-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 5 part 1 Indonesia

Episode 5
Aku Tahu


Hayasaka-san punya teman baik yang dekat dengannya.

Sakai Aya.

Seorang gadis jalan pintas. Dia memakai kacamata cell-frame dengan poni menggantung di atasnya.

Dia tipe orang yang polos, tapi ternyata itu adalah aktingnya.

Di suatu pagi.

Aku terlambat dan hendak masuk sekolah melalui gerbang belakang. Ketika aku memanjat dan melompati gerbang besi, sebuah mobil berhenti tak jauh dari sana.

Itu mobil asing. Bodi mobil bersinar keperakan.

Seorang gadis turun dari kursi penumpang, datang ke arahku, dan memanjat gerbang.

“Kebetulan. Kirishima, tolong bantu aku.”

Atas permintaannya, aku membantu gadis itu melewati gerbang.

Pada saat mendarat, poni gadis itu menggantung sejenak, dan untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa itu adalah Sakai.

“Kamu terlihat berbeda tanpa kacamata.”

Saat aku mengatakan itu, dia buru-buru mengambil kotak dari tasnya dan memakai kacamatanya.

“Yang mengantarku tadi, kakakku.”

Alasan itu jelas tidak masuk akal. Dia juga berpikir begitu sepertinya.

“Mungkinkah Kirishima, kau melihatnya?”

“Jika itu bagian di mana kamu mencium kakakmu di dalam mobil...”

Aku bisa melihatnya dengan jelas.

“Tapi, tidak aneh untuk berciuman dengan anggota keluarga. Didasarkan pada nilai-nilai negara Barat. Tapi kupikir Sakai adalah anak tunggal.”

“Yare yare.”

Sakai menyisir rambutnya ke belakang dan melepas kacamata yang baru saja dia pakai. Kemudian,

“Dia adalah mahasiswa yang tinggal bersamaku.”

Katanya dengan santai. Itu adalah kalimat yang tak bisa kubayangkan akan dikatakan oleh dirinya yang biasa.

“Jadi Kirishima, ayo kita sama-sama bolos kelas.”

“Aku gak akan memberitahu siapa pun.”

“Yah, aku hanya ingin bicara sebentar.”

Karena usulan itu, kami mengobrol santai di tempat parkir sepeda.

“Omong-omong belum lama ini, ada seorang gadis dari tahu ketiga datang ke kelas kita.”

“Gadis yang membuat keributan karena pacarnya direbut darinya, ‘kan?”

Seorang anak laki-laki tahun ketiga jatuh cinta dengan seorang gadis tahun kedua yang tidak dikenal gadis tahun ketiga itu dan putus dengannya.

Para gadis tahun ketiga ingin memperingatkan gadis tahun kedua untuk tidak menyentuh pacar orang lain, tapi pada akhirnya dia tidak bisa menemukan gadis itu.

“Itu kamu, ‘kan, Sakai?”

“Aku tidak bermaksud merebutnya.”

Tanpa kacamatanya, Sakai terlihat lebih tenang dari orang lain seusianya.

“Kau harus mencoba banyak hal.”

Kata Sakai.

“Apakah kau pikir kau bisa menemukan pasangan idealmu hanya dengan satu cinta? Itu jelas terlalu malas, bukan? Menurutku kita harus jatuh cinta lagi dan lagi dan berpacaran dengan bermacam orang sebelum kita akhirnya menemukannya.”

“Aku membaca dalam sebuah buku bahwa, menurut sebuah eksperimen sosial Amerika, sebuah perusahaan perlu bertemu dengan seratus orang untuk mempekerjakan orang-orang yang cakap.”

Dalam cinta mungkin sama. Kau jatuh cinta dengan banyak orang untuk menemukan pasangan idealmu.

“Jadi aku mencoba untuk mendekati orang yang ku minati. Sangat dekat.”

Jadi begitu.

“Kau sungguh bebas dalam mencintai, ya, Sakai.”

“Kau sendiri sedang bereksperimen dengan cinta, ‘kan, Kirishima?”

Angin musim panas yang panas berhembus. Kolam renang dapat dilihat dari tempat parkir sepeda.

Di sebrang pagar, gadis-gadis dengan baju renang biru laut, semuanya basah kuyup.

Tachibana-san juga berdiri di tepi kolam renang.

Sepertinya dia tersedot oleh langit biru, itu benar-benar seperti fatamorgana musim panas.

Mungkin dia merasakan tatapanku, Tachibana-san menoleh ke arahku. Kami hanya saling menatap untuk sesaat.

Gilirannya untuk berenang, dan Tachibana-san dengan cepat menghilang dari pandangan.

“Mungkinkah, Hayasaka-san memberitahumu soal kami?”

Sakai berkata, “Aku belum dengar,”.

“Tapi, Akane hanya tidak pandai menyembunyikan sesuatu.”

Sepertinya dia sudah tahu semuanya.

“Hei, ceritakan padaku tentang itu.”

“Itu bukan sesuatu yang bisa ku bicarakan dengan orang lain.”

“Gak papa sih. Toh kamu tahu rahasiaku.”

Sakai melanjutkan tanpa menghiraukan.

