Kemudian beberapa menit telah berlalu.

Keheningan terus menyelimuti ruangan saat Rio dan Christina berkonsentrasi pada tugas mereka. Flora juga memegang piring dan sendok di tangannya untuk bersiap ketika Vanessa bangun, menelan ludah.

Di tengah semua itu, Duke Huguenot dan Marquis Rodan sedang mengamati Rio dan Christina seolah berkata, “Padahal Heal dan ramuan sihir penyembuh sudah benar-benar menutup luka luarnya dan tidak ada pengaruhnya, apakah dia benar-benar akan bangun?” “Yah, mari kita lihat apa yang bisa mereka lakukan.” Lalu——,

(Dia sepertinya belum bangun, tapi kerusakan pada otaknya seharusnya sudah mulai sembuh. Kurasa sudah waktunya untuk beralih ke seni roh untuk merangsang kesadarannya)

Rio diam-diam mengubah seni roh yang dia aktifkan dengan tangan kanannya dari penyembuhan menjadi mengganggu kesadaran orang lain.

Dia telah menunggu sampai saat ini karena dia pikir itu akan berbahaya untuk tiba-tiba menggunakan seni roh perangsang ketika kerusakan pada otaknya belum sembuh, tapi dia masih berpikir akan berbahaya untuk tiba-tiba mengganggu kesadarannya dengan kuat, jadi dia menahan banyak output-nya.

Karena mengganggu kesadaran orang lain tanpa membebani mereka dengan sihir roh membutuhkan tingkat keterampilan yang sangat tinggi, mulai sekarang, penyembuhan sepenuhnya diserahkan pada Christina.

Penyembuhan selalu menghabiskan sejumlah besar kekuatan sihir saat aktif dan membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi, sehingga keringat mulai terlihat di wajah Christina.

“...Onē-sama, mungkin sudah waktunya untuk gantian?”

Flora menawarkan dengan cemas.

“Tidak, aku masih baik-baik saja.”

Christina tersenyum lembut, membuat Flora lega. Di sisi lain, wajah Duke Huguenot dan Marquis Rodan seperti mengatakan, “Apakah ini memang mustahil?”

Di saat secara intensif menyembuhkan kepalanya dengan sihir, fungsi tubuhnya yang melemah karena terbaring di tempat tidur ditingkatkan dengan penguatan tubuh dengan seni roh, dan kesadarannya juga dibangkitkan oleh seni roh. Dengan cara ini, kombinasi penggunaan sihir dan seni roh memberikan tingkat perawatan tingkat lanjut yang tidak dapat direplikasi oleh ras manusia di wilayah Strahl, tapi dari luar tampaknya Christina hanya melemparkan mantra penyembuhan di kepala Vanessa, jadi tidak mengherankan kalau Duke Huguenot dan yang lainnya meragukannya.

(Jika ini tidak berhasil, bantuan Celia-sensei juga akan dibutuhkan, tapi...)

Dan ketika Rio memikirkannya——,

“Ugh...”

Tubuh Vanessa berkedut dan erangan keluar dari mulutnya.

“Vanessa!?”

“Kapten?”

Christina, Flora, dan para ksatria wanita, tidak melewatkannya dan bereaksi keras.

“...Astaga.”

Duke Huguenot dan Marquis Rodan juga terheran.

“Tolong semuanya ajak bicara Vanessa-san.”

Rio menginstruksikan.

“Vanessa, bangunlah.”

“Aku Flora. Apakah kau mengenaliku, Vanessa?”

Christina dan Flora yang berdiri di samping tempat tidur, langsung angkat bicara. Mereka mengulangi kata-kata yang sama berulang-ulang, dan para ksatria wanita yang mengawasi mereka terus berteriak, “Kapten, tolong bangunlah.”

Kemudian, setelah beberapa saat——,

“Ba, ngun...?”

Vanessa samar-samar membuka matanya dan berbicara.

“Iya. Bangunlah.”

Christina menggunakan sihir penyembuhannya dan berteriak.

(Sentuhan akhir. Akan kurangsang kebangkitannya lebih kuat dan juga memperkuat tubuhnya lebih kuat)

Rio meningkatkan output dari setiap seni.

“Ah, uh.... I-Ini dimana?”

Mata Vanessa, yang tadinya samar, menjadi hidup dan dia mengatakan sesuatu yang masuk akal.

“Ini di kantor pusat Rodania, loh. Kamu tahu siapa aku, bukan?”

Christina bertanya dengan cepat.

“Tuan, Putri.... Anda selamat...”

Rupanya, dia ingat persis apa yang terjadi sebelum dia kehilangan kesadaran.

“Tuan Amakawa telah menolong kami. Kamu harus mengkhawatirkan dirimu sendiri sekarang. Kamu sudah terluka parah dan tidak sadarkan diri untuk waktu yang lama.”

“Ah...”

Vanessa mengelus dadanya karena lega.

“Kamu baru saja bangun, apakah kamu memiliki nafsu makan?”

Rio bertanya dari belakang sambil menopang Vanessa. Biasanya, organ serta kemampuannya untuk menelan akan melemah karena terbaring di tempat tidur, jadi dia seharusnya sama sekali tidak dalam kondisi bisa makan, tapi——,

“......”

Suara gemericik terdengar.

(Aku sudah memperkuat tubuhnya dengan seni roh. Sepertinya sistem pencernaannya juga sudah cukup terstimulasi)

Rio merasa lega karena tidak perlu khawatir tentang hal itu. Biasanya, seni roh penguatan tubuh digunakan untuk bergerak melampaui batas tubuh selama pertempuran dan untuk mencegah tubuh dari kerusakan oleh beberapa pukulan, tapi dengan menggunakannya ketika fungsi tubuhnya melemah, dia telah memulihkan tubuhnya ke keadaan sehat semu.

“Kamu tampaknya memiliki nafsu makan, ya. Flora.”

Christina juga menghela nafas lega dan menatap Flora.

“Y-Ya. Vanessa, buka mulutmu.”

Flora mengangguk dan membawa sendok berisi sup cair ke dalam mulut Vanessa.

“...”

Vanessa meneguk sup dengan lahap. Pada saat itu, matanya yang tadinya tampak belum fokus menjadi hidup.

“Ah, to...”

Vanessa menggerakkan mulutnya untuk mengatakan sesuatu.

“...to?”

Christina dan Flora memiringkan kepala mereka. Dan——,

“To-Tolong! Tolong! Le-Lebih banyak!”

Vanessa mengeluh putus asa, seolah-olah dia merasa sangat lapar.

“......”

Semua orang di ruangan itu seketika tercengang. Beberapa saat kemudian——,

“...Suapi dia, Flora.”

Ekspresi Christina berubah menjadi senyum lembut dan memerintahkan Flora.

“Ba-Baik!”

Wajah Flora berseri-seri dan dia menyodorkan satu suapan selanjutnya ke mulut Vanessa.

“Haguh!”

Vanessa menggigit sendok dengan penuh semangat. Pada awalnya, tidak mungkin seorang ksatria pengawal dirawat oleh tuan yang seharusnya dia layani, tapi Vanessa sekarang tidak punya waktu untuk khawatir tentang hal-hal seperti itu, secara fisik atau mental.

“Wa-wah. Aku suapin lagi, ya.”

Flora menarik sendoknya buru-buru dan mengambil suapan berikutnya dari piring di tangannya. Ngomong-ngomong, Rio masih menyentuh bagian belakang kepala dan punggung Vanessa selama dia disuapi, dan terus mengaktifkan seni rohnya secara diam-diam.

“Ti-Tidak usah, saya bisa makan sendiri! ...Nguh, nguh.”

Vanessa meraih piring dengan cukup semangat dan menempelkan mulutnya langsung untuk meminum sup itu sekaligus.

“...Apakah kau akan baik-baik saja meminumnya sesemangat itu?” tanya Christina dengan tercengang, tapi tampaknya Vanessa sekarang tidak melihat apa pun selain makanan.

“Ya.... Kalau boleh, saya mau minta piring itu juga?”

Vanessa memiliki nafsu makan yang besar dan sangat membutuhkan lebih banyak makanan.

(Luar biasa. Kupikir dia akan kesulitan untuk makan bahkan dengan makanan cair, tapi efek dari penguatan tubuhku ternyata cukup efektif)

Rio yang memperkuat tubuhnya dengan seni roh, juga melebarkan matanya.

“Bawakan trolinya ke sini.”

Christina menghela nafas, menyuruh para pelayan, dan mereka buru-buru mendorong trolinnya. Kemudian Rio dan yang lainnya diperlihatkan nafsu makan yang rakus dari Vanessa, saat dia tanpa henti memasukkan makanan padat ke dalam mulutnya, atau saat dia hampir tersedak karena makanannya, dan melancarkannya dengan minuman.

Tidak ada percakapan, Vanessa hanya terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa henti. Melihatnya seperti ini, mereka semua merasa sepertinya dia baik-baik saja untuk saat ini.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment