-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Seirei Gensouki Volume 17 Bab 1 Part 3 Indonesia

Bab 1
Hari-hari di Kerajaan Galarc


◇◇◇


Beberapa menit kemudian.

Rio sedang menjalani serangkaian pertandingan dengan para peserta. Dia sudah bertanding melawan sebelas orang, tapi tidak seorang pun dari mereka yang mampu menyerangnya sejauh ini. Dia sekarang sedang bertanding dengan peserta kedua belas yaitu Natalie, pelayan wanita Liselotte.

(Sungguh menakjubkan bahwa dia terus-menerus bertanding dengan sepuluh Ksatria Penjaga Kerajaan Galarc dan Restorasi tanpa henti dan memenangkan semua pertarungan. Pelayan dari keluarga Duke Cretia juga cukup terampil, seperti yang dibicarakan, tapi...)

Louise mengamati gerakan Rio dengan cermat, saat dia memenangkan serangkaian pertandingan tanpa hambatan sambil tersenyum takjub dan kagum. Ksatria Penjaga lainnya juga tidak banyak bicara, menonton pertandingan dengan ekspresi serius. Hanya orang-orang yang telah dilatih keras sebagai prajurit yang ada di sini sekarang. Mereka pasti merasa frustrasi karena bukan tandingan Rio, dan mengawasi setiap gerakannya yang bisa mereka serap.

Di sisi lain, Cosette dan Aria berdiri berdampingan menyaksikan rekan mereka sedang bertarung.

“Natalie benar-benar sudah dipermainkan, ya.”

“Kamu tadi benar-benar sudah dipermainkan juga, bukan?”

Aria menunjukkan. Benar, Cosette telah bertanding dengan Rio, tapi dia menguras energinya secara tidak perlu dan berakhir  tanpa terjadi apa-apa. Tetapi——,

“Yah, aku akui. Namun, aku tahu kalau dia kuat, tapi aku tidak menyangka dia akan sekuat itu hanya dengan ilmu pedang murni tanpa pedang sihir.... Ketenaran yang dia bangun adalah nyata. Aku bisa merasakan perbedaan kemampuan yang lebih besar daripada yang kubayangkan ketika kami benar-benar bertarung. Itu luar biasa, sungguh.”

Cosette tidak peduli bahwa dia tidak bisa berbuat apa-apa, sebaliknya, dia menatap Rio dengan wajah terpesona dan mengatakan itu. Aria menatap rekannya dengan kaget.

“Itu sudah jelas, ‘kan? Tidak mungkin mengalahkan pedang Raja bahkan jika dia dilengkapi dengan pedang sihir jika dia hanya sedikit terampil dalam ilmu pedang. Bakat dan usaha. Jika tidak diberkati dengan keduanya, dia seharusnya tidak akan pernah mencapai level setinggi itu pada usianya itu...”

“Seorang jenius pekerja keras, ya. Aku ingin tahu apa kamu, yang juga seorang jenius, bisa mendaratkan serangan padanya?”

“...Aku tidak jenius kok, tapi aku tidak pernah tahu sampai kami benar-benar beradu pedang.”

Aria menjawab dengan ekspresi sedikit enggan di wajahnya, mungkin karena dia tidak terlalu suka digambarkan sebagai seorang jenius.

“Selanjutnya giliranmu, loh. Kepala pelayan kita yang sekuat iblis melawan Haruto-sama. Aku tidak sabar untuk melihat siapa yang lebih kuat. Lihat, itu akan segera berakhir.”

Kata Cosette sambil melihat pertandingan. Natalie dengan berani mendekati Rio dengan dua belati kayu di tangannya. Rio tidak melakukan serangan balik karena mungkin ingin mengamati gerakan Natalie, jadi Natalie terus menyerang hampir secara sepihak.

Namun, Natalie lebih terengah-engah daripada Rio yang berada di tengah serangkaian pertarungan, karena Rio terus menghindari serangannya dengan gerakan minimal. Hanya masalah waktu sebelum Rio mengakhiri pertandingan.

“Dia menjadi serius karena serangannya tidak ada yang kena. Anak itu benci kalah sih.”

Wajah Natalie terlihat serius saat dia mengayunkan belatinya, tapi tidak terlihat menjadi serius dari samping. Namun, sepertinya dia tidak bisa menipu mata rekannya, Cosette.

Lalu——,

“Mari kita berhenti di sini.”

“......Baik.”

Rio menurunkan pedangnya dan menyuruh Natalie untuk menghentikan pertandingan. Natalie tampak seperti ingin bertarung lebih lama, tapi karena dia adalah orang yang jujur dan pengertian, dia meletakkan belati di tangannya dan menganggukan kepalanya.

“Saya yakin akan ada lebih banyak kesempatan bagi kita untuk bertanding di masa depan, jadi kita akan lanjutkan saat itu saja.”

Rio bisa merasakan emosi dari ekspresi Natalie dan mengatakan itu dengan senyum di wajahnya.

“B-Baik.”

Natalie mengangguk malu-malu, mungkin karena keinginannya terbaca.

“Yang terakhir adalah Aria-san. Silahkan.”

Rio dengan keras memanggil Aria dari kejauhan.

Kemudian Natalie pergi dan Aria datang menggantikannya. Mereka saling berhadapan pada jarak sekitar lima meter——,

“Silakan, mohon kerja samanya.”

“Dengan senang hati.”

Rio balas membungkuk ke Aria, yang membungkuk padanya.

“Jika kalian sudah siap, pertandingan akan dimulai setelah hitungan kelima. Silakan gunakan sihir (Magic dan Sorcery) untuk meningkatkan kekuatan fisik kalian.”

“Saya siap kapan saja. «Enchant Physical Ability».”

“Saya juga sudah siap. «Enchant Physical Ability».”

Rio dan Aria telah meningkatkan kekuatan fisik mereka——,

“Baiklah, aku akan mulai menghitung. Lima, empat, tiga, dua, satu, mulai!”

Atas aba-aba Sara, pertandingan keduanya dimulai.

Aria mendekati Rio segera setelah itu dimulai. Dan saat berikutnya ketika dia mengira dia telah pindah, dia mengayunkan pedang kayunya ke arah Rio, yang sudah dia dekati. Ini adalah gerakan luar biasa yang sulit bagi amatir dan bahkan pejuang dengan sejumlah pelatihan untuk bisa menanggapinya——,

Rio juga mengayunkan pedang kayunya untuk menangkis serangan itu. Namun, gerakan Aria tidak berhenti hanya karena dia memblokir serangan pertama. Dengan gerakan cepat dan indah, dia mengayunkan pedangnya dan berusaha mendaratkan pukulan ke Rio. Melihat serangannya itu, Sara, sang wasit, menatapnya dengan kekaguman. Dan——,

(...Sudah kuduga Aria-san adalah yang terkuat di antara para peserta)

Rio juga bisa merasakan kemampuan Aria. Natalie dan Cosette, yang juga pelayan Liselotte, sekuat Vanessa dan Louise, yang sekelas kapten dari Ksatria Penjaga, tetapi keterampilan Aria sebagai pendekar pedang mungkin dekat dengan pedang Raja, Alfred. Dia memiliki kemampuan lebih dari cukup untuk dipilih sebagai kepala pelayan putri seorang Duke, Liselotte.

(Lawan yang seimbang dengan Aria-san pastilah Aishia. Jika dibutuhkan dua orang, Sara dan Alma, itu mungkin akan menjadi pertandingan yang bagus.)

Rio memikirkan itu saat dia menangani serangan Aria. Jika tidak ada batasan dalam penggunaan seni roh, hasilnya mungkin berbeda, tapi jika kondisi yang sama diterapkan pada pertandingan, bahkan Sara dan Alma tidak akan bisa mengalahkan Aria.

