-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

You-Zitsu LN 2nd Year Vol 5 Bab 3 Part 2 Indonesia

Bab 3
Awan Gelap


2


17 September. Setelah istirahat makan siang. Kurang dari tiga minggu setelah liburan musim panas, ujian khusus berikutnya telah tiba.

Ketika aku kembali ke kelas sekitar 5 menit sebelum ujian dimulai, sudah ada satu orang dewasa yang menunggu di dalam kelas.

Dari belakang kelas, dia diam-diam mengawasi para siswa.

Aku sedikit terkejut ketika aku diperintahkan untuk tidak duduk di kursiku, tetapi di kursi yang ditentukan hanya selama ujian ini. Aku ingin tahu apakah itu demi kepatuhan yang lebih menyeluruh dan ketat terhadap aturan. Menariknya, aku duduk di kursi paling belakang dekat jendela yang aku duduki di tahun pertama. Siswa lainnya... tampaknya acak, tidak terlalu terkait dengan penempatan tahun lalu dan tahun ini. Sepertinya hanya kebetulan aku menempati tempat duduk yang sama. Aku melihat Horikita yang sudah duduk, sepertinya dia masih di barisan depan, hampir sama dengan tempat duduknya sekarang, tapi satu kursi di sebelahnya.

Satō duduk di sebelah kananku, dan Onizuka duduk di depanku. Para siswa mulai berkumpul satu demi satu.

Ujian yang akan kami hadapi sekarang adalah [Ujian Khusus Suara Bulat].

Ini sederhana, tidak lebih dan tidak kurang, di mana kami harus memilih dari pilihan ganda untuk 5 isu yang diberikan oleh sekolah dan mengulanginya sampai kami mencapai suara bulat.

Tidak banyak hal yang perlu disebutkan tentang ujian khusus ini, tapi juga tidak banyak tindakan balasan yang bisa diambil sebelumnya.

Komitmen untuk membagi suara untuk menghindari kebulatan suara yang tidak terduga karena kurangnya komunikasi selama voting pertama, terlepas dari konten isunya. Peringatan batas waktu voting. Tentukan terlebih dahulu siapa yang harus diikuti ketika bingung tentang pilihan mana yang harus dipilih, dan ketika suara terbagi, dll. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh setiap kelas.

Oleh karena itu, dapat dikatakan hampir tidak ada suasana yang berat di dalam kelas.

Alasan utama mengapa ujian ini dianggap longgar adalah karena, pada akhirnya, ini dapat dengan mudah dicapai oleh semua peserta, [Cukup tentukan pilihan dan tekan tombol vote.].

Tentu saja ada sedikit ketegangan karena ini adalah ujian khusus....

Sebuah film terpasang erat pada tablet untuk mencegah orang mengintip.

Bahkan jika kamu mengintip dari kursi di sebelahmu, kamu tidak akan bisa mencuri pandang ke layarnya.

Karena tidak boleh berdiri saat voting, mustahil untuk mempersempit pilihan orang lain dengan melihat.

Bahkan jika dengan suatu cara atau kebetulan kami bisa melihat hasil voting pihak ketiga, apakah kami bisa mengungkapkannya dengan kata-kata dan membuatnya bisa dipercaya adalah cerita lain. Karena mengintip itu dilarang sejak awal, tidak mungkin membuat keributan tentang siapa yang memilih mana.

Tidak ada pilihan lain selain menghadapi ujian khusus ini secara langsung.

Selain itu, tablet di meja sepertinya dimatikan, dan dilarang bahkan menyalakan daya utama tanpa izin.

“Hei, hei. Kalau kita menyelesaikannya dalam satu atau dua jam, ayo pergi ke Keyaki Mall.”

“Aku sih mau saja, tapi seingatku kita harus belajar di asrama. Jadi gimana kalau kita pergi malamnya?”

Ike dan Shinohara, yang telah menjadi couple yang sangat dekat, mendiskusikan rencana sepulang sekolah.

Ujian khusus yang mudah diselesaikan... benarkah? Namun, patut dipertanyakan berapa banyak siswa yang saat ini memahami bahwa ini berpotensi berubah menjadi tugas yang sulit tergantung pada kondisinya.

Hambatannya adalah bahwa voting bersifat anonim. Poinnya adalah kami tidak dapat mengetahui siapa yang memilih pilihan mana, tidak hanya selama ujian, tetapi selamanya.

Benar-benar anonim. Ini semua tentang seberapa besar dampak elemen ini pada ujian khusus ini.

Yang jelas, batas waktu untuk ujian khusus adalah 5 jam, dari pukul 1 siang hingga 6 sore, waktu yang sangat lama.

Sederhananya, kami diperbolehkan menghabiskan satu jam per isu.

Tidak heran ujian khusus selesai dalam satu atau dua jam, seperti kata Ike.

Dan jika diselesaikan dalam batas waktu, kami akan dengan mudah mendapatkan 50 poin kelas.

Di sisi lain, jika gagal menyelesaikan ujian dalam waktu 5 jam, kami akan kehilangan 300 poin kelas, jadi itu adalah persyaratan mutlak untuk membuat semua 5 isu menjadi suara bulat. Mengingat konten ujian, hadiah kecil dan hukuman berat dapat dimengerti. Aku duduk di kursiku di sudut kelas, di mana setengah dari siswa telah duduk di kursinya. Di sisi podium, fasilitator ujian khusus ini, Chabashira, dan guru pengawas ditempatkan di bagian belakang kelas.

“Seperti yang diberitahukan sebelumnya, kami akan mengambil semua perangkat komunikasi.”

Pembatasan barang bawaan yang bisa dibawa, dan pemantauan dari depan dan belakang untuk mencegah pengintipan pada tablet. Itulah bukti bahwa sekolah ingin mencegah orang mengetahui siapa yang memilih mana. Mungkin tampak ketat, tetapi ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Untuk mencerminkan perasaan tulus siswa dalam pilihan ganda, anonimitas harus 100%.

Jika ada celah untuk mengintip, kemungkinan menyerah pada tekanan untuk menyesuaikan diri akan meningkat.

Semua orang memasukkannya ke dalam pilihan α, jadi kamu memasukkannya ke dalam α padahal kamu sebenarnya ingin memasukkannya ke dalam β.

Karena ingin menghindari hal-hal seperti itu.

Pentingnya [kehendak masing-masing siswa] adalah makna dari ujian khusus ini.

Tapi, ini bukan hal yang positif bagi kami para siswa, karena kami ingin semua orang sepakat, entah itu ada tekanan untuk menyesuaikan diri atau tidak.

Bagaimanapun, tidak ada ruang untuk ketidakadilan.

Apapun isunya, itu harus menjadi suara bulat.

“Ayolah, Airi. Kamu udah putusin buat mengatakannya, bukan?”

Hn? Saat aku mengalihkan pandanganku dari luar jendela kembali ke dalam kelas, aku melihat Airi yang punggungnya didorong oleh Haruka.

“A-Ano, Kiyotaka-kun...! Ka... kalau tidak keberatan, bisakah aku... minta waktumu sepulang sekolah?”

Sambil mengangguk kepalanya, “kamu tahu gimana menjawab, bukan?” Haruka menuntut dengan matanya.

“Um... aku ingin membicarakan sedikit tentang Festival Budaya.”

“Jadi soal itu. Kupikir kita juga harus membicarakan secara langsung juga, jadi aku tidak keberatan.”

“Te-Terima kasih! Ka-Kalo gitu, sampai nanti.”

Airi membalikkan punggungnya untuk melarikan diri, dan duduk di kursi paling jauh.

“Anak itu sudah agak tenang. Dia belum sembuh dari patah hatinya, tapi dia mencoba untuk move on.”

Dia bahkan tidak mau menyebutkannya di depanku, tetapi dia berusaha keras untuk melakukan kontak mata denganku.

“Tapi masih harus dilihat apakah anak itu benar-benar akan menerima tugas itu atau tidak. Itu tergantung pada usahamu, Kiyopon.”

“Aku akan mencoba bernegosiasi sebaik mungkin.”

“Un. Kalo gitu, aampai jumpa sepulang sekolah.”

Mereka benar-benar sangat peduli satu sama lain, atau lebih tepatnya, mereka berdua sering bersama belakangan ini.

Dua menit sebelum dimulai, wali kelas, Chabashira, mulai menjelaskan.

“Baiklah———sudah hampir waktunya. Dari sini kita akan beralih ke ujian khusus, tapi kalian akan memiliki hingga empat istirahat ke toilet mengingat hari ini adalah hari yang panjang. Pada dasarnya, kalian hanya boleh beristirahat sebelum menghadapi isu berikutnya setelah mendapatkan suara bulat. Oleh karena itu, artinya kalian tidak boleh istirahat di tengah proses ketika belum bulat. Juga, setiap istirahat maksimal 10 menit, tetapi waktu ujian terus dihitung. Penting juga untuk melewatkan waktu istirahat jika kalian merasa itu tidak perlu.”

Semua orang sudah pergi ke toilet seperti yang diumumkan, jadi seharusnya tidak ada masalah untuk sementara waktu.

Tidak ada siswa di kelas yang tampaknya menderita sakit perut atau masalah kesehatan tak terduga lainnya.

Sekarang waktunya ujian khusus dimulai.

Pikirku begitu, tetapi Chabashira terus memandangi para siswa dan menolak untuk memulai prosesnya.

Dia tampak seperti hatinya tidak ada di sini dan hanya melamun.

(Tln: Tidak bisa fokus atau tergangu oleh sesuatu)

Ketika para siswa, yang pada awalnya tidak peduli, secara bertahap mulai saling memandang, guru yang berdiri di belakang kelas juga sepertinya menyadari sesuatu yang aneh.

“Chabashira-sensei. Sudah waktunya.”

“A-Ah. Maaf. Baiklah, sekarang kita akan mulai ujian khusus suara bulat. Dari sini, kita akan melanjutkan sesuai dengan aturan, jadi jika ada yang meninggalkan tempat duduk kecuali interval atau mengobrol di waktu-waktu terlarang, akan diberikan peringatan tanpa ampun. Berhati-hatilah.”

Monitor beralih dan hitungan mundur dimulai dari 26 detik.

Mungkin karena sedikit keterlambatan dalam sinyal awal, tapi itu tidak akan mempengaruhi para siswa.

Akhirnya, ketika hitungan mencapai nol, tulisan beralih untuk menunjukkan isu pertama.


Isu ① : Pilih kelas mana yang ingin kamu hadapi dalam ujian akhir semester ketiga.

(Bahkan jika terjadi perubahan peringkat kelas, pemilihan ini akan tetap diutamakan)

※Angka dalam kurung adalah poin kelas tambahan yang diperoleh dengan memenangkan pertandingan.


Pilihan : Kelas A (100) | Kelas B (50) | Kelas D (0)


“Ini adalah pilihan untuk menentukan lawan kalian dalam ujian khusus yang akan diadakan pada akhir semester ketiga tahun kedua. Sebagaimana dicatat, jika kalian dengan suara bulat memilih Kelas A pada saat ini, bahkan jika Kelas A saat ini jatuh ke Kelas B pada akhir tahun ajaran, lawan kalian akan menjadi Kelas A dan poin kelas tambahan pada saat pilihan ini. Selain itu, jika kombinasi pilihan yang diinginkan tidak sesuai di semua kelas, sekolah akan memutuskannya secara acak.”

Sederhananya, itu berarti pilihan siapa yang akan dilawan, Sakayanagi, Ichinose, atau Ryūen, yang dipilih di sini tidak akan berubah.

“Penting untuk mengetahui kelas mana yang bisa kalian lawan dan menangkan. Tentu saja, kalian tidak selalu bisa melawan kelas yang ingin kalian lawan, tapi... ‘kan.”

Jadi jika Horikita dan yang lainnya menunjuk Kelas A Sakayanagi, dan pada saat yang sama Ichinose juga menunjuk kelas Sakayanagi, artinya kelas Sakayanagi akan dibiarkan memilih antara kelas Horikita dan kelas Ichinose, ya. Dan jika kelas Sakayanagi menunjuk kelas Ryūen dan bukan salah satu dari mereka, maka pilihan kelas Ryūen harus dilihat. Sekali lagi, jika kelas Ryūen menghindari kelas Sakayanagi, hasilnya akan menjadi kombinasi acak karena semuanya tidak sinkron. Biasanya, kami ingin memilih kelas yang lebih rendah dengan kekuatan yang lebih rendah.

Namun, seperti yang terlihat dari pilihan, perlakuan kelas yang lebih tinggi tampaknya sedikit berbeda.

Jika kami bisa mengalahkan kelas yang lebih tinggi, kami akan diberi poin kelas tambahan sebagai hadiah. Melawan kelas yang lebih rendah tidak akan memberi kami hadiah tambahan.

Dalam keadaan normal, kami ingin menghindari pertarungan dengan Kelas A, tetapi jika ada keuntungan seperti itu, akan ada cukup ruang untuk dipertimbangkan.

“Baiklah, kita akan lanjut ke voting pertama. Batas waktunya adalah 60 detik.”

Setelah 60 detik ini berlalu, itu sudah memasuki waktu penalti.

Tentu saja, karena Horikita telah memutuskan dan memberi tahu sebelumnya untuk menghindari masalah semacam itu sejak pertama kali, teman sekelas memilih pilihan favorit mereka sesuai keinginan mereka.

Horikita dan aku sudah sepakat bahwa aku akan selalu memilih pilihan pertama pada voting pertama, jadi aku tidak ragu untuk memilih kelas A. Horikita memilih pilihan kedua yaitu kelas B.

Tidak akan pernah menjadi suara bulat pada titik ini, tapi 37 suara lainnya murni untuk melihat kelas mana yang ingin mereka hadapi.

“Karena semua orang sudah memilih, aku sekarang akan mengumumkan hasil voting.”


Hasil Voting Pertama : Kelas A 5 suara | Kelas B 21 suara | Kelas D 13 suara


Alih-alih kelas D yang merupakan kelas terendah, voting terkonsentrasi pada kelas B yang dimiliki Ichinose.

“Karena suara tidak bulat, interval akan dimulai dari sekarang.”

Dari sini selama 10 menit, kami diperbolehkan untuk meninggalkan tempat duduk kami dengan bebas untuk berinteraksi dengan siswa atau melakukan percakapan. Tidak masalah apakah kami meninggikan suara sedikit atau hanya berbisik kepada siswa tertentu.