“Kirishima, Tachibana-san juga menyukaimu, ‘kan? Barusan, dia menatapmu, ‘kan?”

“Aku tidak tahu.”

“Begitulah artinya seorang gadis sendirian dengan seorang pria di sebuah klub.”

“Tapi dia sudah punya tunangan.”

“Itu bukan masalah. Toh Tachibana-san, dia hanya tertarik pada Kirishima.”

“Jika itu hanya tunangan, aku mungkin juga berpikir begitu.”

Situasinya sedikit lebih rumit dari itu.

Aku dengar dari Tachibana-san. Tampaknya berkat perusahaan milik ayah tunanganya, perusahaan ibunya mendapat untung. Dengan kata lain, kehidupan keluarga Tachibana ditopang oleh keluarga tunangannya.

Setelah ujian selesai, di ruang klub, Tachibana-san membicarakan hal-hal itu dengan gamblang.

“Jadi gitu, ya. Jadi kau takut terpilihnya dirimu akan menghancurkan keluarga Tachibana-san.”

“Aku sudah melihat survei harapan karir Tachibana-san.”

“Jurusan musik Universitas Seni Tokyo, ‘kan? Jika termasuk les privat, pasti memakan banyak waktu dan uang. Tapi jika itu benar, sebaiknya kau pikirkan baik-baik tentang apa artinya bersamamu meskipun dia tidak punya waktu untuk sesuatu seperti kegiatan klub.”

Tachibana-san adalah seorang pemula dalam cinta dan tertarik pada berbagai hal.

Sejujurnya, aku merasa seperti aku bisa melakukan sesuatu untuk mengambil keuntungan dari itu. Tapi ketika aku memikirkan kebahagiaan Tachibana-san, aku tidak merasa nyaman melakukan apa pun yang akan membuatnya meninggalkan tunangannya.

“Kalau aku jadi Kirishima, aku akan membiarkan tungannya, dan menjadi “intim” dengan Tachibana-san terlebih dahulu sebelum memikirkan hal berikutnya.”

Itu pendapat orang yang bertindak. Tapi tetap saja.

“Kamu adalah teman Hayasaka-san, jadi kupikir dia akan marah jika tahu kau melakukan hal seperti ini.”

“Cinta Akane adalah urusan Akane. Aku tidak ingin membicarakannya.”

“Apakah Hayasaka-san tahu kalau Sakai punya kehidupan cinta yang bebas?”

Dia tidak tahu, kata Sakai.

“Itu terlalu banyak rangsangan untuk gadis baik.”

“Hayasaka-san sepertinya enggan disebut gadis baik.”

Itu masa pemberontakan yang lucu/imut, kata Sakai.

“Hei, tahu gak? Akane, dia berlatih memasak akhir-akhir ini. Dia ingin menjadi pacar yang baik.”

“Untuk orang nomor satunya, ‘kan?”

“Kirishima, apa makanan favoritmu?”

“Terong rebus.”

“Itulah yang Akane latih.”

Dia masih serius seperti biasa.

“Nomor satu dan nomor dua, ya. Tapi aku ingin tahu apakah bisa memisahkannya semudah itu. Menurutku perasaan cinta adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan bahkan oleh dirimu sendiri.”

Setelah itu Sakai mengambil pita dari dadanya dan membuka kancing blusnya.

Ada memar kecil di sekitar tulang selangkanya.

“Mungkinkah itu?”

“Ya, tanda ciuman.”

Mau tak mau aku membayangkan pria di kursi pengemudi meletakkan mulutnya di leher Sakai. Adegan itu entah kenapa terjadi di atas ranjang di kamar tempat mahasiswa itu menginap di pagi hari.

“Kirishima, wajahmu merah, loh.”

“Kau agak terlalu jauh, Sakai.”

“Iya tah, biasa saja kali. Kupikir itu adalah perasaan yang sangat alami untuk ingin menyentuh dan disentuh oleh seseorang yang kamu sukai. Bahkan anak laki-laki ingin menyentuh anak perempuan, bukan?”

“Apa anak perempuan juga memikirkan hal seperti itu?”

“Baik Akane maupun Tachibana-san tidak mungkin tidak tertarik.”

Aku pikir juga begitu.

“Kamu ini ya Kirishima, dari sudut pandang seorang gadis, adalah tipe pria yang mudah menarik ketertarikan semacam itu.”

“Eh?”

Aku ingin tahu apa artinya itu.

“Mungkinkah aku, cukup keren?”

“Tentu saja enggaklah. Kau hanyalah Megane.”

Terus terang sekali.

Lalu kenapa? Aku bertanya, dan Sakai langsung menjawab.

“Karena kamu bermulut rapat.”

“Itu saja?”

“Itu penting tahu. Seorang pria yang bisa menjaga rahasia lebih baik daripada pria dengan wajah tampan. Dengan begitu, anak perempuan bisa melakukan hal-hal yang mereka rasa tidak nyaman untuk dikatakan kepada orang lain.”

Kemudian Sakai mengancingkan blusnya dengan rapi, mengenakan kacamatanya, dan mengerai poninya.

Gadis polos yang biasa telah selesai.

“Karena itu Kirishima, kau mungkin akan mengalami kesulitan di masa depan.”

Related Posts

Related Posts

2 comments