-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 1 part 5 Indonesia

Episode 1
Kedua dan Pertama



Ketika karaoke dimulai, itu adalah waktu yang cukup sulit untukku.

Mau tak mau aku melihat Tachibana-san, tetapi dia menyanyikan lagu yang diminta pacarnya untuk dinyanyikan, dan dia juga bertepuk tangan ketika pacarnya bernyanyi.

Apa-apaan ini?

Kenapa aku harus melihat adegan gadis yang aku cintai bersenang-senang seperti ini?

Tachibana-san masih tanpa ekspresi. Tapi, kurasa dia tertawa ketika dia sendirian dengan pacarnya.

Aku putus asa dan menyanyikan lagu patah hati.

Saat aku bernyanyi, Tachibana-san mengoperasikan Denmoku sepanjang waktu.

Dia tidak melihatku, dan dia juga tidak bertepuk tangan.

Ini menyedihkan. Setelah aku selesai bernyanyi, semua orang memiliki ekspresi misterius, seolah mereka kesulitan bereaksi. Aku tahu aku tidak pandai bernyanyi. Dalam keadaan seperti itu, seorang gadis mengangkat suaranya dengan malu-malu.

“Ku-Kupikir itu cukup bagus!”

Itu adalah Hayasaka-san.

“Itu unik, maksudku selera baru. Aku yakin itu salah satu cara untuk menafsirkannya!”

(Tln: ‘selera baru’ terjemahan raw sebenarnya avant-garde/vanguard/pelopor)

Aku tidak ingin kamu meyakinkan mereka.

Malahan, fakta bahwa Hayasaka-san mendukungku menarik perhatian orang-orang.

[Kenapa Hayasaka-san memihak Kirishima?]

Tampaknya semua orang merasakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

Hayasaka-san juga menyadari hal ini dan buru-buru melambaikan tangannya.

“Bukan, tidak seperti itu. Aku cuma ingin bilang kalau bahkan jika dia tidak pandai bernyanyi, dia akan terdengar seperti itu begitu dia menyanyikannya. Lagu Kirishima-kun memang terdengar seperti jeritan babi, bukan?”

I-Itu sudah cukup, Hayasaka-san.

Hubungan kita tidak boleh diketahui semua orang. Tapi, kau belum pernah mendengar jeritan babi, bukan?

“Kirishima, kau benar-benar pria yang baik.”

Maki menepuk punggungku.

“Kau sengaja bernyanyi dengan buruk, bukan?”

“...Aa. Itu akan membuat Nozaki-kun terlihat bagus, ‘kan? Ya, itu semua disengaja.”

Sambil berbicara, aku mengoperasikan ponselku dan mengirim pesan ke Hayasaka-san.

[Berpura-puralah menjadi orang asing.]

Akan sangat buruk jika fakta bahwa Hayasaka-san berpacaran denganku terbongkar dan sampai ke telinga pria nomor satunya.

Hayasaka-san, yang melihat pesan itu, mendongak dan membuat lingkaran dengan jarinya.

[Dan Tachibana-san juga ada di sini, sih ya.] aku mendapat balasannya.

Setelah semua orang selesai bernyanyi, waktunya untuk mengobrol.

Aku tidak tahu yang mengangkat ide ini, tetapi kami memutuskan untuk membicarakan cinta pertama kami. Ini adalah cara yang bagus untuk menghidupkan pesta.

Anak laki-laki yang pandai berbicara menyajikan cerita episodik yang menarik dan lucu.

Ketika giliranku tiba, aku bercerita tentang hari-hari sekolah dasarku.

“Selama liburan musim panas, aku tinggal di rumah kerabat. Aku tinggal di sana selama sekitar satu minggu dan berteman baik dengan seorang gadis yang tinggal di lingkungan itu——”

Dia adalah gadis yang sangat cantik dan aku terus memikirkannya.

Dengan kata lain, aku jatuh cinta. Itu adalah cinta pertamaku.

Kami senang bermain bersama di taman hari demi hari. Tetapi suatu hari, ketika aku melihat gadis itu bermain dengan anak laki-laki lain, aku merasakan sakit di dadaku dan berkata padanya.

“Aku tidak ingin kamu bermain dengan anak laki-laki lain selain aku.”

Aku tahu sekarang bahwa itu adalah kecemburuan. Tapi pada saat itu, aku tidak tahu perasaan apa yang muncul di dalam diriku, dan aku tidak bisa menahannya.

“Kurasa dia tidak menyukainya. Keesokan harinya gadis itu berhenti datang ke taman.”

Kisah kegagalan cinta pertamaku yang pahit. Itu seperti, silakan kalau mau tertawa, nah nah seperti itu.

Aku juga melihat Tachibana-san, tapi dia tidak merespon dan tanpa ekspresi. Dia sepertinya tidak memiliki kesan khusus.

Beberapa gadis bercanda menggodaku, sebagian untuk menghidupkan suasana.

“Kecemburuan pria itu sangat menyedihkan.” “Idih!” “Menjijikan~!”

Yah, aku tahu itu, aku tahu itu. Aku pikir juga begitu.

Tapi, ada juga gadis yang tidak menyukai komentar mereka.

“......Itu tidak menjijikan sama sekali.”

Itu adalah Hayasaka-san.

“...Aku juga akan cemburu jika orang yang kucintai berhubungan baik dengan orang lain kok.”

Sekali lagi, dia membelaku, tapi kali ini, kata-kata Hayasaka-san, [Jika orang yang kucintai berhubungan baik dengan orang lain kok], yang menarik perhatian orang-orang.

“Apakah ada seseorang yang kamu cintai juga, Hayasaka-san?”

“Apakah kamu pernah cemburu?”

“Aku ingin Hayasaka-san cemburu padaku!”

Mata Hayasaka-san berputar saat dia dibombardir pertanyaan oleh para pria.

“Se-se-se-seseorang yang kucintai? A-aku tidak begitu paham tentang hal semacam itu!”

Dia menjawab seperti seorang idol yang tidak bersalah secara tidak sengaja.

“Hei, anak laik-laki, kalian terlalu dekat!”

Para gadis berteriak.

“Tidak boleh ada pertanyaan lebih dari ini~. Silakan bertanya lewat manajer~.”

Sementara memarahi anak laki-laki, mereka mulai membuat kebisingan.

Meski begitu Hayasaka-san, dia lebih kikuk dari biasanya, dan aku sedikit khawatir.

Aku mengirim pesan di ponselku lagi.

[Kau tidak perlu mengkhawatirkanku!]

Hayasaka-san melihat ponselnya, “Okeh!” dengan penuh semangat membuat lingkaran dengan jarinya.

Melihat reaksinya terhadapku itu membuatku tahu bahwa dia pasti tidak mengerti.

Saat kami diam-diam melakukan interaksi itu, tiba-tiba, aku diajak bicara oleh seorang gadis di kelasku.

“Ngomong-ngomong, kamu anggota klub penelitian misteri, ‘kan, Kirishima?”

Dia sepertinya khawatir dengan kesunyianku. Dan kakaknya adalah lulusan SMA ini dan alumni PeMis.

(Tln: PeMis = Penelitian Misteri)

“Mungkin sekarang kamu bisa merayu gadis cinta pertamamu itu?”

“Kenapa?”

“Soalnya di PeMis ada, ‘kan? Buku Panduan Cinta.”

“Oh, maksudmu catatan cinta, ya.”

Pernah ada seorang alumni yang mencoba menulis novel misteri bertemakan cinta di PeMis.

Dia pertama berfokus pada tiga komponen misteri: How, Who, dan Why.

Bagaimana, siapa, dan mengapa kejahatan itu terjadi?

Dia menerapkan ini pada cinta.

How. Bagaimana membuatnya menyukaimu.

Who. Siapa yang kamu suka.

Why. Kenapa kamu menyukainya.

Dia ingin menulis misteri cinta, tapi mungkin karena masa remajanya, dia menyelesaikan sebuah buku yang hanya mempelajari tentang cinta. Itulah buku catatan cinta yang diturunkan dari generasi ke generasi di PeMis.

“Itu juga berisi tentang cara merayu seorang gadis, bukan?”

Itu adalah bagian [How] dari catatan cinta. Efek kontak belaka juga tertulis di sana.

“Malah menurut kakakku, orang yang membuatnya adalah seorang jenius dengan IQ 180, tahu.”

“Kurasa itu sulit dipercaya.”

Beberapa penelitian didasarkan pada psikologi dan ilmu perilaku, tapi kebanyakan isinya hal bodoh.

“Eh, apa apa? Emangnya ada yang namanya buku panduan cinta?”

Anak laki-laki lain yang mendengarkan kami, masuk ke dalam percakapan.

“Kirishima, jadi kau membacanya? Gokil banget.”

Dia menganggap kombinasi aku dan cinta itu lucu. Percakapan yang ramah menjadi meriah.

“Sampai baca buku panduan cinta, kau benar-benar berusaha terlalu keras.”

“Lagian, jika kamu melakukan penelitian, kamu bisa menjadi sedikit lebih tampan, bukan?”

“Enggaklah, membaca buku gak akan mengubah wajahmu.”

Aku benar-benar sudah diejek. Aku juga biasanya membuat lelucon tentang diriku pria berkacamata kurus, jadi ini pasti terjadi. Aku tidak sakit hati pada siapa pun.

Tapi, ada seorang gadis yang tidak suka diriku diperlakukan sebagai karakter yang tidak keren.

“......Itu tidak benar.”

Tentu saja, itu adalah Hayasaka-san. Tampaknya pesanku tidak tersampaikan sama sekali.

Saat berikutnya setelah kupikir dia bergumam kecil, dia berkata dengan nada suara yang kuat yang biasanya tidak akan terbayangkan.

“Kirishima-kun siapa bilang tidak keren!”

(Tln: Kanjinya bisa berarti ‘pecundang’, tapi karena konteksnya penampilan, maka ‘tidak keren/jelek’ lebih tepat)

Dia meremas ujung roknya erat-erat.

Namun, dia menyadari bahwa ruangan itu menjadi sunyi dan bergegas untuk memperbaikinya.

“Tidak, bukan itu maksudku, um, hei, kalian tidak perlu pergi sejauh itu, tidak ada salahnya untuk serius tentang cinta karena itu terdengar tidak main-main, dan penampilan Kirishima-kun juga normal kok...”

Hayasaka-san kehilangan kata-katanya di sana, dan setelah menggeliat,

“Aku, menyukai Kirishima-kun yang seperti itu...”

Katanya. Itu benar-benar tidak baik. Hayasaka-san, kamu terlalu temperamental.

Tentu saja, seluruh ruangan menjadi gempar.

“Eh, apa kau tadi bilang kau menyukai Kirishima?”

“Serius? Itu tidak benar, ‘kan?”

Siapa yang disukai Hayasaka-san adalah perhatian terbesar untuk anak laki-laki.

[Buruan di sangkal.]

Menggunakan smartphone membuatku frustrasi saja, jadi aku menyuruhnya dengan mataku. Hayasaka-san menganggukan kepalanya dengan kuat.

“Etto, bukan seperti itu. Saat kubilang aku menyukai Kirishima-kun, maksudku aku menyukai karakternya...”

Gadis-gadis bereaksi terhadap kata-kata Hayasaka-san.

“Mō, pria dan anak-anak benar-benar terlalu ramai! Jika dia bilang menyukai seseorang, itu pasti tidak ada perasaan cinta di dalamnya. Ini seperti ketika seorang aktris menyukai komedian, bukan?”

Salah satu gadis bertanya, Hayasaka berkata, “Ah, un. Seperti itu...” dan mengangguk.

“Benar juga, ya. Kirishima terlihat sangat serius, tapi dia sangat lucu seperti seorang komedian, ya.”

“...Ya, benar... kupikir itu menarik.”

“Mau coba minta dia lakukan sesuatu?”

“Eh?”

“Akane-chan, apakah ada lelucon yang kamu ingin Kirishima lakukan?”

“...Apa sih.”

Wajah Hayasaka-san berubah serius. Dia menundukkan kepalanya, matanya gelap, dan mulai bergumam dalam bisikan.

“Kalian ini, memperlakukan Kirishima-kun seperti itu, tapi... sebenarnya aku, sama sekali tidak peduli dengan kalian, dan Kirishima-kun lebih... hanya Kirishima-kun...”

Dia tampaknya dalam suasana hati yang berbahaya dan hendak mengatakan sesuatu yang mengerikan.

Semua orang merasakan bahwa suasana hati Hayasaka-san berbeda dari biasanya, dan mereka tampak tidak tahu harus berbuat apa.

Hanya aku yang bisa mengurusnya dalam situasi ini. Karena itu——.

“Hayasaka, berikan!”

Kataku, meningkatkan ketegangan.

“Beri aku sesuatu untuk ditirukan! Akan kubuat semua orang tertawa keras sekarang!”

(Tln: ditirukan atau tiru ini maksudnya lakon)

“E-Ee~?”

Hayasaka-san berteriak dalam kebingungan.

“Ki-Kirishima-kun, emangnya karaktermu seperti itu, ya?”

“Ya!”

Hayasaka-san sedikit salah menempatkan emosinya. Melihatku diejek, meski itu hanya komunikasi, Hayasaka-san semakin frustrasi dengan semua orang yang berusaha memaksakan citra mereka padanya, jadi dia marah, sebagian demi diriku.

Bagaimanapun juga, aku akan meramaikan tempat ini dan menutupinya semuanya.

“Makanya beri aku peran terbaik sekarang!”

“Me-Meski kau bilang begitu——”

Mata Hayasaka-san mulai berputar. Tapi ditarik oleh keteganganku, ekspresinya menjadi lebih cerah, dan kupikir itu bagus.

“Apa saja terserah! Tapi, kamu bisa sedikit lebih mudah padaku!”

Itulah keinginanku sebenarnya. Aku tidak keberatan jika itu sedikit susah, tapi aku tidak ingin dia meminta sesuatu yang tidak masuk akal.

“U~n, u~n,” geram Hayasaka-san.

Niatku seharusnya tersampaikan, tetapi Hayasaka-san, dia bahkan lebih kikuk dari yang kubayangkan.

“Etto... kalo gitu, rap?”

Pilihan yang gila.

Apakah dia pernah sekali saja merasakan elemen hip-hop dariku?

Hayasaka-san bingung tampak seperti dia tak tahu apa-apa seolah berkata, [Eh, apa pilihanku sulit? Eh? Eh?]. Tidak, aku yakin ada yang lebih aman dari itu.

Tapi, aku tidak punya pilihan selain melakukannya. Aku sudah siap untuk ini.

“Tanpa musik gak papa, ‘kan!”

Dia pasti merasakan suasana yang buruk, Maki membantuku dengan sangat baik.

Rap gaya bebas, ya? Baiklah, itu mungkin bagus juga.

Aku mengambil mikrofon dan berkata.

“Satu pria, satu kontes acapela, Kirishima akan melakukannya, akan menyanyikannya.”

Dua, dua, priksa mic-nya, priksa mic-nya, Ah, Ah.

“Takkan kubisa seperti Sudamasaki, yang mencintai gadis ini, jangankan dicintai, ku hanya pantas dibenci. Derita cinta itu, gadis itu membisu, dan kuambil mikrofon ini untuk membuat tertawa dirimu!”

(Tln: beberapa kalimat/kata diimprovisasi atau lebih tepatnya rubah total)

Semua orang melanjutkan itu.

“Rap Megane!”

“Asik-asik jos~?” (Harfiah: mau lucu-lucuan?)

“Boros yang penting lolos!” (Harfiah: enaknya boros)

Itu menciptakan suasana yang menyenangkan di seluruh ruangan.

Semua orang tidak peduli dengan fakta bahwa Hayasaka-san menyukaiku atau membelaku.

Ini juga demi cinta nomor satu Hayasaka-san.

Aku memasukkan lagu yang sulit di karaoke untuk semakin meyakinkannya, dan bernyanyi dengan buruk.

Setelah lagunya selesai, semuanya akan kembali normal jika semua orang bisa melupakannya.

Aku melakukan semuanya sendiri.

Tetapi saat aku bernyanyi, aku merasa sedikit sedih ketika Tachibana-san dalam penglihatanku.

Agak sulit untuk terus melucu di depan gadis yang paling kucintai.

Tachibana-san menatapku dengan ekspresi kosong seperti biasa. Aku tidak bisa membaca emosinya, tapi tidak mungkin dia berpikir itu keren. Kuharap seseorang akan segera menghentikanku. Pikirku.

Bisakah kamu setidaknya tersenyum?

Tidak, bukan itu.

Bukan perasaan seperti itu yang kuingin Tachibana-san arahkan padaku.

Sama seperti aku memikirkan Tachibana-san, aku ingin Tachibana-san memikirkanku.

Aku ingin dia mencari dan mengejarku di stasiun, atau tanpa sadar mengamatiku melintasi lorong sekolah, atau merasakan dadanya sakit sebelum tidur di malam hari. Tempat di mana aku sekarang terlalu jauh dari hal-hal seperti itu.

Tapi yah, Tachibana-san punya pacar pula, dan jika ada, si pacar itu ada di sebelahnya sekarang. Selain itu, dalam situasi seperti ini, sudah tidak penting lagi apakah aku keren atau buruk.

Di saat aku memutuskan untuk memainkan peran meramaikan suasana.

Seseorang menekan tombol berhenti.

Hayasaka-san, kau melakukannya lagi——.

Pikirku begitu, aku mencoba memikirkan cara baru untuk menindaklanjuti.

Tapi, bukan Hayasaka-san yang menekan tombol berhenti. Itu adalah seseorang yang lebih tidak terduga.

Seseorang yang tidak terlibat dalam percakapan dan seharusnya tampak acuh tak acuh terhadap apapun yang terjadi——.

Itu adalah Tachibana Hikari.

Related Posts

Related Posts

2 comments

  1. Semoga kedepannya tidak ada plot twist yg membagongkan

    ReplyDelete