“Biarkan aku membuat saran terlebih dahulu agar kita tidak membuang waktu dari isu pertama.”

Mengangkat tangannya, Horikita yang duduk di depan Chabashira, berdiri dan kemudian berbalik.

Karena dia menjadi pemimpin dalam ujian khusus ini juga, dia menunjukkan tindakannya dengan mengambil inisiatif.

“Karena suara tersebar, masing-masing dari kalian pasti punya pemikiran sendiri. Kalian dipersilahkan untuk mengajukan pertanyaan sebanyak yang kalian suka, dan jangan ragu untuk mengungkapkan pendapat kalian ke seluruh kelas.”

Setelah mengatakan itu, Horikita menarik napas dan mulai menjelaskan pilihan yang diinginkannya.

“Lawan kita yang paling ideal di akhir tahun adalah Kelas B. Dengan kata lain, kupikir Ichinose-san adalah lawan yang ideal. Ada tiga alasan. Pertama, tidak seperti Sakayanagi-san dan Ryūen-kun, melawan Ichinose-san kemungkinan besar akan menjadi pertarungan yang adil, atau dengan kata lain bentrokan antara potensi kita. Bahkan jika itu adalah ujian khusus yang tidak teratur, kita tidak perlu terlalu khawatir akan skema tersembunyi. Kedua, mereka saat ini kelas B. Kita akan mendapatkan poin kelas tambahan selain hadiah, yang akan memberi kita keunggulan dalam memimpin kelas lain. Dan alasan ketiga dan terakhir. Gelar Kelas B itu saat ini palsu. Mereka sudah setara dengan kita Kelas C dan Kelas D Ryūen-kun. Pada satu titik, kita jauh tertinggal dalam poin kelas, tapi kelas mereka sekarang menurun. Aku pikir itu membuatnya menjadi lawan yang ideal bagi kita.”

Dia berbicara agak cepat karena mengkhawatirkan waktu, tapi alasannya yang jelas memberi kesan bahwa dia telah menyentuh hati banyak siswa.

“Jika ada siswa yang keberatan, aku ingin mereka menyuarakan pendapatnya di sini sekarang. Di sisi lain, jika kalian setuju dengan kelas B, maka pilih mereka agar kita bisa menyelesaikan ini dengan cepat.”

Dia ingin mendapatkan suara bulat mengenai isu ini di voting putaran kedua.

Niat Horikita itu bisa dirasakan. Seolah menanggapi, Yōsuke juga berdiri.

“Aku juga setuju dengan penjelasanmu barusan, Horikita-san. Karena meskipun hadiah tambahan untuk mengalahkan Sakayanagi-san dan yang lainnya di Kelas A sangat besar, tidak ada keraguan bahwa mereka adalah musuh terkuat. Tentu saja, ikatan kuat Ichinose-san dan yang lainnya serta gaya bertarung yang solid tidak dapat diremehkan, tapi menurutku mereka adalah lawan terbaik.”

Dengan mereka berdua merekomendasikan kelas B, arah teman sekelas mulai terbentuk. Kemudian, seolah-olah untuk menyatukan tren sekaligus, satu orang lagi, yang masih duduk, berpendapat untuk mencocokkannya.

“Kurasa aku akan setujuu juga. Tidak ada hadiah tambahan dengan melawan kelas Ryūen-kun, rasanya sih kurang enak, dan itu tidak lucu kalau kita kalah dari kelas Sakayanagi-san, ‘kan~.”

Sebelum ada keberatan yang diajukan, Yōsuke dan Kei segera memutuskan untuk memilih Kelas B. Dapat dikatakan bahwa mereka mengikutinya seperti yang direncanakan, tapi kemungkinan besar mereka berdua mungkin juga ingin bertarung dengan Kelas B. Itu tren yang mudah dilihat dari fakta bahwa kelas B menerima suara terbanyak di voting putaran pertama.

Interval yang berlangsung hampir 6 menit tersisa itu, akhirnya berlalu tanpa adanya perbedaan pendapat.

Sambil memeriksa waktu, Chabashira melanjutkan proses yang telah dihentikan.

“Baiklah, kita akan beralih ke voting putaran kedua karena waktunya telah berakhir. Segera setelah layar tablet berubah, silahkan memilih dalam waktu 60 detik. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, waktu penalti akan terakumulasi setelah 60 detik. Berhati-hatilah.”

Kehati-hatian ini tidak perlu, dan semua orang telah memilih dalam waktu kurang dari sepuluh detik pada putaran kedua.

Kemudian, hasil agregat langsung tercermin dan ditampilkan di monitor.


Hasil Voting Ke-2 : Kelas A 0 suara | Kelas B 39 suara | Kelas D 0 suara


Kōenji tidak main-main dengan memilih kelas lain, jadi kami memulai dengan sebaik mungkin dan berhasil mendapatkan suara bulat untuk pertama kalinya.

“Dengan suara bulat, maka isu pertama dikonfirmasi dengan memilih Kelas B. Aku akan memberi tahu kalian tentang kelas yang akan kalian hadapi dalam ujian akhir segera setelah diputuskan secara resmi, tetapi itu akan terjadi setelah besok.”

Kami telah menyelesaikan salah satu dari lima isu hanya dalam sekitar 10 menit.

Lalu Horikita dan yang lainnya juga bisa memilih untuk voting kelas B yang mereka inginkan.

Bagiku pribadi, jika aku harus memilih lawan bertarung, aku pasti akan memilih kelas Ichinose.

Alasan untuk ini tidak ada yang perlu ditambahkan karena Horikita telah mengatakan semuanya.

Sekarang kami hanya perlu berharap bahwa kelas Sakayanagi dan Ryūen akan cocok, tapi kelas Ichinose terkadang menjadi sasaran empuk, jadi kami mungkin harus bersaing dengan tiga kelas lainnya jika ada yang salah. Mari kita berharap kelas Ichinose ingin memilih kelas Horikita tanpa kesulitan.

“Kupikir kalian tidak perlu istirahat, tapi aku akan menanyakannya untuk jaga-jaga. Kalian tidak keberatan jika kita melanjutkan ke isu berikutnya, bukan?”

Tentu saja, isu kedua segera dimulai karena tidak ada seorang pun di antara siswa yang keberatan.

“Baiklah selanjutnya. Mari kita beralih ke isu kedua.”


Isu ② : Pilih tujuan yang kamu inginkan untuk perjalanan sekolah yang dijadwalkan akhir November.


Pilihan : Hokkaidō | Kyōto | Okinawa


Apa ini? Aku mendengar suara seperti itu bocor dari para siswa.

Karena situasi dilarang berbicara, suara itu segera ditenggelamkan oleh tatapan yang didapatnya dari Chabashira.

Tapi itu adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa banyak siswa berpikir, [Apa ini?]

Meski begitu, kami harus memilih terlebih dahulu sebelum kami dapat berbicara.

Kami harus benar-benar mempertimbangkan sendiri pilihan mana yang harus kami pilih, lalu memilih.

“Voting ini sama seperti sebelumnya, dan yang ini belum final. Ketahulah bahwa hasilnya bisa berubah tergantung pada status dari tiga kelas lainnya.”


Hasil Voting Pertama : Hokkaidō 17 suara | Kyōto 3 suara | Okinawa 19 suara


Kecuali Kyōto, hasil voting yang bisa dikatakan lebih dekat dari sebelumnya ditampilkan.

“Karena suara tidak bulat, interval akan dimulai dari sekarang.”

 “Hei hei, bisakah kita menyebut ini ujian khusus? Yang beginian mah terlalu mudah...”

Ketika sampai pada interval, Hondō tertawa seolah-olah dia dikecewakan.

Memang benar, isu pertama dan kedua adalah hal yang tidak perlu ditanyakan ditempat yang semegah ini. Mereka dapat disepataki bahkan selama homeroom.

(Tln: homeroom adalah sesi sebelum pembelajaran, yang mencakup mencatat kehadiran dan membuat pengumuman)

Baru dua pertanyaan. Namun ini sudah pertanyaan kedua.

Ketika ini selesai, 2/5 dari ujian khusus akan selesai.

Kontennya terlalu mudah. Banyak siswa mungkin sudah mulai lebih rileks daripada gugup.

Namun, menarik untuk dicatat bahwa beberapa siswa menjadi lebih cemas ketika mereka berada dalam situasi seperti itu.

Ciri khas ini dimiliki oleh siswa yang berhati-hati dan bijaksana seperti Horikita dan Yōsuke.

Sementara semua orang mendiskusikan mau pilih mana sambil tertawa, mereka melihat isu dengan serius.

Itu jelas saja. Sulit dipercaya bahwa isu seperti ini, yang pilihan manapun itu bagus, akan berlanjut sampai akhir. Sebaliknya, semakin mudah paruh pertama, semakin banyak tekanan ditempatkan di paruh kedua.

Dengan firasat seperti itu, aku diam-diam menonton jalannya interval.

“Aku pikir kita semua memiliki pemikiran kita sendiri. Tapi mari kita fokus pada isu ini dulu.”

Waspada akan terpecahnya perhatian, Yōsuke menarik seluruh kelas kembali.

Putaran pertama, aku memilih pilihan 1, Hokkaidō, seperti yang dijanjikan, tapi sekarang aku harus gimana.

Konten isunya sama. Ini berarti akan selalu ada dua suara kelas untuk salah satu pilihan.

Ini jelas voting yang penting dalam memutuskan ke mana kami akan melakukan perjalanan sekolah.

“Horikita-san, sepertinya kita memiliki perbedaan pendapat, apakah kamu punya saran?”

Kushida mungkin mengkhawatirkan Horikita yang, tidak seperti sebelumnya, tidak langsung angkat bicara, jadi dia memanggilnya.

Namun Horikita tidak langsung menjawab, dan untuk sesaat ada keheningan.

“Horikita-san?”

Ketika Kushida memanggil namanya lagi dengan sedikit cemas, Horikita buru-buru menjawab.

“Maaf. Aku sedikit tenggelam dalam pikiran.... Ini bukan pilihan yang rumit, tapi kupikir mungkin akan sulit untuk membuatnya bulat. Perjalanan sekolah adalah acara penting bagi kita para siswa, dan tentu saja aku tidak bisa meringkas destinasi itu dalam beberapa kata.”

Kami berjanji untuk mengikuti pemimpin jika terjadi perbedaan pendapat, tapi itu tetap tidak berarti Horikita bisa memutuskan sendiri ke mana harus pergi dalam perjalanan sekolah. Ini adalah pilihan yang sulit, mengingat ini masalah preferensi, bukan kelebihan atau kekurangan.

“Yang jelas, aku harus mulai dengan mendapatkan masukan kalian tentang tujuan perjalanan pilihan kalian.”

Sudō mengangkat tangannya seolah sedang menunggunya.

“Kalo gitu aku dulu. Aku pilih ke Okinawa. Berbicara tentang perjalanan sekolah, Okinawa adalah destinasi paling populer karena lautnya, bukan? Itu juga memiliki suara terbanyak, jadi kurasa sudah beres, kan?”

“Tunggu sebentar. Aku akui Okinawa adalah salah satu yang paling populer, tapi kalau soal itu, begitu juga Hokkaidō. Jumlah suaranya bahkan dekat, bukan? Apa kalian tidak ingin bermain ski atau semacamnya?”

Maezono yang tampaknya memilih Hokkaidō, menjawab Sudō untuk tidak setuju dengannya.

“Aku lebih suka Okinawa. Aku ingin bersnorkeling!”

“Aku sudah pernah ke Okinawa beberapa kali, jadi Hokkaidō———”

Dua destinasi dengan penghitungan suara yang dekat mulai berdebat secara langsung.

Karena keduanya memilih tujuan yang mereka pikir terbaik, tidak heran mereka kritis terhadap pilihan lain.

“Lagian di Hokkaidō hanya ada salju, bukan? Pasti membosankan~.”

“Nah, kalau itu masalahnya, maka di Okinawa juga hanya ada laut, bukan?”

Setelah beberapa menit diskusi yang tampaknya tak berujung, Yōsuke yang tidak tahan menontonnya turun tangan.

“Hokkaidō dan Okinawa adalah tujuan perjalanan sekolah yang sama-sama populer, jadi menurutku dapat dimengerti bahwa akan ada perdebatan, tapi... mungkin lebih baik kalian sedikit lebih memikirkan orang lain.”

Yōsuke menuntut agar menghentikan komentar apa pun yang mendekati kata-kata kasar.

Awalnya mereka berdebat tentang betapa bagusnya destinasi pilihan mereka, tapi kemudian mereka mulai membicarakan destinasi yang diinginkan orang lain.

“Hirata-kun, kamu Hokkaidō, ‘kan?”

“Oi Hirata, kamu pilih Okinawa, ‘kan?”

“Eh? Etto...”

Terjepit di antara kedua kelompok, Yōsuke terlihat bermasalah.

“Itu mah... rahasia... kurasa?”

Dalam situasi ini, sulit untuk menjawab mana yang dia pilih. Dalam arti tertentu, ini adalah saat ketika anonimitas menjadi hidup.

“Okinawa adalah satu-satunya tempat di mana kita bisa berenang di bulan November, tahu? Emangnya kamu tidak ingin pergi ke pantai?”

“Udahanlah sama laut. Aku sudah kenyang dengan ujian di pulau tak berpenghuni. Pokoknya Hokkaidō!”

Perdebatan sempat terputus, tetapi segera mulai memanas lagi.

Pertukaran antara Sudō dan Maezono mungkin bisa dilihat sebagai miniatur dari pendapat seluruh kelas.

“Gi-Gimana nih, Horikita-san?”

Dengan ekspresi bermasalah di wajahnya, Kushida meminta bantuan Horikita.

“Yah, ini adalah isu yang menyusahkan.”

Sulitnya kebulatan suara. Mungkin itulah masalah yang diangkat ke permukaan begitu cepat.

Tidak ada cara mudah untuk meringkas percakapan, dan interval 10 menit akan segera berakhir.

Ngomong-ngomong, aku akan memilih Kyōto untuk putaran kedua.

Kyōto memiliki sejarah yang dalam. Aku memiliki keinginan yang kuat untuk melihat pemandangan itu.

“Baiklah, karena semua suara telah diberikan untuk voting putaran kedua, hasilnya akan ditampilkan.”


Hasil Voting Ke-2 : Hokkaidō 18 suara | Kyōto 4 suara | Okinawa 17 suara


“Ah, Hokkaidō balik menang! Sip dah!”

“Jancuk, siapa nih yang ganti dari Okinawa ke Hokkaidō?”

Hokkaidō menerima suara sedikit lebih banyak dari sebelumnya, tapi itu masih hampir 50-50.

Namun, baik kelompok Hokkaidō dan Okinawa mulai berdebat tentang suara yang mereka pindahkan.

Jika kami mencoba memecahkan masalah ini pada tingkat ini, tidak peduli berapa kali kami memilih, kami tidak akan pernah menyelesaikannya.

Satu-satunya hal yang menyedihkan adalah bahwa Kyōto tidak dibicarakan sama sekali. Toh cuman tambah suaraku....

Jika demikian, mungkin suara Horikita untuk Kyōto, yang merupakan pilihan pertamanya, tidak berubah. Tentu saja, mungkin saja Horikita memilih Hokkaidō atau Okinawa dan orang lain memilih Kyōto, jadi aku tidak bisa memastikannya. Tapi ada cara untuk memaksakan meski hanya datu suara saja ke suara terbanyak, tapi itu kemungkinan akan meninggalkan dendam. Kalau saja Hokkaidō menang dua kali berturut-turut, masalahnya ini Okinawa memenangkan voting putaran pertama.

“Apa boleh buat, ya. Jika sudah begini, kurasa tidak ada pilihan lain selain memutuskan dengan permainan. Ada 3 orang yang ingin ke Hokkaidō dan 3 orang yang ingin ke Okinawa. Pilih perwakilan untuk masing-masing dan mereka akan bermain batu-kertas-gunting. Kalian harus memilih peserta awal, tengah, dan terakhir, dalam kompetisi gugur. Namun, untuk Kyōto, di mana jumlah suaranya sedikit, hanya akan diwakili oleh satu orang. Ini pertarungan yang sulit, tapi aku berusaha untuk membuatnya seadil mungkin.”

Karena itu pasti akan lebih tidak adil jika Kyōto yang merupakan kelompok minoritas untuk dapat bersaing secara setara dengan dua lainnya.

Jika ingin menyatukannya tanpa paksaan dan waktu, sepertinya kami harus melakukannya dengan cara ini.

Tidak bisa dihindari bahwa akan ada ketidakpuasan sampai batas tertentu, tapi jika ditetapkan aturan di awal, mereka harus mengikutinya.

Sementara ada beberapa perdebatan tentang siapa yang akan menjadi perwakilan batu-kertas-gunting, para kontestan segera mulai dipilih.


Tim Hokkaidō : Awal – Maezono | Tengah – Ishikura | Terakhir – Shinohara. Ini adalah tim wanita.

Tim Okinawa : Awal – Onodera | Tengah – Hondo | Terakhir – Sudō, Tim campuran gender.


“Lalu, siapa pun yang memilih Kyōto, adakah yang mau bergabung dalam batu-kertas-gunting?”

Horikita menginginkan satu perwakilan. Kemudian, seorang pria mengangkat tangannya setelah melihat kesempatan.

“Kalau tidak ada yang mau, aku akan bermain sebagai yang terakhir. Aku pasti akan membawa semua orang ke Kyōto.”

Keisei-lah yang menyatakan keinginannya yang kuat dan melemparkan dirinya ke dalam pertempuran yang sulit.

Siswa pertama dari Fraksi Kyōto yang angkat bicara. Kyōto juga merupakan tujuan perjalanan sekolah pilihanku.

Aku serahkan padamu untuk bagianku juga, Keisei. Ini akan menjadi pertarungan yang sulit, tapi kamu harus memenangkannya....

Agar tepat waktu untuk voting putaran ketiga, permainan batu-kertas-gunting dimulai dengan cepat, di awali dengan Maezono dan Keisei membalas gunting Onodera dengan kertas. Tim Okinawa dengan mudah menjadi yang pertama menang. Dalam sekejap, impian tim Kyōto pupus, dan meninggalkan medan perang dengan hati yang hancur.

Itu adalah momen singkat, kurang dari sepuluh detik setelah Keisei maju kedepan.

Aku menyaksikan momen ketika Horikita meletakkan tangannya di dahinya dan menghela nafas, aku yakin bahwa dia adalah salah satu dari mereka yang ingin pergi ke Kyōto.

Permainan berlanjut seolah-olah kelompok harapan Kyōto itu tidak pernah ada di sana sejak awal. Onodera yang berhasil mengalahkan kedua peserta awal, memenangkan dua pertandingan berturut-turut dengan mengalahkan peserta tengah Ishikura. Namun, Shinohara yang muncul sebagai peserta terakhir, mengalahkan Onodera dan kemudian Hondō berturut-turut dalam kejadian yang tak terduga.

Kemudian, kedua belah pihak saling menatap saat kedua peserta terakhir terlibat dalam pertempuran.

“Pokoknya Okinawa! Sōki soba! Shīsā! Pelaut!”

“Pokoknya Hokkaidō! Kepiting! Onsen! Ski!”

Masing-masing dari mereka mengepalkan tangan, sambil mengatakan sesuatu yang tidak kumengerti.

Kedua tinju diangkat dan diturunkan, dan masing-masing tangan mengeluarkan kertas. Itu seri.

Ketika aku ingin bilang sudah seri saja, tapi kedua belah pihak berhenti bergerak dan istirahat.

Kami hanya mau memutuskan destinasi perjalanan sekolah, tapi ini adalah situasi yang luar biasa tegang.

“Pertama, batu! Batu, kertas———gunting!”

Bentrokkan kedua. Sudō membuat batu yang kuat.

Shinohara, di sisi lain, mengeluarkan kertas dengan cemerlang untuk kedua kalinya berturut-turut.

“Yattaa! Kita di Hokkaidō!”

Waa, seketika, Fraksi Hokkaido mengangkat suara mereka dalam kemenangan.

“Kok bisa kalah sih, Sudō?”

“Kuh, maaf...!”

Aku tidak ingin merusak kesenangan, tapi itu hanya satu suara dari kelas ini untuk Hokkaidō. Jika dua suara dikumpulkan untuk Okinawa atau Kyōto, maka di sanalah yang akan dipilih.

Horikita mengerti bahwa ini bukan suasana untuk mengatakan itu, dan dia terlihat agak keheranan.

Voting putaran ketiga diambil, dan semua orang mengoperasikan tablet mereka sekaligus.


Hasil Voting Ke-3 : Hokkaidō 39 suara | Kyōto 0 suara | Okinawa 0 suara


“Karena voting putaran ketiga dengan suara bulat, maka isu kedua sudah selesai.”

Meski sekitar setengah dari mereka tetap tidak puas, mereka berhasil mencapai kebulatan suara di voting putaran ketiga melalui pertarungan yang adil sesuai aturan yang ditetapkan.

Meskipun aku tidak berhasil menggapai Kyōto, yang sangat ku harapkan, aku sangat menantikan Hokkaidō, dan tergantung pada apa yang terjadi di kelas lain, Kyōto dan Okinawa masih memungkinkan.

Bagaimanapun, itu adalah isu yang membuatku menantikan perjalanan sekolah, di mana pun itu.

“Baiklah, kita beralih ke isu ketiga mulai sekarang.”

Meskipun penampilan Chabashira tidak berubah sejak awal, ada sedikit perubahan dalam nada suaranya.

Sesuatu mungkin mengubah arus dari isu yang mudah sejauh ini.


Isu ③ : Poin perlindungan diberikan kepada 3 siswa acak di kelas sebagai ganti poin pribadi yang diberikan berdasarkan poin kelas setiap bulan menjadi 0. Atau poin pribadi yang diberikan akan dibagi dua dan satu orang akan diberikan poin perlindungan. Jika tidak satu pun dari pilihan ini yang diinginkan, 5 siswa terbawah dalam ujian tertulis berikutnya akan menerima 0 Poin Pribadi.

※ Terlepas dari pilihan mana yang dipilih, periode penyitaan poin pribadi akan berlanjut selama enam bulan.


Tidak seperti dua isu sebelumnya, isu ini mencakup keuntungan dan kerugian utama di dalam kelas. Pilihan 1 memiliki pengembalian yang lebih besar karena jumlah poin pribadi yang hilang lebih banyak, tetapi fakta bahwa itu diberikan kepada siswa acak tidak dapat diabaikan.

Poin perlindungan adalah sistem yang sangat kuat, tapi tergantung pada sudut pandangmu, beberapa siswa mungkin tidak diperlukan selama tiga tahun. Jika para siswa ini diberi poin perlindungan, mereka mungkin akan menjadi harta karun yang tidak berguna.

Pilihan 2 juga tidak murah karena poin pribadi yang ditransfer akan dibagi dua. Apalagi yang diberikan hanya satu siswa. Namun, dapat memilih siswa mana pun merupakan faktor penting.

Pilihan 3 adalah pilihan untuk meminimalkan hilangnya poin pribadi sebanyak mungkin. Ini akan menjadi pilihan untuk dipilih jika poin perlindungan dinilai terlalu mahal, atau jika itu tidak dibutuhkan sejak awal. Namun, harus diingat bahwa meskipun hanya 5 orang, kami harus menanggung kerugian.

Tampaknya perlu mempertimbangkan situasi kelas serta perhitungan untung rugi.

Beberapa siswa mungkin memiliki banyak hal untuk dikatakan, tapi tidak ada cara lain selain memilih terlebih dahulu.

“Sebelum voting, mari kita bicara tentang kasus di mana suara bulat pada pilihan 2, dengan kata lain pada pilihan untuk diberikan kepada siswa tertentu. Jika suara bulat pada pilihan 2, isu 3 tidak akan selesai dan akan berlanjut ke pilihan berikutnya, yaitu memilih satu siswa. Kalian ingat contohnya, bukan?”

Interval akan digunakan untuk memilih satu siswa dan mengumpulkan suara setuju atau tidak setuju untuk memberikannya kepada siswa tersebut. Jika suara bulat setuju, siswa akan menerima poin perlindungan, dan jika suara bulat tidak setuju, siswa tidak akan lagi memiliki kesempatan dalam isu itu. Kemudian sisanya 38 orang berdiskusi dan memilih satu orang. Memilih setuju atau tidak setuju lagi, dan harus mengulangi isu dengan bentuk yang terbagi-bagi.

“Dengan mengingat hal itu, aku akan mengumumkan hasil voting putaran pertama.”


Hasil voting pertama : 12 suara diberikan untuk 3 orang secara acak | 5 suara diberikan untuk memilih 1 orang | 22 suara untuk tidak diberikan.


Hasil voting putaran pertama tampaknya sebagian besar pemilih bersedia mengabaikan poin perlindungan, dengan beberapa ketidaknyamanan. Itu bisa dimengerti, 5 orang yang akan kehilangan poin pribadinya telah ditentukan menjadi 5 terbawah dalam ujian tertulis. Bagi siswa yang tidak termasuk dalam kategori itu, ini adalah bagian dari proses di mana tidak ada risiko. Di sisi lain, beberapa orang mungkin berpikir bahwa lebih baik untuk mendapatkan poin perlindungan jika mereka tahu bahwa mereka tidak akan mendapatkan poin pribadi selama enam bulan.

“H-Hei tunggu sebentar! Aku sih gak terima ini!”

“Aku juga, aku juga! Tanpa poin perlindungan berarti hanya 5 orang yang dirugikan, bukan!”

Ike dan Satō adalah yang pertama angkat bicara. Mereka adalah siswa yang tampaknya memiliki nilai rendah.

“Yah, apa boleh buat, ‘kan? Tidak ditransfer poin pribadi selama enam bulan, gila aja.... Selain itu, acak memiliki probabilitas rendah, dan aku tidak berpikir akan mendapatkannya jika dipilih, jadi... berkorbanlah, Kanji.”

Kata Sudō seolah membujuknya. Dia sudah keluar dari 5 terbawah di kelas dalam kemampuan akademik.

“Ini tidak adil! Aku juga butuh banyak poin pribadi sekarang~!”

“Kau tidak akan bilang kalau itu uang untuk berkencan dengan Shinohara, bukan?”

“Eh? E? Ee, serius, kok bisa kamu tahu? Ah sial...”

Dia tampaknya tidak terbebani oleh pengungkapan tentang penggunaan uangnya, tapi tampaknya ini adalah masalah hidup dan mati juga.

“Diputuskan, diputuskan. Sudah bulat untuk tidak diberikan, ‘kan?”

“Mana bisa begitu~!”

“Makanya belajar sana. Itu solusinya, bukan?”

“Geh... hanya mendengar itu darimu, entahlah, aku benar-benar gak terima, Ken!”

Tentu saja penting untuk belajar dan keluar dari peringkat rendah, tetapi tidak peduli berapa banyak nilai yang didapatkan, fakta bahwa 5 siswa akan dikorbankan tidak dapat diubah.

“Aku tahu apa yang kamu maksud, tapi terlalu dini untuk pesimis. Kita hanya perlu meminimalkan jumlah poin pribadi yang hilang dan kita semua dapat menebus beban itu. 34 siswa yang tersisa akan mengumpulkan dan menyamakan 5 poin pribadi yang tidak akan lagi ditransfer setiap bulan. Dengan begini, tidak hanya siswa tertentu yang akan merasa tidak puas, bukan?”

Sederhananya, jika satu siswa memperoleh 50.000 poin/bulan, 250.000 poin untuk 5 siswa akan hilang. 34 siswa sisanya memperoleh 1.700.000 poin, dan jika ini dibagi dengan 39 dan bulatkan ke bawah ke bilangan bulat terdekat, akan didapat 43589 poin.

Tidak dapat dihindari bahwa akan ada kerugian, tapi hanya sekitar 6500 poin yang akan hilang per kepala.

Bahkan jika itu berlangsung enam bulan, stres untuk setiap siswa akan diminimalkan.

“Y-Yah, aku setuju aja sih kalau begitu....”

“Enggak patungan juga gak papa sih aku. Yah, apa boleh buat.”

Dia tampak tidak puas, tapi dia bersedia membantu Ike dengan cara apa pun yang dia bisa.

Karena ada banyak siswa tidak menginginkan tidak diberikan, pendapat secara alami mulai menyatu ke arah bertahan dengan pilihan 3. Namun, di tengah-tengah ini, Yōsuke mengangkat suaranya.

“Apakah menurutmu yang terbaik adalah memilih tidak diberikan, Horikita-san?”

“Sulit untuk menjawabnya. Sejujurnya, ini pilihan yang cukup meresahkan. Poin perlindungan bisa menjadi alat yang sangat ampuh untuk mencegah pengusiran. Tapi, hal yang sama bisa dikatakan untuk poin pribadi. Apakah kamu memiliki pendapat yang berbeda, Hirata-kun?”

“Hanya satu pendapat, tapi menurutku kita harus mendapatkan poin perlindungan pada isu ini. Tentu saja, untuk yang 3 orang.”

“Kalau kita tidak mendapatkan poin pribadi selama enam bulan, itu sakit banget, loh. Tidak hanya akan memberikan banyak tekanan pada kehidupan sehari-hari kita, tapi juga dapat mempengaruhi ujian khusus tergantung pada situasinya.”

Kemungkinan bahwa poin pribadi dapat membuat perbedaan antara kemenangan dan kekalahan tidak dapat disangkal.

“Bahkan jika sesuatu yang tidak terduga terjadi, kita dapat melindungi tiga orang. Waktu ketersediaan poin perlindungan sangat terbatas, dan ini adalah sesuatu yang berharga yang tidak bisa dinilai begitu saja.”

Tidak sulit untuk memahami perasaan Yōsuke yang menuntut dengan sedikit bersemangat. Nilai poin perlindungan yang dapat mencegah pengusiran sebenarnya hingga 20 juta poin pribadi.

Tidak banyak kesempatan untuk mendapatkan tiga diantaranya sekaligus.

Apalagi bagi Yōsuke yang peduli dengan teman-temannya, itu adalah nilai yang tak terdigantikan dengan uang.

Ini hal yang berbeda dari tujuan perjalanan sekolah, dan tidak mudah untuk menjadikannya suara bulat.

Sulit untuk mempengaruhi jalannya kelas di tujuan mana pun, tetapi poin perlindungan ini juga merupakan masalah bagi seluruh kelas. Jika kami mendapatkannya, itu bisa menyelamatkan seseorang.

“Maaf, tapi aku akan memberikan pendapat juga.”

Pada titik ini, Keisei berdiri dan mengungkapkan pendapatnya.

“Kita akan mengumpulkan poin kelas selama enam bulan ke depan, bukan?”

“Tentu saja. Tidak akan pernah ada waktu untuk berhenti kalau mau mengincar kelas yang lebih tinggi.”

“50 poin untuk ujian khusus ini dan 100 poin jika kita menempati peringkat tinggi di Festival Budaya. Dengan asumsi bahwa Festival Olahraga akan memberi kita lebih banyak poin serupa... pada akhir semester kedua, kita mungkin telah memperoleh lebih dari 200 poin, atau bahkan 300 poin tergantung pada situasinya. Bisakah aku berasumsi demikian?”

“Kurasa bisa jadi.”

Jika kami meningkatkan jumlah poin sebanyak 300 pada akhir tahun, poin kelas akan pulih ke titik di mana kami bisa melihat 1000 poin. Jika itu terjadi, jumlah total poin pribadi yang akan dibayarkan dalam 6 bulan akan menjadi sekitar 50 % lebih banyak dari sekarang, atau sekitar 20 juta poin.

Jika dipikir-pikir, nilai maksimum satu poin perlindungan saja adalah pendapatan kelas enam bulan. Terciptalah angka-angka yang indah yang terlihat seperti telah diperhitungkan. Namun, jika kami memilih 3 poin perlindungan di sini, kami bisa mendapatkannya dengan harga sekitar 7 juta poin pribadi per poin perlindungan.

Itu layaknya garis yang sempurna, ‘kan?

(Tln: artinya itulah hal terbaik untuk dilakukan)

Dan yang paling sedikit dipilih, diberikan kepada 1 orang sebagai ganti pengurangan setengah poin pribadi yang ditransfer, tampaknya merupakan kombinasi yang baik dari keuntungan dan kerugian, tapi sebenarnya ini adalah yang paling murah dan sulit untuk dipilih. Namun, memiliki satu-satunya keuntungan untuk dapat diberikan kepada siswa tertentu akan menjadi faktor penting.

Tapi, jika berbicara tentang memberikannya kepada satu orang, apa yang menunggu tentu saja adalah suara bulat.

Jika pilihan ini disetujui dengan sembarangan, akan ada kemungkinan perselisihan tentang siapa yang harus diberikan.

“Jadi gagasan memprioritaskan poin pribadi adalah strategi ofensif, sedangkan gagasan memprioritaskan poin perlindungan adalah strategi defensif, bukan?”

Ketika Kushida bertanya untuk memilah situasi, ketiga orang yang sekarang berdiri mengangguk hampir bersamaan.

“Tetapi jika kita akhirnya tidak menggunakan poin perlindungan itu, maka kita akan menanggung risiko pembelian yang mahal, bukan? Tentu saja aku tidak keberatan dengan itu juga...”

Untuk membuat fakta itu diketahui, maka dia harus membicarakan hal itu.

“Ya. Pada akhirnya, jika tidak pernah digunakan, itu menjadi tidak berharga. Tentu saja, ada rasa aman dan lega yang datang dengan memegang poin perlindungan, tapi...”

“Apakah itu berharga atau tidak adalah masalah lain. Bahkan jika itu akhirnya tidak diperlukan untuk tujuan aslinya, itu bisa digunakan sebagai serangan mendadak atau penghancuran diri menggunakan strategi yang secara sengaja menghabiskan poin perlindungan. Itu bisa digunakan tidak hanya untuk perlindungan, tetapi juga untuk tujuan ofensif.”

Aku juga bisa mengerti kenapa Keisei memberi tahu kalau poin perlindungan dapat digunakan dalam banyak cara.

Ini juga merupakan keuntungan besar karena kami dapat menggunakan metode pertarungan dengan memanfaatkan pencegahan pengusiran.

Tapi kami tidak akan tahu seperti apa ujian khusus itu sampai nanti, kecuali kami mendapatkan gambaran lengkapnya.

Tidak ada jaminan bahwa akan ada peluang untuk memanfaatkannya dengan baik di masa depan.

Namun isu ini, atau lebih tepatnya ujian khusus ini, lebih dalam dari yang kukira.

Sekalipun konten isu sama untuk semua kelas, warna isu akan berubah sesuai dengan peringkat dan situasi kelas.

Jika poin kelas sama dengan nol, kelas dengan suara bulat akan menyetujui pilihan untuk mendapatkan tiga poin perlindungan tanpa pikir panjang. Ini adalah kesempatan untuk membuntuti kelas-kelas lain. Di sisi lain, untuk Kelas A, yang memimpin sendirian, ini akan menjadi pembelian yang lebih mahal daripada kelas lainnya.

Meskipun setiap isu mungkin tampak kurang bermakna, kesenjangan itu pasti akan tertutup.

Di sisi lain, pilihan pertama dan ketiga dapat dilihat sebagai pilihan yang agak merepotkan untuk Kelas A.

“Kalau begitu Yukimura-kun. Apa maksudmu kita harus memberikan poin perlindungan kepada 3 orang?”

Untuk konfirmasi terakhir dan mempersempit pilihan, Horikita mencoba untuk mendapatkan pernyataan.

“Tidak...pilihan yang kusarankan adalah yang kedua. Pilihan untuk memberikan poin perlindungan kepada siswa mana pun.”

Horikita terkejut dengan plot twist di mana dia menginginkan pilihan 2, yang dianggap paling kecil kemungkinannya.

“Apakah itu berarti, kalau boleh aku mengatakannya secara langsung, memberikannya kepadamu?”

“Jujur aku mungkin akan senang kalau bisa seperti itu. Tapi, itu tidak realistis. Karena pada dasarnya, ingin memberikannya kepada diri sendiri adalah apa yang kita semua inginkan.”

Bahkan dengan cara sederhana seperti jika diminta untuk mengacungkan tangan, tidak mengherankan jika seluruh kelas mengangkat tangan.

“Sulit untuk memilih orang tertentu. Tapi tidak peduli seberapa murahnya itu, tidak ada yang tahu seberapa efektifnya itu jika kita memberikan poin perlindungan kepada tiga orang secara acak.”

“Sepertinya kamu memiliki gagasan yang jelas tentang siapa yang harus diberikan. Kepada siapa kamu ingin memberikannya?”

“Untuk keputusan strategis... Horikita, kupikir tidak ada orang lain selain kamu.”

Keisei mengatakannya dengan jelas kepada sosok yang menghadapainya secara langsung.

“...Aku?”

“Ya. Kamu telah terbukti mampu memimpin kelas ini sekarang. Tidak ada keluhan tentang kemampuanmu di OAA. Di masa depan, peran seorang pemimpin adalah peran paling berbahaya ketika bersaing dengan orang-orang seperti Sakayanagi dan Ryūen. Aku tidak akan terkejut jika mereka berdua mencoba mengeluarkanmu tanpa ampun. Jika itu masalahnya, memberimu poin perlindungan akan memungkinkanmu menyusun strategi dan bertarung tanpa gentar melawan lawan kuat dari kelas lain. Aku membayangkan situasi seperti itu.”

Biasanya, akan ada pertentangan, tetapi tentu saja teman sekelas lain mendengarkan.

Karena dia punya alasan yang kuat, bukan sembarangan.

“Bukan hanya itu alasannya. Biasanya, memiliki poin perlindungan juga akan membuat berkurangnya waspadaan. Ada juga risiko di mana kamu mungkin tidak menganggapnya serius karena merasa dirimu aman. Tapi, mungkin kamu bukan orang yang seperti itu... itulah yang kurasakan.”

Ini bukan hanya masalah memberikannya kepada seseorang yang memiliki kemampuan, tetapi seseorang yang dapat berbuat lebih banyak untuk kelas setelah diberikan. Dan orang itu adalah Horikita, kata Keisei.

“Aku tahu apa maksudmu, tapi... itu pembelian yang mahal, loh?”

Jika tidak diberikan kepada diri sendiri, kami hanya akan kehilangan setengah dari poin pribadi kami selama enam bulan.

Tidak heran beberapa siswa berpikir seperti Hondō.

“Kamu merasa rugi hanya karena kamu pikir kamu hanya akan kehilangan poin pribadi. Ini adalah investasi awal. Horikita akan mengubahnya menjadi lebih banyak poin kelas daripada yang kita bayarkan untuk pilihan ini. Bukankah lebih mudah untuk berpikir begitu?”

“Kamu sudah terlalu melebih-lebihkanku... aku bisa saja mengalami kemerosotan, tahu?”

“Aku tidak yakin kamu bisa mengalahkan Kelas A tanpa mengambil risiko. Aku sendiri sudah bertarung di sekolah ini selama satu setengah tahun.”

“Fuffuffu. Bukankah itu ide yang bagus? Aku setuju dengan saranmu barusan, Megane-kun.”

Koenji, yang kukira tak akan pernah terlibat dengan ujian khusus ini, mengungkapkan dukungannya dengan kata-kata.

“Sebagai ganti untuk poin perlindungan yang akan diberikan padanya, Horikita-girl harus bekerja lebih keras daripada orang lain.”

“Kamu punya poin perlindungan, tapi sepertinya kamu tidak bekerja keras.”

“Karena kerja keras adalah untuk orang biasa.”

Kōenji tidak peduli sama sekali meski disindir oleh Sudō.

Yang jelas, baguslah kami mendapat persetujuan dari Kōenji, yang tampaknya menjadi rintangan terbesar.

Aku sedang memikirkan pilihan 1 atau 3, tapi aku bisa setuju dengan presentasi Keisei.

Terlebih lagi, jika aku malah tidak setuju di sini, aku harus memiliki alasan yang bagus.

Sulit untuk mengatakan itu demi kelas karena aku hanya tidak ingin tidak mendapatkan poin pribadi.

Dalam suasana yang diciptakan oleh Keisei, waktu voting berikutnya tiba.


Hasil Voting Ke-2 : 0 suara diberikan untuk 3 orang secara acak | 39 suara diberikan untuk memilih 1 orang | 0 suara untuk tidak diberikan.


Menjahit celah dengan cemerlang, dan ide Keisei diadopsi.

(Tln: menjahit celah adalah pepatah ‘melakukan sesuatu di antara hal-hal terus berlanjut tanpa terputus’)

Namun, sudah aturannya bahwa harus ada interval jika perlu memilih target, yang agak merepotkan.

Kali ini, karena tidak ada siswa yang tampak tidak setuju dengan Horikita yang diberi poin perlindungan, interval tersebut dipakai siswa untuk berbicara dengan bebas dan menghabiskan waktu. Tanpa perlu ada voting rekomendasi, diputuskan bahwa Horikita akan mencalonkan dirinya sendiri dan menjadi orang tertentu.

Dan tanpa ada gangguan, suara itu bulat dengan 39 suara mendukung Horikita.

Ini adalah isu yang kupikir akan sulit untuk ditangani, tapi fakta bahwa ini diselesaikan lebih lancar dari yang kuharapkan adalah signifikan.

“Ini mengakhiri isu 3. Mulai sekarang selama enam bulan ke depan, semua transfer poin pribadi akan sama-sama dibagi setengah, tapi poin perlindungan ke Horikita akan diberikan saat ini.”

Tentu saja, dia tidak dapat menggunakannya dalam ujian khusus ini, tetapi ini telah berhasil memberi Horikita, yang merupakan pemimpinnya, perlindungan yang berharga.

Ini bukan pembelian yang murah, tapi juga tidak terlalu mahal.


Isu ④ : Aturan yang dipilih berikut ini akan diterapkan ke kelas selama ujian tertulis akhir semester kedua


Pilihan : Peningkatan Kesulitan | Peningkatan Hukuman | Penurunan Hadiah


Pilihan yang sungguh kejam telah muncul.

Semua ini hanya bisa menjadi kerugian bagi kelas.

Jika sudah waktunya percakapan pribadi diizinkan, pasti ada banyak keluhan.


Hasil Voting Pertama : 6 suara untuk Peningkatan Kesulitan | 18 suara untuk Peningkatan Hukuman | 15 suara untuk Pengurangan Hadiah


Semua ini pada dasarnya adalah pilihan yang tidak ingin kami pilih, dan suara terpecah.

Setelah itu, terjadi perdebatan sengit antara siswa yang percaya diri dalam ujian tertulis dan yang tidak, dan isu itu tampaknya akan berlarut-larut, tapi voting kedua berikutnya menghasilkan hasil bulat dengan pilihan [menaikkan hukuman].

Persuasi kuat Horikita bahwa tidak akan sulit untuk menghindari hukuman jika mereka bekerja dengan rajin juga tampaknya berhasil.

Related Posts

Related Posts

1 comment