-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 16 Bab 4 Part 3 Indonesia

Bab 4
Kembali dan Reuni

 

◇◇◇


Puluhan menit kemudian.

“Baiklah, kuliah hari ini telah selesai.”

Celia mengumumkan akhir dari kuliahnya.

Biasanya, dengan itu para siswa langsung berdiri, mendatangi Celia untuk bertanya, mulai mengobrol, atau meninggalkan ruangan, tapi hari ini kelas menjadi sunyi. Dia melihat sekeliling ruangan untuk melihat apakah ada yang akan mengajukan pertanyaan seperti biasa, tapi tidak ada yang bertanya, jadi Celia berjalan malu-malu menuju Rio dan para putri yang duduk di belakang kelas.

“Seperti biasa, kuliah yang luar biasa, Celia-sensei. Sudah lama sekali saya tidak mengikuti kuliah dari Anda, dan saya merasa seperti ketika pertama kali saya diajari oleh Anda.”

Christina mendekati Celia dan memberi tahu dia pendapatnya tentang kuliah itu.

“Saya merasa terhormat. ...Tapi, itu terlalu dilebih-lebihkan.”

Celia berseri-seri karena malu.

“Tidak kok, sungguh, itu sangat bagus. Saya juga senang bisa menghadiri kuliah bersama Tuan Amakawa dan Flora seperti ini.”

Christina tersenyum lembut, menggelengkan kepalanya, dan memandang Rio dan Flora.

“Terima kasih sudah mengizinkan kami untuk mengamati kuliah Anda hari ini, Celia-sensei.”

Flora juga bergabung dalam percakapan dengan suara bergetar.

“Sama-sama. Saya bisa melihat kalau Flora-sama senang mendengarkan kuliah saya, saya ikut senang untuk itu.”

Celia yang berada di podium dapat melihat bahwa Flora selalu tersenyum selama kuliah, jadi dia tersenyum mengingat itu.

“Ahaha, itu semua berkat kehadiran Christina-sama dan Flora-sama. Oh, iya. Kebetulan ada beberapa anak yang saya ingin Anda temui. Bolehkah saya memanggil mereka ke sini?”

Celia tertawa mengetahui perasaan para siswanya, tapi dia tiba-tiba teringat sesuatu dan mengatakan itu.

“Ya, tentu saja.”

Christina menganggukkan kepalanya mengiyakan dan kemudian sedikit memiringkan kepalanya, mungkin karena dia tidak tahu siapa yang akan dia panggil.

“Saiki-kun, Murakumo-kun.”

Celia memanggil nama keluarga beberapa siswa tertentu.

“Ah, jadi mereka berdua juga mengikuti kuliah, ya.”

Ketika Christina mendengar nama keluarga mereka, dia pun mengerti. Saiki Rei dan Murakumo Kōta. Mereka adalah dua orang yang melarikan diri dari Kastil Kerajaan Beltram bersama Christina dan datang ke Rodania.

(Seingatku Rei-san pernah mengatakan kalau dia akan berpacaran dengan seorang wanita bangsawan, ‘kan? Kōta-san akan berlatih di Restorasi sebentar sebelum dia menjadi petualang...)

Rio ingat saat dia bertemu dengan mereka sebelum dia memulai perjalanan.

“Apakah mereka berdua baik-baik saja?”

Christina bertanya.

“Ya. Mereka berdua memiliki bakat untuk menjadi penyihir yang hebat. Mereka selalu mengikuti kuliah dengan putri-putri Baron Dandy dan Baron Gilbert, sih.... Loh, apa mereka sudah pulang? Saiki-kun, Murakumo-kun?”

Celia mengalihkan pandangannya ke kursi di mana mereka seharusnya berada karena dua orang yang dia panggil tidak muncul juga. Kemudian, perhatian para siswa tertuju pada suatu sudut tertentu. Dan ternyata, di sana——,

“Se-senpai, ini tidak baik, loh. Kita sudah dipanggil.”

“Benar itu kata Kōta-sama. Kalian sudah dipanggil, jadi kalian harus datang. Apalagi ada Christina-sama dan Flora-sama juga.”

“Ti-Tidak, kalau aku pergi sekarang, aku pasti akan menonjol.”

Ada dua orang yang dipanggil. Kōta, Rei, dan pacar Rei, Rosa Dandy, duduk berdampingan dengan urutan itu.

Rupanya, Rei tidak ingin menonjol, lalu Kōta dan Rosa mendesaknya untuk bergerak dengan bisikan tidak sabar. Rei menundukkan kepalanya dan merunduk.

“Saya pikir Anda akan menonjol kalau tidak segera pergi, loh? Semakin lama Anda menunggu untuk pergi, Anda akan semakin menonjol.”

Seorang gadis bernama Michaela Belmondo yang duduk di sebelah Rosa memberitahu dengan cara aneh.

“Kuh..., apa boleh buat. Ayo, Kōta. Rosa, kamu juga ikutlah dengan kami.”

Rei tampaknya sudah membulatkan tekadnya, dia meraih tangan tunangannya Rosa sambil mendesak kōhainya, Kōta, dan berdiri.

“Tungg, Rei-sama?”

“Sampai ketemu lagi, kalian bertiga.”

Michaela melambaikan tangan pada mereka bertiga.

“Kenapa harus aku juga...?”

Rosa bergumam dengan ekspresi gugup.

(Kalian berdua memang terlihat baik-baik saja)

Keduanya tidak berubah sama sekali sejak mereka bepergian bersama.

Rio tertawa kecil.

“Ahaha...”

Cellia tertawa pahit.

“Kalian berdua terlihat baik-baik saja, ya.”

Christina tertawa agak terkejut dan berbicara dengan Kōta dan Rei saat mereka mendekat. Karena dia hampir tidak mengenal mereka berdua, Flora mundur, tampak sedikit malu.

“Ya, semua berkat Anda. Saya senang Anda baik-baik saja, Tuan Putri.”

Kōta membungkuk dan menganggukkan kepalanya.

“Ya, saya senang melihat Christina dan Flora telah aman..., telah kembali dengan selamat.”

Rei meletakkan tangannya di dadanya dan dengan hormat menyapanya dengan gaya bangsawan dunia ini. Kata-katanya agak aneh, tapi bisa dilihat kalau dia telah berusaha bersikap sopan.

“Ya, sekali lagi semua berkat Tuan Amakawa.” kata Christina menatap Rio.

“Lama tidak bertemu, ya, Rei-san dan Kōta-san. Aku senang melihat kalian berdua baik-baik saja.”

Rio berbicara dengan Kōta dan Rei.

“Aku sudah dengar, loh. Kudengar kamu sudah menyelamatkan para Tuan Putri lagi kali ini. Luar biasa, Haruto-san.” kata Kōta dengan kekaguman yang kuat.

“Ya, Tuan Amakawa adalah pria dalam sorotan, loh.”

Rei mengangguk-anggukan kepalanya.

“...Rei-san rasanya, apakah kamu mengubah cara bicaramu sedikit dari sebelumnya?”

Rio merasa seperti dia mulai berbicara dengan cara bangsawan yang aneh.

“Ah, tidak, sekarang ada banyak mata yang melihat, dan saya sedang belajar banyak hal tentang bahasa dari tunangan saya. Tuan Amakawa adalah seorang bangsawan dari kerajaan lain, dan seorang ksatria kehormatan yang setara dengan Count, jadi jika saya tidak berperilaku baik, saya akan dimarahi nanti...”

Rei berkata jujur sambil menatap Rosa.

“.........”

Tolong jangan katakan sesuatu yang aneh, Rosa dalam diam mengeluh dengan tatapannya.

“Se..., sejujurnya, saya sangat gugup. Melelahkan, ya, menjadi bangsawan itu.”

Rei memperhatikan tatapan Rosa dan menutupinya dengan senyum yang sedikit gelisah.

“Iya, ya. Jika kamu bertunangan, apakah itu berarti Rei-san sekarang menjadi bangsawan?”

Rio setuju dengan cara yang aneh dan kemudian bertanya tentang status Rei saat ini.

“Ya. Sekarang saya menerima gelar bangsawan Baronet oleh Christina-sama. Dia adalah tunangan saya, Rosa Dandy.”

Rei memperkenalkan Rosa, yang berdiri di sampingnya, kepada Rio.

“Se-senang bertemu dengan Anda. Nama saya Rosa Dandy. Suatu kehormatan besar untuk mendapat kehormatan menyapa Christina-sama, Flora-sama, dan Tuan Amakawa.”

Rosa memperkenalkan dirinya lebih seperti bangsawan daripada Rei, meskipun dia tampaknya jauh lebih gugup. Dari sudut pandang anak Baron, kedua Putri itu begitu jauh di atasnya sehingga dia jarang memiliki kesempatan untuk berbicara dengan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai Ksatria Kehormatan, Rio juga diklasifikasikan sebagai bangsawan peringkat tinggi, setara dengan Count dalam hal status, dan seperti yang dikatakan Rei, dia adalah seorang pria dalam sorotan, jadi bisa dimengerti kalau Rosa akan gugup.

“Begitu, ya. Senang bertemu denganmu, saya Haruto Amakawa.”

Rio membalas salam Rosa dengan sopan.

“Saya telah mendengar banyak tentang Tuan Amakawa dari Rei-sama, dan merupakan suatu kehormatan untuk bertemu dengan Anda.”

“Tidak kok, saya juga sudah mendapat bantuan Rei-san selama perjalanan kami ke Rodania.”

“Yah, saya merasa seperti saya mengandalkan Tuan Amakawa hampir sepanjang waktu...”

Menanggapi kata-kata Rio, Rei menggaruk pipinya dan bergumam. Lalu——,

“Namamu Rosa, ‘kan? Baronet Saiki adalah teman   Pahlawan Rui-sama, jadi kamu harus membantunya dengan baik.”

Kata-kata itu diarahkan dari Christina ke Rosa.

“Ba-Baik! Pasti, akan saya lakukan.” jawab Rosa dengan sungguh-sungguh.

“Aku ingin ngobrol dengan kalian berdua lagi, tapi sepertinya aku tidak bisa santai di sini. Kita bisa ngobrol lagi di suatu tempat.... Yah, aku akan kembali ke ibukota Kerajaan Galarc seminggu lagi, kenapa kalian ingin ikut sekalian?”

Saat Christina bicara, dia mendesak Kōta dan Rei untuk menemaninya ke Kerajaan Galarc, seolah-olah baru terlintas dalam pikirannya.

“...Ke ibukota Kerajaan Galarc?”

“Ya. Saya tidak keberatan...”

Kōta dan Rei saling memandang dan kemudian mengangguk.

“Kalau begitu, aku akan menghubungi kalian lagi, dengan niat itu.” kata Christina.

“Ya.”

Kedua balasan itu dilakukan bersamaan.

“Bolehkah saya meminta waktu Anda sebentar, Celia-sensei? Tuan Amakawa, Flora, dan saya ingin berbicara dengan Anda.”

“Ya. Tidak ada kuliah lagi hari ini, jadi dengan senang hati.”

“Kalau begitu, mari kita pindah. Jika kita tetap di sini, sepertinya para siswa tidak akan bisa pulang.”

Mengatakan itu, Christina berdiri. Dengan demikian, Rio dan yang lainnya memutuskan untuk berbicara di tempat yang berbeda.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment