-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 17 Bab 1 Part 2 Indonesia

Bab 1
Hari-hari di Kerajaan Galarc


◇◇◇


Keesokan paginya. Untuk menerima pelatihan pertarungan jarak dekat dari Rio, orang-orang berbakat yang melintasi batas-batas organisasi telah melangkah ke pekarangan mansion.

Berjalan di depan mereka, juga sebagai pemandu, adalah Charlotte, putri kedua Kerajaan Galarc. Di belakangnya adalah pelayannya dan para ksatria wanita yang bertugas sebagai pengawalnya.

Dan Christina dan Flora dari Restorasi berjalan di sebelahnya. Di belakang mereka berdua juga sama, ada pelayan mereka dan beberapa ksatria wanita, termasuk Vanessa.

Dan Liselotte, putri Duke dari Kerajaan Galarc, yang berada sedikit di belakang para putri. Di belakangnya ada tiga pelayan yang bertugas sebagai pengurus dan pengawalnya——yaitu Aria, Cosette, dan Natalie.

Di depan gerbang ada dua ksatria wanita anggota Ksatria Pengawal Raja yang melayani Kerajaan Galarc. Karena Rio tidak memiliki pengikut, dan pahlawan Satsuki dan Putri Charlotte sering datang dan pergi, keamanan mansion adalah tugas Ksatria Pengawal Raja.

Ngomong-ngomong, mansion yang diberikan kepada Rio dibangun di halaman kastil, jadi ruangnya terbatas. Karena itu, ada sebuah rumah tepat di depan gerbang utama. Sebaliknya, halaman belakang adalah ruang pribadi dan tertutup dengan cukup ruang untuk pertandingan dengan senjata.

Kelompok Rio (Satsuki tinggal di mansion sejak tadi malam, jadi dia bersama Rio dan yang lainnya) sedang bersantai di gazebo (bangunan sederhana dengan hanya atap dan pilar yang dibuat untuk pesta teh dan menikmati pemandangan) yang didirikan di taman dekat gerbang utama sebagai persiapan untuk menyambut kunjungan rombongan Charlotte. Ketika dia melihat pengunjung——,

“Semuanya, terima kasih sudah datang.”

“Selamat pagi, Haruto-sama. Kami datang seperti yang dijanjikan.”

“Kami sudah menunggu kalian.”

Rio berjalan ke rombongan Charlotte dan menyapa rombongan itu dengan tangan kanan di dadanya.

“Langsung saja, jika kamu sudah siap, maka kamu bisa mulai pelatihannya.”

Dia langsung ke intinya begitu mereka tiba karena waktunya terbatas.

“Saya mengerti. Kalau begitu, silakan ke halaman belakang.”

Rio memimpin jalan, dan kelompok itu pindah ke halaman belakang. Di halaman belakang, ada gazebo yang bahkan lebih besar dari yang ada di gerbang utama, dan untuk saat ini, mereka berjalan ke depannya. Armor kayu yang akan digunakan dalam pertarungan tiruan telah dibawa kemarin dan disandarkan di depan gazebo.

“Bagi yang ingin mengamati, silakan ke gazebo. Bagi yang ingin berpartisipasi, silakan pilih senjata yang kalian kuasai dari senjata yang disandarkan di sana dan datang ke padaku.”

Rio mengatakan demikian, dan mengambil pedang kayu yang disandarkan dan menuju ke posisi yang sedikit lebih jauh. Kemudian, Aishia dan Satsuki juga mengambil tombak kayu dan mengikuti Rio. Selanjutnya, Sara meraih dua belati kayu dan Alma mengambil gada kayu dan mengikuti mereka.

Dan peserta lainnya (Vanessa, Aria, Cosette, Natalie, dll.) mengikuti, masing-masing mengambil senjata yang mereka kuasai. Di sisi lain——,

“Semuanya, silakan lewat sini.”

Ujar Celia mengundang Charlotte dan Christina ke gazebo. Ada meja dan kursi yang diatur di gazebo, dan semua orang kecuali pelayan Charlotte dan Christina duduk di sana untuk menonton Rio dan yang lainnya.

Rio dan yang lainnya sudah cukup jauh dari gazebo——,

“Baiklah, di sini saja.”

Rio, yang berjalan di depan, berhenti dan menghadap para Ksatria Pengawal Raja dan para pelayan (Vanessa, Aria, dan yang lainnya) yang berpartisipasi. Aishia, Sara, dan Alma berdiri di samping Rio.

“Aku jadi peserta, boleh, ‘kan?”

“Ya.”

Setelah bertanya dengan Rio, Satsuki juga berbaris dengan Aria dan yang lainnya.

(Pesertanya adalah Satsuki-san, lima dari kelompok Ksatria Pengawal Raja Kerajaan Galarc, lima dari kelompok Ksatria Pengawal Raja Restorasi, dan tiga dari pelayan Liselotte-san. Sisanya adalah Aishia, Sara, dan Alma. Jumlahnya tujuh belas orang. Mereka benar-benar wanita semua...)

Rio melihat sekeliling ke wajah semua orang dan terlihat sedikit canggung. Menjadi satu-satunya pria dalam kelompok wanita bisa sangat melelahkan secara mental. Semua orang yang mengamati di gazebo juga perempuan, dan dia merasa seperti menjadi pria yang masuk ke halaman sekolah khusus perempuan sendiran.

Namun, Charlotte membatasi peserta hanya untuk wanita tidak lain demi Rio..., sebaliknya, Rio juga tahu kalau itu demi Miharu dan Latifa yang tinggal di mansion. Dia telah memberitahukan bahwa mereka tidak terbiasa dengan bangsawan, dan tampaknya dia mengira kalau penolakan terhadap jenis kelamin yang sama lebih kecil dibandingkan lawan jenis. Selain itu, orang-orang di sini biasanya yang menjaga lingkungan Charlotte, Christina dan Liselotte, sehingga banyak wajah yang dikenal. Meski begitu——,

“Atas permintaan Charlotte-sama, saya akan menjadi pelatih dalam pertarungan jarak dekat. Nama saya Haruto Amakawa.”

Karena banyak dari mereka belum pernah ngobrol dengannya sebelumnya, Rio memperkenalkan dirinya. Kemudian para peserta menatapnya dengan seksama. Beberapa menatapnya dengan penasaran, beberapa dengan kekaguman, dan beberapa dengan penilaian....

“Mereka bertiga adalah teman-teman saya, Aishia, Sara-san, dan Alma-san. Mereka akan berpartisipasi dalam kuliah sebagai asisten saya. Mereka bertiga telah melakukan banyak pertandingan dari hari ke hari, dan semuanya sangat terampil. Pahlawan Satsuki-sama juga sudah memutuskan untuk bergabung dengan kalian semua.”

Setelah diperkenalkan oleh Rio, Sara dan Alma menundukkan kepala mereka lebih dulu. Dilanjutkan——,

“Aku Satsuki. Aku akan senang jika kalian bisa memperlakukanku tanpa terlalu formal hanya karena aku seorang pahlawan. Mohon kerja samanya.”

Satsuki memperkenalkan dirinya dan meminta peserta lain untuk memperlakukannya tanpa status pahlawannya. Tapi, karena posisi mereka, mereka tidak bisa menerima kata-katanya itu begitu saja, jadi mereka semua menundukkan kepala sebagai tanggapan. Melihat mereka seperti itu——,

(Sekarang, aku hanya perlu membangun hubungan melalui pertandingan yang sebenarnya, ya.)

Satsuki berpikir dengan tawa ringan.

“Tujuan dari kuliah ini adalah untuk mengajari kalian tentang pertarungan jarak dekat, jadi saya berpikir untuk fokus melakukan pertarungan tiruan. Sejujurnya, saya tidak yakin apakah saya orang yang tepat untuk menjadi pelatih kalian. Tapi, karena saya telah menerima peran ini, saya bertekad untuk menjalankannya secara bertanggung jawab, mohon kerja samanya. ...Baiklah, waktu kita terbatas, jadi mari kita mulai saja.”

Rio mengumumkan dimulainya kuliah. Dia sudah memikirkannya kemarin tentang pengaturan seperti apa yang akan dia gunakan untuk mengajar, tapi dia tidak memiliki pengalaman dalam mengajar orang lain. Dia tidak punya pilihan selain mencobanya sendiri. Mungkin dia menyadari hal ini sekali lagi, dia terlihat sedikit gugup dan ekspresinya menegang.

“Saya ingin melihat seperti apa kemampuan kalian sebelum kita memulai kuliah, jadi langsung saja, saya akan meminta kalian untuk bertanding dengan saya satu per satu. Pertandingan akan dihentikan ketika saya telah tahu kemampuan lawan saya, tapi itu juga akan berakhir ketika pukulan yang efektif dibuat. Jadi, tolong seranglah saya dengan maksud untuk benar-benar memukul saya. Penggunaan sihir (Magic dan Sorcery) hanya diperbolehkan untuk meningkatkan kekuatan fisik. Yang kita butuhkan sekarang tinggal aba-aba untuk memulai, bisakah kamu menjadi wasitnya, Sara-san?”

“Ya. Serahkan padaku.”

Atas permintaan Rio, Sara melangkah maju. Para peserta tampak tegang saat mereka mendengar bahwa akan langsung dilakukan pertandingan. Sebagai prajurit, mereka pasti tertarik pada gagasan bertanding dengan Rio, seorang pria dengan banyak prestasi militer. Sama seperti Rio yang ingin melihat kemampuan para peserta, atau mungkin yang lebih dari itu, mereka ingin melihat kemampuan Rio.

“Baiklah, lawan pertama saya...”

Enaknya siapa, ya? Ketika Rio melihat sekeliling pada para peserta——,

“Tolong izinkan saya.”

“Kamu...”

Ada seorang wanita yang pertama mengangkat tangannya dari Ksatria Penjaga milik Kerajaan Galarc. Perhatian semua orang tertuju pada wanita yang mengangkat tangannya.

Usianya mungkin di awal dua puluhan. Dia sudah menemani Charlotte setiap hari, dan kadang-kadang dia menatap Rio seperti sedang menilainya, dan itu meninggalkan kesan pada Rio.

“Nama saya Louise Sharon, anggota Ksatria Penjaga Kerajaan Galarc dan Kapten Penjaga Charlotte-sama.”

“Baiklah, lawan pertama saya adalah Nona Sharon. Salam kenal..., atau tidak juga, tapi ini pertama kalinya kita saling menyapa dengan benar. Silahkan, mohon kerja samanya.”

“Saya juga mohon kerja samanya.”

Louise membungkuk pelan dan membalas Rio.

“Baiklah, mari ke sini.”

Rio memimpin dan menjauh dari kelompok. Louise melihat punggungnya, sambil mengikuti dari belakang——,

——Hei, Louise. Dalam latihan khusus besok, kamu harus bertanding dengan Haruto-sama sebelum orang lain. Jika kamu, sang kapten, dikalahkan, anak buahmu juga pasti akan mengakui Haruto-sama, bukan?

Dia ingat kata-kata yang Charlotte katakan padanya kemarin. Bukan berarti... harga dirinya sebagai seorang prajurit terluka oleh komentar yang seolah menunjukkan bahwa dia tidak memiliki keraguan sedikit pun tentang kemenangan Haruto. Karena bagi Louise Sharon, seorang Ksatria Penjaga, kata-kata Charlotte, keluarga kerajaan dan objek perlindungannya, adalah mutlak. Jika Charlotte mengatakan itu hitam, maka yang putih pun menjadi hitam.

Tapi, bukan juga berarti dia tidak memiliki perasaan apapun tentang orang yang bernama Haruto Amakawa ini. Itu karena——,

(Tuan Haruto Amakawa. Seseorang yang dicintai Charlotte-sama...)

Louise memuja Charlotte. Dan dia menyukainya. Dia telah bertanggung jawab untuk melindungi Charlotte sejak dia masih sangat kecil dan telah mengawasinya tumbuh dewasa. Dia menyimpan perasaannya itu untuk dirinya sendiri karena itu tidak sopan, tapi dia tida bisa tidak menganggapnya imut. Bisa dibilang dia jatuh cinta pada Charlotte. Itulah betapa dia mencintai Charlotte.

Dan Charlotte itu——,

——Hei, Louise. Kira-kira kapan Haruto-sama akan kembali, ya?

——Hei, Louise. Haruto-sama itu hebat banget, loh.

——Hei, Louise. Hari ini, Haruto-sama ngomong gini sama aku....

Dengan wajah seorang gadis yang sedang jatuh cinta, dia berbicara dengan Louise tentang seorang pria setiap hari. Ini seperti orang yang dia cintai telah jatuh cinta dengan orang lain, jadi tidak mungkin dia tidak memiliki perasaan tertentu pada orang lain itu.

Dan antusiasme Louise telah menyebar ke rekan-rekannya, bawahannya, dan para ksatria wanita yang tergabung dalam Pelindung Charlotte semuanya memiliki perasaan campur aduk tentang Rio.

Itu sebabnya Louise menatap Rio dengan tatapan yang seolah bertanya, “Kamu bisa membuat Charlotte-sama bahagia, bukan? Jangan berani-berani menyentuh wanita lain terlebih dahulu. Sebaliknya, jangan berani-berani kau menyentuh Charlotte-sama yang seimut ini.” Sama halnya dengan anak buah Louise yang melihatnya dari jauh. Saya tidak yakin apa yang harus saya lakukan. Selain itu——,

(Hā, ini akan menjadi menarik.)

Charlotte tahu apa yang dipikirkan para Pelindung-nya, dan melihat apa yang terjadi dengan senang hati.

(Dia punya tatapan yang kuat...)

Jelas saja Rio tidak menyadari pikiran para wanita itu, menghadap Louise dan menatap tatapannya dengan tatapan yang sedikit canggung. Tapi——,

“«Enchant Physical Ability». Nona Sharon juga, tolong perkuat fisikmu.”

Dia mendapatkan kembali ketenangannya, melantunkan mantra, dan memperkuat fisiknya dengan sihir yang terkandung dalam gelang artefak sihir yang dia kenakan. Tubuh Rio diselimuti cahaya saat sihir itu muncul. Jika dia meningkatkannya dengan seni roh, Rio akan memiliki kekuatan fisik lebih darinya, jadi dia tidak hanya pura-pura mengaktifkannya dan membatalkannya. Membuatnya benar-benar dalam kondisi yang sama.

“Baik, “«Enchant Physical Ability».”

Louise tidak mengandalkan artefak sihir seperti Rio, tapi memperkuat dengan sihir yang telah dia pelajari.

“Aturan pertandingan adalah seperti yang dijelaskan sebelumnya. Jangan ragu untuk menggunakan senjata atau teknik tubuh apa pun dengan tujuan untuk memukul saya.”

“Saya mengerti. Saya tidak punya niat untuk menahan diri.”

Bukan permusuhan, tapi Louise menatap tajam Rio dan mengangguk. Sementara itu——,

“Baik, saya sangat menghargainya.”

“......”

Balas Rio dengan senyum manis dan menyegarkan. Lalu, Louise terlihat bingung seolah-olah semangatnya memudar karena balasan Rio.

“Baiklah, mari kita segera mulai. Sara-san. Tolong beri aba-aba untuk memulai.”