Jika mengecualikan Rio dan Aishia dari peringkat, Aria akan berada di peringkat pertama, diikuti oleh Sara dan Alma. Natalie, Cosette, Vanessa, dan Louise akan berada di peringkat di bawah mereka. Dan anggota umum Ksatria Penjaga di peringkat selanjutnya secara berurutan.

Ngomong-ngomong, ketika Satsuki mencoba untuk meningkatkan kekuatan fisiknya, peningkatan yang disebabkan oleh senjata ilahi diaktifkan bahkan jika dia tidak mewujudkan senjata ilahinya. Dia tidak bisa dimasukan ke dalam prediksi peringkat karena dia tidak bisa membuat kondisi yang sama dengan peserta lain, tapi jika pertandingan ini tidak membatasi peningkatan fisik dengan senjata ilahi, seni roh, dan pedang sihir, dia mungkin bisa berada di peringkat tinggi.

Rio telah beberapa kali bertanding dengan Satsuki sejak dia mulai tinggal di mansion kastil, tapi dia sudah membuat pertumbuhan luar biasa dalam waktu singkat. Hanya saja——,

(Dia benar-benar kuat...)

Meski begitu, akan sulit bagi Satsuki saat ini untuk mengalahkan Aria. Begitulah keterampilan Aria yang luar biasa. Setiap gerakannya halus dan efektif, dan dia menggunakan keterampilannya dengan baik untuk membuat gerakannya sulit diprediksi. Selain itu——,

(Sulit untuk memprediksi jarak antara kami karena dia mengenakan rok. Seorang pelayan yang bertarung dengan seragam pelayan terlihat cukup aneh, tapi itu mungkin pakaian tempur yang masuk akal jika didasarkan pada penggunaan senjata. Meskipun akan lebih mudah untuk meraihnya dengan tangan kosong...)

Misalnya, seorang prajurit yang terlatih bisa melihat gerakan lawannya dari gerakan awal tubuhnya, tapi gerakan kaki, seperti waktu melangkah dan menendang, merupakan informasi visual yang sangat penting. Itulah sebabnya mereka bisa menggunakan gerakan awal tubuh sebagai tipuan atau mempelajari teknik untuk menyembunyikan gerakan awal sebanyak mungkin, tapi mengenakan rok panjang untuk menyembunyikan gerakan kakinya adalah teknik yang baik. Rio juga biasanya memakai mantel panjang yang membuat kakinya sulit dilihat, tapi area yang bisa dia sembunyikan lebih rendah dari rok.

Namun, Cosette dan Natalie juga mengenakan rok. Alasan kenapa Rio merasa Aria lebih sulit untuk dilawan daripada keduanya adalah karena teknik Aria yang jauh lebih luar biasa. Dia menyembunyikan kakinya dengan roknya dan menggunakan teknik yang sempurna yang tidak memungkinkan musuh untuk melihat gerakan awalnya, memberikan ilusi bahwa dia lebih cepat dari yang lain, meskipun kekuatan fisiknya sendiri tidak jauh berbeda dari yang lain. Selain itu, dia adalah yang tercepat, dan selalu bergerak secara optimal.

Tapi, Rio juga mampu menanggapi gerakan Aria dengan sempurna, dan pertandingan mereka jauh lebih maju daripada yang lain. Rio juga yang hanya bergerak paling jauh beberapa meter ketika bertanding dengan yang lain, sekarang dia dipaksa banyak bergerak untuk menghadapi serangan Aria. Mereka yang menonton pertandingan membelalakkan mata.

Khususnya, selain mereka yang mengetahui kekuatan Aria, mereka yang melihat sekilas kekuatannya untuk pertama kalinya (terutama para Ksatria Penjaga) terkejut.

“Luar biasa...” 

“Aku pernah mendengar desas-desus bahwa kepala pelayan Lady Liselotte cukup terampil...”

Vanessa memandang Aria dan bergumam pada dirinya sendiri.

Louise melanjutkan seolah menjawabnya.

“Menangani serangan gencar Aria yang semakin agresif itu dengan sangat sempurna bagi Haruto-sama bukan masalah besar, ya.... Kalau kita sih hanya bisa bertahan beberapa detik.”

Cosette, yang mendengarkan percakapan dari jarak yang agak jauh, bergumam pada dirinya sendiri. Para pelayan Liselotte berlatih setiap hari, dan Aria, kepala pelayan, bertanggung jawab atas itu. Ada juga menu pertarungan tiruan satu lawan satu dengan Aria secara rutin, yang ditakuti oleh para pelayan sebagai pelatihan dari neraka.

“Hei, kalian. Siapa sebenarnya wanita itu?”

Vanessa bertanya pada Natalie dan Cosette.

“Dia kepala pelayan kami. Namanya Aria.” jawab Cosette dengan mengangkat bahu.

“Aku tahu itu ketika dia memperkenalkan dirinya, tapi..., latar belakang seperti apa yang dia miliki? Sepertinya dia telah menguasai ilmu pedang gaya Kerajaan Beltram.”

Vanessa melanjutkan pertanyaannya. Mereka telah menguasai ilmu pedang gaya Kerajaan Beltram yang sama, jadi dia pasti menyadari bahwa sekolah mereka sama.

“Nn......, yah, mungkin tidak apa-apa, toh dia sendiri tidak menyembunyikan hal ini. Itu karena dia dilahirkan dalam keluarga viscount di Kerajaan Beltram, loh.”

Itulah yang Aria sendiri katakan ketika dia kebetulan bertemu kembali seorang ksatria dari Kerajaan Beltram yang dia kenal sebelumnya.

“Jadi dia adalah putri Viscount dari negara kami? Kenapa dia dengan putri Duke dari Kerajaan Galarc...”

Ditugaskan untuk melayaninya sebagai pelayannya. Jika dia dilahirkan dalam keluarga Viscount dan memiliki keterampilan sehebat itu dengan pedang, dia bisa menjadi anggota Ksatria Penjaga, dan dia pasti akan mencapai puncak karirnya. Tidak mengherankan bahkan jika dia menjadi pengawal keluarga kerajaan, Christina dan Flora. Sebaliknya, dia malah akan diminta untuk menjadi pengawal mereka, wajah Vanessa seperti berkata demikian.

“Karena itu menyangkut privasi, kamu tanyakan saja sisanya pada orangnya langsung. Dia tidak peduli sama sekali dan tidak akan menyembunyikannya, tapi itu masih privasi.”

“Mm, apakah begitu.... Tidak. Oh gitu, itu benar.”

Vanessa tidak bertanya lebih jauh, mungkin karena dia menebak moodnya. Namun, sepertinya dia merasa menyesal bahwa orang yang sangat berbakat dari dalam negeri telah jatuh ke negara lain, dan bibirnya terkatup kesal. Lalu, di sana——.

Rio yang sampai sekarang bertahan, berbalik untuk menyerang. Dia mengikuti lintasan pedang kayu Aria dan mengayunkan pedangnya ke arah yang sama untuk merobohkannya, lalu menyerang balik Aria sebagai balasan. Aria melompat ke samping mengikuti aliran kekuatan ketika pedangnya dirobohkan, dan mengelak tepat pada waktunya untuk menghindari pedang kayu yang Rio tebaskan kembali kearahnya.

Rio terus mendekati Aria dan mengejarnya. Para penonton sedikit terkejut karena Rio tidak pernah secara agresif menyerang para peserta yang dia lawan sejauh ini. Ini juga tidak sedikit berlaku untuk Aria.

“Huh....”

Mata Aria sedikit melebar, mungkin karena dia pikir dia tidak akan diserang seperti peserta lain. Tapi meski begitu, dia tidak terguncang dan jatuh, tapi menghadapi serangan Rio. Sementara Aria menghindari serangan itu dengan melangkah mundur, Rio bergerak maju dan mengayunkan pedangnya seolah-olah dia menari.

Serangan Rio begitu memukau sehingga penonton menahan napas. Tapi kemudian, tepat ketika mereka akan beradu pedang——,

“Mari kita berhenti di sini.”

Rio berhenti dan menawarkan untuk mengakhiri pertandingan.

“...Baik.” jawab Aria dengan menghela napas pelan dan menurunkan pedangnya.

“Baiklah, mari kita kembali ke tempat yang lain.”

“Baik.”

Aria melihat punggung Rio saat dia mulai berjalan——,

(Dia benar-benar pemuda yang konyol.... Selain kesempurnaan ilmu pedangnya, dia bertarung dengan sangat tenang sehingga membuatku berpikir bahwa dia adalah master veteran. Hebatnya dia baru berusia 16 tahun)

Aria bertanya-tanya setengah linglung apakah dia, yang seharusnya lebih tua darinya, sudah memasukkan lebih banyak semangat mudanya ke dalam pedang yang dia pegang, tapi——,

(Tidak setiap hari aku mendapatkan kesempatan untuk bertarung habis-habisan melawan lawan sekuat ini. Ini adalah kesempatan yang telah kudapatkan, jadi aku akan menikmatinya sepenuh hati)

Dia bahkan tersenyum bahagia. Kemudian Rio, Aria, dan Sara, yang bertindak sebagai hakim, mereka bertiga kembali ke tempat para Ksatria Penjaga. Lalu——,

“Saya memiliki gambaran kasar tentang kemampuan dan gaya bertarung kalian semua melalui pertandingan. Ada banyak hal yang saya perhatikan, dan saya berencana untuk memasukkannya ke dalam pelatihan sebagai tugas. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk membuat kalian lebih kuat dari sebelumnya, jadi saya harap kalian akan dapat mempelajari banyak hal yang akan berguna dalam pertempuran nyata melalui pertarungan tiruan seperti satu lawan satu, banyak lawan satu, dan banyak lawan banyak. Terkadang saya mungkin harus melatih kalian dengan coba-coba, tapi sekali lagi, mohon kerja samanya”

Setelah memberi tahu mereka kebijakan kuliah, Rio melihat wajah semua orang dan membungkuk. Para peserta mengedipkan mata ketika Rio membungkuk kepada mereka, tapi——,

“...Baik!”

Mereka menjawab dengan suara ceria.

“Apakah ada yang ingin bertanya?”

“Ya!”

Ada di antara mereka yang mengangkat tangan dengan penuh semangat.

“Ada apa, Satsuki-san?”

“Kamu tidak akan bertanding denganku?”

“Sejak kamu mulai datang ke mansion ini, kita telah melakukan banyak pertandingan, bukan begitu, Satsuki-san? Karena itu aku tahu betul kemampuanmu, seperti Sara-san, Alma-san, dan Aishia.”

“Mū...”

Padaha aku sudah menantikannya, kata Satsuki sambil cemberut dengan imut.

“Satsuki-san bisa melakukan pertandingan di luar jam kuliah, jadi mari kita lakukan lagi saat itu.”

“Janji loh, ya?”

“Ya.”

Rio mengangkat bahu seperti dalam masalah, tapi mengangguk sambil tersenyum.

“Yatta. Aku akan menantikannya.” jawab Satsuki dengan senyum dan kegembiraan.

Melihat percakapan ini, para Ksatria Penjaga dan para pelayan dapat mengetahui bahwa hubungan antara keduanya cukup intim.

“Kalau begitu, karena waktu juga terbuang percuma, mari kita beralih ke menu berikutnya, berdasarkan pertandingan kita sebelumnya.”

Setelah itu, kuliah dilanjutkan selama 2 jam hingga siang hari, dan para peserta mendapatkan pelatihan yang sangat berarti.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment