-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 5 Bab 1 Part 4 Indonesia

Bab 1
Langkah Kaki Keributan


4


Toh kami menuju ke tempat yang sama, jadi aku pergi dengan Horikita ke gedung khusus.

Ketika kami tiba di depan gedung yang ditunjuk oleh Satō, entah kenapa ada sosok Maezono di sana.

“Ah, aku menjadi penjaga. Aku tidak berpikir ada orang yang datang ke gedung khusus sepulang sekolah, tapi untuk berjaga-jaga.”

“Penjaga? ...Sepertinya ini jauh lebih rumit dari yang kukira.”

Dia tampaknya terkejut bahwa mereka bahkan telah menyiapkan keamanan, meskipun merahasiakan segala hal tentang tahun ajaran berapa, kelas mana, dan apa yang akan mereka sajikan sampai hari yang ditentukan adalah prasyarat.

Aku pun sama. Aku tidak menyangka mereka tidak hanya meminta izin ke guru untuk meminjam ruangan di gedung khusus, tetapi bahkan mengatur penjaga untuk mencegah intervensi pihak ketiga. Terlebih lagi, bahkan ada penutup sederhana namun efektif untuk mencegah orang melihat bagian dalam kelas melalui jendela.

“Kalau begitu, aku akan melihat bagian dalamnya.”

“Ah, tunggu sebentar. Dari sini akan menjadi latihan praktis, jadi Horikita-san dan Ayanokōji-kun, anggaplah diri kalian sebagai pelanggan, ya.”

“Hal semacam itu. Okelah, ini jauh lebih mudah dipahami daripada melihat proposal yang dibuat dengan buruk.”

Melihat betapa rumitnya prosesnya, harapan Horikita tidak diragukan lagi meningkat.

Apakah ini benar-benar akan diadobsi atau tidak adalah masalah lain, karena jelas bahkan pada titik ini bahwa mereka sedang melakukan upaya serius untuk memenangkan Festival Budaya. Horikita pasti senang dengan hal ini.

Aku dan Horikita memastikan lagi bahwa tidak ada orang lain di sekitar, lalu perlahan membuka pintu.

Hal pertama yang muncul dalam pandanganku adalah warna-warni yang tak terduga.

Ornamen-ornamennya didekorasi dengan sangat cerah sehingga sulit dipercaya bahwa itu adalah ruang kelas kosong dan polos.

“Ini...”

“Selamat Datang~. Di Maimai, Maid Café!”

Secara serentak, tiga gadis menyambut kami dengan kostum khas mereka masing-masing.

Satō yang memanggil kami ke sini dan Matsushita di sebelahnya mengenakan seragam maid.

Mī-chan yang tatapannya melihat ke sana kemari karena malu mengenakan pakaian Cina.

Omong-omong, ruang kelas biasanya dilengkapi dengan monitor, tapi gedung khusus yang jarang dipakai tampaknya masih memiliki papan tulis. Dan nama toko ditulis dengan cantik di papan tulis itu dengan pena.

Kami dipandu ke tempat duduk kami dan diberi daftar menu buatan tangan.

“Mau pesan apa? Tuan dan nona.”

“Tunggu sebentar. Bolehkah aku bertanya sebelum aku memesan?”

“E? Apa itu?”

“Bukankah butuh banyak waktu dan uang hanya untuk mempersiapkan ini?”

Memang terlihat seperti tugas yang sulit jika ditanya apakah bisa segera disiapkan. Bahkan jika mereka bisa melakukan yang terbaik untuk mendekorasi, bagaimana dengan kostumnya?

“Berapa lama waktu yang dibutuhkan, Matsushita-san?”

“Waktu persiapannya sekitar empat hari. Menurutku biayanya masuk akal ternyata. Totalnya adalah 13.200 poin pribadi. Kami bertiga di sini dan Maezono-san yang merencanakannya dan membagi biayanya, jadi 3.300 poin per orang. Rinciannya adalah menyewa 3 kostum dan membeli beberapa dekorasi dari toserba, seperti origami dan pena. Peralatan makan ini milik kami sendiri, jadi tidak ada biaya.”

Begitu, jadi itu alasan kenapa peralatan makan tidak terasa sama. Tentu saja, karena kami baru dalam tahap perencanaan, jadi ini bukan faktor negatif. Sebalikanya, aku terkesan sekali lagi dengan seberapa baik mereka mempersiapkan ini sambil menjaga biaya seminimal mungkin.

“Impactnya sih sempurna. Lebih baik dari sajian lain yang pernah kulihat sejauh ini. Tapi——”

Horikita memuji bahwa sajian itu memiliki pegangan yang sempurna, tapi dia tidak terlalu naif untuk membuat keputusan berdasarkan itu.

“Apakah kalian memiliki anggaran keseluruhan yang utama? Aku ingin melihat secara spesifik prosesnya.”

Mendapatkan pertanyaan tajam, Satō mengalihkan pandangannya ke Mī-chan tanpa panik.

“Etto, aku sudah mencoba merangkum proposalnya sebisaku.”

Mengambil file yang jelas dari tasnya, Mī-chan memberikannya pada Horikita. Ada tiga lembar informasi rinci dalam tulisan yang cantik, mungkin ditulis oleh Mī-chan. Dikatakan kalau kostum itu sewaan, tapi mereka mendapat penawaran dari tiga perusahaan berbeda dan masing-masing menyewa satu kostum. Harga, kualitas, dan pilihan masing-masing dibandingkan. Selisih biaya antara peralatan makan termurah dan termahal yang digunakan pada hari H. Perkiraan jumlah orang, selain itu perbedaan jumlah tamu yang dapat ditampung, dll.

“Ini jauh lebih sempurna dari proposal yang pernah kulihat sejauh ini. Mengagumkan.”

Mendapat pujian yang tulus, Satō dan Matsushita memberi tahu Mī-chan bahwa dia sedang dipuji dengan menyodok panggulnya. Orang yang dimaksud tampak malu seperti biasanya, tapi dia menundukkan kepalanya seakan mengangguk ringan.

Sejauh ini, ide proposal dari Satō dan yang lainnya bisa dikatakan sempurna.

Namun——.

“Ini memang sajian yang menarik. Mungkin bukan genre yang langka, tapi aku merasa ini memiliki potensi jika dibuat dengan baik. Tapi, ada juga kekurangannya. Biaya sewa kostum adalah 4.000 poin per setelan. Jika itu sesuai proposal, 40.000 poin untuk 10 setel. Setelah itu, perkiraan biaya menyiapkan minuman dan makanan ringan adalah 50.000 poin. Itu saja total 90.000 poin.... Dengan 5.000 poin untuk dekorasi di kelas, ditambah biaya tempat di sini.... Ini tidak benar-benar murah.”

Meskipun tenaga kerja tidak membutuhkan upah dan bisa diperoleh tanpa kesulitan, hampir setengah dari anggaran saat ini akan digunakan untuk satu hiburan.

“I-Itu benar sih... tapi, kupikir kita bisa menaikkan harga satuan untuk menunya!”

Daftar menu yang dibuat Satō dan yang lainnya, misalnya, 800 poin untuk secangkir teh. Harganya diatur lebih tinggi daripada secangkir teh di kafe di Keyaki Mall. Tentu saja, harga itu dapat diturunkan secara signifikan tergantung penyesuaian di masa depan, tetapi mereka tampaknya percaya bahwa itu masih laku untuk dijual.

Wajah Horikita terlihat serius saat dia membaca tiga lembar proposal yang terpisah.

Tapi, pakaian Satō dan yang lainnya di sini tampak aneh dan tidak realistis, seperti Märchen.

(Tln : Märchen adalah dongeng di Jerman)

Akhirnya, Horikita mendongak, mungkin karena dia sudah sampai pada suatu kesimpulan.

“Aku akan mengkonfirmasinya sekali lagi, sajian ini... tidak ada yang melihatnya, ‘kan?”

“Tentu saja, tak ada seorang pun.”

Matsushita mengangguk terlihat percaya diri. Lalu Satō dan Mī-chan juga mengikuti.

“———Okelah. Aku akan coba mengurusnya untuk membuat maid café ini disetujui. Bisakah kalian periksa proposal ini lebih lanjut, termasuk pemotongan biaya secara menyeluruh?”

“Benarkah!? Yatta!”

Mereka bertiga bertukar sentuhan senang.

“Terlalu cepat untuk senang. Jangan lupa kalau kita masih dalam tahap pertimbangan positif.”

Meskipun dikatakan begitu, fakta bahwa mereka bisa membuat Horikita mengatakan bahwa dia akan mengurusnya adalah panen besar.

Saat kami berdua berjalan ke koridor, Maezono yang memperhatikan kami, melambai pada kami dengan senang.

Keributan di dalam kelas pasti sudah sampai ke telinga Maezono.

“Meski begitu, kau cukup menghargainya. Aku tidak menyangka kau akan bilang akan mengurusnya.”

“Jika kupikir tidak ada peluang untuk menang, aku tidak akan langsung mengakuinya. Faktanya, sebagian besar dari beberapa ide yang diajukan padaku ditolak di tempat, atau paling baik ditunda. Begitulah kuatnya ide yang mereka pikirkan.”

Maid café mungkin bukan sajian yang sangat langka.

Tapi sepertinya Horikita bersedia membantu karena dia melihat potensi kelas kami untuk menunjukkan kekuatannya dan mengesankan para tamu.

“Jadi bahkan jika beberapa kelas lain mengadopsi maid café yang sama, kita bisa menang.”

“Ya. Tidakkah kamu berpikir begitu?”

“Tidak, kau benar sih.”

Bahkan jika kami membuka toko yang berhubungan dengan makanan yang asal ada, kami harus melawan beberapa saingan. Di sisi lain, bahkan jika ada satu atau dua maid café, kami mungkin bisa mengalahkan mereka dengan kemampuan kami. Selain dari ketiganya yang mengenakan kostum sampel, masih ada banyak bakat kuat yang tertidur di kelas.

“Itulah sebabnya. Aku akan meminta kerja samamu untuk memastikan rencana para gadis itu berjalan.”

“Kerja sama? Jangan bilang kamu ingin aku bercosplay juga?”

“Kau ini ngomong apa sih? Kalau aku akan melakukannya, aku ingin memberikan segalanya. Jadi aku harus memiliki bakat-bakat terbaik, bukan? Sebagai anak laki-laki, tidakkah kamu pikir yang seperti itu harus kamu yang lakukan.”

“Tidak... yah, aku tidak tahu apa yang kamu maksud, tapi... kupikir ada orang lain yang lebih cocok untuk itu.”

“Kau benar. Ike-kun, Hondō-kun, dan yang lainnya mungkin lebih ahli dalam hal semacam ini. Tapi jika aku memberi tahu mereka tentang ini, itu bisa menyebabkan kebocoran informasi. Mereka terlalu banyak bicara.”

“...Aku tidak bisa menyangkal itu.”

Mereka adalah para siswa yang mungkin secara tak sengaja membocorkannya tanpa bermaksud untuk itu.

“Aku tidak ingin menambah jumlah orang yang tahu kondisi internal tanpa berpikir dua kali. Kamu mengerti, ‘kan?”

“Jadi begitu, ya.”

Mungkin karena nasib sialku Satō memanggilku dan aku ditakdirkan untuk ini.

“Jadi akan kuserahkan padamu dalam pememilihan personilnya terlebih dahulu. Tentu saja, kamu boleh memberi tahu orang yang akan mengambil pekerjaan itu tentang hal ini, tetapi ingatlah untuk merahasiakannya. Jika terjadi kesalahan, itu akan membunuh proyek ini.”

Itulah pentingnya melindungi informasi.

“Yah... dalam hal ini juga, aku ingin meminimalkan jumlah pembagi informasi. Bisakah aku serahkan semuanya kepadamu? Aku akan memutuskan anggaran resminya nanti, jadi aku ingin memintamu untuk mengatur orang, hingga mengelola semua pengeluaran.”

“Tunggu tunggu. Kau sudah melompati banyak hal sekaligus. Apa kau akan menyerahkannya padaku saja?”

“Belum diputuskan bahwa hanya akan ada 1 sajian untuk Festival Budaya ini. Mengingat keseimbangan bakat antara laki-laki dan perempuan, membuka banyak stan adalah keharusan. Tampaknya cukup sulit untuk menemukan cara meningkatkan penjualan dengan anggaran rendah, dan aku ingin fokus pada hal itu.”

Aku sangat ingin membiarkan dia fokus pada hal itu, tapi aku tidak tahu kenapa harus aku.

“Aku bisa berasumsi kalau kamu menerima tawaran resmiku, ‘kan?”

Aku sama sekali tidak ingat pernah menunjukkan kepura-puraan menerima tugas itu, tetapi keputusan itu dibuat tanpa berpikir dua kali.

“Ya ampun...”

Mungkin tidak ya aku menjalankan maid café yang ideal? Aku tidak terlalu percaya diri.

Satō, Matsushita, dan Mī-chan sudah dipastikan... berapa orang lagi yang perlu dijadikan pelayan, ya?

Meski masih lama, namun sepertinya aku perlu mengumpulkannya dalam waktu dekat.

“Aku akan pergi ke ruang OSIS, jadi sampai jumpa lagi.”

“A-Aa...”

Dalam perjalanan kembali, setelah menerima kasus yang membuatku ingin memegang kepalaku, aku baru saja akan meninggalkan gedung khusus ketika aku melihat Chabashira. Mengingat lokasinya, tidak mungkin dia berjalan ke sini secara kebetulan.

“Apakah kamu di sini untuk menemui Satō dan yang lainnya? Aku sudah dengar tentang sajian itu. Dan apa yang akan mereka lakukan. Bukan ide yang buruk.”

“Sepertinya begitu. Satō dan yang lainnya harus memastikan bahwa permintaan sajian itu disetujui atau tidak sebelum mereka bisa mulai mempersiapkannya.”

Tidak lucu jika setelah mempersiapkan semuanya dengan sungguh-sungguh, mereka tidak tahu apakah itu akan mendapatkan izin atau tidak.

“Aku pribadi penasaran dengan perkembangannya, jadi kupikir aku akan pergi untuk melihatnya. Bagaimana hasilnya?”

“Horikita juga sangat positif. Kukira dia menilai kalau ada peluang untuk menang. Kami sedang mengerjakan rinciannya sekarang.”

“Begitu, ya. Maka kurasa aku tidak perlu repot-repot pergi untuk melihatnya.”

“Tapi ini menjadi agak merepotkan karena aku ikut dilibatkan dalam hal ini.”

“Maksudmu?”

“Atas arahan Horikita, aku ditugaskan untuk menjadi pengawas sajian itu.”

“Kamu jadi pengawas, Ayanokōji? Astaga...”

Melihatku dengan mata kasihan dan menyedihkan, Chabashira tersenyum agak lucu.

“Itu hal bagus. Horikita juga memberikan saran yang sangat menarik.”

“Kupikir orang-orang seperti Ike dan Hakase berkali-kali lebih cocok untuk bidang semacam ini.”

(Tln: Hakase adalah Profesor/Sotomura Hideo)

Meskipun disebut maid café, aku tidak bisa melihat apapun di latar belakangnya.

“Mengenai pemahaman budaya otaku, mungkin ada benarnya. Namun, hal terpenting dalam Festival Budaya adalah penjualan. Mereka mungkin dapat meningkatkan kualitas barang, tetapi mereka tidak pandai menghitung dan menghasilkan keuntungan. Itulah kenapa penting bagimu untuk menjadi pengawas. Jika perlu, kamu bisa minta pendapat mereka untuk menyelesaikan masalah.”

Mudah mengatakannya. Untuk menyerap pendapat, aku juga harus memperoleh pengetahuan minimum. Tidak ada jaminan kalau aku akan sampai pada jawaban yang benar jika aku hanya mendengarkan nasihat tanpa mengetahui jawabannya, dan di sisi lain, sulit untuk menunjukkan bahwa tanda tanya itu salah.

“Kamu hanya harus menerima kenyataan bahwa kamu memiliki kesempatan untuk belajar lebih dari sekadar studimu. Manajer maid café-san.”

“...Kurasa begitu.”

Aku hendak pergi, tapi Chabashira menghentikan langkahku.

“Ayanokōji. Lain kali... bisakah aku meminta waktumu sebentar saja?”

“Lain kali? Kapan itu?”

“Aku akan mengirimimu pesan segera. Apakah kau masih tidak keberatan?”

“Yah, aku tidak keberatan sih. Kalau aku punya jadwal, aku akan membuatnya kosong.”

Aku bisa saja menolaknya, tapi setelah menerima tatapan serius dari Chabashira, aku memutuskan untuk menerimanya.

Related Posts

Related Posts

12 comments