-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 5 Bab 3 Part 1 Indonesia

Bab 3
Awan Gelap


1


Pagi seorang guru ternyata sangat sibuk. Di sekolah ini, aku tinggal di asrama, jadi aku bekerja di tempat, yang berarti aku dekat dengan sekolah, tapi ada banyak hal yang harus dilakukan. Seperti harus mempersiapkan pelajaran, memeriksa apakah ada yang menghubungiku, dan terkadang memeriksa kualitas air kolam. Namun, waktu mulai hari kerja sama dengan kelas dimulai, jadi ini bisa dibilang seperti kerja lembur. Setelah persiapan individu pagi selesai, para guru mengadakan pertemuan di pagi hari.

Apalagi pada hari-hari ketika ujian khusus diadakan, kesibukannya berlipat ganda atau tiga kali lipat.

Kesalahan di pihak sekolah sama sekali tidak dapat diterima karena itu akan mempengaruhi sebagian dari kehidupan siswa.

“Dalam ujian khusus ini, hal terpenting bagi kita sebagai guru untuk diwaspadai adalah intervensi di dalam kelas. Pastikan untuk menghindari situasi di mana kalian secara tidak sengaja membantu siswa di kelas kalian sendiri untuk melindungi mereka.”

Mengumpulkan guru wali kelas dari kempat kelas, Ikari-sensei yang mengaudit ujian khusus ini, memperingatkan mereka dengan wajah tegas.

“Ano, ini mungkin sedikit terlambat, tapi boleh aku bicara sebentar?”

“Ada apa, Hoshinomiya-sensei?”

“Seingatku, terakhir kali... 11 tahun yang lalu ujian ini diadakan, ada tindakan yang diambil untuk mengacak wali kelas agar mereka tidak akan ditugaskan ke kelas yang sama, ‘kan? Jadi kenapa kali ini wali kelas masih menjaga kelasnya sendiri? Jika demi keadilan, aku pikir kita harus mengubahnya.”

Karena peringatan sudah dikeluarkan, niat sekolah untuk menghentikan intervensi wali kelas sangat terasa.

Namun, tentunya akan lebih pasti dengan membuat wali kelas bertanggung jawab atas kelas lain.

Tidak ada guru yang mau repot-repot mengambil resiko untuk membantu kelas saingan.

“Bukankah itu karena kita percaya bahwa keadilan akan tetap terjaga?”

Sakagami-seensei yang mendengarkan percakapan itu, dengan tenang menganalisisnya demikian.

“Apakah begitu?”

“...Aku tidak bisa mengatakan alasan lain selain, karena ini adalah keputusan.”

“Jadi ini ditentukan oleh atasan?”

Semua ujian khusus, tidak ada yang kami, yang hanya seorang guru, bisa putuskan. Keputusan akan dibuat oleh Ketua Sakayanagi dan mereka yang terlibat dalam pengoperasian dan pengelolaan sekolah ini.

Kita hanya perlu mengikuti aturan dan menjalankannya.

Namun sepertinya tidak bisa mengerti, Chie bahkan tidak berusaha menyembunyikan ketidakpuasannya.

Ikari-sensei yang tidak tahan melihat itu, membuka mulutnya dengan suara tegang.

“Ini hanya tebakan pribadiku, tetapi ujian khusus ini bisa melihat ke dalam pikiran yang disembunyikan para siswa. Itu adalah kumpulan informasi. Aku rasa mereka berpikir bahwa jika itu diteruskan ke guru kelas lain, itu akan mempengaruhi ujian khusus berikutnya.”

“Itu berarti, mereka memang tidak percaya pada kita para guru.”

“Apa boleh buat. Ujian khusus ini, ketiga guru wali kelas tampaknya pernah mengalami hal yang sama di masa lalu.... Bukankah ini mungkin ada hubungannya dengan voting kelas yang diadakan tahun lalu dan fakta kalian bertanggung jawab atas setiap kelas?”

“Sudah kuduga seperti itu.”

Chie tampaknya sekali lagi diyakinkan, seolah-olah dia sudah mengetahuinya sejak awal.

“Hoshinomiya-sensei... bisakah aku lanjutkan?”

“Iya, iyaa. Aku sudah paham, jadi silakan lanjutkan.”

Meskipun dia jelas masih dalam suasana hati yang buruk, Ikari-sensei melanjutkan penjelasannya seakan dia sudah menyerah.

“Jika atasan menilai bahwa kalian telah memberikan saran, peringatan akan diberikan. Jika diulang, akan ada pemotongan gaji. Dan meskipun itu bukan urusanku, ingatlah bahwa jika kalian dinilai telah melakukan intervensi jahat di mana dengan sengaja membimbing siswa pada pilihan yang harus mereka buat, hal terburuk yang dapat terjadi adalah penurunan pangkat.”

Ujian Khusus Suara Bulat adalah tentang pilihan. Wajar saja jika esensi ujian khusus itu sendiri akan dipertanyakan jika guru bertindak untuk mengarahkan para siswa untuk memilih pilihan tertentu.

Tentu saja, baik para guru di kelas lain maupun aku tidak memiliki niat seperti itu.

Seperti biasa, jangan terlalu berempati dengan para siswa dan hanya melakukan berbagai hal dengan serius.

Bahkan untuk ujian khusus yang penuh dengan kenangan pahit ini, itu tidak berubah.

“Itu saja. Sekarang, silahkan jalankan ujian khusus hari ini.”

Setelah itu, aku berusaha untuk melewati kelas pagi seperti biasa.

Tidak, mungkin hanya aku yang mengira itu seperti biasa, padahal sebenarnya tidak.

Aku tidak mengenal waktu, dan sebelum kusadari, sudah waktunya makan siang.

Di meja di ruang staf, ada makanan yang setengah dimakan.

Sekitar sepertiga dari perjalanan ke tenggorokanku, sumpitku benar-benar terhenti.

Tidak ingin terlihat seperti ini, aku memasukkan sisa makan siangku ke dalam tas dan menyimpannya.

Dan kemudian terdengar suara yang menandakan dimulainya kelas sore.

Ketika aku meninggalkan ruang staf, menatap lantai, aku dipanggil oleh suara langkah kaki yang datang dari belakangku.

“Akhirnya sebentar lagi, ya, Sae-chan.”

“...Kamu toh, Chie.”

“Sudah dari pagi tadi sih, tapi kayaknya kamu tidak bisa tidur tadi malam karena mikirin ujian khusus, ya?”

Aku mengabaikan provokasi yang jelas dan murahan.

Tidak, akan lebih tepat untuk mengatakan bahwa aku tidak bisa membalasnya.

“Kelasku saat ini tidak ada hubungannya denganku. Aku tidak peduli apakah siswaku menyelesaikannya dengan mudah atau tidak.”

“Fuun? Tidak terlihat seperti kamu memisahkannya seperti itu.”

“Yah, terserah. Jangan lupa bahwa Sae-chan tidak pantas untuk mengincar Kelas A.”

Saat aku berjalan pergi, Chie mengirimkan suara penuh kebencian yang tidak ingin dia sembunyikan.

Aku tidak bisa mengangkat wajahku sampai akhir.

Related Posts

Related Posts

2 comments