-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 5 Bab 2 Part 2 Indonesia

Bab 2
Dua Guru, Ujian Khusus yang Ditakdirkan


2


Dengan tindakan berani Kei, hubungan kami, yang sejauh ini hanya diketahui sedikit orang, diketahui oleh semua orang di kelas sekaligus. Mungkin itu akan menyebar ke seluruh tahun ajaran pada akhir hari ini.

Yah, aku skeptis tentang berapa banyak siswa yang tertarik dengan hubunganku dan Kei.

Pasangan Ike dan Shinohara, yang menjadi couple selama liburan musim panas, juga membuat keributan lebih sedikit daripada yang kuharapkan dalam hal topik perbincangan. Atau lebih tepatnya, itu adalah kombinasi yang sudah diprediksi.

Tampaknya ada beberapa teman laki-lakinya yang berpura-pura kuat dan dengan jujur cemburu, tapi pada akhirnya, tidak ada bedanya meski ada banyak yang cemburu pada mereka, dan mereka perlahan tapi pasti mengembangkan hubungan sebagai sepasang kekasih.

Frekuensi melihat mereka berdua, seperti pulang bersama dan berkencan meningkat pesat.

Dan pemandangan yang awalnya terasa baru pada akhirnya akan menjadi hal yang biasa.

Aku yakin itu sama untuk aku dan Kei, tetapi kami mungkin menyebabkan lebih banyak keributan di sekitar untuk waktu yang lebih lama daripada pasangan Ike Shinohara. Tidak jelas berapa banyak siswa yang bisa memprediksi hubungan kami.

Kesampingkan itu, pulang sekolah pertamaku ketika seluruh kelas tahu tentang hubungan kami telah tiba.

Seperti yang sudah kuketahui sejak kelas sore, tapi ada seorang gadis yang tidak pernah menatapku sejak makan siang.

“Hei, Kiyopon, maukah kamu pulang denganku?”

Gadis itu... adalah Haruka, teman baik dan sahabat Airi, mendekat dan memanggilku.

Aku berharap Kei menyarankan agar kami pulang bersama sepulang sekolah, tapi ketika aku melihatnya, aku melihat bahwa dia masih dikelilingi oleh gadis-gadis dan sepertinya masih diinterogasi.

“Apa kamu yakin?”

Karena ini Huruka, aku pikir dia akan melakukan sesuatu untuk setidaknya membantu atau menjaga Airi.

Airi diam-diam dan dengan tenang bersiap untuk pulang.

“Aku tahu, tapi tidak ada yang bisa kukatakan pada gadis itu sekarang. Yah? Jika Kiyopon bilang ada alasan kenapa kamu tidak bisa pulang berduaan denganku, itu lain cerita sih.”

Saat mengatakan itu, ekspresi Huruka terlihat galak sejenak.

“Baiklah.”

Sekarang setelah hubungan kami terbuka, peluang untuk berkumpul dengan grup Ayanokōji pasti akan berkurang.

Maka aku sebaiknya mendengarkan dia sebanyak yang ku bisa.

Kemudian kami berdua mengambil tas kami dan menuju pintu keluar belakang ke pintu depan.

Dalam perjalanan Huruka berjalan dengan acuh tak acuh tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Aku mengintip sekilas raut wajahnya dari waktu ke waktu, dan dia tampak marah, sedih, atau semacamnya.

Saat kami memakai sepatu kami dan meninggalkan sekolah, dia akhirnya menatapku.

“Tidak ada gunanya bertanya secara tidak langsung, jadi aku akan bertanya langsung padamu... apa benar kamu dan Karuizawa-san mulai berpacaran? Aku masih tidak percaya.”

“Seperti yang kamu lihat, itu benar.”

Ketika aku menjawab begitu, Huruka cemberut, lalu dia langsung mengangguk.

“...Aku tau? Tapi entahlah, aku sangat terkejut. Maksudku, Kiyopon sih bebas berpacaran dengan siapa pun, tapi siapa coba yang menyangka dari semua orang akan dengan Karuizawa-san itu?”

Evaluasi Karuizawa Kei dari sudut pandang orang lain tidak terlalu tinggi. Mayoritas orang akan mendapat kesan bahwa dia adalah wanita egois yang berpacaran dengan Yōsuke yang populer lebih awal dan mencampakkannya atas kemauannya sendiri.

“Jadi ini yang kamu bicarakan di kolam sebelumnya, ya. Yang kamu sebut menerima sedikit kejutan mental. Dengar ya, ini sama sekali tidak sedikit, tahu? Gadis itu, dia mencoba yang terbaik untuk menahannya di kelas, tapi dia menangis sepanjang istirahat makan siang.”

“Gitu ya.”

“Gitu ya, pala lu. ...Terlebih lagi, apa kalian beneran mulai pacaran sejak liburan musim semi?”

“Maaf karena aku tidak mengatakannya. Hanya saja, ada banyak alasan.”

“Alasan, ya. Yah, ada banyak rumor tentang Karuizawa-san, dan aku tidak tahu tentang itu...”

Tidak bisa dihindari bahwa persepsi seperti itu akan muncul karena dia berpacaran dengan Yōsuke untuk sementara setelah masuk sekolah ini dan dia juga sudah mengarang masa lalunya.

“Ini beneran, ‘kan? Maksudku, bukan seperti lelucon atau apa pun gitu.”

“Beneran kok.”

“Ha~... gitu ya. Jadi itu beneran. Aah entahlah, aku jadi bingung juga.... Tidak, kau tahu, aku memang bisa membayangkan Kiyopon berpacaran dengan seseorang, atau lebih tepatnya mungkin menyukai seseorang yang bukan Airi, tapi... tidak, tidak, aku tidak bisa menebak orang itu adalah Karuizawa-san.”

Dia mengeluh sambil memegang kepalanya karena semua prediksinya salah.

“Aku mengobrol sedikit dengan Yukimu dan Miyachi, dan mereka sama sepertiku. Aku tidak menanyainya secara langsung, tapi kupikir Airi lebih terkejut daripada kami.”

Sepertinya. Aku juga bisa dengan mudah membayangkannya.

“Lagian, bagaimana ceritanya? Sepertinya kalian tidak sering berhubungan juga.”

Bisa dimengerti kalau dia tidak tahu kapan aku jatuh cinta pada Kei dan kapan Kei jatuh cinta padaku.

“Aku berada di grup yang sama dengan Kei pada ujian di atas kapal tahun lalu. Sejak saat itu, kami secara bertahap memiliki lebih banyak kesempatan untuk bicara, dan ketika Yōsuke dan Kei putus, hubungan kami mulai berkembang.”

Pada Februari tahun ini, fakta bahwa hubungan mereka berakhir telah sampai ke telinga beberapa siswa.

“Jadi, kalian sudah lama berhubungan? Aku tidak pernah melihat kalian seperti sedang mengobrol loh padahal.”

“Karena sebagian besar waktu kami berkomunikasi lewat ponsel.”

“Aku akan bertanya secara mendalam, tapi siapa di antara kalian yang mengaku?”

Sebagai wali dan juru bicara Airi, dia ingin tahu lebih banyak tentang hubungan kami.

“Itu aku.”

“...Oh. Jika itu setidaknya dari Karuizawa, kupikir masih ada kesempatan, tapi ternyata dari Kiyopon, ya... susah nih.”

Dia menepuk dahinya dan mengangkat tangannya menyerah.

“Bisa jeda sebentar. Ada terlalu banyak informasi sehingga aku tidak tahu apa artinya sama sekali. Maaf, tapi bisakah kita pergi ke toserba?”

Saat kami mendekati toserba, Haruka menyarankan hal itu.

“Aa, aku akan menunggu di luar.”

Meminta maaf dengan ringan, Huruka menghilang ke toserba dengan tergesa-gesa.

Selang waktu itu, aku mengeluarkan ponselku, yang bergetar di sakuku beberapa kali.

[Habis ini, aku tunggu di Keyaki Mall, ya. Sulit sekali waktu ditanyai secara mendalam tadi~!]

Ada pesan ajakan seperti itu dari pacarku di sana.

[Oke. Aku akan menghubungimu sebelum aku sampai di sana.]

Kubalas seperti itu dan memasukkan ponselku kembali ke saku setelah memastikan bahwa itu telah dibaca. Haruka kembali dalam waktu singkat sekitar satu menit dengan kroket di tangannya.

“Waktu makan siang hari ini, aku berbicara dengan Airi sampai aku tidak bisa makan siang sama sekali.”

“Maaf sudah merepotkanmu.”

“Enggak merepotkan juga sih, tapi...”

“Aku tidak yakin apakah ini waktu yang tepat untuk memintanya, tapi sebenarnya, aku membutuhkan bantuanmu Haruka dan, jika memungkinkan, Airi juga.”

“Bantuan?”

“Informasi ini belum dipublikasikan, tapi salah satu kreasi yang akan kita lakukan selama Festival Budaya telah diputuskan.”

“Eh, benarkah?”

“Agar informasi tidak bocor, hanya aku, Horikita, dan pengusul yang mengetahuinya. Kita akan membuat Maid Café sebagai kreasi untuk Festival Budaya.”

“Ma... Maid Café? Kok, hee.... Aku tidak terkejut, tapi sedikit gak nyangka. Aku tidak bisa membayangkan Horikita-san menyetujui kreasi seperti Maid Café.”

“Dalam kasusnya, dia mungkin rata terhadap semua kreasi sih, ya. Kurasa dia mengizinkannya justru karena dia pikir kita bisa bersaing murni dengan Maid Café tanpa prasangkan apapun.”

(Tln: prasangka atau ketidakpastian)

“Jadi begitu. Lalu, untuk apa kamu memberitahuku?”

“Sebenarnya, dari caraku mengetahui rencana ini, aku diminta untuk mengurus banyak hal.”

Semacam itu, Huruka mengangguk paham.

“Bahkan jika situasinya seperti itu, Horikita-san yang menyerahkan hal itu pada Kiyopon juga mengesankan.”

“Jadi, aku berpikir untuk memintamu Haruka dan Airi untuk menjadi staf di sana.”

Tanpa terkejut, Haruka mendengarkannya dengan ekspresi yang tak terlukiskan.

Yah, kurasa dia bisa menebak sesuatu dari cara ku berbicara.

“Kalau bukan karena insiden dengan Karuizawa-san, meskipun ragu aku mungkin akan menyetujuinya saat itu juga. Aku tidak suka berpakaian seperti cosplayer di depan banyak orang, tapi jika ada teman dari grupku yang penting memintaku untuk melakukannya, aku tidak akan bisa menolaknya. Tapi... waktunya tidak pas, ‘kan.”

Pada hari aku mengetahui bahwa sahabatnya patah hati, tentu saja tidak pantas bagiku untuk meminta hal ini.

“Tapi, masalahnya aku tidak bisa menyalahkanmu juga, Kiyopon. Seperti kataku sebelumnya, kamu bebas berpacaran dengan siapa pun, dan aku juga tidak tahu kalau ada alasan kamu tidak bisa mengatakannya. Airi bebas untuk menyukai Kiyopon, dan kamu juga bebas untuk menolaknya...”

Ini seperti meskipun dia memahaminya secara teori, perasaannya tidak akan menerimanya.

“Aku tidak bisa berjanji. Tapi, ketika keadaan sudah sedikit tenang, aku akan berbicara dengan Airi.”

“Apa kamu yakin?”

“Anak itu, dia juga harus menerima kenyataan cepat atau lambat. Selain itu, aku tidak tahu apa yang Kiyopon pikirkan, tapi jika lawannya Karuizawa-san, dia mungkin tidak harus menyerah. Soalnya, bahkan jika Kiyopon berpikiran tunggal, masih ada kemungkinan kamu akan dicampakan, bukan?”

(Tln: berpikiran tunggal maksudnya setia)

“Yah, itu benar. Aku pikir ada kemungkinan besar dia kehilangan minat padaku.”

“Ketika saat itu tiba, berarti Airi akan mendapatkan kesempatan lagi. Anak itu adalah permata kasar yang tidak menonjol sama sekali saat ini... perasaan Kiyopon juga mungkin akan berubah.”

Memang benar jika Airi mengenakan kostum seperti itu dan memberikan semuanya, dia akan sebagus ketiga orang itu. Tidak, jika memasukkan karakteristik fisiknya, dia mungkin tidak ada bandingannya.

Selain itu, meski tidak terkait dengan tamu kehormatan, para pejabat sekolah mungkin akan terkejut dengan penampilan Airi.

Jika itu terjadi, rumor akan dengan cepat beredar di sekitar sekolah dan bisa mencapai telinga para tamu.

“Tidak, itu benar, tapi bukankah Airi akan berubah pikiran setelah kejadian ini?”

Ketika orang yang kamu cintai memiliki pacar, wajar untuk mencari cinta yang baru.

Kupikir aku sudah mengatakan sesuatu yang jelas, tapi dia menujukan tatapan paling marah hari ini.

“Gini ya, tidakkah kamu terlalu menganggap enteng perasaan Airi? Kurang lebih aku bisa memahaminya dengan baik karena aku sudah memperhatikannya sejak lama. Perasaannya padamu Kiyopon tidak begitu ringan sehingga dia akan berubah pikiran tentang siapa yang dia sukai hanya karena ini.”

Dia menyangkalnya dengan kuat seolah dia kecewa padaku.

“Aku yakin kau akan lebih sering berkencan dengan Karuizawa-san, tapi pastikan kamu datang di pertemuan grup kita. Aku tidak ingin kita berpisah karena ini.”

“Itu benar. Oke. Grup ini sudah menjadi bagian dari kehidupanku di sekolah ini.”

Karena aku pikir kehilangannya dalam kasus seperti ini adalah kerugian.

“Sip, ini sedikit menjernihkan pikiranku. Aku akan kembali ke sekolah.”

Dia mengatakan itu sambil menghabiskan kroketnya dengan ringan dan memasukan sampah di dalam tasnya.

Dia tidak berbicara banyak, tapi jelas dia akan menemui Airi.

“Sampai jumpa besok, ya.”

“Aa, sampai jumpa besok.”

Setelah melihat sejenak punggung Haruka saat dia bergegas kembali ke sekolah, aku juga mengubah arah tujuanku ke Keyaki Mall bukan ke asrama.

Related Posts

Related Posts

5 comments

  1. Obsesi Haruka terhadap kiyotaka gk masuk akal,untung grup ayanokoji bubar.

    ReplyDelete
  2. Benar airi punya kesempatan. Kesempatan keluar sekolah

    ReplyDelete
  3. "Bisa dimengerti kalau dia tidak tahu kapan aku jatuh cinta pada Kei dan kapan Kei jatuh cinta padaku." Hah? Anda, jatuh cinta? Sungguh omong kosong. Anda hanya menganggapnya sebagai parasit dan alat.

    ReplyDelete