Rio berbicara kepada Sara, tidak memperhatikan sedikit perubahan pada ekspresi Louise.

“Oke. Baiklah, setelah hitungan ke lima, silahkan dimulai. Kalian sudah siap, ‘kan?”

Sara bertanya untuk mengkonfirmasi——,

“Ya.” “Silahkan kapan saja.”

Keduanya menganggukan kepala. Kemudian——,

“Lima, empat, tiga, dua, satu, mulai!”

Akhirnya, pertandingan dimulai.

“.........”

Bersamaan dengan aba-aba, tanpa sepatah kata pun, Louise mulai berlari dengan langkah cepat dan mendekati Rio. Jarak di antara keduanya hanya sekitar lima meter, tapi celah itu tertutup dalam sekejap. Dia mengayunkan pedang kayunya dengan gerakan tajam dan menebas Rio. Tapi——,

Rio melihat lintasan tebasannya dengan sempurna, melangkah masuk dan menangkis pedang kayu Louise sebelum mendapatkan momentum yang cukup. Louise juga mencoba menempatkan keseimbangannya untuk melangkah maju, jadi saat dia terkena pedangnya, kuda-kudanya runtuh dan momentumnya berhasil terbunuh.

Itu adalah tangkisan yang sangat tepat waktu. Andai saja waktu tangkisannya sedikit lebih lambat, Louise akan mampu menempatkan semua berat badannya di depannya, dan dengan itu dia tidak akan dipukul mundur.

(Hah..., gawat. Dia akan menyerang balik)

Louise berkeringat dingin, merasakan kekalahannya segera setelah pertandingan dimulai. Namun, Rio tidak maju, sebaliknya, dia mundur sedikit dan memposisikan pedang kayunya.

“......Tadi, kenapa Anda tidak mengejar?”

Louise bertanya dengan penuh tanda tanya. Hanya sesaat, tapi itu menciptakan celah sebelum dia bisa menyesuaikan kuda-kudanya. Dia mengerti betul dari tangkisan tadi kalau Rio bukanlah orang yang akan melewatkan celah itu. Makanya dia mempertanyakan hal itu.

“Ini adalah pertandingan untuk melihat kemampuan Louise-san, bukan untuk tujuan menang.”

“...Sejujurnya, serangan pertama sudah membuatku sangat menyadari perbedaan besar dalam kemampuan kita.... Meskipun saya menebas untuk melihat respon Anda, itu adalah teknik pedang yang menyedihkan.”

Kata Louise dengan meringis frustasi. Karena dia memiliki tingkat kemampuan tertentu, dia tentu mengerti perbedaan kemampuan antara dia dan lawannya yang lebih tinggi.

“Itu tidak benar kok. Gerakanmu itu efektif dan halus. Itu sebabnya mudah untuk memprediksi gerakannya.... Jika saya mengayunkan sedikit lebih lambat, saya tidak akan bisa membuat waktu untuk serangan balik.”

Rio berbicara tanpa ragu-ragu, tapi ——,

(Jika waktunya meleset bahkan untuk sesaat, peluang serangan balik tidak akan tercipta. Karena itulah, sulit dipercaya bahwa dia mampu melihat waktu itu dan mengayunkan pedangnya...., kemungkinan besar dia pasti mengincarnya. Naluri bertarung macam apa yang dia miliki? Dia lebih kuat dari yang kubayangkan)

Dia mengayunkan pedangnya dengan kekuatan fisik yang ditingkatkan dan waktunya mungkin bahkan tidak ada sepersepuluh detik. Menganalisisnya seperti itu, Louise hampir tidak bisa berkata-kata.

“Jika tidak ada hal lain untuk dikatakan, mari kita lanjutkan pertandingannya. Silahkan, jangan ragu untuk menyerang.”

“...Baik.”

Louise mengangguk canggung, lalu menarik napas dalam-dalam dan merubah sikapnya.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment