-->
R27mUISKY8MAeCpFpAtsSpjGWGukfoZYVKEfkHA4

Cari Blog Ini

Watashi, ni-banme no kanojo de īkara Vol 1 Episode 5 part 2 Indonesia

Episode 5
Aku Tahu



Dalam film dan drama, anak perempuan sering digambarkan sebagai gadis yang suci dan polos.

Tapi gadis dalam kehidupan nyata mungkin hanya sedikit lebih rumit.

[Aku bukan gadis yang baik, loh.]

Hayasaka-san sering mencoba menyentuhku sambil mengatakan itu.

Seperti yang dikatakan Sakai, mungkin perempuan juga memiliki ketertarikan seperti itu.

Jadi bagaimana dengan kecemburuan dan posesif?

Aku meminta gadis cinta pertamaku untuk tidak berteman dengan pria lain.

Aku ingin tahu apakah perempuan juga merasakan hal seperti itu.

Alih-alih pergi ke kelas, aku berbaring di sofa di ruang klub dan memikirkannya.

Aku terbawa oleh dampak dari kehidupan cinta tingkat lanjut Sakai.

Tapi aku tertidur saat sedang memikirkannya. Aku terbangun di tengah periode kedua belajar.

Aku merasakan sesuatu yang lembab dan lembut di telingaku. Rasanya ini dejavu. Sensasi menyenangkan mengalir di punggungku.

“Akhirnya bangun juga.”

Tachibana-san membungkuk dan melihat ke arahku.

“Kau punya kebiasaan menjilat, ya.”

Ketika Tachibana-san mencoba menjilat telingaku lagi, aku buru-buru bangun.

“Aku punya banyak hal untuk dikatakan, tapi untuk saat ini, kembalikan kacamataku.”

Tachibana-san memakai kacamataku, yang pasti dia pakai saat aku tidur.

“Memakai itu akan merusak matamu, loh.”

“Tidak masalah karena aku memakainya di hidung.”

“Kalau tidak kamu kembalikan, aku tidak akan bisa melihat apa-apa.

Tachibana-san dengan santai menyentuh lensanya dengan jarinya, lalu mengembalikan kacamataku.

Aku menyeka sidik jarinya dengan lap kacamata.

“Ini masih jam pelajaran, loh.”

“Ketua juga sama, loh.”

“Lagian Tachibana-san, kenapa kamu ada di sini?”

“Ketua, padahal kamu ada di tempat parkir sepeda, tapi kamu tidak masuk ke kelas.”

“Oh benar juga, kau melihatnya, ya.”

“Kenapa kamu bersama Sakai-san?”

“Kami hanya kebetulan bertemu. Meski begitu, kok kamu bisa tahu itu Sakai? Dia kelihatan berbeda kalau tanpa kacamata, ‘kan?”

“Cara dia berdiri, cara dia memegang sikunya saat berbicara, itu terlihat seperti Sakai-san.”

Kemampuan pengamatan Tachibana-san sangat menakutkan.

“Lupakan soal itu Ketua, mumpung di sini, ayo kita lakukan kegiatan klub.”

Tachibana-san membuka catatan cinta.

Terlebih lagi, itu adalah buku terlarang dan judul halamannya adalah “Permainan Dasar Tanpa Tangan”.

Itu adalah produk dari delusi penulis yang mengikuti misteri telinga.

“Tachibana-san, aku sudah bilang kalau kegiatan klub akan dihentikan selama masa ujian, ‘kan?”

Selain itu, kita adalah klub penelitian misteri. Bukan klub percintaan.

“Gak papa sih. Aku ingin tahu lebih banyak tentang cinta.”

Tachibana-san mendorong buku catatan itu ke arahku. Aku mendorongnya kembali.

“Ketua, akhir-akhir ini rasanya kau menghindariku.”

“Mana ada.”

“Tiba-tiba menghentikan kegiatan klub juga.”

“Karena ini minggu ujian.”

“Kau menolaknya ketika kuminta untuk mengajariku belajar.”

“Itu...”

“Tapi kau justru mengajari Hayasaka-san. Itu sangat melukai hatiku.”

Hatiku agak sakit karena Tachibana-san menatapku seperti anak anjing yang tersesat.

“Ketua menyukai Hayasaka-san.”

“Biasa saja kok.”

“Hayasaka-san juga menyukaimu.”

“Apa yang membuatmu berpikir begitu?”

“Perlakuannya terhadapmu baik atau lebih tepatnya blak-blakan, dan sangat tidak stabil. Begitulah ketika kau menyukai seseorang, bukan?”

Dia benar-benar memperhatikannya.

“Tapi Tachibana-san lupa satu hal. Hayasaka-san juga menyukai orang lain.”

“Nah itu. Itulah yang sulit dimengerti. Hayasaka-san jelas menyukai seseorang, tapi kelihatannya dia juga menyukai Ketua.”

Kata Tachibana-san sambil menatap wajahku.

“Ketua juga, kelihatannya menyukai Hayasaka-san, tapi kau juga sepertinya menyukai gadis lain.”

“Siapa gadis lain itu?”


“Aku.”


Aku ditembak.

Pertanyaan Tachibana-san terlalu lugas.

[Apakah kamu tidak menyukaiku?]

Dia menanyakan pertanyaan itu. Sangat tenang, sangat alami, dan sangat datar.

Aku juga akan menjawab setenang mungkin.

“Jika semua yang dirasakan Tachibana-san benar, maka berbagai orang mengirimkan panah cinta ke arah yang berbagai, dan itu adalah situasi yang sangat ramai.”

“Ya. Karena itu aku ingin mencocokan jawabannya.”

Tachibana-san mendekatkan wajahnya.

“Katakan padaku, jawaban yang benar. Siapa yang Hayasaka-san sukai? Siapa yang benar-benar Ketua sukai?”

“Itu...”

Tentu saja, aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, bahkan jika aku ingin.

Jadi aku memutuskan untuk mengalihkan topik pembicaraan dan menghindarinya.

“Bagaimana denganmu, Tachibana-san?”

“Aku?”

“Apa kau tahu siapa yang kau sukai?”

Ketika aku bertanya, Tachibana-san menjawab, “Aku sedang mengujinya,”

“Aku hampir pada titik di mana aku tahu siapa dan apa yang membuatku merasakan apa yang kurasakan.”

Di tangan Tachibana-san ada buku catatan cinta.

“Ayo mainkan permainan ini. Aku ingin lebih banyak menguji perasaanku.”

“Tidak, kita tidak boleh melakukan itu.”

“Kenapa? Kenapa tidak boleh?”

“Sebelumnya sudah kubilang, ‘kan? Jika kau punya tunangan, kau tidak boleh meminta pria lain untuk melakukan itu.”

“Siapa yang memutuskan itu?”

“Publik mengatakan tidak baik untuk melakukan hal seperti itu.”

“Bukankah hanya Ketua yang memutuskan itu?”

Tajam. Tapi.

“Kalau tidak boleh, ya tidak boleh.”

“Kalau kau tidak mau melakukannya, aku tidak akan membiarkanmu pergi ke kelas.”

“Kalau kamu melakukan itu, aku benar-benar akan marah, loh.”

Ketika aku mengatakan itu, Tachibana-san berkata, “Aku ingin kau marah.”

“Alasan aku menaruh sidik jariku di kacamatamu barusan juga karena aku ingin melihat wajah marahmu. Aku ingin melihat berbagai jenis ekspresi. Aku ingin tahu bagaimana perasaanku ketika aku melihat itu semua.”

Tachibana-san, dia tidak gentar.

“Apa Ketua, benar-benar tidak mau? Kamu bilang tidak boleh, tapi sepertinya tidak demikian.”

Ketahuan. Memang benar aku ingin melakukan sesuatu seperti yang tertulis di catatan cinta dengan Tachibana-san.

Tapi aku masih kepikiran tentang adanya tunangan. Akibatnya, jika itu berdampak buruk pada lingkungan keluarga, dan jika Tachibana-san menjadi tidak bahagia, aku tidak akan sanggup melihatnya. Jadi, untuk saat ini, aku memutuskan untuk melawan Tachibana-san di sini.

“Oke, ayo kita lakukan.”

Aku meraih tangannya dan menariknya mendekat dengan paksa. Wajah kami begitu dekat sehingga aku merasa bisa menciumnya kapan saja.

“Tapi bukan yang bab dasar, kita akan mainkan bab aplikasinya.”

“Permainan Tanpa Tangan” dari catatan cinta tidak hanya memiliki bab dasar tetapi juga bab aplikasi.

Tentu saja, bab aplikasi lebih ekstrim.

“La-Langsung ke situ?”

Tachibana-san melebarkan matanya dan wajahnya menjadi merah padam.

“Ke bab aplikasi~!”

Dia hanyalah cinta monyet, kuat dalam menyerang tapi lemah dalam bertahan.

Untuk menghentikannya, aku menyisir ke belakang rambut Tachibana-san dan meniup ke telinganya.

“Fumi~!”

Tachibana-san mengeluarkan suara aneh dan melepaskan tangannya dariku, memegang telinganya.

Beginilah caraku selalu melawannya akhir-akhir ini, dengan membuatnya merona.

Tapi, wajah memerah Tachibana-san hanya berlangsung beberapa detik, dan dia dengan cepat kembali ke wajah datarnya.

“Ketua, kau melakukan itu hanya untuk menghindar, bukan?”

“Entahlah.”

“Padahal aku hanya ingin tahu siapa yang benar-benar Ketua sukai.”

Tachibana-san mencoba memahami tentang cinta.

Perasaan Hayasaka-san, perasaanku, dan perasaannya sendiri. Tapi——.

“Cinta bukanlah sesuatu yang bisa dijawab dengan mudah. Hati manusia itu rumit. Karena itu semua orang kesulitan untuk menebak bagaimana perasaan satu sama lain.”

“Oh, baiklah.”

Tachibana-san kembali tenang dan berkata.

“Kalau gitu, aku akan mencari jawabannya sendiri.”

“Bagaimana caranya?”

“Ujian perasaan.”

Kedengarannya agak meresahkan.

“Ini salah Ketua. Karena kamu mengajari Hayasaka-san padahal kamu tidak mengajariku. Kamu menjauhiku, tapi kamu sangat dekat dengan Sakai-san. Itu sebabnya aku melakukan hal seperti ini.”

Setelah mengatakan itu, Tachibana-san meninggalkan ruang klub.

Aku menyeka kacamataku lagi dan merapikan kerah seragamku, yang berantakan saat aku tertidur.

Meski begitu Tachibana-san, apa yang sebenarnya kau rencanakan?

Saat aku memikirkan itu, selama istirahat berikutnya, terdengar teriakan dari para anak laki-laki penggemar Tachibana-san.

Alasannya adalah karena Tachibana-san memakai dasi pacarnya.

Itulah awal dari ujian perasaan Tachibana Hikari.

Related Posts

Related Posts

Post a Comment